NovelToon NovelToon
MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:6.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Tri Ani

Namanya Nadinda Aulya Putri. Seorang gadis cerewet yang mencoba mencari cintanya. Kehidupan kakaknya menjadikannya cermin untuk dirinya mencari pasangan hidup.

Nadin di pertemukan oleh seorang pria dingin yang berhasil membuat hatinya ingin memiliknya.

Begitu banyak perjuangan dan tantangan yang harus dia lalui untuk mendapatkan tambatan hatinya.

"Aku menyukaimu ...." teriak gadis itu. membuat pria yang hendak meninggalkannya itu berhenti. Pria beda usia sepuluh tahun itu telah membuatnya mengalah dari egonya.

"Ya ...., apa kau dengar ...., aku sungguh menyukaimu ..." teriak lagi gadis itu setelah pria itu berbalik menatapnya. Pria dewasa yang usianya kini sudah tiga puluh dua tahun, cukup matang untuk membina rumah tangga.

"Ciihhh ....., menyukaiku ...." ucap pria itu dingin.

"Aku akan membuktikannya padamu, bahwa aku pantas mendapatkan cintamu." ucap gadis itu yakin.

"Apa yang kau punya, hingga membuatmu seyakin itu?" tanya pria itu.

"Aku punya hatiku, aku punya keyakinan ...., apakah itu belum cukup ...?"

"Kalau begitu, buktikan ...., buat aku tertarik padamu ...." ucap pria itu lalu berbalik meninggalkan gadis itu seorang diri. gadis itu adalah Nadin.

Setelah pria itu pergi. Nadin hanya bisa menjatuhkan tubuhnya di tanah. ia terduduk dengan lemas. seakan tulang-tulang nya tak mampu ia gunakan untuk menopang tubuhnya.

"semenyedihkan inikah aku ......, aku benci ...., kenapa harus menyukainya ...., aku benci .....!" teriak Nadin meluapkan kekesalannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia Nadin

Tidak perlu semuanya diceritakan pada dunia. Tetap sisakan misteri. Bukankah rasa penasaran yang membuat mereka terus menggali lebih dalam tentangmu?

by Feirsa Besari

***

Namaku Nadinda Aulya Putri, orang biasa memanggilku Nadin. Aku anak ke

dua dari dua bersaudara. Aku tumbuh dari keluarga sederhana. Di besarkan oleh

seorang ayah yang tampan namanya Roy. Ayah adalah panutan kami.

Kakakku perempuan. Kami pernah menyukai satu pria yang sama,

sebelum kami tahu maksudnya mendekati kakakku. Kak Ana namanya. Tapi kemudian

kakakku dipertemukan dengan orang yang benar-benar mencintainya dengan tulus.

Jujur aku iri pada kakakku...., aku juga ingin di pertemukan dengan pria yang seperti

itu.

Kak Dio, dia baik tapi tak sebaik yang aku pikir. Aku menyukainya,

entah itu obsesi atau aku merasa nyaman dekat dengannya. Setelah hubungannya

berakhir dengan kakakku, aku tidak tahu detailnya kenapa mereka berpisah, yang

aku tahu dari kakakku dia menghianati kakakku. Tapi penghianatan seperti apa

itu, aku tidak pernah tahu. Kak Dio masih sering menghubungiku. Tapi tak

sedekat dulu, aku harus menghargai perasaan kakakku.

***

Seperti biasa

sore ini aku keluar dari kampusku, aku dulu lebih suka nebeng sama Dio dari

pada bawa motor sendiri. Tapi akhir-akhir ini beda. Aku tak mau lagi tergantung

pada kak Dio. Aku menuju ke parkiran kampus untuk mengambil motor. Tapi

langkahku segera terhenti oleh seseorang. Seseorang itu adalah orang yang begitu

ingin aku hindari. Dia adalah kak Dio.

“Nadin ....”

kak Dio menghampiriku.

“hei kak ....”

sapaku pada kak dio .

“mau pulang

ya?”

“iya ....!”

jawabku singkat

“mau bareng

sama aku?” tawar kak Dio.

“nggak usah

kak, aku bawa motor sendiri ...” jawabku sambil menunjuk ke arah motorku yang

terparkir tak jauh dari tempat kami berdiri.

“baiklah ...,

hati-hati ya ..., besok aku jemput ya ...!”

“nggak usah kak

..., aku bawa motor sendiri aja ...”

“kenapa sih

kamu menghindariku?” tanya kak Dio yang tampak kecewa.

