"Dari kepahitan menjadi kebahagiaan. Hidup memang begitu, kalau bahagia terus bukan kehidupan namanya."
.
.
Anastasya di diagnosis sebagai pasien dengan gangguan mental . Dia dirawat di salah satu Rumah Sakit Jiwa yang ada di kota celebes saat ini, dan beberapa bulan kemudian saat Anastasya di nyatakan sembuh oleh dokter, tiba-tiba semuanya berubah saat dia melihat seorang pasien baru masuk ke rumah sakit jiwa tersebut yang merupakan seorang Perwira berpangkat Letda yang bernama Alex.
Seorang pria berbadan tegap dan sangat tampan, sayangnya dia memiliki gangguan mental yang hampir sama dengan yang di alami Anastasya.
Setelah dinyatakan sembuh, Anastasya memutuskan untuk tetap tinggal dan ingin membantu Alex agar dia kembali normal dan selama dirawat mereka menjalin persahabatan yang begitu baik. Namun, diam-diam Anastasya menaruh perasaan lebih dari sekedar persahabatan itu.
Saat Alex dinyatakan sembuh karena drama perang yang terjadi di rumah sakit, akankah Alex mengingat Anastasya? Akankah Alex membalas perasaan Anastasya saat ia tahu kalau Anastasya menyukainya?
Ikuti kisahnya..
Note : Semua cerita, karakter dan pemeran dalam novel ini hanya berupa fiktif. Maaf jika ada kesan dalam cerita ini nampak memasukkan sesuatu yang menghina dan menyinggung 🙏
Saya menceritakan cerita ini dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga.
Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ig : nurulnull14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 1 - Gangguan Mental
"Dia gangguan jiwa kan?"
"Mestinya dia di kirim saja ke rumah sakit jiwa!"
"Dia membutuhkan dokter psikiater terbaik agar bisa disembuhkan!"
"Jangan dekati dia!"
Semua perkataan orang-orang itu tertuju pada Anastasya dan seketika mata Anastasya terbuka lebar melihat mereka yang mengatakan itu, dan orang-orang yang ada di sekelilingnya itu mulai terdiam dan pergi meninggalkan Anastasya.
Yah, namanya Anastasya dan gadis itu berusia 20 tahun. Orang-orang bilang dia memiliki sedikit gangguan mental.
"Apa yang sedang kau fikirkan?" Seseorang bertanya pada Anastasya namun tidak di gubris sama sekali olehnya.
"Kau tidak usah takut, Kami disini untuk membantumu," seseorang memberitahunya begitu dia masuk ke dalam rumah sakit jiwa.
"Untuk kesekian kalinya, uhhh, Ya Tuhan." Anastasya menangis dan berteriak, "Aku tidak gila, Aku baik-baik saja. Aku baik-baik saja."
"kami tahu," dokter itu menggandeng tangannya dengan lembut dan membawanya ke sebuah ruangan.
Sebuah ruangan yang luas, dingin dan hampa. Ada sebuah jendela berbentuk persegi panjang di ujung dengan tirai berwarna biru yang polos. Dindingnya yang di cat berwarna putih dan beberapa lukisan yang indah terlihat di dinding ruangan itu. Sesaat Anastasya merasa kalau semua energi positif yang tersisa padanya perlahan-lahan mulai menghilang pada dirinya.
"Tempat apa ini?" Tanya Anastasya dalam hati.
Anastasya pun disuruh untuk duduk di sudut ruangan itu dimana disana ada sebuah kursi besi dan sebuah meja panjang. Begitu menyeramkan. Dokter yang memandang di sekitar tersenyum padanya tapi Anastasya tidak membalas senyum itu. Anastasya hanya diam.
"Hai," Dokter menyapa dengan nada rendah, "Namaku-"
Belum selesai dokter itu berkata Anastasya langsung memotong perkataan dokter itu.
"Aku tidak peduli siapa kau," Anastasya membentak.
"Anastasya," Katanya dengan sabar, "Tolong. bisakah kita bicara seperti orang dewasa pada umumnya? Mari kita bicara dengan serius, oke?"
Anastasya tidak tersenyum, juga tidak marah tapi, Anastasya merasa sangat sedih dan dia hanya menangis.
