Dikhianati hingga tewas di dunia modern, Anya, seorang CEO jenius ahli strategi investasi, bertransmigrasi ke tubuh Permaisuri Xian—seorang istri kaisar yang lemah, miskin, dan ditindas oleh para selir di istana belakang.
Namun, si licik salah memilih lawan. Jiwa yang baru ini tidak mengenal kata menyerah. Menggunakan ilmu ekonomi modern, Anya mengobrak-abrik Paviliun Logistik, menyikat habis menteri korup, dan membalikkan keadaan hingga para musuhnya gemetar ketakutan!
Di tengah aksi balas dendamnya yang badass, Kaisar Liang yang dingin dan berwibawa justru mulai mendekat, terpikat oleh kepakan sayap sang Ratu yang baru.
"Kau sangat menarik, Xian. Katakan padaku... apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 KARTU AS DI TANGAN PERMAISURI
Ketegangan yang nyaris merenggut nyawa di halaman depan Istana Phoenix akhirnya mereda setelah Menteri Cui terpaksa menarik mundur pasukannya. Langkah kaki lima ratus prajurit berbaju zirah perak itu terdengar menjauh, menyisakan suara gemercik sisa hujan yang mulai merintik pelan di atas tanah batu pualam yang basah. Gerbang kayu tua yang sempat bergetar hebat itu kini ditutup kembali dan dikunci rapat-rapat oleh Kasim Wang yang tubuhnya masih gemetar hebat akibat sisa adrenalin ketakutan yang luar biasa.
Anya tidak membuang waktu untuk sekadar menghela napas lega. Dia berbalik arah dengan jubah Phoenix merah marunnya yang sedikit basah di bagian ujung bawah, melangkah tegas menyusuri selasar kayu menuju ruang kerja pribadinya. Di belakangnya, Qiu Er berjalan dengan langkah kecil yang tergesa-gesa, memegang lampu minyak untuk menerangi jalan sang Permaisuri. Atmosfer di dalam istana itu kini telah berubah; tidak ada lagi kepasrahan seorang wanita buangan, yang ada hanyalah aura dingin dari seorang pemimpin yang siap melakukan perombakan total.
Begitu memasuki ruang kerja, Anya langsung duduk di kursi kayu besar yang terletak di tengah ruangan. Suasana kamar itu sangat sunyi, hanya ditemani oleh suara detak jam pasir di sudut meja dan desiran angin malam yang menyelinap dari celah jendela.
"Qiu Er, ganti lilin-lilin ini dengan yang baru. Aku butuh cahaya yang lebih terang malam ini," perintah Anya dengan nada suara yang datar namun tidak menerima bantahan. Tangannya bergerak ke dalam saku rahasia di balik jubahnya, mengeluarkan sebuah buku kecil bersampul kain sutra hitam pekat yang usang—buku catatan rahasia milik Kasim Sun yang baru saja diserahkan beberapa jam lalu.
"Baik, Yang Mulia," jawab Qiu Er dengan suara berbisik, seolah takut mengganggu konsentrasi majikannya yang tampak begitu mengintimidasi di bawah temaram cahaya lampu. Dengan cekatan, pelayan muda itu mengganti sumbu lilin dan menyulutnya hingga ruangan tersebut kini terang benderang.
Anya meletakkan buku hitam itu di atas meja kayu. Jemari lentiknya perlahan membuka halaman pertama yang tampak agak menguning karena usia. Begitu matanya membaca baris-baris tulisan cakar ayam di dalamnya, sebuah senyuman sinis yang penuh dengan kepintaran strategis seorang CEO kawakan terukir di wajah cantiknya. Pikirannya langsung berputar cepat, menganalisis data keuangan kuno tersebut seolah sedang membedah laporan keuangan palsu dari perusahaan kompetitor di dunia modern.
“Ternyata tebakanku sama sekali tidak meleset,” batin Anya sambil mengetukkan jari telunjuknya di atas meja dengan ritme yang teratur. “Ini bukan sekadar kasus korupsi kecil di lingkungan dapur istana. Ini adalah jaringan kartel keuangan yang sangat rapi. Kasim Sun hanyalah sekadar pion, jalan tol tempat mengalirkan dana hitam ini dari luar ke dalam istana belakang.”
Di dalam buku tersebut, tertulis dengan sangat detail tanggal, jumlah nominal emas, serta nama-nama belasan pejabat tinggi luar. Yang paling mengejutkan adalah nama Menteri Keuangan Kekaisaran dan beberapa Jenderal Divisi Barat yang tercatat menerima aliran dana suap bulanan dalam jumlah fantastis dari Kasim Sun, atas perintah dan persetujuan rahasia dari Selir Agung Cui. Modus operandinya sangat rapi: mereka memanipulasi laporan pasokan logistik militer dan anggaran makanan istana, memotong hak para prajurit di perbatasan, lalu menyetorkan selisih dana tersebut ke dalam kantong pribadi klan Cui untuk membeli kesetiaan politik para menteri di dewan luar.
“Menteri Cui merasa sangat aman semalam karena dia berpikir tidak ada seorang pun yang bisa menyentuh posisinya selama dia memegang kendali atas militer ibu kota,” Anya bermonolog dalam hati, matanya berkilat tajam membelah kegelapan malam. “Namun, dia terlalu bodoh dalam hal manajemen risiko finansial. Dia meninggalkan jejak audit yang begitu nyata di tangan seorang kasim pengecut. Di duniaku yang lama, ketika sebuah perusahaan diserang oleh sindikat korup dari dalam, cara terbaik untuk menghancurkannya bukanlah dengan berdebat di ruang rapat kecil, melainkan dengan melemparkan bukti penyelewengan pajak langsung ke meja otoritas tertinggi sebelum mereka sempat memindahkan aset mereka.”
