“Gina! Apa kamu baik-baik saja?”
“Iya pak, saya baik-baik saja!”
Stefan melihat keberadaan obat dan bubur yang menggantung di handle pintu kamar Gina.
‘Baik-baik saja katanya? Lalu bubur dan obat ini untuk apa? Ini hanya dikonsumsi orang sakit.’
Stefan merasa Geram diabaikan oleh Gina.
“Bukalah pintunya Gina. Tidak sopan membuatku berdiri lama-lama disini. Aku ini adalah pemimpin tempatmu bekerja.”
‘Astaga, kenapa dia sepertinya sangat niat menemuiku?’ batin Gina.
“Maaf Pak, tapi saya baru saja bangun dan masih sangat berantakan ruangan ini.”
“Gina, jangan banyak alasan. Aku tahu, kakimu sedang sakit kan?”
“Hah? Bagaimana dia tahu kakiku sakit?” bergumam.
“Benar Pak, saya sedang sakit dan saya tidak sanggup berjalan membukakakan pintu. Maaf pak, anda boleh pulang.”
Gina sudah tak memperdulikan lagi tentang betapa senangnya dirinya saat berdekatan dengan Stefan.
‘Masa bodoh dengan cinta pertama. Yang terpenting sekarang adalah, aku harus beristirahat.'
Baru kali ini Gina tak terpengruh oleh kehadiran Stefan. Padahal, bukankah bagus? Stefan datang disaat yang tepat.
“Gina, bukalah pintunya. Atau kalau tidak aku akan membukanya paksa.”
‘Apa dia tuli? Aku sudah bilang pergi saja’
“Silahkan pulang Pak, maaf saya tidak terima tamu ataupun semacamnya.” Dengan nada sedikit berteriak.
Dari lubuk hati terdalam, memang sangat ingin membukakan pintu untuk bosnya itu, akan tetapi rasa perih pada kakinya jauh lebih berat.
BRRRUAK.
Pintu terbuka lebar. Siapa lagi yang membuka paksa pintu itu jika bukan Stefan yang muncul dengan setelan casualnya, membuat ketampanannya kian bertambah.
“Pak? Apa yang anda lakukan? Anda mau saya di tuntut ganti rugi oleh pemilik tempat ini?” Gina, dengan nada sedikit membentak.
"Gina, kamu-,” Stefan lalu menyibak selimut tebal yang menutupi tubuh Gina. Dengan spontan pula menempelkan telapak tangannya pada dahi Gina. “Badanmu panas sekali. Kau demam Gina. Lalu lukamu,-“ menatap kedua kaki mulus Gina dengan tatapan bersalah.
“maafkan saya Gina! Tadi malam aku tidak tahu kakimu terluka.”
“Tidak apa pak, ini hanya luka ringan” Gina tersenyum, terlihat baik-baik saja.
“kita ke rumah sakit sekarang.”
“Tidak perlu pak, saya hanya ingin makan bubur dan minum obat.” Gina menunjuk bungkusan yang ada ditangan Stefan.
“Ah, baik, aku akan menuang bubur ini ke mangkuk.” Stefan pun mengambil mangkok dan sendok lalu menuang bubur tersebut. “Aku suapin kamu yah.”
Degh.
Jantung Gina mulai tak terkontrol. Ia tertegun menatap Stefan atas perhatian kecil ini.
“Lihat apa? Ayo buka mulutmu. Aaaaaaaa”
Tanpa sadar, Gina membuka mulutnya. Tapi, kedua matanya terus saja menatap Stefan dengan tak tahu diri.
Awalnya Stefan terlihat cuek saja. Lama-kelamaan pria itu jadi risih. “jangan menatapku begitu” dengan nada datar.
“hah?” Gina pun memalingkan wajahnya, reflek.
“Saya melakukan ini karena kamu adalah sekertaris saya. Jangan GeEr.”
Mendengar itu, Gina auto menelan kasar. ‘Apa sikapku terlalu kelihatan menyukainya?’ batin Gina.
“Maaf meyusahkan anda Pak”
Gina sudah meminum obatnya, lalu meminta supaya Stefan segera pulang. “Anda pulang saja pak, sebentar lagi saya akan sehat.”
“Saya mau bawa kamu ke rumah sakit Gina,”
“Tidak perlu pak” menolak dengan halus.
“Gina menurutlah” tegas Stefan. Entah hal apa yang mendorong Stefan untuk memaksa peduli pada Gina. Yang dia tau, Gina terlihat menyedihkan. Sangat wajar bila Stefan merasa kasihan.
“baiklah Pak, tapi ... saya mau ke klinik saja, jangan ke rumah sakit.”
“Oke, asal lukamu diobati dan segera sembuh. Karena kalau sakit terus, saya tidak punya sekertaris.”
‘Ingat yang dia katakan Gina, kau itu hanya sekertaris. Jangan senang dulu akan perhatiannya.’ Wanita itu mengingatkan dirinya sendiri.
Tiba di Klinik.
Stefan kembali menghampri Gina yang duduk di sebelah kursi kemudi.
“Pak, sebaiknya anda mengambilkan saya kursi roda. Tidak enak dilihat orang anda menggendong saya.”
“Diamlah. Jangan banyak bicara Gina.” Stefan pun kembali menggendongnya.
Terdapat luka menganga di masing-masing telapak kaki Gina, yang membuatnya terpaksa harus mendapat beberapa jahitan.
“Dok, jangan lupa berikan obat bius agar dia tidak merasakan sakitnya di jahit”
Degh. Lagi-lagi jantung Gina berdegup dengan apa yang dikatakan Stefan. Ia pun kembali menatap pria itu.
“Ah, sudah pasti pak. Tenang saja, kami akan merawat istri anda dengan baik.”
Mendengar kata istri dari sang dokter, Stefan lalu mengalihkan tatapannya pada Gina, yang kebetulan sedang menatapnya. Stefan lalu mengangkat sebelah alisnya, seolah sedang mengatakan “Apa liat-liat?”
Gina pun secara eflek membuang pandangannya kearah lain. ‘Ya ampun, dia bahkan tidak membiarkan aku menatapnya. Apa matanya akan terasa sakit saat brtatap denganku?’
Sepulangnya dari klinik, Stefan bukannya mengantar Gina ke kontrakannya, tetapi malah membawa wanita itu pulang kerumahnya.
“Pa-pak, kenapa kita malah kesini?”
“Gin, kamu tidak ingat pintumu aku buka paksa tadi pagi? Itu masih rusak. Kalau kamu disana lalu diganggu orang jahat, apa kamu bisa kabur jika berjalan saja tidak bisa?”
“jadi ... anda mengkhawatirkan saya Pak?” Gina tersenyum kecil diujung kalimatnya.
“Jangan berlebihan. Aku hanya bertanggungjawab karena telah merusak pintumu.”
🙄😏
.
.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Putri Nunggal
cieeee pak bos malah perhatian lebih niiih
2022-12-14
0
☆chika
kenyataan nya di dunia nyata tiada bos sebaik kamu bang bang stefan.
jadi pengen masuk dunia novel🤭🤭🤭
2022-09-29
2
Taddalana
mending jadi pengasuh se utuh nya tanpa hrus jd sekretaris lg,jd bisa tinggal di ruma stefan jd byk menghabiskan waktu dengan arsen
2022-09-19
1