Jam sudah menunjukkan 6.15 tapi belum ada tanda-tanda kalau Pak Kevin sudah menyelesaikan rapatnya. “Elma… Daddy nya still in meeting yah, Elma sholat Magrib dulu yuk” ajak Bulan sambil mengambil mukena, ada mushola di lantai tempat ia bekerja jadi tidak terlalu jauh.
“I’m hungry…” Elma menunduk sambil mengusap-usap perutnya. Bulan langsung sadar kalau ini sudah mendekati jam makan malam. Ia malah lupa tidak menawarkan snack atau minuman saking asyiknya membicarakan novel Harry Potter dengan Elma.
“Ya ampun Tante lupa nawarin makanan sama Elma, Tante still have cookies and milk mau gak?” Bulan segera membuka lemari kecil dibawah meja tempat ia menyimpan susu cair dan biskuit di laci mejanya.
“Tapi ini susu cair dalam kaleng its ok? Elma mau minum susu yang plain?” tanya Bulan menyodorkan susu dalam kemasan kaleng dan biskuit.
“Its ok… aku suka minum kok… thank you tapi Tante Bulan nanti kehabisan?” Bulan tersenyum anak ini manis banget sih, sampai memikirkan orang yang ngasih nanti kehabisan.
“Its ok dont worry Tante masih banyak, kalau habis nanti tinggal beli lagi”
“Mau diminum langsung sekarang” Bulan membuka penutup kaleng sehingga bisa diminum langsung oleh Elma, tapi ternyata usahanya membuat Elma mengerutkan dahi.
“Uyghh...Its gross.. Mommy melarang aku minum kemasan langsung dari kaleng. We don't know kalau pas tadi disimpan ada serangga naik ke atasnya or pada saat di pabriknya ada kotoran menempel di kaleng itu” Elma menggelengkan kepala sambil cemberut. Bulan tertawa, tidak pernah terpikir olehnya sampai sejauh itu.
“Ow ok..ok… hahaha… maaf Tante tidak terpikir kesana. Baiklah mau memakai sedotan atau gelas. Gelas saja yah… soalnya kalau sedotan jarang ada… sebentar Tante ambilkan” Bulan mengambil gelas pelastik di tempat penyimpan air mineral.
“Elma… its ok with you kalau pakai gelas plastik?” musti ditanyakan dulu, bisi ntar protes lagi gak mau pakai kemasan pelastik gegara mencemari bumi, Bulan tersenyum sendiri jadinya. Anak ini belum SD udah banyak SOP (Standar Operasional Prosedur) yang musti diikuti. Indikator hidup dalam keluarga yang tertata.
“Ok… Mommy bilang sekali-sekali tidak apa-apa kalau keadaannya darurat” Bulan kembali tertawa … “set deh kondisi darurat kaya lagi kena bencana aja...hihihi” pikir Bulan
Bulan kemudian menuangkan susu kemasan ke dalam gelas, membuka biskuit supaya memudahkan anak jenius ini bisa menyeimbangkan kadar gula di otaknya. Tampaknya tadi dia kebanyakan menghapal mantera sampai terlihat lapar.
“Hmmm Tante tanyakan sama Daddy Elma apakah bisa kita keluar makan malam, nanti Daddy nya menyusul ke tempat makan”
“Kalau terlalu malam nanti Elma masuk angin terlambat makan” ucapnya sambil mengambil hp yang tergelak, Elma tidak protes ia mengangguk-anggukan kepala sambil memakan biskuit coklat. Ternyata anak ini benar-benar lapar karena susu langsung habis dan biskuit pun tidak bersisa, padahal ia memberi dua potong. “Ahhhh enak…. Terima kasih makanannya Tante” ucapnya sopan sambil mengusap mulut. Aiiish sopannya.
“Eh tapi aku kan gak punya nomor Pak Kevin” Bulan meringis sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“I remember Daddy number… dont worry.. Its 0816204XXX” ia langsung menyebutkan dengan cepat.
“Weiiis cerdas hapal nomor Daddy… daebaak… kalau nomor hp Mommy hapal?” ia langsung ingin mengetes daya ingat penyihir cilik ini.
“Of course… Mommy number 0811453XXX” Bulan langsung mengacungkan jempol.
