“Tidak perlu menggendong saya pak, tidak enak dilihat orang. Di papah saja, saya bisa pelan-pelan.”
“Gina, ini situasi darurat. Kenapa memangnya? Ada yang dirugikan jika aku menggendongmu?” kesal Stefan. “Scurity!” panggilnya, membuat dua orang scuritynya berlari bersamaan ke arah mobil Stefan yang sudah terparkir manis ditempatnya. “Gendong dia masuk” perintahnya.
“Haaaa? Kenapa meminta mereka menggendongku?” tanya Gina dengan tatapan heran.
“karena sepertinya kau akan alergi bersentuhan denganku.” Jawab Stefan, dengan tidak melepas tatapannya pada Gina. Wanita itu hanya diam, tidak mengatakan apapun.
“Oke Neng, mari kita masuk.” Sang security yang terlihat lebih muda mendekati Gina dan bersiap mengangkat tubuh wanita itu.
Belum juga menyentuh Gina, Stefan sudah menahan aksi security itu. “Biar saya saja.” ucapnya.
Stefan kemabali menggendong tubuh Gina. Namun, ia sendiri pun tidak habis pikir kenapa harus melakukan ini.
“loh Fan, ada apa ini? Kenapa Gina?” Mama Lina.
“Tante! Tante dataaaang. Tapi kok di gendong papa? Memangnya tidak bisa jalan?” Arsen.
Mama Lina dan Arsen terlihat bingung dan mengikuti langkah stefan yang belum memberi jawaban. Sedangkan Stefan terus melangkah menuju salah satu kamar.
“kamu istirahatlah disini selagi kamu sakit. Jangan banyak komentar.”
“Ba-baik pak,” menjawab patuh.
Stefan lalu keluar meninggalkan Gina, untuk memberi penjelasan pada mama dan Arsen.
Gina memutar pandangannya mengelilingi setiap sudut kamar yang kini ditempatinya. ‘Kamar yang sangat nyaman. Aku jadi rindu kamarku di rumah papa’
Saat menyebutkan kata papa dalam hatinya, Gina jadi bertanya-tanya, bagaimana kira-kira kabar orangtuanya itu. Kenapa papa yang sangat menyayanginya itu tidak mencari keberadaannya? Gina kembali tersadar bahwa papa pernah bilang bahwa dia sudah tidak memiliki anak perempuan lagi.
‘Papa bahkan tidak penasaran dengan cucunya? Papa pasti sangat membenciku. Maafkan aku karena menjadi anak yang tidak berguna pa ... ma!’
....
“Tante ... hai tante!” sapa Arsen yang mendatangi Gina dengan membawa sesuatu di tangannya.
“Arsen, kamu kesini?”
“Iya tante, Arsen bawakan buah anggur untuk tante.”
“wah, pintar sekali kamu.”
“Iya tante ... kan sebentar lagi Arsen akan sekolah TK.”
“Wah, hebat!”
‘Ya Tuhan, putraku, apa aku boleh memeluknya lagi?’
Gina pun mengambil buah anggur yang disodorkan Arsen padanya lalu memakannya.
“tante, tante akan jadi mama Arsen ya?” tanya anak itu, dengan senyum polosnya.
“Hah?”
‘tapi aku memang mama kamu bocah’
“Kata nenek, mungkin saja tante akan jadi mama Arsen.”
“Hah?” hampirsaja Gina keselek buah anggur yang sedang dinikmatinya.
“hehehe” kekeh anak itu.
“Sudah, jangan bicara sembarangan. Ayo, makan buahnya.”
“Oke, tante!”
‘jangan kegeeran Gin, laki-laki itu tidak melihatmusebagai wanita. Kau hanya sekertaris baginya, sekalipun Arsen yang meminta’
“Arsen, kamu disini?” panjang umur. Orang yang baru saja gina pikirkan kini muncul dari arah pintu.
