Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.
Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.
Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.
Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.
Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.
Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
𖣂|Bab 26 Rahasia Apa yang Di Sembunyikan Tuan Adama?|
...|Legacy of Soryu|...
......· · ─ ·𖥸· ─ · ·......
Langkah kaki Shu Hades menghentak di atas lantai marmer kediaman Adama, meninggalkan sisa panas aspal yang masih terasa di telapak kakinya. Jaket kulitnya kini berbau matahari dan kegagalan. Begitu masuk, matanya langsung tertuju pada satu titik di ujung lorong yaitu pintu ruang kerja ayahnya.
Selama ini, pintu itu adalah simbol kekuasaan bagi Ariessendy Adama. Nama Adama mungkin besar di dunia bisnis, tapi bagi Shu, ayahnya adalah teka-teki yang sengaja dikunci rapat-rapat. Tetapi hari ini, ia akan mendobrak kunci itu.
Shu tidak mengetuk. Ia menekan gagang pintu dan masuk dengan dorongan kasar.
...-Ruang Kerja Ariessendy Adama-...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Ruangan itu luas, namun terasa sesak oleh aroma cerutu dan bau kertas dokumen. Ariessendy duduk di balik meja kerjanya, kacamata baca bertengger di ujung hidung. Saat mendengar pintu terbuka tanpa izin, Ariessendy mendongak.
"Shu."
"Aku sudah bilang jangan ada yang menggangguku jam segini!"
"Aku tidak peduli dengan jadwal Ayah sekarang," Shu berjalan mendekat, berhenti tepat di depan meja kayu itu.
"Aku baru saja mengejar mobil BMW hitam yang sempat berhenti di depan rumah kita. Aku yakin itu adalah mobil milik Bara Soryu."
Ariessendy terdiam. Jemarinya yang memegang pulpen tampak sedikit menegang.
"Siapa keluarga Soryu sebenarnya, Ayah?" tanya Shu, suaranya rendah namun penuh tuntutan.
"Kenapa pria sekelas Bara Soryu—pemilik kerajaan bisnis raksasa sampai harus repot-repot menyamar jadi mahasiswa hanya untuk mendekati Nana? Apa yang mereka inginkan dari keluarga kita?"
Hening menyelimuti ruangan. Udara seolah menyusut, membuat setiap tarikan napas mereka terasa berat. Ariessendy meletakkan pulpennya perlahan, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi kerjanya. Matanya tidak lagi menatap Shu, melainkan menatap kosong ke arah jendela kaca di belakang putranya.
"Keluarga itu..." Ariessendy berbisik. "Keluarga kita punya hutang yang sangat besar kepada keluarga Soryu, Shu."
Mata Shu membelalak. "Hutang? Hutang apa? Kalau ini soal uang, kita bisa bayar. Kita punya aset, jangan seperti orang susah—"
"Bukan uang!" Ariessendy memotong dengan bentakan tiba-tiba. Ia menatap Shu dengan tatapan yang hancur.
"Ini bukan sekadar angka di atas kertas, Shu. Ini hutang yang tidak akan pernah bisa lunas hanya dengan materi."
"Lalu apa?" desak Shu, suaranya naik satu oktav. "Hutang nyawa? Perjanjian bisnis lama? Katakan padaku, Ayah! Jangan biarkan aku buta saat pria itu mulai mengincar Nana!"
Ariessendy tidak menjawab sejenak. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, seolah sedang mencoba menghalau bayangan masa lalu yang menakutkan.
"Hutang ini... sudah terlalu lama, Shu. Jauh sebelum kau lahir, bahkan sebelum aku membangun semua ini. Kita punya hutang budi dan tanggung jawab seumur hidup yang terikat pada nama Soryu, terutama pada mendiang Tuan Ryuichi Soryu. Aku tidak bisa memberitahumu detailnya. Belum saatnya, Nak."