“maaf kak, tapi

aku nggak bisa.”

“kamu merasa

tidak enak dengan kakakmu ...? kami sudah putus, kamu tahu sendiri kan? Jadi

ijinkan aku dekat denganmu.”

“maksud kakak?”

aku gagal mencerna ucapan kak Dio, apa maksud dari perkataannya?

“aku menyukaimu

dari dulu, aku dekat dengan kakakmu supaya aku bisa dekat denganmu.”

“apa?” aku

benar-benar syok setelah tahu kebenarannya. Betapa sakit hati kakakku, saat

tahu kenyataan itu. Tapi kenapa kakak tak pernah cerita. Sunggu saat ini aku

begitu kecewa pada kak Dio. Dia sudah memanfaatkan kakakku.

“maafkan aku

Nad ..., aku sungguh menyesal.”

“kakak

keterlaluan ...”

“tapi aku nggak

bisa membohongi perasaanku lebih lama lagi ...”

“aku kecewa

sama kakak, biarkan aku pergi.” Aku pun meninggalkan kak Dio seorang diri.

Hatiku hancur. Kenapa? Kenapa baru sekarang? Kenapa?

Aku merasa jadi

orang yang paling naif untuk saat ini. Aku tehianati oleh perasaanku sendiri.

Di dalam hatiku yang paling dalam aku merasa senang karena selama ini ternyata

aku tidak mencintai sendirian. Tapi kenapa caranya salah. Seandainya,

seandainya bukan seperti itu. Kenapa takdir sepertinya menertawakanku.

Brakk

“auhhhggg ...”

Aku tidak

konsentrasi dengan motorku. Aku menabrak mobil seseorang. Aku kecelakaan.

Mataku masih terpejam. Apa aku sudah mati.apa aku sudah naik ke surga. Tapi

rasanya punggungku sakit. Kakiku juga sakit.

“kau tidak pa

pa?” hah ..., ada yang bertanya padaku. Aku perlahan membuka mata. Kataku

terpaku pada manik matanya yang tajam. Tapi terlihat menyeramkan. Apa dia

malaikant pencabut nyawa? Tapi dia tampan.

“kau tidak pa

pa...”

Barulah aku

tersadar. Aku masih di jalan yang sama. Aku  terduduk di jalan di samping motorku yang tergeletak. Aku menatapnya

kembali.

“kau siapa?”

aku dengan ragu bertanya.

“kau yang siapa?

Apa yang kau lakukan?” dia. Pria itu bertanya balik padaku.

“aku jatuh, apa

kau tidak liat, masih tanya lagi, sakit tahu ..., kau ini robot ya ...” omelku

padanya, pada pria itu.

“nona yang

menabrakku ...”

“terserahlah

..., aku yang sakit ...” aku pun bangun dan membangunkan motorku kembali. Aku

malas berurusan terlalu lama dengan pria asing ini. Dia , wajahnya tampan

tampak menyebalkan.

“aku buru-buru

..., aku harus pergi, ini kartu nama saya ..., jika anda meminta ganti rugi,

bisa menghubungi nomor yang ada di situ ...” ucap pria itu sambil menyerahkan

secarik kertas kecil seukurang KTP. Ini jika di lihat memang seperti kartu

nama. Dia bukan orang sembarangan dong, punya kartu nama. Dia pun pergi

meninggalkanku seorang diri. Aku perhatikan kartu itu, di sana tertera mananya Narendra

Rendiansyah. Nama yang bagus. Tapi cukup familiar. Siapa dia?

“Nad ..., kamu

kenapa?” tiba-tiba kak Dio yang kebetulan lewat menghampiri kami.

Dia turun dari

motornya.

“aku jatuh kak

...” aduku padanya.

“mana yang sakit?”

“tidak pa

pa..., sepertinya motorku saja yang rusak.”

“baiklah kamu

tunggu di sini, motormu biar aku bawa ke benkel yang ada di sana.” Aku hanya

mengangguk dan menunggu kak Dio menuntun motorku ke seberang jalan. Tak berapa

lama ia kembali menghampiriku.

“kita tinggal

saja motornya, sepertinya harus mengganti beberapa yang rusak. Kamu bareng sama

aku saja ya ..” aku pun hanya bisa pasrah. Aku mengangguk. Akhirnya kami jadi

pulang bersama.

kami pun sampai

di depan rumah,

“sini biar aku

bantu” kak Dio membantuku melepaskan helm yang ku kenakan, perhatian-perhatian

kecil yang di berikan Dio inilah yang menumbuhkan rasa suka di hati kecilku,

walau tak bisa di pungkiri aku juga merasa bersalah dengan kak Ara, perhatian

itu masih sama

“terimakasih kak

...” itu yang bisa aku ucapkan, dan di balas dengan senyum ramah oleh kak Dio,

membuat hatiku semakin dilema.

