NovelToon NovelToon
SIMPUL KIRANA : TAKDIR ENAM NEGERI

SIMPUL KIRANA : TAKDIR ENAM NEGERI

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Sistem / Penyelamat
Popularitas:431
Nilai: 5
Nama Author: Noona Y

Bhaskara hanyalah pemuda biasa ... hingga sebuah kecelakaan merenggut hidupnya.
Saat membuka mata, ia telah berada di Jagaddhita—dunia yang perlahan ditelan kegelapan. Sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

《Misi Utama》
-Pulihkan Prisma Kirana.
-Satukan Enam Negeri.
-Selamatkan Jagaddhita.

Untuk menyelesaikan misi itu, Bhaskara harus mencari lima putri pewaris elemen—Anala, Nirmala, Sekar, Samira, dan Vajra.

Namun, menyatukan mereka tidak cukup. Ia harus membentuk Simpul Kirana, ikatan suci yang dapat membangkitkan kembali cahaya dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 : MENGHADAP RATU SAMUDERA

Langkah Bhaskara, Danendra, dan Ranajaya terhenti tepat di tepi dermaga pualam. Di seberang lautan jernih yang tenang, berdiri megah sebuah istana raksasa dengan kubah-kubah kristal biru yang memantulkan pendar surya secara menakjubkan. Istana itu mengapung anggun, dikelilingi benteng karang alami yang tinggi menjulang.

"Itu adalah Istana Tirta Kencana, kediaman tempat tinggal Nyai Samudrani dan Putri Nirmala berada," terang Adipati Jaladri seraya berbalik menghadap Bhaskara.

Pria tua itu kemudian melangkah satu tindak ke tepi air. Ia memejamkan mata, memusatkan konsentrasi seraya menggerakkan kedua tangannya secara memutar di atas permukaan lautan.

SWIISHHH!

Seketika, pusaran air jernih terbentuk di bawah jemarinya. Gelombang-gelombang kecil berputar semakin kencang, menggulung naik bagaikan tarian arus laut purba.

Dari tengah gulungan air membubung tinggi tersebut, muncul sebuah kereta megah berkilauan yang terbuat dari cangkang kerang mutiara raksasa berwarna merah muda keemasan.

Di bagian depan kereta itu, tujuh ekor lumba-lumba berukuran gergasi dengan kulit berbinar seperti kristal sedang berenang lincah, siap menjadi penarik kereta gaib tersebut.

DUK! DUK! DUK!

Ranajaya refleks mencengkeram hulu pedangnya dengan mata membelalak heran, sementara Danendra tetap berdiri tenang walau matanya menyipit mengamati keajaiban sihir air Tirtamaya.

"Gila... keren banget! Berasa naik kereta kencana versi Aquaman!" batin Bhaskara takjub setengah mati, meski ia berusaha keras menjaga raut mukanya agar tetap terlihat tenang dan berwibawa.

"Silakan naik, Yang Mulia," tutur Adipati Jaladri seraya membungkuk hormat, menyuruh Raden Varuna membukakan pintu kerang raksasa tersebut.

Bhaskara melangkah naik ke atas kereta kerang raksasa tersebut, siap meluncur menyeberangi lautan menuju Istana Tirta Kencana.

SWIISHHH!

Kereta kerang mutiara meluncur kencang membelah permukaan lautan Tirtamaya. Tujuh lumba-lumba purba di depannya berenang penuh keanggunan, memecah ombak menjadi tirai kristal cair yang berkilauan dihantam pendar surya.

Air laut terbelah rapi di sisi kiri dan kanan, membentuk lorong transparan raksasa tanpa memercikkan setetes air pun ke dalam kabin kereta.

Bhaskara duduk bersandar di kursi berlapis busa rumput laut emas. Pandangannya terpaku pada dinding air yang meluncur deras di sampingnya, mengagumi fenomena sihir yang tampak seperti adegan sinematik film fantasi berbiaya tinggi.

"Hebat juga... benar-benar bebas dari rasa mual," batin Bhaskara puas saat merasakan guncangan kereta yang sangat halus.

