Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
SRAT SRAT.
Terdengar suara gesekan daun yang sangat kasar dari balik semak-semak lebat tersebut.
Awalnya Udin mengira itu hanya suara angin, sampai ia melihat sesuatu yang mengerikan menyembul dari balik daun raksasa.
Sebuah sulur hijau tebal berduri merayap pelan di atas tanah lumpur seperti seekor ular piton raksasa.
"Astaga Tuhan, ular hijau apa itu besar sekali bentuknya," jerit Udin ketakutan sambil memegang erat tali ranselnya.
"Itu bukan ular Udin, itu adalah akar tanaman yang bisa bergerak mencari mangsa," jelas Rizky masih berdiri tenang di posisinya.
Sulur berduri itu bergerak meraba-raba tanah hingga akhirnya berhenti tepat di dekat sebuah gundukan semak yang hancur.
Rizky dan yang lainnya bisa melihat dengan jelas ada sesuatu yang tergeletak di balik gundukan semak tersebut.
Itu adalah sesosok tubuh manusia yang memakai seragam loreng kamuflase khas tentara bayaran.
Pria itu sudah tidak bernyawa dan setengah tubuh bagian bawahnya terlihat meleleh seolah baru saja direndam dalam cairan asam pekat.
Di sebelahnya tergeletak sebuah senapan serbu laras panjang yang sudah penyok terlilit akar tanaman.
"Itu salah satu anggota Kartel Taring Beruang Bos, dia mati mengenaskan sekali," bisik Bang Jali dengan wajah pucat pasi.
"Tanaman ini rupanya menjadikan pasukan bersenjata itu sebagai pupuk organik gratis mereka," ucap Rizky tersenyum miring melihat ironi tersebut.
Sulur raksasa itu tiba-tiba melilit mayat tentara bayaran itu dengan sangat cepat dan menariknya kasar ke dalam semak yang gelap.
KRAK KRAK.
Suara tulang patah terdengar mengerikan dari dalam rimbunan daun raksasa saat mayat itu ditarik paksa.
Udin nyaris muntah di balik maskernya mendengar suara menjijikkan tersebut.
"Bos, mari kita putar balik saja lewat jalan lain, saya lebih pilih ditembak peluru daripada dimakan tanaman hidup-hidup," mohon Udin gemetar hebat.
"Jalan ini adalah satu-satunya rute tercepat menuju lokasi barang yang kucari Udin, kita tidak akan mundur selangkah pun," tolak Rizky tegas.
"Tapi Bos, bagaimana caranya kita melewati monster daun itu tanpa ikut jadi makanan ringan mereka?" tanya Bang Jali ikut merasa putus asa.
Rizky tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung, ia malah berjalan pelan mendekati batas area semak berbahaya tersebut.
Otak super jeniusnya dengan cepat mencari solusi paling logis dari semua data botani yang ia ketahui dari sistem.
"Kantong Semar bereaksi terhadap getaran di tanah dan mendeteksi mangsa dari suhu panas tubuh."
Rizky berjongkok dan mengambil segenggam lumpur basah yang sangat dingin dari genangan air di dekatnya.
"Oleskan lumpur dingin ini ke seluruh tubuh dan pakaian kalian sekarang juga, jangan sisakan celah sedikit pun."
"Lumpur kotor ini Bos? Untuk apa kita mandi lumpur di tengah hutan begini?" tanya Bang Jali keheranan.
"Lumpur ini akan menurunkan suhu panas tubuh kalian sehingga sensor tanaman itu akan mengira kita hanyalah batu yang lewat," jelas Rizky sambil mulai melumuri jaketnya.
Para mantan preman itu tidak berani banyak protes lagi dan langsung berebut lumpur basah untuk dioleskan ke tubuh mereka.
Dalam waktu singkat, rombongan itu sudah terlihat seperti sekumpulan patung tanah liat yang berjalan lambat.
"Sekarang dengarkan aku baik-baik, berjalanlah dengan jinjit yang sangat pelan, jangan buat getaran keras di tanah."
