selesai menyantap hidangan makan malam, kinar langsung membereskan piring-piring kotor. membawanya ke wastafel serta langsung mencucinya.
Tara sempat memandangi tubuh langsing itu tengah mencuci piring.
dalam hati berpikir; Rupanya masih ada saja wanita yang mau mengerjakan pekerjaan rumah tanpa bantuan asisten rumah tangga. di era ini.
dunia yang tengah dilihat Tara memang berbanding terbalik dengan dunianya yang asli.
Wanita-wanita berkelas yang ia kenal sebelumnya memanglah cantik-cantik, karena mereka tak pernah sudi barang sekali pun menyentuh pekerjaan rumah.
tidak seperti para gadis yang hidup dalam lingkungan yang masih di bawah dari kata cukup.
bahkan tak jarang para wanita harus memikul tanggung jawab melebihi apa yang di jadikan kewajibannya. Ketika pasangan mereka tidak mampu mencukupi semuanya. Para wanita rela turun tangan, mengambil sebagian peran suami juga dalam rumah tangga mereka. Demi bisa mencukupi segala kebutuhan rumah tangga.
Tara tersenyum, lalu beranjak. Suara dorongan kursi membuat Kinar mematikan keran air lalu menoleh.
"Mas, mau langsung istirahat, ya?" tanya Kinar.
"Sebenarnya iya. Tapi kalo mau ngobrol dulu boleh kok."
Seperti paham isi hati gadis itu, Tara menjawab seperti memberikan harapan pada Kinar untuk semakin dekat dengannya.
Tersenyum. "Mau ku buatkan kopi?"
"Boleh... aku tunggu di luar ya," jawabnya sebelum berjalan keluar.
Aaaaaaaaa... nih orang benar-benar selalu berhasil membuat ku meleleh. Sabar-sabar Kinara... jangan mudah baper hanya karena Dia baik seperti ini. Ingat dia masih pria asing, pria asing.
Batin gadis itu sembari menghela nafas sejenak lalu meyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan bergegas membuatkan kopi.
Sudah pasti dia sangat bersemangat menyeduh kopinya.
Ya, walaupun pekerjaannya memang sudah biasa seperti itu, namun gadis itu merasa lebih bersemangat saja jika membuatkan kopi untuk mas Tara. Pria spesial baginya saat ini.
–––
Di sisi lain Tara mendapat panggilan dari Ivan. Ia menoleh sejenak ke dalam lalu memilih untuk berjalan keluar rumah, guna menerima panggilan telfon tersebut.
"Iya Ivan, Ini aku."
"Maaf Tuan muda. Saya benar-benar tidak tenang saat ini, apa harus saya membawa pak Rudy dan para pelayan untuk memasak hidangan anda?"
"Jangan gila ya. Lagi pula aku sudah makan."
"Sudah? Apa anda sudah memanggil chef di salah satu hotel Anda, dan ahli gizi Anda juga?"
Berlebihannya Ivan ini... batin Tara.
"Aku tidak perlu itu semua. Sudah ya ku tutup."
"Tapi Tuan, bagaimana dengan tidur Anda?"
"Tidak perlu khawatirkan itu... lebih baik kau rekap saja laporan untuk besok." Pikkk Tara mematikan panggilan telfonnya.
"Mas—" panggil Kinar, membuat Tara sedikit terperanjat, lalu menoleh.
"Iya?"
"Ini kopinya... ku pikir mau ngopi di dalam. Mas, mau di sini saja, atau tetap mau di dalam?"
"Di sini saja deh. Sepertinya lebih nikmat." Menunjuk ke kursi teras.
Kinar tersenyum, mengangguk. Tanda ia setuju. pikirnya nikmat juga ngopi di teras.
Tara berjalan beberapa langkah, mendekati kursi yang tak jauh dari posisinya berdiri.
Lalu menghempaskan bokongnya di atas kursi tersebut.
"Aaaarrrhhhh...." Sedikit berteriak saat menduduki kursinya, hingga membuatnya langsung kembali berdiri.
"Kenapa mas?"
"Itu, kursinya keras sekali... dan seperti ada yang menusuk." Mengusap bokongnya.
Kinar memeriksa. Ia pun terkekeh. "Ya ampun, maaf ya mas. Kursi ini sudah sangat usang, jadi pakunya pada keliatan, nusuk deh."
ya ampun... Tahu kursi seperti ini, kenapa masih diletakkan sini sih?
batin tara masih mengusap bokongnya.
"Emmm... kalau begitu di bawah saja ya," ajak Kinar. "Kita lesehan," sambungnya.
"Lesehan? Apa itu lesehan?"
Kinara menatap bingung. "Mas, Mas Tara sedang bercanda, ya? Masa lesehan tidak tahu.... seperti orang kaya saja."
"Ta... tau kok, tahu... hehehe cuma pura-pura saja."
haduh apa lagi itu lesehan?
Ia lebih memilih melihat Kinara dulu. Dan terlihat gadis itu duduk di bawah tanpa alas apapun.
"Kinar, itu kan kotor. kok duduk di bawah?"
"Kotor apanya? aku ngepel lantai ini sehari dua kali. Jadi tidak perlu khawatir. sini duduk, Mas..." Kinar menepuk-nepuk lantainya. Sedangkan Tara sendiri masih diam saja berdiri di tempatnya.
"Mas, sini."
"Beneran nggak kotor itu?"
Mendesah. "Aku sedang tidak masuk kesebuah drama tentang seorang Presdir yang tengah berpura-pura miskin, kan?"
Degg...!
Tara langsung saja duduk di atas lantai itu.