Tak butuh waktu lama, kereta kerang itu melambat mulus begitu mendekati kaki Istana Tirta Kencana. Gerbang pualam setinggi puluhan meter terbuka perlahan, menyambut kedatangan rombongan Agnivara.

Begitu Bhaskara menginjakkan kaki di pelataran istana, karpet air yang memancarkan pendar biru lembut terhampar dari dermaga hingga melintasi pilar-pilar kristal raksasa menuju aula utama.

BUM... BUM... BUM...

Suara gema langkah kaki rombongan beradu saat mereka melangkah masuk ke Balairung Utama. Ruangan itu teramat megah; atapnya berupa kubah kaca transparan yang memperlihatkan lautan luas dengan kawanan ikan bercahaya yang berenang bebas di atas mereka.

Di ujung balairung, di atas tahta bertingkat yang dipahat dari batu karang putih purba, duduk seorang wanita anggun berbusana sutra hijau pekat.

Dialah Nyai Samudrani, Sang Ratu Penguasa Tirtamaya. Paras cantiknya memancarkan aura keAgungan mistis yang begitu menawan sekaligus mengintimidasi.

Namun, Bhaskara menyadari satu hal. Kursi tahta kecil di sebelah sang Ratu kosong melompong. Putri Nirmala tidak ada di sana.

"Selamat datang di Tirtamaya, Maharaja Agnivara," suara Nyai Samudrani berkumandang lembut, dipenuhi aura kepemimpinan yang pekat, bergema halus di sepanjang pilar kristal.

Adipati Jaladri dan Raden Varuna membungkuk dalam-dalam di sisi ruangan, sementara Bhaskara menangkupkan kedua tangan di dada, memberi penghormatan khas pemimpin kerajaan sahabat.

"Suatu kehormatan bisa berdiri di istana yang megah ini, Nyai Samudrani," pukas Bhaskara tenang dan berwibawa. "Saya datang membawa salam hangat dan dukungan penuh dari Ratu Anala serta seluruh rakyat Agnivara."

Nyai Samudrani mengangguk pelan dan menyunggingkan senyum hangat untuk menyambut Bhaskara.

"Kehadiranmu membawa pendar harapan baru bagi Tirtamaya," tutur Nyai Samudrani seraya helaan napas berat menggetarkan mahkota kristalnya. "Namun, maafkan kami jika penyambutan ini terkesan terburu-buru dan tidak dihadiri oleh putriku."

Bhaskara menyipitkan mata, lirikan matanya sempat menyapu tahta kosong di samping sang Ratu sebelum kembali menatap lurus. "Apakah terjadi sesuatu dengan Putri Nirmala?"

Bhaskara menyipitkan mata. Lirikan matanya sempat menyapu tahta kosong di samping Sang Ratu sebelum kembali menatap lurus. "Apakah terjadi sesuatu dengan Putri Nirmala?"

Nyai Samudrani mengulas senyum tenang. "Putri Nirmala baik-baik saja, Maharaja. Saat ini ia sedang berlatih musik di aula belakang untuk pertunjukan pesta malam nanti."

Bhaskara tersenyum canggung, sementara dalam hatinya ia didera kebingungan hebat.

"Hah? Pertunjukan seni dan musik?" batin Bhaskara keheranan. "Bukannya Negeri Tirtamaya sedang dalam ancaman krisis besar? Kenapa malah sibuk latihan pentas seni?!"

Karena merasa ada yang tidak beres, Bhaskara memberanikan diri mempertanyakan kabar bahaya yang didapatkan istrinya, hingga sang Ratu mengirimkan pasukan elit untuk mendampinginya.

​"Anu... Nyai Samudrani," potong Bhaskara. "Sebenarnya, Ratu Anala secara personal menerima warta berita bahwa negeri Tirtamaya sedang dalam ancaman besar. Karena itulah beliau mengutus saya bersama pasukan elit Agnivara ke sini. Apakah benar-benar tidak ada ancaman atau bahaya apa pun yang sedang mengintai negeri ini?"

