“Gina, ayo ikut saya,”
Dengan langkah tegas, tanpa menoleh kearah orang yang di maksud, Stefan melewati Gina seraya mengeluarkan kalimat ajakan itu dari
mulutnya.
“Ki-kita mau kemana ya pak?” dengan otak yang penuh tanda tanya, Gina bertanya namun tetap beranjak dari duduknya.
“Apa kamu diberi hak untuk bertanya? Kalau atasan mengajak atau menyuruhmu apapun, kau hanya perlu menuruti.” Berbicara tanpa menoleh,
terus melanjutkan langkah tegasnya.
“ih, jutek banget si?’ 🙄 Gina mengikuti langkah bosnya yang terkadang terlihat angkuh itu, keluar dari gedung perusahaan.
.
Waktu sudah hampir gelap. Mobil yang membawa keduanya kini memasuki gerbang besar, seketika perasaan takut menyelimuti Gina. ‘Jadi, aku
diajak ke rumah ini? Bertemu Arsen lagi? anakku, mama datang’ batin Gina.
”Ini adalah kediaman keluarga saya. Saya ingin
memperkenalkanmu dengan anak dan orangtuaku.”
Degh
Gina tersenyum lebar walaupun jantungnya sangat gugup.
“Apa yang ada di pikiranmu? Jangan berpikir yang aneh-aneh.”
Untuk pertama kalinya, Stefan merasa kesal melihat senyuman Gina. Seolah wanita itu telah berhasil mendapat sesuatu yang sangat berharga. Ia mengira, Gina telah berpikir berlebihan.
“Ma-maaf pak, bu-kan itu maksud saya.”
“lalu kenapa tersenyum senang? Apa kau kira aku akan memperkenalkanmu untuk jadi bagian dari keluargaku?”
‘wajahmu itu tidak bisa berbohong’ kesalnya dalam hati.
“Maaf pak,” ucap Gina, sopan.
‘Tapi bisakah anda tidak seketus itu?’ sambungnya dalam hati.
.
Stefan dan Gina keluar dari mobil, lalu melangkah masuk ke dalam rumah besar itu. Dengan sikap tau dirinya, Gina berjalan di belakang Stefan seperti biasa.
“Papa!”
Deg
Deg
Deg
Jantung Gina berdegup tak karuan. Seorang anak laki-laki menyambut Stefan dengan meneriaki nama papa.
“wah, anak papa! Apa tidak nakal hari ini?"
“Enggak papa.” Arsen memeluk ayahnya itu. “Papa ... siapa tante ini?” menunjuk Gina dengan telunjuk kecilnya.
Gina hanya mampu menunduk, menahan diri dari rasa ingin memeluk anak itu, ia merasa sangat malu menatap wajah anaknya sendiri.
“Boy, tante ini sekertaris papa. Kamu bisa panggil dia tante Gina.” Stefan memicing saat meirik Gina dan menangkap keanehan dari gelagat Gina.
“Ehm!” Stefan berdehem untuk menyadarkan Gina.
“Hai tante ... namaku Arsen.” Tangan kecilnya itu ia berikan untuk berkenalan.
Dengan takut-takut, Gina menyambut tangan putranya itu. “Hai,Arsen” Gina nampak sangat kikuk.
‘ini mama sayang, aku yang melahirkan kamu. Kamu berasal dari rahim aku. Kamu milikku. Aku hanya menitipmu disini. Apa ... ini saatnya
membawamu pergi?’ Gina tidak ingat untuk melepas jabatan tangan Arsen. Pikiran Gila
sedang mendominasi hampir di seluruh
otaknya.
“Stefan, kau sudah pulang?” papa Toni menghampiri.
Gina melepas tangan Arsen setelah tersadar dari lamunannya, lalu kembali berdiri.
“Waaa... papa Arsen sudah pulang. senang sayang?” mama Lina pun menyusul suaminya.
‘Syukurlah, sepertinya ... mereka sangat menyayangi anakku,’ Gina berkata lirih dalam hatinya.
“Ma, Pa, dia Gina, sekertaris baru aku.” Stefan
memperkenalkan Gina.
.
Kini, mereka berada di ruang keluarga yang sangat luas itu. semua orang duduk diam dengan perasaan canggung. Tak ada yang mengeluarkan
suara. Papa dan mama hanya menunggu sekiranya ada penjelasan dari Stefan mengenai wanita cantik yang ada dihadapan mereka ini. Meskipun sudah tau gadis ini adalah sekertaris anaknya, tapi bukanlah hal biasa bagi Stefan mengajak
wanita menemui orang tuanya.
“Arsen, ngobrol sama tante Gina dulu ya, papa mau bicaradengan kakek dan nenekmu.” Mengacak pelan ambut bocah yang ada di pangkuannya
itu.
“Oke Papa,” Arsen turun dari pangkuan ayahnya, lalu menghampiri Gina dan mengajak wanita yang dipanggilnya tante itu untuk melihat kamarnya.
Tentu saja Gina menuruti anak itu dengan senang hati.
.
Tiba di kamar Arsen.
“Silakan tante,” Arsen tersenyum manis mempersilahkan Gina untuk masuk, dan diangguki oleh Gina.
Arsen kembali menutup pintu kamarnya, berlari melewati Gina menuju mainannya yang sangat banyak.
“Arsen,”
Anak itu pun menoleh karena Gina memanggil namanya.
“Apa ... aku boleh memelukmu? Sebentar saja.” Ucap Lina, pelan, sangat hati-hati.
Tak disangka, Arsen merentangkan kedua tangannya.
Tanpa aba-aba, Gina mendekati Arsen dan ... memeluk anak itu dengan sangat erat.
‘Anakku, Arsenku,’ Gina menangis memeluk anaknya itu, menangis dalam diam.
'Terima kasih sudah tumbuh dengan sehat sayang. Mama sayang kamu. Arseen,' Air mata Gina mengalir kian banyak saat anak itu mengelus punggung belakangnya.
.
.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Andriyati
gina gak boleh gt,, bagaimanapun arsen di besarkan oleh mereka penuh kasih sayang sejak kamu meninggalkan nya D umur 6 bulan, terkesan tidak adil kalau kamu bilang hanya menitipkan,, itu namanya egois
2023-10-06
1
Putri Nunggal
aaah terhuraaaaaaaa aku
2022-12-14
0
Putri Nunggal
jangan kegeeran stefan hanya memeperkenalkan mu sebagai sekertaris bukan sbg calon ibu dari anakmu
2022-12-14
0