Kini, Gina hidup seorang diri, di rumah sewa yang cukup kecil, hanya muat untuk satu orang. Setelah memastikan penampilannya, ia pun segera menuju Yoris Group untuk memenuhi panggilan interview.
\=\=\=\=\=\=\=\=
“Ya ampun, aku sangat gugup. Bukankah... ini dia?”
Gina melangka menuju kursi dimana dia boleh duduk setelah diperintahkan.
Gina tidak pernah menyangka, akan di interview langsung oleh CEO Yoris Grup itu. disinilah Gina sekarang, berhadapan langsung dengan pria ini, yang tak lain ialah Stefan Alvaro Yoris, cinta pertamanya itu, pria yang
telah ... ah sudahlah. Dia pria yang kini merawat anak yang telah Gina lahirkan lebih dari 5 tahun yang lalu.
‘Astaga, apa aku akan terkena serangan jantung? Dia masih saja terlihat tampan. Oh Tuhan, aku bertambah gugup”
Stefan bahkan belum mulai mengatakan sesuatu, tapi gina sudah sangat gelisah.
“Gina, Veroni... Gina ... Veroni” Stefan memainkan ketukan ujung jarinya, saat menyebutkan nama Gina sebanyak dua kali, lalu mengangkat wajah menghadap bakal sekertarisnya ini. ‘Dia cantik’ batin Stefan.
‘Ada apa dengannya?’ Gina pun membatin.
Setelah hening beberapa detik, Stefan pun memulai.
“jadi ... usiamu sekarang 27 tahun.”
“Benar pak.”
“Selama ini, kau hanya bekerja paruh waktu.”
“Iya, benar pak,”
“lalu kenapa kau melamar pekerjaan disini setelah menghabiskan waktumu untuk bekerja sebagai pekerja patuh waktu?” bertanya dengan wajah heran.
“Ah ... maaf, apa ... saya harus menjawab pertanyaan itu pak?” Gina tak kalah merasa heran dengan yang baru saja yang baru saja dikatakan oleh CEO di depannya ini. Apa ini sebuah pertanyaan interview atau ... dirinya sedang dimarahi?
“Tentu saja harus dijawab. Aku sedang menginterview dirimu.” Dengan nada yang volumenya sedikit dinaikkan.
“Oh, Ba-baik, saya akan menjawab. Jadi, selama ini, saya bekerja paruh waktu karena saya memang suka pak, saya ... menyukai berbagai pekerjaan.” Entah, jawaban macam apa itu, Gina juga tidak mengerti.
“Bagus, kau menyukai berbagai pekerjaan. Apa kau sanggup jika harus bekerja sebagai sekertaris dan juga menjadi pengasuh anak?”
Deg
‘keberuntungan memang selalu berpihak padaku’ batin Gina, tanpa sadar memperlihatkan raut wajah senangnya.
“kenapa aku merasa anda terlihat sangat senang?” stefan merasa aneh dengan ekspresi Gina.
Gadis itu sontak menetralkan raut wajahnya ke mode biasa.
“E ... sa-saya bersedia pak.”
“Yah?”
“Seperti yang bapak katakan, dua pekerjaan itu, tidak masalah bagi saya” Gina menjawab tanpa berani menatap wajah bakal bosnya itu.
“benarkah? Kalau begitu, bekerjalah mulai besok.”
“Yah? Sa-saya tidak salah dengar pak?”
‘Kenapa orang ini bisa lulus dengan nilai tinggi jika pendengarannya saja kurang?’ batin Stefan.
“Anda tidak salah dengar. Bekerjalah mulai besok.” Tegasnya.
“bab-baik pak. Terima kasih banyak”
‘Luar biasa. Dia menggunakan kata kau dan anda padaku dalam waktu yang bersamaan.’
Setelah interview singkat itu berakhir, maka Gina pun keluar dari ruangan itu dengan perasaan bahagia.
‘target utamaku adalah Arsen, tapi tak apa jika harus bertemu dengan papa-nya setiap hari, mulai besok. Owh ... keberuntungan apa lagi ini Gina?’
