"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."
Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.
Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.
Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...
Tring! Cring!
Vito menatap tiga koin perunggu sisa di atas meja potongnya. Rahangnya mengeras. Tanpa babibu lagi, ia menyambar ketiga koin itu lalu melemparkannya ke lantai dengan kasar.
"Aku tidak butuh uang haram dari mulut sampah seperti dia!" desis Vito.
Tiga koin perunggu itu memantul di atas tanah, menggelinding dan secara presisi masuk ke kolong meja—tepat di depan hidung Astra.
Astra menatap tiga koin itu dengan mata berbinar. Otak miskinnya seketika mengambil alih kesadaran.
Lho... ini kan uang? Biar kata dibilang koin sumbangan, uang tetaplah uang! Di dunia asing ini, sepeser pun berharga buat modal bertahan hidup!
Dengan gerakan super senyap mirip pencuri profesional, tangan Astra terjulur. Set, set, set. Tiga koin itu sukses berpindah ke genggamannya.
Lumayan buat beliin baju buat Yisla. Gini-gini aku juga butuh duit, masa bodoh sama harga diri! batin Astra menyeringai puas, buru-buru memasukkan koin tersebut ke dalam saku mantel.
Di luar, Yisla mengusap lengan kakaknya perlahan. "Sabar ya, Kak... Anggap saja angin lalu."
Vito memejamkan mata sejenak, mengatur napasnya yang kini masih memburu. "Iya. Aku tidak apa-apa, Yisla."
Waktu berlalu dengan cepat. Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, dan pasar pun mulai sepi. Vito dan Yisla mulai sibuk membersihkan sisa-sisa es dan merapikan papan gerai mereka untuk bersiap pulang.
Vito mengetuk pinggiran meja kayu dengan punggung jarinya. "Oi, Julian. Keluar sekarang. Pasar sudah sepi, kita pul—"
Ucapan Vito terhenti. Tidak ada jawaban sama sekali dari balik jubah kulit beruang itu.
Dahi Vito berkerut. Ia berlutut lalu menyibak kain penutup kolong meja dengan kasar. Matanya langsung melotot melihat pemandangan di dalam sana.
Astra dengan tudung rajutan Yisla yang masih terpasang miring di kepalanya—sedang meringkuk dengan posisi sangat pulas. Mulutnya sedikit terbuka, mengeluarkan suara dengkuran halus, lengkap dengan aliran air liur yang sukses membasahi lengan mantel wol pinjaman milik Vito.
"Julian!" bentak Vito, menepuk kaki Astra dengan keras.
"E-eh?! Ayam, ayam! Eh, ayam!" Astra langsung melonjak bangun, kepalanya spontan menghantam bagian bawah meja dengan telak.
Jedug!
"Aduh!" Astra mengaduh kesakitan, memegangi ubun-ubunnya dengan mata berkaca-kaca. Kesadarannya langsung pulih 100%. Begitu membuka mata, wajah sangar Vito sudah berada tepat di depan mukanya dengan tatapan super mengintimidasi.
"Bagus sekali," sindir Vito dingin. "Orang-orang di luar mencarimu setengah mati dengan imbalan emas, dan kamu malah asyik mengorok di sini sampai ngiler di mantelku?"
Yisla yang melihat dari luar gerai hanya bisa menepuk jidatnya sendiri, tertawa pasrah melihat kelakuan ajaib 'anggota keluarga' baru mereka itu.
"M-maaf, Kak! Gak sengaja, kolong mejanya terlalu nyaman buat merem soalnya sih!" cicit Astra panik sambil buru-buru menyeka sisa air liurnya di lengan mantel Vito—yang malah membuat ekspresi pria itu makin keruh.
Vito mengembuskan napas kasar, menahan diri untuk tidak menendang Julian. Ia melirik situasi pasar yang sudah kosong melompong.
"Yisla, kamu pulang duluan lewat jalur belakang bawa Julian," perintah Vito tegas.
"Jangan lewat gerbang utama. Aku yang lewat depan bawa gerobak buat mengalihkan perhatian."
