"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.
Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33
Alya kembali ke Kupang dengan dua koper, satu ransel medis, dan dua anak yang terlalu bersemangat melihat laut dari jendela pesawat.
"Mama, itu air semua?" Nara menempelkan wajah ke kaca.
"Iya."
"Kalau jatuh, basah semua?"
Arka menoleh. "Pesawat tidak jatuh."
"Aku cuma tanya."
"Pertanyaannya tidak perlu."
Nara menjulurkan lidah.
Alya menahan senyum, tetapi perutnya terasa kaku sejak pilot mengumumkan pendaratan. Kupang di bawah sana tampak lebih terang, lebih ramai, dan tetap sama pada bagian yang membuatnya sulit bernapas.
Nadia duduk di sampingnya, membuka bungkus permen untuk Nara. "Kamu masih bisa mundur."
"Kontrak rumah sakit sudah jalan."
"Kontrak bisa dibatalkan."
"Aku bukan anak magang yang kabur karena mantan suami."
Nadia mengangkat alis. "Akhirnya kamu menyebutnya."
Alya menoleh ke jendela. "Jangan di depan anak-anak."
Setelah mendarat, mereka langsung menuju rumah dinas dokter yang disediakan RSUD Wira Husada. Rumah itu sederhana, berpagar rendah, tidak jauh dari jalan utama. Nara memilih kamar yang dekat jendela. Arka memeriksa kunci pintu, keran kamar mandi, dan stop kontak.
"Kamu seperti petugas inspeksi," kata Nadia.
"Mama suka kalau rumah aman," jawab Arka.
Alya membeku sebentar.
Nadia melihatnya, tetapi tidak berkata apa-apa.
Hari pertama di RSUD Wira Husada dimulai sebelum Alya sempat membongkar koper. Direktur rumah sakit, dokter Rafi, menyambutnya di ruang rapat kecil.
"Kami butuh dokter seperti Anda, Dokter Alya. Pengalaman bencana, emergensi, dan lapangan. Program dengan Kodam ini penting."
Alya mengangguk. "Saya fokus di sistem rujukan dan pelatihan triase. Untuk urusan protokoler militer, saya ikut alur rumah sakit."
"Tentu."
Pintu ruang rapat diketuk.
Seorang staf masuk dengan wajah panik. "Dok, ada pasien dari latihan batalyon. Luka robek dada, tekanan darah turun."
Alya langsung berdiri. "IGD?"
"Sudah masuk."
Ia berlari.
Di IGD, seorang prajurit muda terbaring dengan seragam latihan penuh tanah. Luka di dada kirinya berdarah deras. Perawat menekan kasa, tapi darah tetap merembes.
"Nama?"
"Pratu Fajar," jawab perawat.
"Tekanan?"
"Delapan puluh per lima puluh."
"Dua jalur infus besar. Crossmatch darah. USG FAST sekarang. Siapkan ruang operasi kalau ada perdarahan dalam."
Ia memakai sarung tangan.
"Dok, atasannya datang," bisik perawat.
Alya tidak menoleh. "Atasannya boleh menunggu."
"Tapi..."
"Pasien dulu."
Langkah berat berhenti di pintu IGD.
Seluruh ruangan seolah menahan napas.
Alya tetap menekan luka prajurit itu. Ia tahu sebelum melihat. Tubuhnya mengenali kehadiran itu dengan cara yang menyebalkan.
"Status?" suara Damar terdengar lebih rendah, lebih matang, dan sama sekali tidak asing.
Alya menjawab tanpa menoleh. "Luka tusuk benda tajam, curiga perdarahan internal. Kami stabilkan dulu."
"Dia anak buah saya."
"Di ruangan ini dia pasien saya."
Hening.
Perawat menatap lantai.
Damar tidak membantah. "Apa yang dibutuhkan?"
"Darah. Akses ke keluarganya. Dan orang-orang berseragam keluar dari pintu kecuali yang diminta."
Rendra, yang berdiri di belakang Damar, hampir tersenyum.
Damar mengangguk. "Kalian dengar dokter."
Baru setelah Fajar dibawa ke ruang operasi, Alya melepas sarung tangan. Ia mencuci tangan di wastafel, membiarkan air mengalir lebih lama daripada perlu.
"Alya."
Ia mematikan keran.
Lima tahun.
Satu nama.
Rasanya tetap seperti luka lama yang ditekan.
Ia berbalik.
Damar berdiri beberapa langkah darinya. Rambutnya lebih pendek. Garis di wajahnya lebih tegas. Ada bekas luka tipis di dekat pelipis yang dulu tidak ada. Matanya masih sama.
Itu bagian paling kejam.
"Dokter Alya," katanya akhirnya, memperbaiki panggilannya.
"Kolonel Damar."
Rendra yang baru masuk langsung berhenti. "Saya cek donor darah." Ia pergi terlalu cepat.
Damar menatap Alya seolah ingin memastikan ia benar-benar ada.
"Kau kembali."
"Saya ditugaskan."
"Lima tahun tidak ada kabar."
"Kita tidak punya hubungan yang mewajibkan kabar."
Kalimat itu melukai mereka berdua.
Damar menerima pukulannya tanpa berkedip. "Putusan cerai tidak pernah selesai."
Alya menggenggam ujung jas putihnya.
"Saya tahu."
"Aku tidak pernah menandatangani persetujuan."
"Saya tidak meminta Anda membahas itu di IGD."
"Aku mencari kau."
"Jangan."
