Di Cafetaria Bulan memilih tempat duduk yang tidak terlalu ramai, makan siang sendiri terkadang lebih menyenangkan daripada duduk bersama dengan orang yang tidak terlalu ia kenal. Butuh effort untuk berbicara basa basi, menjaga manner dan penyesuain waktu makan dengan orang lain. Makan adalah saat privacy, kesempatan untuk merasakan nikmat yang diberikan oleh Sang Pencipta. Ia bisa mengenali seseorang dari cara mereka makan karena akan mencerminkan kepribadian orang itu. Kita bisa mengenal karakter seseorang dari cara ia makan.
Bulan adalah seorang yang slow eater dia akan menikmati proses makan dengan tenang, menikmati quality time dengan makanan yang ia nikmati. Katanya seorang slow eater memiliki pribadi yang stabil, tenang dan percaya diri. Hal ini terbalik dengan Afi yang cenderung cepat dalam makan, biasanya Bulan baru habis setengah Afi sudah menyelesaikan makannya dan bersiap untuk memberikan bantuan bagi Bulan untuk menghabiskan makanannya. Afi sebagai pemakan cepat memang memiliki karakter yang tidak sabaran dan suka bekerja.
Hari ini ia memilih menu makanan yang simple nasi dan opor ayam. Menu sederhana yang biasanya ada saat lebaran. Ahhhh...Lebaran… tiba-tiba Bulan merasa matanya terasa berat. Saat orang lain biasanya merasakan kebahagian yang saat apabila lebaran, maka hari itu selalu menjadi saat yang sedih untuk mereka bertiga. Ketidakhadiran Ibu tentu saja yang menjadi penyebabnya, tidak ada orang yang membuatkan menu istimewa di hari istimewa.
Bapak selalu membuat menu lengkap lebaran, Opor Ayam, Sambal Goreng Kentang, Daging Semur, Ketupat dan Sayur Santan, tapi entahlah rasanya seperti ada yang hilang. Enak tapi terasa seperti ada yang hilang entah bumbu apa. Bumbu Ibu kata Bapak, bahkan Mak Ilah pun tidak bisa menggantikan rasa bumbu itu.
Saat Bulan mengaduk-aduk kuah Opor Ayam yang ada di depannya dengan tatapan hampa, suara anak perempuan mengalihkan perhatiannya.
“Kakak sendiri?” Bulan memandang di depannya anak perempuan yang dikuncir dengan memakai pita kain berwarna merah.. Cantik.. Masih kecil tapi terlihat sangat elegan dan berkelas. Elma.
“Ehhh anak cantik kita bertemu lagi. Ya kakak lagi makan… Elma sudah makan?” Bulan tersenyum tangannya terulur hendak mengusap pipi Elma yang terlihat halus dan bersih.
“Eitss… No.. tangan Kakak sedang makan jangan memegang benda lain nanti masuk bakteri ke dalam mulut” Elma melangkah mundur. Bulan tertawa mendengarnya, ia mengacungkan sendok yang ia pakai.
“Don't worry Kakak pakai sendok makannya jadi tidak akan memasukan bakteri ke mulut atau mengotori muka Elma” ia tahu sebetulnya Elma tidak suka dipegang oleh tangan yang kotor.
“Aku boleh duduk disini? Ini meja untuk empat orang tapi hanya diduduki oleh satu orang” Elma terlihat mengamati meja yang diduduki Bulan.
“Tentu saja boleh, ambil piringnya, temani Kakak makan disini” Bulan merapikan meja sehingga Elma bisa duduk di seberangnya.
“Aku disuruh Daddy mencari kursi untuk makan. Daddy lagi memesan makanan kesukaan aku” anak cantik itu melambaikan tangannya.
“Daddy right here… “ ia melambai-lambaikan tangan. Mata Bulan langsung membulat. Whaaat… artinya mereka nanti akan duduk bertiga… ya ampunnn.
Tak lama laki-laki yang selalu datang dengan anak perempuan itu menghampiri dengan membawa nampan.
