Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.
Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.
Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.
Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?
Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?
yuk simak....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sehari setelah menjadi istrimu
Langit Bandung mulai berubah warna. Dari yang tadinya sejuk dan gelap sisa malam kini berubah cerah dan hangat khas mentari pagi.
Sinarnya tidak terik namun cukup tenang diiringi angin yang berhembus pelan.
Suasana pemakaman di komplek pemakaman umum berlangsung penuh isak tangisan dari Maara.
Gadis manis itu kini sudah jadi yatim piatu.
Dia benar-benar sebatang kara.
Tak ada sanak saudara atau famili lainnya yang ikut mengantar ibunya ke peristirahatan terakhir.
Hanya keluarga dari Revan yang menemaninya di pemakaman.
Maara duduk berjongkok disisi makam.
Jemarinya meremas tanah yang menimbun jasad ibunya.
Dunianya runtuh seketika.
Tak ada lagi tempat dia bercerita tentang penatnya semua kegiatan yang Maara lalui sepanjang hari.
Tak ada lagi senyum teduh yang mengantarnya pergi dan menyambutnya diteras rumah ketika pulang mengajar.
Entah bagaimana hidup Maara kedepannya dan pernikahannya dengan laki-laki yang bahkan Maara baru sekali bertemu.
"Kita pulang ya... Kamu masih harus istirahat... " ajak bu Mira memeluk bahu Maara yang kini sudah sah jadi menantunya.
Maara menoleh menatap wanita paruh baya itu.
Kini hanya merekalah yang jadi keluarganya karena dirinya dinikahi oleh putra tunggal mereka yaitu Revan Adiyasa.
Pria itu hanya diam berdiri sejak tadi disisi ayahnya.
Matanya menatap dingin kearah gundukan tanah.
Maara melirik Revan yang acuh tak acuh.
Dirinya belum mengenal pria ini karena baru pertama kali bertemu dan langsung menikah dengannya.
Entah seperti apa watak pria yang kini jadi suaminya, Maara tidak tahu.
"Ayo kita pulang... Van ajak istri mu. Kita pulang kerumah papa dulu..." pak Rendra buka suara.
Revan menoleh pada Maara.
"Ayo pulang...!" hanya dua kata itu yang terlontar dari bibirnya dan itu juga terdengar sangat dingin.
Maara berdiri lalu berjalan mengikuti langkah mereka.
Matanya terus menatap punggung tegap Revan yang berjalan didepannya.
"Entah seperti apa rumah tangga yang akan aku jalani nanti. Ya Allah, bantu aku menghadapi semuanya...." gumam Maara dalam hatinya.
Maara masuk kedalam mobil dan duduk disisi penumpang sebelah Revan yang sedang memegang kemudi, sementara kedua mertuanya duduk di kursi belakang.
Sepanjang perjalanan hanya diisi oleh deru mesin mobil.
Tak ada percakapan diantara mereka.
Maara membuang pandangan ke sisi jalanan.
Mobil Revan memasuki sebuah komplek elite dikawasan jantung kota kembang.
Pagar besi tinggi berwarna hitam dibuka oleh seorang satpam setelah Revan menekan klaksonnya.
Sejenak, Maara terpesona dengan tampilan rumah megah di depan matanya.
Dia tak pernah bermimpi akan menjadi menantu orang kaya dikotanya ini.
"Ayo kita turun..." ajak bu Mira membuyarkan lamunan Maara.
Perlahan tangan Maara membuka pintu mobil.
"Ayo masuk... Ini akan jadi rumah kamu mulai saat ini karena kamu sudah jadi menantu mama... Ayo, kamu perlu istirahat..." ajak bu Mira membawa Maara masuk kedalam rumah.
Revan sendiri sudah menghilang entah kemana.
"Naiklah keatas.. Kamar paling pojok adalah kamarnya Revan yang kini juga adalah kamarmu.. Nanti bibi akan bawakan barang-barangmu keatas... Istirahat ya, sekalian kalian perlu waktu untuk bicara berdua...." ujar bu Mira lagi.
Raut wanita paruh baya itu begitu mencemaskan dirinya. Setidaknya itu yang Maara tangkap.
Maara menurut.
Dia melangkah menaiki setiap anak tangga yang dirasa begitu panjang.
Bisik-bisik mulai terdengar ditelinga yang berasal dari para pelayan dirumah besar tersebut.
Tapi Maara mencoba abai.
Dirinya cukup lelah untuk meladeninya.
Maara berdiri tepat di depan pintu kayu berwarna coklat tua.
Tangannya terangkat hendak mengetuk pintu.
Jantungnya berdebar.
"Bismillah..." lirihnya sebelum menekan gagang pintu.
Kamar itu kosong..
Tak ada siapapun disana.
Maara memindai isi kamar bernuasa abu-abu kombinasi putih gading.
Wangi maskulin merasuki penciumannya.
Kamar yang terbilang cukup luas dan rapi bagi seorang pria.
Ranjang besar berada ditengah ruangan. Dan hati Maara mencelos saat matanya tertumbuk pada sebuah pigura diatas nakas.
Ada 2 buah pigura berwarna hitam disana dan gambarnya cukup membuat Maara harus menahan debaran yang tiba-tiba melanda.
Foto Revan dan seorang gadis yang cukup mesra terpampang nyata.
Ceklek...
Maara segera menoleh.
Pintu kamar mandi dibuka dan menampilkan Revan dengan wajah sedikit basah dan handuk kecil menggantung dilehernya.
Ternyata pria itu baru dari kamar mandi.
