\=\=\=\=\=\=\=///
Pada saat hendak melangkah, Gina merasakan sakit yang sangat mengganggu di telapak kakinya.
'Bagaimana ini? Aku bahkan takut menggerakkan kakiku.'
Gina pun memaksa kakinya untuk melangkah. Namun, ia melakukannya dengan sangat hati-hari.
‘Waaa. Apa wanita ini sedang berusaha mencari perhatianku? ' Stefan merasa sedikit geram. 'Sudah dikasi hati malah minta jantung. Berjalan dengan sangat pelan. Minta aku gendong? Jangan mimpi!’ rasanya Stefan mulai kehilangan kesabarannya.
...
Kini, tibalah mereka di depan rumah tempat tinggal Gina.
“Turunlah! Tunggu apa lagi?”
“I-iya pak!”Gina pun turun setelah mengucapkan terima kasih.
.
Akhirnya, dengan susah payah Gina tiba di depan kamar kecilnya. Terlihat wanita itu membuang kasar napasnya, seperti suatu kelegaan, namun pantas juga digambarkan seperti rasa keluh. ‘Disaat seperti ini, aku sangat merindukan Rani. Seharusnya, wanita manis itu ada bersamaku, membantuku. Tapi dia malah dengan teganya menikah dan meninggalkanku.’😊
Gina melepaskan pakaian basah itu dari tubuhnya. Setelah iu, ia pun mandi dan membersihkan luka yang ada di masing-masing telapak kakinya.
“penjahat sialan, berani-beraninya menggangguku dan membuatku berlari seperti tadi?” kesalnya.
Setelah mengobati lukanya dan membalutnya dengan perban, Gina lalu tarik selimut untuk segera tidur. Tak peduli lagi dengan perutnya yang lagi keroncongan.
....
Ditempat lain.
Stefan terlihat sedang memijat pelipisnya. Entah kenapa, rasanya ada sesuatu yang sangat mengganngu dan memaksa masuk dalam pikirannya.
‘Sial! Kenapa aku terus memikirkan tentang waita itu? dia tadi hanya menangis dan memelukku, dan itu adalah hal yang wajar bagi seseorang’ Stefan merasa bingung dengan yang dirasakannya.
...
Keesokan harinya.
Gina terbangun dan merasakan suhu tubuhnya yang sangat panas.
“Aw, kepalaku terasa sakit.” Menyentuh dahinya.
“Sepertinya aku demam.”
Kali ini, wanita itu hanya bisa tersenyum kecut. Segala macam kemalangan datang disaat hampir bersamaan. Baru juga ia mendapatkan kebahagian luar biasa setelah bisa kembali memeluk Arsen yang sangat dirindukannya. ‘poor you Gina’ batinnya, dan kembali menarik selimut. Ia pun membuka ponselnya, mencari aplikasi untuk delivery makanan dan obat-obatan.
“untung saja weekend” gumamya.
Sama seperti kebanyakan masyarakan Indonesia lainnya yang selalu untung. Dalam arti, meskipun tidak bisa kemana-mana karena kondisi sakit, tapi hari ini adalah hari libur. Itulah yang di syukuri oleh Gina.
Tak terasa 30 menit kemudian.
Tok tok tok
Gina yang sudah sempat tertidur di bawah selimutnya, kembali tersadar saat mendengar seseorang mengetuk pintu lalu mengatakan permisi.
‘Itu pasti kurir bubur atau obat’
“Gantung saja di hande pintu! Nanti saya ambil.”
Gina pun mendengar balasan singkat dari luar.
\=\=\=\=
Di kediaman Stefan Alvaro
“Papa, benarkah hari ini kita mau jalan-jalan?”
“Iya sayang, seperti biasa. Kamu mau nonton di bioskop?”
“Mau Papa, ajak tante Gina juga yah Pa!” ujar Arsen dengan wajah ceria.
Stefan terlihat keberatan. ‘Kenapa putraku menyukai orang itu?’
“kita berdua saja boy.”
“Aaaaaaa, Papap! Arsen pengen nonton dan main bareng tante Gina.”
‘Astaga. Sihir apa yang digunakan wanita itu pada putraku?’
“Baiklah, tapi papa tidak janji yah. Siapa tau tantenya lagi sibuk.”
“Horeee. Terima kasih Papa” Arsen melonjak gembira.
Stefan menghubungi Gina melalui ponselnya ingin menanyakan apakah Gina mau ikut jalan-jalan, namun tidak dapat terhubung. “Wanita itu pasti sedang tidur membangkong. Tentu saja, ini weekend dan dia tidak punya sesuatu yang harus dia urus” tebak Stefan.
Ayah dan anak itu pun menaiki mobil Sport kesukaan keduanya itu.
“Tunggu Papa, apa ini?”
“Hmmm? Ini mana?”
Arsen menunjuk ke bawah, dimana kakinya baru saja terpijak.
‘Seperti darah? Kenapa disini ada darah?’ batin pria itu.
Stefan mulai mengigat-ingat. “Benar ini darah! Apa ... wanita itu semalam berdarah?”
“Boy, bagaimana kalau begni. Papa akan jemput tante Gina dulu, lalu menghilangkan bekas noda itu dan nanti papa sama tante Gina akan jemput kamu, hmm?”
“Emmmm, boleh, Arsen tunggu dirumah ya Pah”
“Iya sayang, dah kembalilah kedalam, bermain dengan nenekmu,”
Bocah berusia 5 tahuan itu pun turun dari mobil dan kembali masuk ke dalam rumah.
Stefan lalu melajukan mobilnya membelah jalan dengan kecepatan tinggi. Berkali-kali ia hubungi kontak Gina, namun selalu tidak bisa terhubung. Berbagai pertanyaan dan paduga berlarian di kepala Stefan.
“Apa aku mengkhawatirkan dia?”
“Akhhh. Tentu saja. Dia adalah sekertarisku”
Kebetulan, tempat tinggal Gina tidaklah jauh dari kediaman Stefan, jadi tidak butuh waktu lama untuk tiba disana, meskipun kota ini dilanda kemacetan, Stefan bisa tiba dalam waktu 30 menit.
Tok tok tok
Pintu kembali di ketuk.
“pasti kurir obat.” Tebak Gina, dan benar saja. Gina mendengarkan seseorang menyebutkan kata “Obaat”
“Gantung saja di handle pintu” dengan nada sedikit berteriak.
“Aaaakh, aku malas sekali bergerak. Tidur saja dulu sebentar.” Gumamnya.
Saat ini, gina benar-benar mager dan bahkan takut memijakkan kakinya karena sakitnya masih terlalu jelas terasa.
Tok tok tok.
Pintu kembali di ketuk.
“Duuuuh, mas, saya sudah bilang letakkan saja disitu. Aku akan mengambilnya nanti Aku sudah membayarnya via transfer.”
“Ginaaa, ini saya”
Deg deg
Deg deg
‘Pak Stefan? Duuuh, mau apa dia kesini?''
.
.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Putri Nunggal
rani juga berhak bahagia dengan pasangan nya say, masa ngintilin hidup mu mulu
2022-12-14
0
Athaya
kirain gina di bawa k rmh Stefan 🙄🙄
2021-07-24
2
maria manalu
ok
2021-05-15
1