“Ow.. bertemu lagi. Apakah tidak mengganggu? Sulit mencari meja kosong saat jam makan siang” meminta izin tapi tidak mengindahkan apakah orang yang sudah lebih dahulu duduk mengijinkan atau tidak. Ia langsung memposisikan duduk di sebelah Elma, menyiapkan makanan anaknya dan dirinya. Bulan hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
“Silahkan Pak.. saya hanya sendiri, mejanya masih kosong” ucapnya pelan.
Elma makan spaghetti, ia kemudian membuka tasnya dan mengeluarkan alat makannya sendiri. Sendok dan garpu yang cantik dalam kemasan yang imut-imut, sangat cocok dengan karakternya yang elegan. Ia langsung menakupkan tangannya di dada dan berdoa.
“Tuhan terima kasih atas berkah yang diberikan kepada kami dan juga berkat makanan dan minuman yang Engkau sediakan kepada kami. Amin” ucapnya sambil mengusap muka. Bulan tersenyum, orang tua anak ini mendidik anak dengan baik untuk berdoa sebelum makan, rupanya keluarga Nasrani pikir Bulan. Belum satu detik pikiran itu terlintas dalam otaknya sang ayah berkata.
“Kamu tidak perlu berdoa seperti di sekolah, itu doa yang diajarkan untuk teman-teman kamu yang Nasrani. Kamu baca saja Bismillah” ucapnya dingin. Mata Bulan kembali membulat, rupanya mereka beragama Islam tapi anaknya sekolah di sekolah non muslim. Ia tersenyum, muka Elma nampak ditekuk mendengar teguran ayahnya.
“Hmm Elma berdoanya sudah bagus. Kakak saja suka lupa berdoa kalau sudah lapar. Elma tahu doa sebelum makan kalau orang muslim?” tanya Bulan sambil merapikan tempat makan Elma.
“Hmm aku lupa. Bismillahirohmanirrohim?” matanya membulat meminta persetujuan.
“Hmmm bisa… semua kegiatan kalau dimulai dengan Bismillah akan menjadi amal kebaikan. Makanan menjadi kebaikan dalam tubuh, kalau mulai belajar juga kita bagusnya baca bismillah juga supaya ilmunya bermanfaat” Bulan mengangguk-anggukan kepalanya memberikan persetujuan. Elma terlihat lega, ia tampaknya anak yang perfeksionis, agak sulit menerima kalau disebut salah.
“Tapi kalau mau lengkapnya ada doa sebelum makan. Doanya seperti ini Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannar.. Artinya itu hampir sama dengan doa yang tadi dibaca Elma yaitu Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan jagalah kami dari siksa api neraka” jelas Bulan dengan panjang lebar.
Mata Elma membulat dahinya kemudian berkerut.
“Hmm yang depannya sama berterima kasih atas makanan tapi kenapa belakangnya minta dilindungi dari siksa api neraka… aku pikir kejauhan dari makan sampai ke neraka” ia mulai menyendok makanan yang di depannya. Laki-laki yang duduk di sebelahnya tampak menahan senyum mendengar sanggahan anaknya. Ia tampak menyibukkan diri melihat handphone yang tak lepas dipegangnya sedari tadi.
“Itulah hebatnya doa yang kita baca, kita tidak hanya berdoa untuk saat ini saja tapi juga meminta agar semua yang kita lakukan sekarang ini menjadi bekal kita saat meninggal supaya dilindungi jangan sampai masuk neraka” jelas Bulan lengkap, dalam pikirannya acara makan siang jadi berubah menjadi program belajar kultum.
“Memangnya bisa kita makanan kita malah bikin kita masuk neraka. Elma kan cuma makan spaghetti gak ngapa-ngapain masa kalau gak baca doa jadi masuk neraka” ia langsung cemberut merasa tidak menyukai ide pikiran Bulan yang menyangkut pautkan acara makan hingga masuk ke neraka.
“Sudah jangan banyak bicara.. Tantenya juga harus makan” rupanya laki-laki itu merasa tidak enak sudah mengganggu acara makan Bulan karena anaknya banyak bertanya dan kemudian mendebat pemikiran Bulan.