“aku langsung

aja ya ...”

“iya ....”

Kak Dio pun meninggalkan

halaman rumah kami, aku segera masuk ke dalam rumah dengan kaki yang terpincang.

Entahlah mungkin kakiku terkilir.

“assalamualaikum

...” ucapku sambil memasuki rumah.

“waalaikum

salam ...”

“ayah ....”

“kamu kenapa?”

tanya ayah sambil menghampiriku yang sudah terduduk di sofa ruang tamu.

“aku jatuh yah

...” aduku.

“kok bisa ...?”

“ya bisa lah

yah ..., namanya juga kecelakaan ...”

***

Hari demi hari

aku lewati tampa kak Dio lagi. Aku benar-benar menghindarinya. Aku tak ingin

membuat hatiku semakin tertahan di hati kak Dio.

Aku lebih

sering menghabiskan waktuku di rumah. Walaupun sepi, karena kakakku lebih

sering pulang malam.

“ayah ....,

sepi sekali ..., kakak belum pulang lagi?”

“belum ...,

biasa lembur dari bosnya. Tadi bosnya malah terpon kalau kakakmu nggak pulang

hari ini karena ada pertemuan di luar kota.”

“ah ...., kakak

sibuk banget sih ...”

***

Pagi ini kak Ara sudah kembali ke rumahnya, setelah kemarin tidak

pulang. Aku dan ayah percaya jika kakak memang ada pekerjaan di luar kota.

“kakak capek ya ...?” tanya ku pada kakak. Terlihat dari wajahnya

jika dia begitu lesu.

“iya ..., aku ingin istirahat , dek .” kak Ara menjatuhkan tubuhnya

di kempat tidur.

“kakak beneran putus sama kak Dio?”

“iya dek ....!”

“kenapa?”

“dia nggak baik dek ..., pokoknya kamu juga nggak boleh dekat sama

dia.”

“tapi kenapa kak?”

“nggak boleh, ya nggak boleh titik ...” ucap kak Ara penuh

penegasan.

“baiklah ...., selamat istirahat ...”

Aku pun meninggalkan kamar kakak. Aku ke dapur untuk membatu bibi

memasak untuk makan malam.

Setelah mengurung diri di dalam kamar seharian dan semalaman. Pagi ini ara

keluar dari dalam kamar dan langsung di sambut oleh ayahnya dan Nadin yang

sudah di buatnya cemas

"sayang ...., kamu sudah tak apa? sebenarnya apa

yang terjadi? ceritakan pada ayah" ayah ara segera menuntun ara ke meja

makan untuk sarapan bersama, ara pun duduk di salah satu kursi dan ayahnya

menyusul di sampingnya

"sekarang ayo ceritakan pada ayah"

"aku lapar yah ..." ara segera membalik

piringnya dan mengambil nasi serta lauk pauk

"iya kak ayo cerita pada kami" Nadin yang baru

keluar dari dapur dengan membawa sebaskom sayur segera ikut bicara. Ia begitu

penasaran dengan cerita kakaknya. Apa yang di ceritakan kakaknya kemarin belum

membuatnya puas.

Ayah dan nadin benar-benar penasaran dengan masalah

yang dihadapi ara hingga membuatnya mengurung diri, mereka begitu mencemaskan

keadaan ara

"iya nak ..., ayah merasa tidak berguna jika kamu

tak mau cerita sama ayah"

"ayah ini bicara apa ...., aku sudah baik-baik

saja ..." ara mencoba membantah

"iya kak, aku benar-benar penasaran kak, mungkin

dengan cerita sama aku dan ayah akansedikit meringankan beban pikiran

kakak"

"jika kamu tidak mau cerita berati kamu tak

pernah menganggap ayah penting dalam hidupmu" mendengar penuturan ayahnya

menjadikan ara merasa bersalah

"maafkan aku ayah ...."

"cerita ya ..." ayah ara benar-benar memaksa

"aku sedang patah hati yah ...., aku putus"

Hahahahaha

Ayah  malah

tertawa keras saat mendengar penjelasan Ara. Sedang Nadin, ia di buat bingung

dengan hatinya. Ia takut jika hatinya berhasil menguasai pikirannya. Ia takut

jika bahagia. Ia takut perasaannya akan menghianati kakaknya.

