Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.
Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.
Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.
Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.
"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Suara Kenzo yang mengalun rendah dari seberang telepon di London terasa begitu dekat, seolah pria itu sedang berdiri tepat di belakang Clara. Clara mencengkeram ponselnya dengan kedua tangan yang gemetar hebat. Isak tangis yang sejak tadi ditahannya perlahan pecah, menyatu dengan keheningan kamar tidur yang mencekam.
"Kenzo... kenapa?"
suara Clara terdengar parau, terputus-putus oleh gelombang ketakutan yang melumpuhkan dadanya.
"Kenapa kau melakukan ini pada Julian? dia tidak bersalah!"
Di ruang kerjanya yang megah di London, Kenzo menyesap whiskynya pelan. Pria itu bersandar di kursi kebesarannya, menatap bayangan hujan yang membasahi kaca jendela. Binar matanya tetap dingin.
"Dia bersalah saat jarinya menyentuh milikku, Clara,"
balas Kenzo, suaranya mengalun tenang tanpa ada sedikit pun penyesalan.
"Aku sudah memberinya peringatan. Tapi dia memilih untuk menguji batasan kesabaranku. Foto itu hanya konsekuensi kecil dari keberaniannya."
"Dia hanya teman masa kecilku, Kenzo! Kenapa kau harus sekejam ini?"
jerit Clara pelan, air matanya menetes makin deras membasahi sprai.
"Kau sudah berjanji pada Ibu dan Ayah untuk pergi ke London! Kau bilang kau akan melepaskanku sementara!"
Kenzo terkikik pelan, sebuah tawa dingin yang mengundang bulu kuduk berdiri.
"Aku berjanji untuk pergi ke London karena kau yang memintanya, Dear"
bisik Kenzo.
"Tapi aku tidak pernah berjanji untuk melepaskan pengawasanku atasmu. Kau adalah milikku."
Clara memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa putus asa merayapi jiwanya begitu dalam. Ia sadar, tidak ada logika atau rasa kemanusiaan yang bisa dipakai untuk menawar obsesi gila pria ini.
"Tolong jangan sentuh Julian lagi,"
mohon Clara akhirnya dengan nada suara yang benar-benar hancur dan pasrah.
"Aku akan menuruti semua kemauanmu. Aku tidak akan pernah berbicara dengan pria mana pun lagi. Aku tidak akan mencoba kabur. Tolong biarkan dia hidup."
Di seberang telepon, Kenzo memejamkan mata, menyesap suara kepasrahan Clara yang merdu di telinganya. Rasa puas yang gelap memenuhi dadanya.
"Anak yang baik,"
gumam Kenzo lembut, suara kekejamannya mendadak berganti menjadi kelembutan yang memabukkan.
"Pakai sarung tangan yang kukirimkan. Simpan foto itu sebagai pengingat. Dua bulan lagi aku akan pulang."
Panggilan terputus.
Clara menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis sejadi-jadinya di tengah kamar yang luas dan dingin.
Di antai bawah, suasana tak kalah panas. Fred berdiri di ruang kerjanya dengan raut wajah memerah padam. Di tangannya, terikat laporan rahasia dari jaringan intelijen pribadinya mengenai insiden pengeroyokan Julian di dekat area kampus tadi malam.
"Kurang ajar!"
bentak Fred seraya membanting berkas dokumen itu ke atas meja.
Kevin yang dipanggil menghadap berdiri tegap tanpa menunjukkan sedikit pun rasa takut.
"Aku yang memerintahkanmu mengawasi Clara, Kevin! Bukan menjadi kaki tangan Kenzo untuk membuat kekacauan di kota ini!"
geram Fred dengan mata melotot tajam. "Keluarga Julian adalah mitra bisnis penting di sektor perbankan! Jika rumor ini tersebar bahwa pengawal keluarga kita yang meremukkan tangan anak mereka, saham kita bisa anjlok!"
"Maafkan saya, Tuan Besar,"
jawab Kevin dingin dan tenang. Perintah operasional tertinggi kami tetap berada di tangan Tuan Kenzo. Beliau yang membayar seluruh unit pengawal khusus ini dari rekening pribadinya, bukan dari aset holding."
Fred tersentak. Mata pria tua itu menyipit tajam, menyadari bahwa putra tunggalnya telah mengamankan fondasi kekuasaan independen jauh sebelum ia diasingkan ke Eropa.