“Gak apa-apa Pak… bagus lagi Elma anaknya kritis, malah harus diberikan jawaban kalau tidak nanti malah jadi salah pemahamannya” Bulan mengangguk meminta ijin untuk terus bercerita sambil makan.
“Kalau Elma makan spaghetti sambil membaca doa sebelum makan dan bismillah maka setan yang selalu mengikuti manusia tidak bisa ikut merasakan spaghetti yang dimakan Elma. Spageti nya hanya dimakan oleh Elma dan nanti Elma akan punya energi dan kekuatan untuk belajar dan membantu Daddy dan Mommy nya Elma… Nah karena setannya tidak bisa ikut makan dia jadi lemes jadi gak bisa gangguin Elma belajar. Elma jadi gak ngantuk dan semangat belajarnya dan jadi makin pinter. Allah itu menyukai orang-orang yang pintar dan suka belajar jadi nanti akan tinggal di surga karena pintar dan rajin belajar” jelas Bulan sambil memotong-motong spageti agar mudah disendoki oleh Elma.
Anak perempuan itu tampak mengerutkan dahinya, bibirnya tampak mengerut saking seriusnya ia berpikir. Lucu sekali pikir Bulan.
“Ayo makannya dihabiskan kan tadi sudah berdoa” ucap Bulan. Elma memandang Bulan dengan serius.
“Aku belum baca doa sebelum makan seperti Kakak tadi, tolong bantu bacakan lagi nanti aku ulangi” pintanya dengan tatapan memohon. Yess pikir Bulan, sukses memberikan tausiah selama lima menit.
“Ok.. Allahumma….baarik lanaa…. fiimaa…... razaqtana…... wa qinaa…..'adzabannar…... Bismillahirrahmanirrahim” ucap Bulan yang langsung diikuti Elma dengan perlahan.
“Nanti dihapalin yah” Bulan tersenyum menyemangati. Elma mengangguk dengan tegas dan memandang ayahnya.
“Daddy sudah hafal doa sebelum makan? Nanti kalau mau makan harus baca doa dulu supaya tidak masuk neraka” ia langsung menerapkan ilmu yang baru didapatnya kepada ayahnya yang langsung tergagap mendengar ucapan putrinya.
“Hmmm yaa yaa nanti Daddy bacakan kalau makan malam. Sama Mommy dibantu berdoanya” ia langsung mengalihkan perhatian putrinya.
“Mommy pulangnya malam-malam jam sembilan. Aku sudah mau tidur. Aku makan jam tujuh malam. Masa aku menunggu Mommy untuk membaca doa” ia langsung mengerutkan lagi dahinya tidak terima kalau harus makan malam larut demi untuk dituntun doa.
“Ya...yaa.. Nanti Daddy yang bantu membacakan doa… sekarang habiskan makannya Daddy harus ada rapat sebentar lagi” Ia dengan cepat menyuapi Elma dengan suapan besar, anak kecil itu langsung menutup mulutnya.
“Aku bisa mati tercekik kalau makan terlalu banyak… Daddy pergi rapat, aku ikut dengan Kakak Srigala nanti Daddy jemput aku setelah selesai rapat” Bulan langsung kaget, anak ini kecil-kecil sudah bisa mengatur orang dewasa, dan yang kedua yang membuatnya kaget adalah dengan nyamannya dia memilih untuk bersama Bulan daripada dengan Daddy nya. Padahal ia tidak mengenal dengan baik namanya saja tidak tahu.
“Ok… nanti Daddy jemput setelah rapat. Maaf apakah tidak merepotkan kalau Elma ikut dengan kamu? Siapa namanya dan di divisi apa?” Mata Bulan semakin membulat, ini anak dan bapak sama saja, percaya pada orang asing yang tidak dikenal dengan baik. Gimana kalau dia orang jahat yang suka menculik anak.