“Cerdas eung… dulu Tante cuma hapal satu nomor aja… Bapak” Bulan membereskan perlengkapan di meja. Ia sudah mengirimkan pesan ke Kevin untuk membawa Elma makan tinggal menunggu jawaban.
“Kenapa nomor rumah tidak dihapalkan, atau nomor Mommy nya Tante” Elma ikutan membereskan peralatan yang tadi dikeluarkan dari tasnya. Bulan tersenyum, anak ini sangat cekatan.
“Kan tadi udah dibilangin ke Tante Ratna juga kalau Mommy nya Tante sudah meninggal waktu Tante seumur Elma dulu… jadi kalau mau telepon Mommy nya Tante musti telp sama Allah dulu… Halo Allah bisa bicara sama Ibu saya….hehehhe” Elma tampak terhenyak mendengar jawaban Bulan, matanya langsung terlihat sedih.
“Ehh kok mau nangis…. Its ok.. Tante udah gak sedih… suka telepon lewat Doa… tuit ..tiut… Ibu semoga sehat yaaa, bahagia di kuburnya, ada yang nemenin malaikat… aku sama ade disini sehat juga…. Dadah Ibu…” Bulan menirukan orang sedang telepon.
“Aaaa… so sad… aku sedih…. Ahaaaaa…” Elma menangis sambil memeluk Bulan, yang kaget melihat perubahan sikap Elma, rupanya anak penyihir ini memiliki rasa empati yang tinggi.
“Its Ok… gak apa-apa liat Tante gak apa-apa” Bulan mencoba menghibur.
“Elma sedih karena laper, jadi gampang nangis… ayo udah jangan nangis kita makan… tapi Tante mau sholat dulu supaya bisa telepon Mommy Tante… titip pesan sama Allah lewat doa” Bulan menggendong Elma, ia jadi kerepotan membawa tas selendang, dokumen yang akan dikerjakan di rumah dan Elma di tangannya.
Elma masih memeluk Bulan saat masuk ke Mushola.
“Elma sudah bisa sholat?” tanya Bulan sambil menurunkan Elma, yang tampak berpikir.
“Aku bisa tapi suka lupa beberapa bacaannya yang panjang, yang duduk terakhir saat awal sebelum bismillah” jawabnya sambil cemberut.
“Dirumah suka sholat sama siapa?” tanya Bulan sambil merapihkan perlengkapan sholat, ia mencari mukena kantor untuk dipakai oleh dirinya, dan mukena miliknya untuk Elma.
“Sama Mommy tapi aku disuruh baca sendiri… Mommy ngeliatin aja” Bulan mengangguk, ia tidak bisa menilai soal kualitas keagamaan seseorang karena itu sangat personal. Tidak boleh menghakimi keimanan seseorang, karena belum tentu keimanan ia lebih baik.
“Ok sekarang sholatnya sama Tante yah yang jadi imam, jadi Elma bisa mendengarkan bacaaan sholat Tante” Elma mengangguk dengan senang. Bulan kemudian menyebutkan urutan berwudhu padanya yang diikuti dengan baik. Saat Bulan akan berwudhu ia baru ingat kalau sedang datang bulan.
"Hihihi Elma ...Tante lupa lagi datang bulan. Elma sholatnya sendiri yah" Bulan menepuk dahinya, terlalu semangat mengurus anak sampai tidak ingat.
"Mommy juga sering datang bulan jadi tidak sholat. Elma mau datang bulan juga biar gak sholat" Elma cemberut saat mendengarnya.
"Hahaha jangan atuh... ribet datang bulan tuh musti sering ke toilet... gak apa-apa Elma sholatnya dibantu sama Tante dibacain bacaan sholatnya" Elma menggangguk setuju, anak ini ternyata cuma butuh bimbingan"
Saat sholat Bulan membacakan semua bacaan sholat dengan keras sehingga Elma bisa mengingatnya. Hingga akhir salam, Elma bisa melakukan gerakan sholat dengan baik. Saat berdoa pun Bulan menuntut bacaan doa dengan bahasa Indonesia supaya Elma bisa memahaminya.
“Alhamdulillah… “ saat mereka bertatapan Elma langsung salim dengan senyuman yang cerah.
“Sini Tante doakan… supaya Elma menjadi anak yang sholehah, menjadi kebanggaan orangtua dan menjadi murid yang pintar membawa keberkahan bagi umat manusia” ucap Bulan sambil mencium kepalanya.