Rizky memimpin di depan, melangkah dengan sangat hati-hati melewati sulur-sulur berduri yang berserakan di tanah.
Bang Jali dan anak buahnya mengikuti di belakang dengan napas yang sengaja ditahan saking tegangnya.
Mereka berjalan masuk ke area inti tanaman karnivora tersebut dan melihat pemandangan yang membuat bulu kuduk berdiri.
Puluhan kantung raksasa berwarna merah daging bergelantungan di dahan pepohonan layaknya lampion neraka.
Dari dalam kantung-kantung itu menetes cairan asam bening yang berbau manis namun mematikan.
Di dasar beberapa kantung yang terbuka, terlihat sisa-sisa tengkorak manusia dan tulang belulang hewan hutan.
"Ternyata bukan cuma satu orang kartel yang jadi korban di sini, mereka sudah kehilangan banyak pasukan," batin Rizky melihat banyaknya senjata api yang berserakan.
Tiba-tiba, kaki Udin yang gemetar tidak sengaja menginjak sebuah ranting kering di bawah lumpur.
KTAK.
Suara patahan ranting itu terdengar sangat nyaring di tengah keheningan yang mematikan.
Tiga buah sulur berduri raksasa langsung bereaksi dan melesat ke arah sumber suara dengan kecepatan tinggi.
"Lari Udin, merunduk sekarang," teriak Bang Jali refleks mendorong tubuh kurus adik buahnya itu ke tanah.
WUSH.
Sulur berduri itu menyambar udara kosong tepat di atas kepala Udin dan menghantam batang pohon di sebelahnya hingga kulit pohonnya hancur.
"Semuanya jangan panik, tetap tiarap dan jangan bergerak," perintah Rizky menahan mereka agar tidak berlari.
Sulur-sulur itu merayap liar mencari sumber suhu panas, namun lumpur tebal di tubuh mereka berhasil menyamarkan keberadaan rombongan itu.
Setelah beberapa menit mencari tanpa hasil, sulur-sulur tanaman karnivora itu akhirnya perlahan menarik diri kembali ke semak gelap.
Udin menangis tanpa suara di atas lumpur, merasa nyawanya baru saja dicabut dan dikembalikan lagi dalam semenit.
"Ayo bangun pelan-pelan, kita sudah hampir melewati zona bahaya ini," bisik Rizky membantu Bang Jali berdiri.
Mereka kembali merayap pelan selama setengah jam hingga akhirnya keluar dari rimbunan tanaman merah daging tersebut.
Udara segar kembali memenuhi paru-paru mereka saat mereka mencapai sebuah bukit berbatu yang aman dari jangkauan akar monster.
Bang Jali langsung menjatuhkan tubuhnya ke tanah berbatu itu dan menghela napas lega yang luar biasa panjang.
"Bos Rizky, otak Bos benar-benar hebat, kalau tidak ada trik lumpur tadi kita pasti sudah jadi sup daging di dalam perut tanaman itu."
"Itu baru rintangan pertama Bang Jali, tantangan sesungguhnya baru akan kita mulai setelah ini."
Rizky menatap lurus ke arah lembah di bawah bukit berbatu yang mereka pijak saat ini.
Di bawah sana, terlihat sebuah pangkalan perkemahan militer darurat yang dijaga oleh puluhan orang berseragam loreng dengan senjata laras panjang.
Tenda-tenda besar didirikan mengelilingi sebuah gua batu raksasa yang memancarkan aura energi sangat kuat.
Di dada Rizky, liontin dewi berdenyut hangat memberikan sinyal pasti bahwa pecahan kedua berada tepat di dalam gua tersebut.
"Itu pasti markas utama Kartel Taring Beruang yang sedang berusaha menjebol pintu gua itu Bos," tunjuk Bang Jali dari atas tebing.
Rizky tersenyum miring dan mengeluarkan botol kaca berisi serbuk kecubung halusinasi dari dalam sakunya.
"Mereka sudah menyiapkan karpet merah untuk kita Bang Jali, mari kita berikan sedikit bumbu hiburan untuk pesta malam mereka."