Setelah sesi curcol dengan psikolog kaleng-kalengan, Bulan merasa lebih optimis dan yakin dalam melangkah ke depan. Ia jadi mengerti mengapa sikap Juno yang relatif dingin dan tidak terlalu memperhatikan dirinya, rupanya karena memang tidak berdasar atas rasa suka pribadinya sendiri tapi karena dorongan dari keluarga.
“Apakah harus menyerah dan menerima saja…. Patutkah diperjuangan?” kalimat itu yang kemudian terngiang dalam pikiran Bulan hari itu.
“Kalau memang dia laki-laki yang patut diperjuangkan aku akan berjuang, tapi kalau sekiranya dia tidak menganggap aku ada lebih baik dilupakan”
“Aku musti berikan dia kesempatan lagi kalau serius, tidak semua hubungan berawal dari rasa saling cinta kedua belah pihak, ada beberapa hubungan yang dimulai dari rasa yang datang secara sepihak tapi kemudian mereka mencoba memperjuangkannya sehingga menjadi cinta yang berharga” hibur Bulan pada dirinya.
“Ok kalau begitu aku akan mencoba untuk memberikan kesempatan lagi pada Kak Juno… paling tidak aku harus menghargai niat baik Tante Nisa” ucapnya lagi mencoba menguatkan diri.
“Besok aku buatkan lagi Kak Juno pasta kesukaannya, apakah ia akan memberikan apresiasi. Tidak selamanya usaha harus datang dari pihak laki-laki… perempuan juga kalau merasa bahwa laki-laki itu layak diperjuangkan mengapa tidak!” kembali Bulan menghibur dirinya.
“Dia laki-laki yang serius, sudah memiliki pekerjaan tetap, menyayangi keluarganya, tidak terlihat suka rese sama perempuan, ditambah fisiknya juga OK” Bulan menghitung kelebihan Juno bila dibandingkan dengan laki-laki lain.
“Cuma yaaa memang sikapnya dingin, tidak romantis, pemarah, dan gak peka… manusia emang gak sempurna…. Cuma Superman yang sempurna…. Tapi ehh dia juga gak sempurna ketang … masa celana kolor dipakai di luar” Bulan tersenyum sendiri sambil menatap komputer.
Untung saja semua targetan kerja hari ini sudah terselesaikan tinggal mengecek bahan untuk laporan besok apakah sudah lengkap dokumennya.
Waktu kerja sudah hampir jam 4 sore, saat ia asyik mengurutkan dokumen terdengar suara laki-laki memasuki ruangannya.
“Daddy harus ikut rapat tempatnya jauh di Caffee, kamu tidak bisa ikut karena tempatnya tidak ada anak kecil. Elma bisa menunggu di sini sama Tante Bulan” mendengar namanya di sebut ia meruncingkan pendengarannya.
“David … staf lu yang namanya Rembulan kubikelnya sebelah mana?” terdengar lagi namanya disebutkan lengkap. Ia kemudian berdiri dan melihat ke arah ruangan Pak David, yang terlihat keluar dari ruangannya sambil memakai jas dan membaca berkas dokumen. Tampaknya mereka berdua akan pergi bersama-sama.
“Tuh anaknya nongol…” Pak David menunjuk dirinya, dan ia bisa melihat Pak Kevin sedang menggendong Elma yang menggunakan jubah penyihir ia tampak mengacung-acungkan tongkat sihir.
“Bulan aku bisa menitipkan Elma sama kamu yah, seharusnya ini sudah jam pulang kantor tapi semua manager malah dipanggil sama Direktur untuk meeting keluar… payah banget waktunya” Ia mendekati Bulan sambil membawa Elma.
“Waah ini sih alamat kebawa ngelembur” pikir Bulan sambil mencoba tersenyum manis.
“Woaaah ada penyihir cilik disini…. Arghhhh jangan memantraiku” Bulan langsung bergaya ketakutan seperti hendak di mantera oleh Elma dengan menggunakan tongkat sihirnya.