“Saya Rembulan Pak di bagian Pajak” Bulan memperlihatkan name tag tempat ia bekerja. Laki-laki itu mengangguk dan menyodorkan tangannya. “Ok artinya kamu anak buahnya David yah… perkenalkan saya Kevin Senior Manager di Consultant Division. Tidak apa-apa kalau Elma saya titip dulu di kamu, kasian soalnya kalau saya tinggal sendiri di ruangan. Rapatnya di Thamrin jadi agak lama” Bulan berada dalam posisi tidak bisa menolak, tidak mungkin dia membiarkan seorang anak sendirian di gedung perkantoran.
“Kalau Bapak percaya, akan saya jaga Elma” akhirnya Bulan tersenyum diplomatis, mau bagaimana lagi.
“Ok nanti saya bilang sama David kalau kamu harus jagain Elma, jadi kalau ada tagihan pekerjaan siang ini. Saya akan pastikan kamu aman” ucapnya sambil langsung membereskan perlengkapan makanannya. Elma tampak tidak peduli dengan transaksi penitipan anak yang terjadi, ia seperti sudah terbiasa menjadi anak titipan.
Bulan memandang laki-laki yang pergi dengan tergesa, ia masih bingung tiba-tiba ketiban tanggung jawab untuk menjadi babby sitter. Hmmm… mau diapain lagi ini anak, selama bertahun-tahun mengurus Bebey ia sudah terbiasa menghadapi anak kecil.
“Jangan khawatir nanti Daddy pasti menjemput aku… aku gak akan mengganggu kerja Tante Rembulan” tampaknya gadis kecil ini mengerti kegelisahan Bulan.
“Namanya aneh Rembulan… pantesan disebut mirip serigala sama Tante Au… kalau Tante Au namanya siapa?” Elma tampak tidak peduli dengan kepergian Daddy nya.
“Hmmm Afi… Tante Afi..kenapa aneh bukankah Rembulan itu nama yang bagus” Bulan menghabiskan makan siang. Ia sedang tidak solat jadi bisa lebih santai menghabiskan waktu istirahatnya.
“Aku belum pernah dengar nama seperti itu.. Apa artinya?” ia cepat-cepat menghabiskan spaghetti di piringnya.
“Elma apa arti namanya” Bulan langsung membalas, jangan mau diatur oleh anak ini, bahaya. Karakternya kuat bisa-bisa dia ngelunjak pikir Bulan.
“Tidak tahu, Daddy bilang kalau Kakek yang memberi nama Elma, jadi Kakak tanyakan saja sama Kakek” jawabnya santai
“Apa artinya Rembulan?” keukeuh masih ingin tau kenapa diberi nama Bulan.
“Hmmm sama seperti Elma, Bapaknya Kakak punya Bibi namanya Poernama… dia dibesarkan oleh Bibinya karena orang tuanya pergi bertransmigrasi. Bibinya sangat sayang pada Bapak, selalu dibuatkan makanan yang enak dan jago masak. Bapak berjanji nanti kalau punya anak perempuan akan diberikan nama seperti Bibinya itu Purnama” jelas Bulan
“Tapi kenapa namanya jadi Rembulan bukan Purnama kalau begitu seperti nama Bibinya” Elma kembali mengerutkan dahi, anak ini bisa-bisa harus memakai anti aging lebih awal pikir Bulan, sering sekali mengerutkan dahi.
“Karena yang sering mengalami Purnama itu adalah Bulan maka diberi nama Rembulan. Untung saja tidak diberi nama Sabit...hehehehhe” Bulan tertawa sendiri, kalau ada Afi pasti anak itu akan memberikan humor recehnya.
“Hmm… aku mengerti, mungkin tidak diberi nama Purnama karena muka Kakak tidak bulat” jawab Elma pendek. Bulan langsung tertawa, anak ini benar-benar pintar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 227 Episodes
Comments
💜Ilalang Senja💜
Elma🌹🌷💟🩶🤍❤️🩷💙♥️💟
2025-03-15
1
aish
cerdas👍 🤩
2024-10-25
2
aish
alamaaakk.. disuruh nanya kakek 😂😂😂
2024-10-25
2