"Bicara apa sih kamu? Ya nggak lah."
Kinara tertawa. "Iya, jelas enggak ya. Mana ada seorang Presdir mau hidup seperti ini."
Mengulurkan kopinya pada Tara yang hanya menerimanya tanpa mendengarkan apa yang di katakan Kinar.
gadis ini, tipe wanita yang ceria ya? –Tersenyum.
Nampak keduanya masih sedikit canggung. Sehingga di antara mereka masih bingung mau membahas apa sebagai obrolan santai. Sementara itu diamlah yang menjadi pilihan, menikmati kopi dari cangkir mereka masing-masing.
Nikmat seperti biasa... aku suka racikan gadis ini. (Tara)
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh. Namun kawasan tempat tinggal Kinara memang bisa di bilang kawasan yang padat penduduk.
Hal itu pula yang membuat suasananya tetap seperti masih sore.
"Kinar?" Leon meletakkan gelasnya.
"Iya mas?"
"Apa selama ini, kamu tinggal sendirian?" tanya Tara setelah menemukan bahan untuk memulai membuka obrolan.
"Iya mas. Aku sudah tidak ada orang tua," jawabnya.
"Sejak kapan?"
"Sejak aku masih balita. Ibu ku meninggal dunia karena sakit. Lalu beberapa tahun yang lalu? Tepatnya saat aku masih duduk di bangku sekolah menengah atas, Ayah menyusul." kinar menjawab dengan tampang biasa saja, menunjukan sikap cerianya seperti biasa.
"Apa tidak ada kerabat?"
"Ada sih, tapi aku tak menganggap mereka kerabat."
"Kenapa?" Semakin menikmati obrolan nya.
"Hmmm... kenapa ya? mungkin sebab merekanya sendiri yang tidak tidak ingin di anggap kerabat."
Tara tidak mengerti, ia hanya mengangkat satu alisnya.
"tapi tidak masalah sih, aku juga tidak mau merepotkan mereka. Enak mandiri mas," jawabnya, sembari tersenyum kecut.
pria di hadapannya hanya diam saja. Ia tidak ingin mengulik lebih dalam lagi, karena mata Kinara seperti sudah berkaca-kaca.
"Kalau mas sendiri?" tanya Kinar, memecah lamunan Tara. Ia meraih cangkir kopinya, sejenak lalu menyeruput lagi.
"Aku masih ada ayah," jawabnya sembari meletakkan lagi cangkir nya.
"O...ya? Tinggal di mana dia?"
"Di luar."
"Luar Jawa?"
Tara terdiam sejenak, lalu mengangguk.
"Wah... Di pulau mana? Kalimantan, Sumatera?"
Tara hanya tersenyum. Tanpa menjawabnya. Karena jika dia menjawab nanti Kinara bisa menanyakan detailnya lagi.
"Belum mau memberi tahu ya?" tanya Kinar. lagi-lagi Tara hanya diam saja sembari tersenyum. "Tidak apa-apa kok mas. Aku paham," membalas senyuman itu.
kok sedih, ya... Aku belum merasakan kalau Dia benar-benar suami ku. Dia dekat di hadapan ku, tinggal satu rumah pula, tapi kok rasanya tetep jauh...Huhuhu aku tahu ini mungkin masih terlalu cepat untuk berharap lebih. batin Kinara.
"Aku akan mengatakannya jika sudah waktunya." Tara menjawab tiba-tiba. Membuat gadis itu mengangguk, semangat
"Tapi mas betah kan, tinggal di sini?"
Betah sih... Tapi kadang tidak juga. Bagaimana ya menjelaskannya. –Tara menggaruk kepala bagian belakangnya.
"Tidak ya?" Tembak Kinar.
"Betah tidaknya, aku belum merasakan itu Kinar. Mungkin karena aku masih sedikit Canggung dengan mu," jawab Tara sedikit ragu. Berharap Kinar tak tersinggung.
pria ini bisa canggung juga, ya? Aku pikir dia baik selama ini karena sudah nyaman dengan ku. Ternyata... mungkin hanya perasaan tidak enak. Jangan-jangan dia sebenarnya merasa tersiksa lagi dengan status ini. Huh... jleeepp sekali. –Kinara sedikit tersenyum kecut.
Tara menyeruput sekali lagi, lalu meletakkan cangkir itu.
"Sudah semakin larut. Tidur yuk," ajaknya.
"Ma... mas mengajak ku, tidur?"
Tara tersadar ia pun tertawa, mengibaskan tangannya. "tidak, bukan begitu. Maksudnya, tidur di kamar kita masing-masing. Hehehe jangan salah faham, ya."
kok kecewa ya? Huhu dasar otak bodoh ini, bisa-bisanya berfikir pria itu akan mengajak tidur bersama. Astaga...! Sepertinya aku yang agresif di sini. –di luar Kinara turut tertawa.
"Aku masuk dulu ya."
"Iya mas," jawabnya.
Pria itu pun berjalan masuk ke dalam rumah. Sedangkan Kinara menghela nafas.
"Sepertinya aku harus menahan perasaanku, jangan sampai aku jatuh cinta dengannya lebih dulu. Aku menyadari Dia amatlah tampan. Sudah pasti seleranya bukan aku," gumamnya sedikit sedih.
Dia pun memutuskan untuk meraih dua cangkir kosong di hadapannya, lalu membawanya masuk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Lilis Ilham
romantis suka
2023-03-31
2
Sarti Patimuan
Kinara sudah nyaman bersama dengan Tara
2023-02-24
0
liberty
noh depan matamu 😅🤣
2023-02-03
0