"kenapa ayah malah tertawa ...? jahat sekali

..."

"hanya patah hati ...., jadi seperti itu ..., kau

benar-benar membuatku geli ..." ayahnya kembali menertawakannya

"ayah benar-benar jahat ..."

bretttt brettttt brettttt

Obrolan mereka terhenti saat ponsel ara bergetar, ada

panggilan masuk di sana

"pak Rendi" ara berucap tanpa mengeluarkan

suara saat melihat nama Rendi di layar panggilan

"siapa kak?" nadin pun ikut penasaran

"pak rendi, aku angkat dulu ..." ara pun

segera menjauh dari meja makan dan menggeser tombol hijau. Dan sedikt menjauh

dari Nadin dan ayahnya.

Nadin yang nendengar nama Rendi di sebut, ia kemudian

teringat pada kartu nama itu. Apa orang itu pak Rendi? atasan kak Ara? Orang

yang telah menyebabkan motornya masih di bengkel. Karena biaya perbaikannya

yang cukup mahal. Membuat Nadin enggan mengambilnya. Walaupun bukan sepenuhnya

kesalahan pria itu. Tapi tetap saja pria itu bersalah.

panggilan pun terputus, ara pun kembali ke meja makan

"ada apa kak?" tanya Nadin yang sedang

membereskan meja makan. Tapi pikirannya bukan di situ. Ia ingin sekali

menunjukkan kartu nama itu pada kakaknya. Tapi, entahlah, dia ragu.

"pak Rendi mengajak ketemu ..."

"wah ..., itu ya yang sama kak agra , yang kata

kakak keren itu ya kak?"

"iya, tangan kanan pak Agra, ya udah aku

siap-siap dulu ya, nggak pa pa ya kamu beres-beres sendiri dek, soalnya aku

buru-buru"

"beres kak..., asalkan uang sakunya jangan

lupa"

"siap"

****

Kamu tidak akan menyadarinya sampai hal itu benar-benar terjadi, tapi sebuah tamparan mungkin menjadi hal yang paling baik di dunia untukmu." - Walt Disney

Hai-hai ...., aku datang lagi di sini ....

jangan lupa kasih like dan komentarnya ya

kasih vote juga .....

happy reading ....😘😘😘😘

1
Marhaban ya Nur17
saudaraan kali ajun sama juna 🤔 secara namanya aja sama
Marhaban ya Nur17
cerita e se menarik tp adegan e kebanyakan di putus jd ke inget sinetron kan
Marhaban ya Nur17
tuh kan emang semuanya sinetron pasti soal e ada adegan skip
Marhaban ya Nur17
wkwkwkkw kocak 😄😄😄😄
Marhaban ya Nur17
juna pasti
Marhaban ya Nur17
g bisa nyetir din tangan nya se ajun
Marhaban ya Nur17
juna ajun,,, kan nama banyak thor
Marhaban ya Nur17
lu kan pinter ren 😆 kan ada petunjuke wkwkwk jan bilang g bisa maca deh
Marhaban ya Nur17
udh kenyang gw nunggu gini doank 🙊
Marhaban ya Nur17
gtu doank 🤪🙄😂 yaahhhh capek nunggunya cmn gtu doank 🙊🙈
Marhaban ya Nur17
y ampuunnn thor" msh aja di skip
Marhaban ya Nur17
jan plin plan , sekali tidak y tidak 😏 lu kan korban di boongin Davina
Marhaban ya Nur17
gmn mau memaafkan bang 😛 wong penjelasan be belum ada wkwkkwk aneh , simpel se tinggal di jelasaken kelar dah masalah ini mah muter" gini ae
Marhaban ya Nur17
apapun alasannya yg namanya orang ke-3 dan selainnya itu salah 👏👏👏 klo berjasa y cukup berbuat baik aja jan di ksh peluang yyyyy
Marhaban ya Nur17
novel ini kebanyakan dramanya gila 🤪
Marhaban ya Nur17
haduuhhhh g kelar" cerita muter" gtu aja
Marhaban ya Nur17
bertele" yyyy kebanyakan dramanya 🙄 tempo e lola banget
Marhaban ya Nur17
makanya jan mementang takdir Tuhan
Marhaban ya Nur17
serakah lu lex 🤪
Marhaban ya Nur17
sengaja tuh se alex
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!