Yisla mengangguk cepat. "Baik, Kak. Kakak hati-hati, ya."
"Kau," Vito menunjuk dahi Astra dengan pandangan menusuk. "Turunkan tudung kepalamu. Jangan buat masalah sepanjang jalan, atau aku sendiri yang bakal nyerahin kau ke orang-orang itu."
"S-siap, Kak! Aman!" Astra buru-buru menarik tudung rajutan Yisla sampai menutupi hidungnya.
"Ayo, Julian, lewat sini," bisik Yisla, menarik pelan ujung lengan mantel Julian menuju celah belakang stan.
Sembari melangkah terburu-buru mengekor di belakang Yisla menyusuri jalur tikus, tangan Astra diam-diam meraba saku mantelnya. Jemarinya menyentuh permukaan dingin tiga koin perunggu hasil "jarahan" tadi.
Maaf ya, Kak Vito. Gini-gini mental miskinku nggak bisa banget kalau liat duit nganggur, batin Astra menyeringai kecil. Tapi tenang, koin ini bakal aku kumpulin buat beliin Yisla baju baru. Anggap aja buat investasi rute genre romance-ku di dunia ini!
Namun, efek baru bangun tidur secara paksa membuat kepala Astra masih terasa berat.
"Haaaaahhhummm..." Astra menguap lebar untuk kesekian kalinya, sampai air matanya keluar lagi.
Yisla yang berjalan di depannya menoleh, lalu spontan tertawa geli.
"Kamu ini ya, Julian. Tadi di pasar tidur, sekarang di jalan masih aja menguap terus. Memangnya masih ngantuk?"
"Hehe... efek udara dingin bawaannya pengen rebahan, Yisla," sahut Astra lesu dengan mata setengah terpejam.
Melihat Julian yang berjalan gontai mirip zombi kehabisan baterai, Yisla menyeringai usil. Gadis itu tiba-tiba membungkuk, mengambil segenggam salju, lalu mengepalkannya dengan cepat.
Pluk!
"Aduh!" Astra tersentak kaget saat sebuah bola salju mendarat telak di pipinya. Rasa dingin yang tiba-tiba itu langsung membuat matanya melotot.
Astra menoleh panik. Di depannya, Yisla sudah tertawa renyah sambil menjulurkan lidahnya mengejek. "Biar gak lesu! Ayo cepat jalan, Julian Pemalas!"
Astra melongo, tapi sedetik kemudian senyum jahil ikut terbit di bibirnya. Jiwa kekanak-kanakannya mendadak meronta.
"Oh, nantangin ya? Rasakan ini, Tuan Putri!"
Astra buru-buru membungkuk, membuat bola saljunya sendiri dengan brutal dan melemparnya balik ke arah Yisla.
Wusss... Plak!
"Ah! Julian curang ukurannya gede banget!" jerit Yisla riang, mencoba menghindar sembari membalas lemparan Julian.
Di sepanjang jalur sepi menuju pinggiran desa itu, tawa riang Yisla beradu dengan gerutuan kocak Astra. Melodi tawa mereka memecah keheningan musim dingin, membuat Astra sejenak lupa kalau kepalanya sedang dihargai sepuluh koin emas oleh sindikat perdagangan budak.
...***...
Wuss... PLAK!
Satu bola salju jumbo buatan Astra mendarat telak di pundak Yisla, membuat gadis itu terpekik lalu tergelincir di atas salju.
"Kyaaa!"
Bugh! Yisla jatuh terduduk di atas gundukan salju.
Astra langsung panik. Jiwa maskulin-nya meronta-ronta karena merasa bersalah.
"Eh, Yisla! Kamu nggak apa-apa?!"
Astra berlari menghampiri, lalu berlutut di depannya dengan wajah cemas. Tanpa pikir panjang, ia mengulurkan kedua tangan untuk membantu Yisla berdiri.
Yisla mendongak. Rambutnya kini dihiasi butiran salju dan wajahnya memerah alami karena hawa dingin. Bukannya lanjut berdiri, Yisla malah menatap lekat-lekat ke arah wajah pemuda di depannya. Jarak mereka kini hanya terpaut beberapa puluh sentimeter lagi.