Revan sempat terkejut tapi berhasil menguasai dirinya kembali.
"Maaf... Tadi bu Mira memintaku untuk masuk kekamar ini..." ucap Maara dengan kepala tertunduk.
Hela nafas kasar terdengar dari bibir Revan.
"Bersihkan dirimu baru nanti kita bicara" ujar Revan sedikit memerintah.
Maara tak menolak. Dirinya juga lelah dan perlu bersih-bersih.
...******* ^^ ********...
Maara dan Revan duduk saling berhadapan dengan jarak diantara mereka.
Maara duduk ditepi ranjang sementara Revan memilih duduk di kursi tunggal dekat jendela.
Mata pria itu memindai penampilan perempuan yang sudah sah jadi istrinya.
Sangat sederhana bagi istri seorang jaksa dan putra tunggal pengusaha properti seperti papanya.
Revan mengusap kasar wajahnya.
"Dengar!" ujar Revan membuka suara.
Maara mengangkat pandangan menatap pria tersebut.
"Kita tak saling kenal sebelumnya dan tapi tiba-tiba sudah berubah status jadi suami istri. Jujur, ini mengejutkanku karena kamu tidak ada dalam daftar rencana hidupku... " Revan menarik nafasnya lalu membuangnya kasar.
"Aku terpaksa menikahimu atas permintaan mama dan papa. Sebenarnya aku sudah punya kekasih yang kini sedang belajar diluar negeri dan beberapa bulan lagi akan kembali dengan gelar S2 nya. Jadi, jangan berharap banyak atas pernikahan ini. Jika kamu ingin bertahan, bertahanlah dan jadilah perempuan yang tidak banyak menuntut, tapi jika kamu ingin berpisah, aku akan mengurus semuanya. Selama kita masih terikat pernikahan, aku akan memenuhi nafkah lahirmu tapi tidak dengan nafkah batin karena bagiku, hanya Laura yang berhak atas itu....!" ucao Revan tegas dan dingin.
Laki-laki itu memperhatikan raut wajah Maara.
Tak ada kalimat yang terucap dari perempuan yang kembali menundukkan kepalanya.
Revan berdecak lalu berdiri hendak keluar.
"Satu lagi..." Revan berhenti di depan pintu lalu berbalik memandang Maara.
"Setelah kekasihku kembali, aku akan menikahinya jadi jangan berharap macam-macam...!" sambung Revan yang langsung menutup pintu dengan sedikit kasar hingga menimbulkan bunyi debam yang membuat Maara berjengit kaget.
Pria itu pergi begitu saja meninggalkan Maara sendirian dikamar luas tersebut.
Maara memijit jemarinya.
Dia memejamkan kedua matanya lalu menghembuskan nafas panjang.
Menekan dadanya yang terasa sakit seperti ditimpa batu besar.
Sesak hingga membuatnya sulit bernafas.
Titik airmata jatuh membasahi pipi.
Belum kering airmata karena ditinggal ibunya, kini Maara harus kembali menangis karena ulah pria yang tadi malam menikahinya.
"Ibu... Kenapa Maara harus menerima cobaan seberat ini? Maara takut bu.... Maara hanya seorang diri tanpa kalian disisi Maara..."
Tubuh Maara luluh kelantai.
Dia bersandar di tepi ranjang dengan wajah menyusup diantara kedua lututnya.
Isakan itu kembali terdengar dari bibirnya.
...********^********...
Ruang kerja Rendra...
"Papa tahu ini berat buatmu, tapi tolong perlakukan dia dengan baik sebagai istri mu" pinta pak Rendra saat dirinya berbincang dengan Revan diruang kerja.
"Bagaimana dengan Laura pa? Bagaimana dengan perasaannya ketika dia tahu aku menikahi perempuan lain karena sebuah rasa bersalah kalian? Ini jauh menyakiti hatinya..." risau Revan akan reaksi kekasihnya.
"Papa yang akan bicara padanya nanti. Papa yakin dia akan mengerti...."
"Nggak! Revan akan tetap menikahi Laura seperti rencana awal kami. Lagipula kami ini sudah bertunangan pa, mana mungkin aku membatalkannya begitu saja. Aku mencintai Laura dan kami sudah lima tahun bersama mana mungkin putus gitu aja" ujar Revan bersikeras mempertahankan hubungannya dengan sang kekasih.
Bu Mira terkesiap dengan sikap putranya.
Dirinya memang menyayangi Laura tapi kini ada perempuan lain yang jadi menantunya.
Jika bukan karena kesalahan dirinya mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi.
"Revan..." panggil bu Mira pada putranya.
"Maa...." Revan memelas.
Wajahnya juga lelah.
"Mama mohon jangan ceraikan Maara... Dia tak punya siapa-siapa selain kita..."
"Maa... Aku nggak bisa hidup bersama perempuan yang tidak aku cintai... Dan aku sudah memberi perempuan itu pilihan. Pilihannya cuma dua, bertahan dan jadi istri pertama tanpa bantahan atau cerai...!" ujar Revan yang membuat pak Rendra terkejut.
"Bagaimana mungkin kamu akan menikahi dua perempuan sekaligus? Ini tidak pernah terjadi dalam keluarga kita...!" seru pak Rendra sedikit keras.
"Hanya itu caranya..! Jika dia tidak mau, aku siap mengurus perceraian kami nantinya. Tapi yang jelas, aku tidak akan pernah melepas Laura karena aku sangat mencintainya" ujar Revan tegas.
Terdengar pintu yang ditutup kasar.
Revan memilih pergi setelah berdebat dengan kedua orangtuanya.
bersambung...