“Terima kasih Tante… Elma senang sama Tante” ia mencium pipi Bulan dengan sepenuh hati, yang langsung disambut dengan pelukan hangat sambil digoyang-goyang hingga mereka akhirnya terjatuh dan tertawa-tawa. Keasyikan itu terpotong saat telepon masuk ternyata Pak Kevin.
“Hallo assalamualaikum… Ya Pak Kevin…”
“Halo waalaikum salam… waah maaf ya Bulan kamu jadi gak bisa pulang”
“Gak apa-apa Pak… ini Elma sudah mau makan malam, saya ajak makan saja kasian kalau menunggu Bapak terlalu lama”
“Waah terima kasih, maaf saya tidak bisa meninggalkan rapat. Ternyata divisi konsultasi bisnis ada perlakukan khusus. Bisakan Elma dibawa ke Mall tempat saya rapat, ada resto siap saji kesukaan Elma, jadi nanti kita bertemu disini”
“Mamanya Elma juga tidak bisa meninggalkan kantor karena masih rapat… maaf sekali ya Rembulan”
“Ya tidak apa-apa Pak, sebutkan saja Mall nya… nanti kami kesana”
"Ok saya share lock yah”
Ternyata Mall yang tidak terlalu jauh dari kantor hanya lima belas menit.
“Pasti Mommy juga masih rapat jadi tidak bisa menjemput” Elma tampak cemberut. Bulan tersenyum, kasian pikirnya anak sekecil ini walaupun memiliki orangtua yang lengkap tapi tidak juga mendapatkan perhatian.
“Masih untung Mommy nya Elma tidak ada karena rapat, tapi nanti akan pulang dan bertemu lagi. Kalau Tante tidak akan pernah bisa melihat Ibu karena rapat untuk selamanya sama Allah...hehehe” Bulan berusaha menghibur Elma yang langsung menatapnya dengan tatapan sedih lagi.
“Ehhhh… lupa… sudah gak usah sedih… ayo kita makan” Bulan menggendong kembali Elma agar cepat bisa keluar dari gedung. Di lobby baru dia akan memesan mobil online
Sampai di lobby hanya sedikit karyawan yang sedang tampak berbincang menunggu jemputan juga, tapi matanya langsung tertuju pada sosok laki-laki yang berdiri bersender sambil merokok dan bermain hp. Juno.
Sedang apa laki-laki itu disini, menjemput Afi mungkin, ia tidak kegeeran kalau tunangannya bermaksud menjemputnya.
Antara gengsi dan penasaran ia masih menimbang-nimbang apakah harus menyapa laki-laki yang membuatnya kesal kemarin.
“Tante sudah pesan taksinya belum… cepat dong Elma sudah lapar” suara Elma mengalihkan pandangan Juno dari hp kepadanya dan Elma, kalau sudah seperti ini artinya ia harus menyapa tunangannya.
“Ya sebentar Tante mau nyapa teman dulu” Bulan menuntut Elma mendekati Juno, tatapan laki-laki itu masih saja dingin.
“Kak Juno mau jemput Afi?…” tatapan Juno terpaku pada Elma, seperti termenung.
“Hmmm engga.. Mau jemput kamu. Anak siapa ini?” tanyanya sambil menatap Elma tajam.
“Anak Bos…” tapi tatapan Juno tidak beranjak dari Elma.
"Expecto Patronum"... Elma mengacungkan tongkat sihirnya pada Juno.. Bulan langsung tertawa...
"Kenapa Elma mengucapkan mantera itu... Om Juno gak jahat kok" Elma masih menatap Juno dengan tatapan waspada, kemudian berbisik pada Bulan.
"Muka Omnya kaya Dementor... kaya yang marah, Elma kaya bikin kesel dia" Bulan langsung tersenyum.
*********
Andai Juno tahu siapa Elma ...bisa dimengerti kenapa Elma merasa kalau ia akan dimarahi....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 227 Episodes
Comments
Sukliang
yg ada sebel dg juna
2024-01-26
0
Em Mooney
inget mantan y bang
2023-11-13
0
💞R0$€_22💞
Inget mantan lu bang??? nyebelin banget nih cowo atu...baca ulang malah tambah jd sebel..
2023-08-29
0