🌹 Happy Reading 🌹
Morgan mulai terlihat sedang mengatur nafasnya saat ini, dia merasakan perih yang teramat di tanganya yang berlubang akibat gigitan dari Briell, bahkan si pelaku terlihat biasa saja meskipun dia sudah melihat banyak darah yang menetes di tangan Morgan.
“Apakah hatinya terbuat dari batu ? Ataukah dia patung ? Bagaimana bisa dia bersikap santai seperti ini walaupun dia bisa melihat dengan jelas aku sedang menahan sakit saat ini,” gumamnya dalam hati dengan terus menatap tajam kea rah Briell yang terlihat santai tanpa beban.
Bahkan sepertinya pertengkaraan tadi yang menyebabkan ponsel ke duanya hancur, sama sekali tidak bermakna untuk Briell.
Hingga Morgan memilih berdiri untuk mengambil kotak P3K di kamarnya, lalu mengobati dan memperban luka itu sendiri, yang seharusnya Briell lah sebagai Dokter yang melakukan itu, terlebih lagi di saat suaminya sedang terluka seperti ini, maka Briell sebagai Dokter sekaligus istri harus membantunya, apa lagi dia tau dengan jelas bahwa luka itu dia yang menyebabkan.
Setelah mendapatk kotak obat itu, Morgan kembali duduk di Sofa dan mulai membersihkan lukanya itu dengan Alcohol, lalu memberikanya obat merah.
Dia benar-benar mengobatinya sendiri bahkan ringisan dan suaran kesakitan dari Morgan sama sekali tak di gubris oleh Briell, dia malah dengan santainya membuka Laptopnya dan mengecek Email yang masuk.
“Tuhan, apa sebenarnya kesalahan ku di masa lalu? Mengapa engakau memberiku ujian serumit ini, dan mengapa istri ku bisa sedingini ini,” hatinya dan pikirianya benar-benar lelah menghadapi seluruh permasalahan yang ada.
Morgan telah selesai membalut lukanya dengan sempurna, dan kembali menyimpan kotak P3K itu ke tempat semula, lalu dia duduk dengan lesuh menatap ke arah Briell.
“Sekarang jelaskan kepadaku, bagaimana kamu bisa berada di kamar Apartemen milik ku ?” Tanyanya tidak ingin terus menerus larut dalam masalah ini.
Morgan ingin cepat-cepat bisa memecahkan masalah yang sangat-sangat membuat otaknya menjadi tidak waras. Dan langkah pertama adalah istrinya sendiri, dia harus tau dengan jelas bagaimana Briell ada di kamar aprtemenya, karna se ingatnya apartemen miliknya itu sudah terkunci rapi di saat dia masuk ke dalam.
Namun di saat Morgan tengah bertanya serius, Briell hanya mengedikan bahunya singkat, seakan-akan tidak perduli.
“Maksud kamu apa jawaban begitu? Briell please jawab dengan benar! Aku tidak ingin kita terus menerus seperti ini.” Seru Morgan lagi yang berusaha menahan kesabaranya menghadapi sikap Briell yang benar-benar Bar Bar.
“Aku tidak tau, dan aku tidak mau tau.” Jawabnya singkat jelas dan padat.
Morgan sekali lagi terlihat menarik nafasnya dalam-dalam mencoba menetralkan pikiranya, mencoba sekuat hati berdamai dan membiasakan diri dengan sikap Briell.
“Apa kah kamu bisa coba ingat kembali apa yang terjadi sebelum kamu berada di kamar milik ku ?” Morgan terus menerus mencoba berusaha mendapatkan jawban dari Istrinya walau pun itu sangat-sangat sulit.
Briell mencoba menarik nafasnya kesal karna Morgan terus menerus mengganggu konsenteasinya dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh yang di berikan.
“Bukankah keluargamu kaya dan terpandang ? Maka aku pikir itu bukanlah hal sulit untuk memecahkan satu masalah kecil seperti ini, gunakanlah otak cerdas kalian untuk berpikir bukan gunakan mulut kalian untuk menghina!” Tegas Briell yang berhasil meng skak mati perkataan Morgan.
To be continue.
*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya gengs **🙏🏻😊*
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 195 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
SKAKMATT buat Morgan .
2024-05-23
0
Lyana Gunawan
lahh kan awalnya keluarga Morgan duluan yg menghina briel
2023-04-07
0
imam zulkifli
pedes amat tuh mulut
2022-11-15
0