Anya menarik selembar kertas kosong dan mengambil kuas tintanya. Dengan gerakan tangan yang sangat cepat dan terlatih, dia mulai membuat bagan analisis akuntansi modern. Dia mengelompokkan nama-nama pejabat berdasarkan tingkat keterlibatan mereka, menghitung total kerugian negara selama lima tahun terakhir, dan memetakan aliran dana tersebut hingga ke akar-akarnya. Dia membuat sebuah dokumen ringkasan eksekutif yang sangat rapi, tajam, dan tidak terbantahkan—sebuah format laporan yang bahkan belum pernah dibayangkan oleh para ahli pembukuan terbaik di Kekaisaran Han sekali pun.
Kasim Wang masuk ke dalam ruangan setelah memastikan seluruh area luar aman. Dia membungkuk dalam-dalam, wajahnya masih memancarkan rasa khawatir yang amat sangat ketika melihat dokumen-dokumen baru yang sedang dibuat oleh Anya.
"Yang Mulia Permaisuri," Kasim Wang memulai pembicaraan dengan nada suara yang sangat berhati-hati. "Hamba mendengar desas-desus bahwa besok pagi akan diadakan sidang paripurna darurat di Istana Naga Emas. Menteri Cui kabarnya akan menggunakan kesempatan itu untuk menuntut Anda di depan seluruh dewan menteri atas tuduhan penyalahgunaan wewenang istana dalam. Hamba sangat menyarankan agar Anda menyembunyikan Kasim Sun di tempat yang lebih aman atau... membiarkannya menghilang agar tidak ada bukti yang bisa digunakan melawan kita."
Anya menghentikan gerakan kuasnya perlahan, lalu mengangkat pandangan matanya menatap langsung ke arah Kasim Wang. Tatapannya begitu pekat, sarat akan keyakinan mutlak yang sanggup meredam kepanikan kasim tua itu seketika.
"Menyembunyikannya? Membiarkannya menghilang? Tidak, Wang. Itu adalah langkah pengecut yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki visi jangka panjang," ucap Anya dengan ketenangan sedingin es musim gugur. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, membiarkan tubuh fisiknya rileks namun pikirannya tetap waspada penuh. "Besok pagi, kita tidak akan bersembunyi di dalam Istana Phoenix ini menanti keputusan mereka. Sebaliknya, siapkan kereta kuda terbaik kita sebelum fajar menyingsing. Aku sendiri yang akan melangkahkan kaki masuk ke dalam aula sidang paripurna tersebut."
Kasim Wang terbelalak, lututnya seketika lemas hingga dia hampir saja jatuh berlutut di atas lantai. "Yang Mulia... Anda... Anda ingin menghadiri sidang luar?! Sesuai dengan hukum adat leluhur yang sah, wanita istana belakang dilarang keras menginjakkan kaki di ruang sidang luar kekaisaran! Itu adalah pelanggaran tabu terbesar yang bisa digunakan oleh para tetua adat untuk menggulingkan posisi Anda dari tahta Permaisuri tanpa memerlukan persetujuan dari Baginda Kaisar!"
"Tabu kuno hanya diciptakan oleh pria-pria lemah yang takut posisi mereka terancam oleh wanita yang lebih cerdas dari mereka, Wang," jawab Anya dengan senyuman tipis yang sangat menawan namun mematikan di sudut bibirnya. Dia mengangkat lembaran kertas analisis keuangan yang baru saja diselesaikannya, membiarkan tinta merah yang menandai nama-nama menteri korup mengering di bawah pendar lilin. "Kaisar Liang memberikan restunya sore kemarin karena dia ingin melihat seberapa jauh aku bisa bertindak sebagai pisau bedahnya. Pria itu terlalu cerdas untuk mengotori tangannya sendiri dengan darah para menterinya yang korup. Dia ingin aku yang memicu badai ini, dan setelah medannya bersih, dialah yang akan memanen hasilnya."
Anya bangkit berdiri dari kursinya, berjalan mendekati jendela kamar yang terbuka sedikit, membiarkan embusan angin malam yang dingin menyentuh permukaan kulit wajahnya. Monolog batinnya kembali bergema, mempertegas tujuan utamanya di dunia baru ini.
“Kaisar Liang mengira aku hanyalah sebuah bidak catur yang bisa dia manipulasi untuk membersihkan pemerintahannya, lalu membuangku kembali ke dalam istana belakang yang dingin ini setelah semuanya selesai. Tapi maaf saja, Baginda... Anda telah salah menilai jiwa yang ada di dalam tubuh Xian saat ini. Di duniaku yang lama, aku tidak pernah menjadi bawahan siapa pun, dan di sini pun aku tidak akan pernah sudi menjadi boneka politik Anda. Buku catatan hitam ini bukan hanya akan menjadi jerat kematian bagi klan Cui, tetapi juga akan menjadi kartu as terbesarku untuk memaksa Anda berdiri sejajar denganku di atas papan catur kekuasaan ini.”
Anya berbalik badan, menatap Qiu Er dan Kasim Wang yang berdiri terpaku memandanginya dengan rasa takjub yang mendalam. "Wang, pastikan Kasim Sun tetap hidup malam ini dan jaga mulutnya agar tidak berbicara kepada siapa pun sebelum fajar. Qiu Er, siapkan gaun kebesaran Permaisuri yang paling agung untuk besok pagi: gaun sutra berlapis sembilan berwarna merah darah dengan sulaman Phoenix emas. Besok, kita tidak hanya akan menghadiri sebuah persidangan... kita akan mengguncang pondasi utama dari Kekaisaran Han ini hingga ke akar-akarnya."