“Carpe Retractrum….” ucap Elma sambil menunjukkan tongkat sihirnya… dengan gaya seperti tertarik medan magnet Bulan mendekat….. “Argggghhhh….” ia kemudian langsung mengambil pensil yang di meja sambil bergaya ditarik ke depan. Mantera yang mendekatkan benda itu seperti berhasil menarik Rembulan ke arah Kevin.
“Cave Inimicum…..” Bulan langsung memutarkan pinsil seakan-akan membuat perlindungan dari Elma. Itu adalah mantera untuk perlindungan diri dari mantera lawan
Kevin menggeleng-gelengkan kepala, ia tidak menyangka kalau Bulan memiliki kegilaan yang sama dengan putrinya.
“Waaaaah Tante hapal mantera untuk menolak matera….. “ Elma langsung turun dari pangkuan Daddynya dan mendekat langsung di kubikel Bulan.
“Bisa aku tinggal yah Bulan… katanya gak lama kok rapatnya sebelum magrib udah beres” Kevin terlihat sungkan menitipkan kembali anaknya pada Bulan.
“Gak apa-apa Pak saya juga masih kerja kok, santai aja….” Bulan menganggukan wajahnya tanda memberikan persetujuan.
“Ntar loe minta bonus lembur sama Pak Kevin Bul… bukan gw yang nyuruh kerja extra time tapi dia….hahahhahahah” Pak David berjalan keluar sambil tertawa-tawa melihat temannya yang terlihat sungkan.
“Iya dont worry ntar aku bonusin” ucap Kevin cepat.
“Gak apa-apa Pak… sudah bisa jagain anak kecil di rumah juga” Bulan memberikan tanda mengusir dengan tangannya sambil melihat ke arah Elma. Konstum penyihirnya terlihat sangat menarik. Pasti harganya mahal dan Bulan bisa memperkirakan siapa yang membeli kostum itu, pasti the perfect Mom.
“Bagus banget kostum penyihirnya…. Kamu pengen jadi siapa Hermione? Atau Harry Potter?" tanya Bulan cepat.
“Of course Hermione… I’m a girl… Harry Potter is a boy” protes Elma.. Bulan langsung tertawa, ternyata anak kecil juga sudah tau gender.
“Ok Nona Penyihir… apa yang kau ingin sihir sekarang?” Bulan menantang sambil bergaya akan melakukan duel penyihir. Sesuatu yang suka ia lakukan bersama Benny dulu.
“Tante hapal berapa mantera? Aku cuma ingat dua” ucapnya dengan cemberut….
“Hahahahha kalau begitu kau akan kalah penyihir cilik… “ Bulan jadi melupakan posisinya sebagai seorang auditor saat mengulang masa lalunya.
“Aguamenti….” ia menjentikan pinsilnya pada tempat minum … itu adalah mantera untuk mendatangkan air.
“Woooooh aku baru tahu…” Elma berteriak sambil melihat gelas yang bergerak karena dentingan pinsil Bulan
“Alarte Ascendare….. “Bulan menunjukkan meja kerjanya sedangkan tangan kirinya meraih paper clip dan melemparkan ke arah meja di belakang Elma sehingga seperti terjadi kekacauan di meja Bulan. Ini adalah masa yang menyenangkan dahulu, perang mantera yang membuat rumah menjadi kacau balau.
“Woaaaaaahhhhh……” Elma tampak semakin kagum. Bulan cekikikan di belakang Elma, dasar anak kecil bisa ditipu.
“Elma duduk nanti Tante printkan daftar mantera yang Tante hapal yaaah” Ia mendudukan Elma di kursi dan mencari daftar mantera Harry Potter di internet. Ini akan menyibukkan anak pintar ini sementara waktu sambil ia membereskan pekerjaan.