Satu kata. Sama seperti malam gudang dulu.
Damar terdiam.
Alya mengambil berkas pasien dari meja. "Kalau prajurit Anda stabil, saya akan kirim laporan medis resmi. Untuk hal lain, silakan lewat direktur rumah sakit."
Ia berjalan melewatinya.
Damar tidak menahan.
Di lorong, Nara berlari dari arah lobby dengan Nadia di belakangnya.
"Mama!"
Alya berhenti terlalu mendadak.
Nara memeluk kakinya. Arka menyusul dengan langkah lebih tenang, membawa botol minum adiknya.
"Tante Nadia bilang Mama kerja, tapi Nara mau pipis," kata Nara cepat.
Alya merasakan darahnya surut.
Damar berdiri di ujung lorong.
Matanya jatuh pada Arka.
Anak laki-laki itu menatapnya balik. Tenang. Waspada. Terlalu mirip cermin yang belum sempat dipersiapkan.
"Maaf," kata Alya kepada Nadia, suaranya hampir pecah. "Bawa mereka ke ruang dokter."
Damar tidak bergerak.
Arka masih menatapnya.
Lalu anak itu bertanya, "Mama, Om itu tentara yang Mama kenal?"
Alya tidak bisa menjawab.
Damar menatapnya.
Untuk pertama kalinya hari itu, wajahnya kehilangan semua kekerasan.
Nadia bergerak paling cepat. Ia mengangkat Nara, menggandeng Arka, lalu tersenyum kepada Damar seolah tidak ada badai di lorong.
"Maaf, anak-anak salah arah. Kami cari toilet."
Tidak ada yang percaya, bahkan Nara.
Damar tidak memaksa. Ia hanya menepi agar mereka lewat. Saat Arka melintasinya, mata anak itu kembali menatapnya. Bukan takut. Lebih seperti sedang mengingat wajah.
Setelah anak-anak hilang di balik pintu ruang dokter, Damar berkata pelan, "Berapa umur mereka?"
Alya merapikan berkas yang tidak perlu dirapikan. "Lima."
"Lima."
Satu angka bisa menjadi pisau kalau jatuh di tempat yang benar.
"Damar, jangan mulai."
"Aku belum bertanya."
"Wajahmu sudah bertanya."
Ia menatapnya. "Haruskah aku tidak bertanya ketika melihat anak laki-laki yang berjalan seperti aku saat kecil?"
Alya tertawa pendek tanpa bahagia. "Kamu mengingat cara jalanmu saat kecil?"
"Ibuku punya banyak foto."
Nama ibu Damar membuat Alya menegang. Ia membayangkan keluarga Pradipta mendengar ada dua anak yang disembunyikan. Bayangan itu cukup membuat keringat dingin muncul di punggungnya.
"Mereka anakku," katanya.
"Aku tidak bilang bukan."
"Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyeret mereka ke konflik orang dewasa."
"Termasuk aku?"
Alya diam.
Damar mengangguk pelan, seolah jawaban itu tetap terdengar.
Di ruang dokter, Arka duduk di kursi dan bertanya kepada Nadia, "Tante, Om itu kenapa lihat aku terus?"
Nadia berhenti membuka botol minum.
Nara menjawab dulu, "Mungkin karena Kakak mirip dia."
"Aku tidak mirip orang asing."
"Kamu mirip kalau cemberut."
Arka memegang pipinya, kesal.
Alya masuk tepat saat Nadia hampir tersedak. "Kalian lapar?"
Nara langsung mengangkat tangan. Arka tetap menatap ibunya.
"Mama takut sama Om itu?"
Alya duduk di depannya. "Mama takut pada banyak hal. Tapi bukan karena Om itu jahat."
"Kalau tidak jahat, kenapa Mama sedih?"
Pertanyaan itu terlalu tajam untuk anak lima tahun.
Alya mengusap rambut Arka. "Karena kadang orang baik juga punya cerita yang belum selesai."
Di lorong, Damar masih berdiri di tempat yang sama. Rendra mendekat, membawa laporan donor darah, tetapi melihat wajah komandannya dan menutup map lagi.
"Kau lihat anak itu?" tanya Damar.
Rendra menghela napas. "Iya."
"Aku gila kalau berpikir..."
"Kau tidak gila."
Damar memejamkan mata.
Selama lima tahun ia mencari jejak Alya lewat misi medis, nama rumah sakit, dan yayasan bantuan. Ia membayangkan banyak kemungkinan.
Tidak pernah sekalipun ia membayangkan dua anak menatapnya dari lorong IGD.
"Cari data kelahiran lima tahun lalu," kata Damar.
Rendra menatapnya. "Dam."
"Aku tidak minta kau melanggar hukum. Cari yang bisa dicari. Rumah sakit, klinik, akta kelahiran publik, apa pun yang sah."
"Kalau benar?"
Damar melihat pintu ruang dokter tempat Alya menghilang.
"Maka aku sudah kehilangan lima tahun."
"Kalau tidak benar?"
Damar tertawa sangat pelan, hampir tidak terdengar. "Aku tetap sudah kehilangan dia."
Di ruang dokter, Alya memeluk kedua anaknya lebih lama dari biasa. Nara mengeluh kepanasan. Arka tidak mengeluh, hanya membiarkannya.
"Mama," katanya, "aku tidak suka Kupang."
Alya menahan napas. "Kenapa?"
"Mama jadi sedih di sini."
Alya tidak bisa berbohong pada mata yang begitu mirip Damar.