"Kenapa? Dia baik-baik saja, tidak ada yang salah dengannya. Lalu kenapa dia merasa sangat sedih?" tanya dokter itu dalam hati.
Anastasya menghela nafas dan akhirnya dia memutuskan untuk mengangguk 'ya'. Dia ingin sekali tahu apa yang akan dokter katakan padanya.
"Anastasya," penuh perhatian. "Apa kau mengkonsumsi Obat terlarang?" Kata dokter itu. Seketika mata Anastasya melotot begitu dia mendengar ucapan dokter itu padanya.
"Apa? Hei, obat terlarang ? Tidak. Aku tidak pernah mengkonsumsi itu." Anastasya mulai menangis lagi, sambil menggosok air matanya.
"Atau apa kau merokok?" kata dokter dengan cepat menambahkan.
"Tidak!!!," balas Anastasya dengan mata lebar, Dan suaranya membuat seluruh ruangan bergema.
"Apa kau sering minum yang beralkohol?" Dokter itu memberi pertanyaan padanya sekali lagi.
"Aku tidak pernah minum alkohol dan aku bukan seorang peminum," jawabnya, dengan perasaan yang begitu yakin dengan semua pertanyaan yang di ajukan padanya.
Anastasya ingin skali mengatakan pada dokter itu kenapa mereka sangat ingin tahu tentang dirinya, dan tiba-tiba seorang dokter lainnya mendekatinya.
"Sudah waktunya untuk memperlihatkan sebuah konser mini," Dokter itu tersenyum padanya.
Anastasya menatap wajah dokter itu dengan hati-hati tapi dokter itu tidak memperhatikan. Dia berbalik dan berjalan menuju podium.
"Bapak-bapak, dan Ibu-ibu sekalian," dia mengumumkan di atas podium, "Selamat datang semuanya, dan selamat datang untuk artis luar biasa kita hari ini, Nona Anastasya."
Oh tidak! Anastasua benar-benar lupa tentang konser mini. Mudah-mudahan dia ada di sini tepat waktu.
Anastasya tersenyum saat melihat semua orang di aula dan perlahan-lahan berjalan menuju podium. Dia merasa sangat gugup sekarang.
Sesampainya disana, Anastasya mengambil tempat untuk berdiri dan memulai pidatonya yang dipersiapkan dengan baik.
"Terima Kasih, terima kasih banyak," katanya. Kerumunan besar selalu membuatnya merasa terintimidasi.
"Aku sangat bangga mempersembahkan album terbaru saya. Sesuatu yang sudah aku persiapkan sejak lama. Aku pikir..."
"Anastasya, apa yang sedang kau lakukan?" seseorang menarik lengan bajunya. Itu dokter.
"Apa?" Anastasya bertanya, "Tinggalkan aku, tidak bisakah kau melihat kalau aku..."
Anastasya melihat kearah depan dan tidak melihat apapun. Tidak ada penonton, tidak ada aula, tidak ada apa-apa, tidak ada konser mini. Semuanya kosong.
"Kemana perginya semua orang?" Ucapnya dalam hati.
Anastasya kemudian kembali ke ruangan dingin yang dicat putih itu. Tirai biru tosca itu sudah kembali dan dia merasa kalau dia pergi sebentar. Kemana perginya semua orang? mereka tadi ada disana di hadapanku.
"Gejala positif, Halusinasi," gumam dokter.
"Apa?" dia berbisik dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu aman disini. Kami akan memperlakukanmu dengan sangat baik, jangan khawatir." kata dokter itu.
"Itu berarti aku akan tetap berada disini dan tidak bisa pulang?" Ucap Anastasya. Sedih.
"Yah tentu saja, sebelum kau benar-benar pulih kau harus tetap disini, percayalah kami akan memperlakukanmu dengan baik," kata dokter.
"Ok aku percaya padamu,"
Note :
Halo, Terima kasih telah membaca episode pertama ini, saya harap kalian menykainya. Tolong tinggalkan komentar berupa kritik dan saran kalian, apabila cerita ini terlihat menarik atau tidak, atau bahkan membosankan.
Aku membuat cerita ini dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga jadi kemungkinan sebagian besar episode akan diceritakan oleh orang ketiga.
Terima Kasih
Saya butuh dukungan dari kalian. 🙏
aku vote y Thor
semangat Thor...