"Belum saatnya?" Shu tertawa sinis, tawa yang terdengar menyakitkan. "Adikku sampai mengurung dirinya di kamar, namanya hancur, dan pria itu dengan santainya mengawasi rumah kita dari kejauhan! Dan Ayah bilang belum saatnya?"
Ariessendy bangkit dari kursinya, tangannya bertumpu pada meja. Wajahnya yang biasanya tegar kini tampak rapuh.
"Dengarkan aku, Shu. Aku hanya bisa berharap satu hal... Aku berharap putra Soryu itu mengincar Nana karena dia benar-benar menyukainya, bukan karena ingin menagih balasan hutang lama keluarga mereka kepada kita."
Ariessendy berjalan mendekati Shu, memegang bahu putranya dengan genggaman yang cukup keras.
"Demi keselamatan kita semua, menjauhlah dari keluarga Soryu. Terutama, jangan pernah sekalipun kau berurusan dengan Raiden Soryu. Jika Bara adalah badai, maka ayah tirinya, Raiden Soryu, adalah kiamat bagi keluarga kita. Sekali kau masuk ke dalam radar mereka, tidak ada jalan kembali."
Shu terpaku. Nama Raiden Soryu disebut dengan nada yang begitu sakral sekaligus penuh teror oleh ayahnya sendiri. Kata 'hutang lama' itu menggantung di udara seperti vonis mati baginya.
"Keluar," ujar Ariessendy pelan. "Jangan pernah tanyakan hal ini lagi. Dan demi Tuhan, Shu... jangan pernah sekalipun kau dekati mereka."
Shu menatap ayahnya dengan sisa-sisa amarah yang kini bercampur dengan tanda tanya besar. Ia berbalik, meninggalkan ruangan itu dengan langkah yang masih menghentak, namun di kepalanya, rencana baru mulai tersusun. Jika ayahnya terlalu takut pada 'hutang budi' itu, maka Shu-lah yang akan mencari cara untuk melunasinya dengan caranya sendiri.
Sebelum pergi, Shu sempat berhenti di ambang pintu. "Jika Ayah terlalu takut untuk melindungi Nana karena bayang-bayang masa lalu, maka biarkan aku yang melakukannya dengan caraku sendiri," ucap Shu dingin sebelum menutup pintu dengan dentuman keras.
...-Koridor - Di Luar Ruang Kerja-...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Shu berdiri di koridor, tangannya mengepal hingga kuku-kukunya memutih. "Hutang...." Kata-kata ayahnya berputar seperti pusaran badai di kepalanya. Ia tidak akan membiarkan Nana menjadi tumbal untuk kesalahan masa lalu yang bahkan tidak ia pahami.
Ia berjalan menuju tangga dengan langkah mantap. Ia mengeluarkan ponselnya, menekan satu nama di kontaknya: Andrew.
"Andrew," panggil Shu begitu telepon diangkat.
"Ya, Tuan muda Shu? Ada perintah?"
"Berhenti mencari tahu tentang sejarah perusahaan mereka. Aku ingin hal yang lebih personal," Shu berhenti di depan jendela besar yang menghadap ke jalan raya.
"Cari tahu setiap jengkal celah dalam hidup Bara Soryu. Aku ingin tahu kelemahannya. Hobinya, orang-orang terdekatnya, bahkan kesalahan kecil yang pernah dia buat di masa lalu. Aku ingin sesuatu yang bisa menghancurkan citra 'sempurna' miliknya."
"Baik, Tuan. Saya akan kerahkan tim untuk memantau gerakannya 24 jam."
"Bagus," desis Shu. "Pria itu mungkin punya kuasa, tapi dia lupa bahwa setiap benteng selalu punya retakan. Dan aku akan memastikan retakan itu menjadi awal dari kehancurannya."
Shu menutup teleponnya. Di matanya, tidak ada lagi keraguan. Jika dunia ingin bermain kotor dengan keluarganya, maka ia akan menjadi pemain yang paling licin di antara mereka semua.
"Bara Soryu," gumamnya pelan. "Selamat datang di neraka yang kau buat sendiri."
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