"Keluar dari ruanganku!"
perintah Fred dingin.
Setelah Kevin melangkah keluar, Fred segera meraih ponselnya dan menekan nomor pribadi Kenzo di London. Begitu panggilan terhubung, kemarahan sang ayah meledak seketika.
"Kenzo! Apa yang kau lakukan pada anak keluarga Perbankan itu?! Kau pikir kau bisa terus bertindak gila dari luar negeri tanpa merusak nama keluarga ini?"
bentak Fred murka.
Dari seberang sana, Kenzo hanya tersenyum dingin.
"Ayah yang memulai permainan ini dengan mengirimku ke London dan mencoba menempatkan sekretaris murahan di mejaku," jawab Kenzo santai namun menusuk.
"Ini hanya peringatan kecil. Jangan coba-coba mengusik Clara atau menggunakan pengaruh Ayah untuk menekannya selama aku tidak ada."
"Kau menantang ayahmu sendiri, Kenzo?"
suara Fred bergetar oleh amarah.
"Ingat, aku bisa mencabut seluruh otoritas eksekutifmu di cabang Eropa besok pagi!"
"Silakan coba, Ayah,"
potong Kenzo mutlak.
"Tapi perlu Ayah ketahui, dalam tiga hari terakhir, aku telah membeli delapan belas persen saham independen dari para investor minoritas di London secara rahasia. Dalam satu bulan, aku akan memegang hak suara mayoritas di divisi Eropa. Dan saat hari itu tiba, Ayah tidak lagi punya kekuatan untuk memerintahku."
Fred mematung di tempatnya berdiri. Lidahnya mendadak kelu saat menyadari bahwa perangkap pengasingan yang disiapkannya untuk Kenzo justru dimanfaatkan oleh sang putra untuk melancarkan kudeta bisnis secara terang-terangan.
"Kau benar-benar sudah gila karena anak tiri itu, Kenzo,"
"Aku tidak gila, Ayah,"
jawab Kenzo sebelum memutus telepon.
"Aku hanya mengambil kembali apa yang sejak awal menjadi milikku."
Kenzo meletakkan ponselnya. Pria itu menatap peta dunia yang terpajang di dinding, memfokuskan pandangannya pada titik kota Mexico. Perang terbuka melawan ayahnya telah resmi dimulai, dan tidak ada yang bisa menghentikannya untuk kembali.
Malam kian larut saat kabut tebal menyelimuti kota Mayfair. Kenzo berdiri di tepi dinding kaca setinggi langit-langit, membiarkan pantulan dirinya yang dingin berpadu dengan pendaran lampu kota di luar sana. Tangan kanannya yang terbalut perban tipis akibat cengkeraman gelas retak sebelumnya tak lagi terasa perih.
Rasa sakit fisik itu menguap sepenuhnya, kalah oleh gelombang kemenangan yang perlahan tapi pasti mulai merayapi genggamannya.
Setiap papan catur yang ditaruhnya kini bergerak sesuai rencana. Ayahnya telah salah menilai dirinya. Pengasingan ke benua ini alih-alih menjatuhkan mentalnya, justru menjadi arena pembantaian di mana Kenzo melucuti satu per satu jaringan pengaruh sang ayah.
Kenzo meraih gelasnya yang kembali terisi whisky cair, menyesapnya perlahan seraya membayangkan raut wajah Clara yang pucat dan pasrah di seberang sana.
"Menangislah sepuasmu malam ini, Dear," gumam Kenzo.
"Karena saat aku melangkah kembali ke kediaman itu, takkan ada lagi air mata perlawanan.
Clara memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba mengusir bayangan pergelangan tangan Julian yang hancur dari benaknya. Namun, bayangan itu seolah menempel di balik kelopak matanya. Tiba-tiba, layar ponsel Clara menyala menampilkan pesan singkat baru dari Kenzo.
Aku memajukan pengawasan penuhmu mulai malam ini. Tidurlah, Dear! aku akan melihat dan menjagamu dari jauh, kau tidak perlu merisaukan apapun, selamat tidur adik kecilku."
Clara menahan napas, menatap sudut plafon kamar dengan tubuh membeku ketakutan. Ia memaksakan kelopak matanya untuk terpejam.