“boy, ayo kita jalan-jalan.” Ajaknya pada putranya itu, sembari melirik Gina.
“Pa, Arsen pengen temani tante Gina. Tunggu tante sembuh, baru kita jalan-jalan lagi ya Pa.”
“Oh, baiklah, terserah kamu boy, kalau begitu, papa akan keluar. Kamu jangan gangguin tante ya, biar tantenya cepan sembuh dan –“
“Biarcepat jadi mama Arsen kan Pah?”
🙄“bukan boy. Supaya tante, bisa bantu papa kerja lagi.” Stefan menjawab dengan nada sedikit datar namun tertlihat sedikit salah tingkah.
“Hoooaaaam, Arsen, tante ngantuk nih,” Gina tiba-tiba saja menguap dan merasa kantuk menyerangnya.
“Kalau gitu, ayo tidur tante,”
“Baiklah, ayo, dekat sini,”
“kalau begitu, kalian berdua istirahatlah. Aku ... akan keluar.”
“Hmmmm” jawab Gina.
Stefan pun melangkah keluar dari kamar itu.
Gina, tentu saja dia memposisikan dirinya berbaring memeluk Arsen. ‘Yang terpenting, Arsen bersamaku, aku senang.’
Satu miggu kemudian.
Gina merasa senang, karena kakinya sudah merasa baik-baik saja. Kini, ia pun sudah bisa berjalan dengan normal lagi.
“Selamat pagi tante!” sapa Arsen, mendatangi Gina di kamarnya.
“hei bocah, selamat pagi” tersenyum kearah Arsen.
“tante, jadi tante sudah bisa jalan? Jadi sudah bisa sarapan bareng Arsen dibawah?”
Gina pun mengangguk. Ia pun menarik bocah itu kedalam pelukannya. ‘Aku senang bisa bersamamu beberapa hari ini sayang. Andai saja ini tidaklah sementara, aku rasanya tidak ingin berpisah lagi darimu walaupun dalam waktu sebentar.’
“baiklah sayang, ayo kita sarapan bersama,”
“Oke tante, ayo kita turun,”
Keluar dari kamar.
“Gina, kamu sudah sembuh?”
“I..ya pak,” menjawab dengan sikap canggung.
“bagus, aku senang” menanggapi dengan sikap santainya.
‘Dia senang?’ gumam Gina dalam hati. Tentu saja dirinya bersorak gembira mendengar itu.
Keesokan harinya.
Gina benar-benar merasa harus pulang ketempat dimana seharusnya dia berada. Bagaimanapun juga, dirinya bukanlah siapa-siapa dirumah ini. Ia juga merasa tidak enak harus terus menumpang dan tinggal dengan nyaman dirumah oranglain. Cukup sadar bahwa dirinya hanyalah seorang ibu yang sudah tega meninggalkan anaknya sndiri.
Tok tok tok
“Gina, maaf mengganggu waktumu.” nyonya Yoris baru saja masuk.
“jangan meminta maaf Nyonya, ini rumah anda.” Gina menyambutnya dengan senyuman ramah.
“Kamu sedang bersiap kemana?” tanya nyonya itu.
“Saya akan pulang ke tempat saya nyonya.” Jawab Gina.
Nyonya Yoris itu pun tersenyum sebelum mengatakan sesuatu. “Gina, maaf harus mengatakan ini.”
“ya?”
“yang aku perhatikan, kamu menyukai putraku?”
“uhuk-uhuk” Gina tersedak tanpa sebab.
“Jika iya, kamu boleh berusaha. Ambil hatinya. Hm?”😉
.
.
Bersambung.
Lanjut....yo semanngat😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
ilonaQï
langsung di restuin ,kesempatan gin pepet truss smpai dpt
2023-03-13
0
Putri Nunggal
dapat lamu hijau dr calon mertua
2022-12-14
0
Yani Pertama
lanjut Thor....pasti berjodoh gina dengan Stefan
2022-08-20
2