NovelToon NovelToon
Dari Benci Menjadi Bucin

Dari Benci Menjadi Bucin

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35.Kunjungan Diam-diam

Anisa tak masuk sekolah sejak hari sebelumnya. Demam yang sempat turun semalam kembali naik tinggi di pagi hari, membuatnya tak berdaya terbaring lemah di tempat tidur. Kepalanya terasa berat seakan dihantam sesuatu, seluruh tubuhnya terasa linu dan panas membakar, hingga membuka mata pun terasa menyiksa. Ia hanya mampu memejamkan mata lemah, menarik selimut hingga sebatas dada, dan berharap kekuatan perlahan kembali ke tubuhnya.

Di sekolah, hati Kenzo tak tenang sedetik pun. Setiap kali melirik ke arah bangku Anisa yang kosong dan sepi, dadanya ikut terasa kosong dan gelisah. Rasa cemas yang kemarin belum sepenuhnya hilang, kini kembali datang menyergap jauh lebih kuat. Ia terus-menerus memikirkan keadaan Anisa. Apakah demamnya sudah turun? Apakah ada yang merawatnya di rumah? Apakah ia makan dengan cukup? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar terus di kepalanya, membuatnya tak tenang mendengarkan pelajaran sedikit pun. Sejak awal hari hingga bel pulang berbunyi, pikirannya tak pernah lepas dari wajah pucat dan mata sayu Anisa.

Maka sore itu, Kenzo memutuskan sesuatu. Ia ingin pergi menjenguknya. Namun keraguan segera menyusul. Bagaimana jika kedatangannya diketahui orang lain? Bagaimana jika Anisa merasa risih atau terganggu dalam keadaan lemah demikian? Dan yang paling utama... ia belum sanggup menyampaikan alasan kedatangannya tanpa terlihat canggung. Akhirnya, keinginan hatinya memenangkan keraguannya. Ia pun bertekad untuk pergi — namun secara diam-diam. Tak memberitahu siapa pun, tak memberi tahu Anisa sebelumnya. Cukup ia yang datang, memastikan keadaan gadis itu, lalu pergi begitu saja tanpa diketahui siapa pun.

Setelah bel pulang berbunyi dan semua teman berhamburan meninggalkan gerbang sekolah, Kenzo berjalan berlawanan arah. Ia mampir sejenak membeli buah-buahan segar dan beberapa makanan lunak yang mudah dicerna, lalu melangkah menuju rumah Anisa. Jalan yang diambilnya bukan jalan utama yang biasa dilewati, melainkan jalan memutar yang agak sepi agar tak berpapasan dengan siapa pun yang dikenalnya. Hatinya berdebar kencang — karena berjalan sendirian, karena diam-diam, dan karena tahu bahwa tak lama lagi ia akan melihat Anisa lagi.

Sesampainya di depan rumah Anisa, langkah kakinya seketika terhenti. Ia berdiri di balik pagar tanaman yang rimbun, tak berani melangkah masuk sepenuhnya. Matanya menatap lembut ke arah jendela kamar Anisa yang sedikit terbuka di lantai atas. Tirai tipis itu bergerak pelan tertiup angin, dan sesekali tampak bayangan samar sosok yang terbaring lemah di sana. Jantung Kenzo berdetak semakin cepat, bercampur rasa cemas dan rindu yang tak sanggup ia ungkapkan dengan kata-kata.

Ia tak mengetuk pintu. Tak memanggil nama siapa pun. Sebaliknya, ia meletakkan bungkusan buah dan makanan yang dibawanya perlahan di ambang pintu, lalu menempelkan selembar kertas kecil yang ditulisnya dengan tulisan tangan yang rapi namun sedikit tergesa: Semoga lekas sehat. Jaga dirimu baik-baik. — Teman sekelasmu. Tak ada nama yang tertulis lengkap. Tak ada tanda yang khas. Namun Kenzo yakin... Anisa pasti tahu siapa yang datang.

Setelah memastikan bungkusan itu terlihat jelas dan aman, Kenzo berdiri sejenak menatap jendela kamar itu sekali lagi. Dalam hatinya, ia berdoa panjang lebar agar demam Anisa segera turun, agar kekuatannya segera kembali, dan agar ia kembali tersenyum cerah seperti biasanya. Hanya itu yang ia inginkan — tanpa mengharapkan balasan, tanpa mengharapkan ucapan terima kasih. Cukup mengetahui Anisa akan segera sehat, hatinya pun sudah merasa tenang.

Barulah setelah itu, Kenzo perlahan berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu sama senyapnya seperti saat ia datang. Langkah kakinya ringan namun hatinya terasa lega. Ia tak ingin diketahui siapa pun. Ia tak ingin Anisa merasa terbebani. Yang ia lakukan murni karena hatinya tak tenang jika tak memastikan keadaan gadis itu sendiri.

Tak lama setelah Kenzo pergi, pintu rumah perlahan terbuka. Anisa yang menduga ada tamu atau kiriman, berjalan tertatih-tatih lemah menuju ambang pintu. Matanya seketika terpaku pada bungkusan yang tergeletak rapi di sana. Saat membacakan pesan singkat di atas kertas itu, jantungnya berdetak pelan namun terasa hangat menyelinap hingga ke seluruh tubuhnya. Tulisan itu... ia mengenalnya dengan baik. Tak perlu nama tertulis lengkap. Tak perlu tanda tangan apa pun. Anisa tahu dengan pasti siapa yang datang. Ia mengenal perhatian itu. Ia mengenal kelembutan yang tak pernah diucapkan terang-terangan itu.

Anisa mengangkat wajahnya perlahan ke arah jalan yang sepi itu. Tak tampak siapa pun di sana. Namun hatinya justru merasa seakan sosok itu masih berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan yang penuh perhatian dan doa. Matanya perlahan berkaca-kaca. Demam yang tinggi tiba-tiba terasa jauh berkurang, digantikan oleh rasa hangat yang memenuhi dadanya sepenuhnya. Ia tersenyum lemah namun tulus, memeluk bungkusan itu erat-erat di dadanya.

Terima kasih... bisik hatinya pelan ke arah jalan yang sudah kosong itu. Terima kasih sudah datang diam-diam. Terima kasih sudah mendoakanku. Aku tahu kau datang. Dan hatiku merasa jauh lebih baik sekarang, hanya karena kau datang menjengukku dengan penuh kasih sayang yang tak bersuara itu.

Anisa pun akhirnya paham: bahwa kasih sayang tak selalu harus datang dengan panggilan lantang atau kedatangan yang megah. Terkadang... ia datang dalam kunjungan diam-diam, yang tak menampakkan wajah, tak menunggu balasan, namun membawa perhatian dan doa yang begitu tulus hingga mampu menyembuhkan hati yang sedang lemah sekalipun. Dan kunjungan diam-diam sore itu... menjadi salah satu bukti terindah — bahwa hatinya tak pernah benar-benar sendirian, karena selalu ada seseorang yang diam-diam menjaganya, mendoakannya, dan menyayanginya.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!