“Aku gak menyangka kalau ruangan Audit Pajak jadi Taman Penitipan Anak” terdengar suara sinis di kubikel sebelah.
Ratna… Auditor Senior yang terkenal memiliki mulut tajam dan lempeng. Bulan menarik nafas, ia lupa tadi tidak mengecilkan suara saking asyiknya main sihir-sihiran.
“Heheheheh sudah jam pulang Mbak Ratna, gak apa-apa kan ada anak kecil” Bulan berusaha menetralisir.
“Aku masih ada pekerjaan, tapi kalau berisik seperti ini aku mendingan kerja di rumah aja” ucapnya sambil cemberut dan membereskan mejanya.
“Kamu lagi mau-maunya dijadikan pengasuh anak, kenapa dia gak titipin sama istrinya yang cantik dan sombong itu….huuh” Ia menatap Elma dengan kesal.
“Saya melihat Elma dibawa ke kantor jadi ingat waktu dulu saya kecil Mbak Ratna… Bapak saya terpaksa membawa saya ke kantor karena di rumah tidak ada siapa-siapa. Ibu saya meninggal karena melahirkan adik saya, kalau saya pulang sendiri masih terlalu kecil. Tapi kalau dianterin pulang, Bapak saya musti mengajar”
“Padahal nungguin di kantor Bapak itu tidak enak, ada ibu-ibu guru yang suka galak kaya Mbak Ratna … marah-marah sama saya gegara dianggap berisik...hehehe kalau boleh memilih sebetulnya saya juga pengen pulang dulu, tapi apa daya saya masih kecil…. Gak seperti kaya Mbak Ratna sekarang, kesal karena berisik bisa pulang sendiri….hehehehe”terpaksa Bulan membela diri, sudah sering ia diomeli oleh seniornya itu.
“Ibu kamu udah meninggal dari kecil toh Bulan… “ Mbak Ratna tampak merasa bersalah.
“Iya Mbak makanya aku kalau ngeliat anak kecil yang dibawa-bawa sama Bapaknya ke kantor jadi inget masa lalu… pedih hatiku….hehehehe” Bulan mencoba menghibur dirinya dengan mentertawakan saja masa lalunya itu.
Ratna melongok ke arah kubikel Bulan dan langsung disambut dengan todongan mantera sihir.
“Engorgiooo…” ucap Elma sambil menatap tajam.
“Mantera apa itu?” ucapnya sambil melotot ke arah Bulan.
“Mantera untuk membesarkan benda..” Bulan langsung cekikikan sendiri. Mbak Ratna badannya sudah XL kalau dikasih mantera pembesar dijamin jadi Triple L.
“Owhh…. Ya Allah badanku udah gede… mbok yah kalau ngasih mantera dibikin kecil aja Dek” ucapnya sambil bergegas pergi.
“Everte Statum…” Elma kembali mengacungkan tongkat sihir dengan mata penuh kemarahan. Entah karena panik diacungi terus tongkat sihir dengan tatapan kemarahan, Ratna sampai terantuk meja saat keluar sehingga hampir terjatuh.
“Manteraaa apa itu Bulaaan” sambil bergegas berjalan keluar ia berteriak.
“Hahahahha mantera supaya mbak terpental….hahahha” Bulan tertawa lepas, haduh ini jadi tidak sopan begini, malah mentertawakan.
“Sudah tidak boleh begitu pada orangtua… kita harus sopan” Bulan mencoba menengahi sambil tersenyum.
“Tantenya galak jadi harus dikasih pelajaran” ucap Elma sambil bersungut-sungut. Ternyata anak yang sopan kalau emosi bakalan jahat juga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 227 Episodes
Comments
aish
baru ngeh sekarang klo bulan hapal mantra nya juga.. 😂😂😂
2024-10-27
1
EndRu
wxwxwx
Seruu Thor
2024-10-06
0
Sukliang
hadehhhh makahan buat makanan
2024-01-26
0