🌹 Happy Reading 🌹
Dengan perlahan, dan tatapan yang tajam Briell melepaskan cincin pernikahaan yang melingkar di jari manisnya hari ini, tepat di mata Morgan. “Jari ini tidak akan pernah sudi menerima pernikahaan dengan laki-laki pengecut seperti kamu!” Sindir Briell langsung melemparkan cincin itu di wajah Morgan, dengan senyuman sinisnya, tanpa dia sadari jika saat ini Morgan sedang mengepalkan tanganya menahan penghinaan yang di lontarkan Briell kepadanya, apa lagi dengan beraninya Briell melemparkan cincin pernikahaan ke wajahnya yang sama saja menandakan jika Briell melemparkan kotoran di hadapanya.
Dan tanpa memperdulikan tatapan tajam dari Morgan, Briell memilih melangkahkan kakinya keluar kamar, mencari udara segar untuk meredam amarahnya, dia benar-benar bingung dengan keadaanya saat ini, bahkan orang suruhanya saja belum bisa mendapatkan bukti kejadian malam itu.
“Shitt! Sampai kapan aku bertahan dengan pria sampah itu.” Umpatnya masih menahan amarah dengan melangkahkan kakinya mencari taman rumah itu.
Sedangkan di dalam kamar setelah kepergian Briell, Morgan benar-benar meluapkan emosinya dengan menghancurkan seluruh barang-barang yang berada di kamarnya, “aaaarrggghh sialaan kamu Briell berani-beraninya kamu menantang dan menghinaku seperti ini, aarrggghhh. Akan ku buat kamu bertekuk lutut kepadaku wanita sialan.” Morgan tentu saja tidak akan tinggal diam dengan kejadian hari ini, dia pasti akan membalas segala penghinaan yang telah di lontarkan Briell terhadapnya.
“Aku pasti akan membalasmu Briell.” Janjinya dengan mantap akan menciptakan neraka di dalam kehidupan Briell.
Setelah meluapkan amarahnya, serasa belum puas dia kembali melangkahkan kakinya keluar rumah, tanpa memperdulikan keberadaan Briell saat ini, tujuanya saat ini hanyalah Club, menghabiskan malamnya dengan sebuah minuman keras.
Waktu telah menunjukan pukul 02.00 Pm.
Tok,,tok,,tok suara ketukan pintu membangunkan Briell yang sedang asik dalam mimpinya, dengan rasa malas dia bangkit dari tidurnya dan membuka pintu untuk melihat siapa yang berani menggangu tidurnya malam-malam.
Cklekk dia membuka pintu dengan rasa malas, dan melihat sosok Morgan yang tengah di papah oleh kedua teman prianya yaitu Vincent dan Martin
“Apa,” ucap Briell di saat mendapatkan tatapan dari dua pria itu, “apakah kamu tidak melihat jika suami kamu sedang mabuk?” Tanya Vincent dengan senyum pada Briell yang tidak memperlihatkan rasa khawatirnya sama sekali melihat Morgan yang mabuk di hadapanya.
“Liat.” Jawabnya santai dan acuh, Vincent dan Martin langsung menatap satu sama lain melihat sikap dingin yang di perlihatkan oleh Briell. “Apakah kamu tidak khawatir kepadanya?” Tanya Martin dengan bingung ke arah Briell.
Briell tersenyum sinis mendengar pertanyaan dari teman Morgan itu. “Jika dia yang mabuk lalu kenapa aku yang harus khawatir?” Briell dengan santai berjalan melangkahkan kakinya masuk dan duduk di sofa kamar Morgan. “Letakan saja dia di tempat tidur, dan gantikan pakaianya, aku masih merasa jijik untuk menyentuh tubuhnya.” Ucap Briell yang sontak membuat Vincent dan Martin memandang bingung ke arah Briell.
Mereka begitu heran, bagaimana ada wanita yang mampu bersikap sedingin dan sekejam Briell, sedangkan yang mereka tau Briell itu hanyalah seorang pelayan Restoran yang rendah, lalu mengapa dengan angkuhnya dia bisa berbicara seperti dia adalah orang dari kalangam atas. “Cepat bawa dia masuk! Apa lagi yang kalian tunggu ha.” Bentak Briell yang sudah muak melihat tiga pria tak berguna di hadapanya.
Dengan cepat Keduanya langsung memapah tubuh Morgan masuk ke dalam kamar dan meletakanya perlahan, tak lupa Vincent memanggil kepala pelayan untuk mengganti seluruh pakaian Morgan, karna Briell menolak mentah-mentah untuk menyentuh tubuh Morgan.
Dan setelah kepergian kedua pria itu, Briell kembali menutup pintu kamar itu, dan menatap kesal pada Morgan yang karnanya lah Briell yang sebenarnya sangat kurang tidur, kali ini tidak bisa menutup kembali matanya karna tidak ingin berada di satu tempat tidur bersama dengan Morgan.
Dengan rasa malas, Briell memilih mengaktifkan laptopnya dan ingin melanjutkan karya Novel yang sudah tertunda beberapa hari, hingga pagi menjelang dia masih belum memejamkan matanya.
Bahkan dia memilih untuk bersiap-siap pergi ke rumah sakit untuk bekerja, tanpa memeperdulikan kondisi Morgan sama sekali.
Sudah panas liat yang roti sobek, kini mimin berikan yang bening-bening💕💕
Kembaran Mimin🥰
To be continue.
*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya gengs **🙏🏻😊*
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 195 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Kenapa harus marah di hina?? Dia juga menghina orang seenak jidatnya,Benar apa yg Briell bilang,Sebelum menuduh dan menghina orang,vari tau dulu,jangan sampai melemparkan kotoran ke muka sendiri..😏😏😏😡😡
2024-05-23
0
Yuli Astuty
waaahhh cantiknya kembarannya mimin 😁😁😁
2022-11-11
0
HR_junior
duh briell pantesan si Aiden gak ISo moveon SM km ya SMpai si Freya JD korbannya
2022-10-23
0