Deg... deg... deg...
Astra menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang secara abnormal. Dari jarak sedekat ini, Yisla terlihat... berkali-kali lipat lebih cantik.
Sial, indah banget, batin Astra terpana.
Wush! Duo Hemisphere mendadak muncul lagi di sisi mereka.
"Aaaah! Ini dia momen skinship perdananya! Pegang tangannya, lalu katakan kalimat manis biar hatinya meleleh!" bisik Anima heboh.
"Cepat lakukan sebelum karakter kakaknya yang protektif datang untuk merusak suasana," timpal Animus mendikte.
Astra memeras otaknya sekuat tenaga. Sambil menatap mata Yisla yang bulat dan jernih itu, ia meraih jemari gadis itu dengan lembut, lalu memasang wajah paling serius.
"Yisla..." suara Astra mendadak berubah berat, mencoba meniru aktor drama Korea. "Dingin ya? Tanganmu sampai membeku begini."
Yisla mengerjap, wajahnya makin memerah. "E-eh? I-iya, sedikit..."
Astra menarik napas dalam-dalam, lalu melontarkan gombalan mautnya.
"Tenang saja. Biarpun seluruh negeri ini membeku, tapi cintaku padamu akan tetap membara seperti tungku sup babi di dapurmu semalam."
Hening.
Anima langsung tepok jidat, sementara Animus menutup wajahnya pakai kertas karena saking malunya.
Yisla tertegun tiga detik, lalu menatap Julian dengan pandangan luar biasa prihatin. Ia menyentuh dahinya.
"Julian... kepalamu beneran nggak apa-apa, kan? Tadi abis kebentur meja di pasar, efek pusingnya masih kerasa ya?"
Astra seketika membatu. Gagal total! Gombalanku malah dikira gegar otak!
Namun, posisi mereka saat itu masih sangat ambigu. Astra sedang berlutut memegangi tangan Yisla yang terduduk di salju, sementara tangan Yisla yang lain masih menempel di dahi Astra. Wajah mereka sangat dekat, terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bermesraan di tengah jalan sepi.
"Ehem."
Suara dehaman berat dan sedingin es kutub selatan tiba-tiba terdengar dari arah belakang mereka.
Astra dan Yisla sentak menoleh patah-patah. Di sana, Vito sudah berdiri tegap sambil berkacak pinggang di samping gerobak dagangannya. Sepasang mata sangarnya menatap lurus ke arah posisi tangan Astra yang masih menggenggam jemari adiknya.
Astra seketika melepaskan tangan Yisla seolah tangan gadis itu baru saja berubah menjadi bara api. Ia langsung melompat berdiri dengan gerakan canggung yang sangat kentara.
"K-Kak Vito! Sudah sampai?!" seru Astra, suaranya melengking saking paniknya.
Yisla juga buru-buru bangkit, membersihkan salju di bajunya dengan wajah yang kini merah padam karena malu.
"K-Kakak... kok cepat sekali?"
Vito tidak menjawab. Ia melangkah mendekat, dan menatap Julian dengan dingin, lalu beralih ke Yisla.
"Kalian sedang apa?" tanya Vito tolong the point.
"T-tadi Yisla jatuh, Kak! Iya, jatuh! Aku cuma mau bantu dia berdiri!" sahut Astra buru-buru membela diri, keringat dinginnya mulai bercucuran lagi.
"Iya, Kak! Julian cuma bantu aku!" timpal Yisla ikut panik, tidak berani menatap mata kakaknya.
Vito menyipitkan mata curiga, menatap keduanya secara bergantian sebelum akhirnya mendengus kasar.
"Pulang. Lanjutkan jalan kalian sebelum aku berubah pikiran dan mengubur Julian hidup-hidup di dalam salju ini."
"Siap, Kak!"
Tanpa menunggu dua kali, Astra langsung mengambil langkah seribu, ia berjalan kaku mendahului mereka semua demi menyelamatkan nyawanya dari amukan calon kakak ipar fiktifnya itu.