​Namun, bukannya panik, Nyai Samudrani justru tertawa halus. Suara tawanya bergema bening memantul di pilar-pilar kristal balairung.

​"Ancaman? Ah, negeri Tirtamaya sangat damai, aman, dan jauh dari kata bahaya." ujar Nyai Samudrani seraya mengibaskan tangannya pelan.

Bhaskara, Danendra, dan Ranajaya seketika saling bertukar pandang dengan kening berkerut bingung. Sikap tenang Sang Ratu yang terkesan berlebihan itu justru membuat Bhaskara makin curiga—Nyai Samudrani jelas-jelas sedang menyembunyikan sesuatu yang besar dari mereka.

Bhaskara menghela napas panjang, memasang raut wajah lega yang sangat meyakinkan seolah seluruh beban di pundaknya mendadak diangkat.

"Syukurlah..." sahut Bhaskara seraya tersenyum lebar dan mengelus dadanya. "Kalau begitu, kami sangat lega mendengarnya, Nyai Samudrani."

Bhaskara menyatukan kedua telapak tangannya di dada, membungkuk memberi hormat seraya melancarkan sandiwaranya.

"Mengingat Negeri Tirtamaya ternyata aman dan damai, sepertinya tidak ada alasan bagi pasukan Agnivara untuk berlama-lama mengganggu ketenangan kerajaan ini. Jika diizinkan, kami mohon pamit untuk segera kembali ke Agnivara hari ini juga."

Nyai Samudrani sempat tersentak pelan, tak menyangka sang Maharaja akan memutuskan pulang secepat itu. Namun ia segera menguasai diri dan menyunggingkan senyum anggun. "Tentu, Maharaja Agnivara. Semoga keselamatan selalu menyertai perjalanan pulang anda bersama semua pasukan."

"Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Nyai," pukas Bhaskara formal.

Tanpa membuang waktu, Bhaskara memutar badannya dan melangkah lebar-lebar meninggalkan balairung.

Danendra dan Ranajaya yang sigap menangkap sinyal dari sang Maharaja langsung berbalik, berjalan cepat beriringan mengekor di belakang Bhaskara dengan tangan tetap bersiap di dekat hulu pedang mereka.

Begitu melintasi gerbang pualam Istana Tirta Kencana dan berada jauh dari jangkauan pandangan para pengawal kerajaan, Bhaskara mempercepat langkah kakinya menuju sudut dermaga yang agak tersembunyi.

"Yang Mulia," bisik Danendra setengah berbisik seraya menyetarakan langkahnya. "Apakah kita sungguh akan langsung kembali ke Agnivara?"

Ranajaya menyipitkan mata, mengamati sekeliling dengan waspada. "Ratu Nyai Samudrani jelas-jelas membohongi kita, Yang Mulia. Aura di sekitar istana ini terasa terlalu tenang... seperti ditutupi oleh sihir pemikat."

Bhaskara menghentikan langkahnya, menoleh ke arah dua pengawal elitnya dengan seringai tipis.

"Pulang? Enak saja," bisik Bhaskara terkekeh pelan. "Itu cuma sandiwara biar kita nggak ditahan di dalam istana. Ada yang nggak beres dengan kerajaan ini, dan kita bakal cari tahu sendiri tanpa campur tangan Ratu!"

...****************...

1
Europa.
seperti biasa, novel baru, nunggu insect
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: 😭😭😭😭😭😭😭
total 1 replies
Phrolova
naiknya cepet banget
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: pacing cepatt 🤣🤣
total 1 replies
Yui
masterpiece /Angry//Angry/ aku nunggu insectnya/Drool//Drool//Drool/
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: gak ada insect /Curse//Hammer/
total 1 replies
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Han Boshalvaya
Waw, othor romance nulis fantasi! patut dilihat /Doge//Good/
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: /Awkward/ waduhhh
total 1 replies
Ironside
Wah /Hunger/
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: /Panic/
total 1 replies
Teteh Lia
nama tokoh na dari bahasa Sanskerta semua 👍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: Isekai tema Nusantara 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!