Puas dengan batinnya yang bersorak, Gina kembali menggeleng untuk menyadarkan dirinya. ‘gila kamu Gina, kendalikan dirimu.’
Setelah kepergian Gina, Stefan terlihat memikirkan sesuatu. “Kenapa ... aku merasa, pernah mendengar suara perempuan ini? Dimana ya? Apa kami pernah kebetukan bertemu? Apa ... di kampus? Dia juga lulusan kampus dan jurusan yang sama denganku. Tapi, aku merasa tidak pernah melihatnya.“
.
Hari baru menyambut Gina. Pagi ini Gina bangun dengan perasaan lebih semangat lagi. Semangat karena mulai hari ini, akan selalu bertemu dengan cinta pertamanya itu.
Stefan tiba lebih awal di kantor pagi ini. Entah kenapa, ia merasa sangat bersemangat akan memulai pekerjaannya bersama dengan sekertaris baru ini.
“Dia belum datang?” gumam Stefan saat melihat meja kerja sekertarisnya masih kosong.
“di hari pertamanya, aku tiba lebih dulu. Dasar payah.” Stefan melangkah masuk dan duduk di kursi kebanggaannya. Belum apa-apa, poin Gina udah minus aja.
Pria tampan itu melirik jam yang melingkar di pergelangannya. “Seharusnya dia tiba lebih 20 menit sebelum pekerjaan dimulai. Sisa waktu 21 menit pekerjaan akan dimulai.”
“Waktumu tinggal 1 menit Gina, jika kau belum tiba, siap-siap saja terima konsekuensinya.’
50 detik,
40 detik,
30 detik,
20 derik,
10 detik
9, 8, 7, 6, 5. 4, 3, 2, tok tok tok.
Ceklek, pintu terbuka.
“Selamat pagi pak!” Gina memberi hormat.
“Anda hampir saja telat” dengan wajah dan nada datar.
“Maafkan saya, pak!” Gina tersenyum ramah.
‘Cantik,’ batin Stefan.
“Jangan senyum-senyum” dengan nada tetap datar maksimal.
“baik pak,” dengan wajah sedikit di tunduk.
“Kemarilah, ini jadwal saya. Kamu harus mengaturnya dan mengingatkan saya.”
Gina pun mendekat dengan perasaan gugup. Bukan karena merasa takut, tapi karena, merasa senang.🤭
Lalu Stefan memberikan sebuah Tab berukuran 8 inc kepada Gina yang berisi semua hal yang
berhubungan dengan pekerjaannya sebagai sekertaris. “kemanapun kamu pergi, jangan pernah melupakan benda ini”
Stefan memberi penjelasan seditile mungkin kepada Gina dan selama Stefan menjelaskan, Gina tak henti-hntinya mencuri pandang.
‘Ahhh, dia sangat tampan bila sedekat ini.’
“Apa kau bisa mengerti?” tanya Stefan, mengejutkan Gina.
“Eh, iya pak”
‘bodoh kau Gina ... bukankah kalian bahkan pernah –‘ Gina kembali menggeleng menyadarkan dirinya dari pikiran liarnya yang bisa saja mengganggu ketenangan para readers yang sedang puasa hari ini.
“Ada apa denganmu? Apa kau merasa kurang sehat?”
“Oh, saya sangat sehat pak.”
“Oke, silahkan mulai pekerjaan, jangan sampai salah dan menyebabkan kerugian bagi perusahaan. Jika ada yang tidak kau pahami, tanyakan langsung padaku.”
“baik pak”
.
. Bersambung...
Thanks guys😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Alanna Th
thor, aq baca ulang, sdh lupaceritanya tgl 8-8-'21 😍👍💗💗
2023-01-16
1
Putri Nunggal
kalau aku aman ya bacanya bukan lg bulan puasa😁
2022-12-14
0
Putri Nunggal
np baru menyadariny hah
2022-12-14
0