Juno POV
Sejak dua hari kemarin Bulan pulang ke Bandung, kenapa ia tidak pernah mengirimkan pesan. “Hmmm...Anehh…”
Biasanya minimal satu kali dalam sehari dia mengirimkan pesan, sekedar menanyakan apa kabar atau menanyakan ini itu yang sebetulnya tidak penting. Sekarang sudah hampir tiga hari dia sama sekali tidak mengabari apapun, tumben.
Sampai sekarang aku masih memikirkan perasaanku pada dia, terkadang merasa menyesal mengapa menyerah mengikuti keinginan Mama untuk mencari pasangan hidup. Seharusnya aku tidak menyeret dia dalam lingkaran setan permasalah pribadiku, hanya menambah masalah dan pikiran saja pada akhirnya.
Awalnya aku pikir dengan menyetujui keinginan Mama untuk melamar Bulan, akan menyelesaikan masalah soal keinginan Mama akan kekhawatiran pasangan hidup. Tapi ternyata selesai satu masalah malah menimbulkan masalah yang lain.
Mama memang sekarang sudah tidak lagi menjodoh-jodohkan aku dengan anak temannya, mengomel soal aku yang tidak pernah mau membawa teman wanita, atau mendengar keluh kesahnya soal ingin melihatku punya pasangan. Sekarang Mama terlihat tenang dan bahagia setelah aku bertunangan dengan Bulan.
Tapi masalah lain yang muncul adalah Bulan yang membutuhkan perhatian dan kerap mengirimkan pesan, yah wajar sebetulnya kalau sekarang dia menuntut perhatian. Posisinya sudah berubah dari asalnya fang girl menjadi tunangan. Aku masih ingat dulu saat dia dan Afi masih kuliah, terlihat malu-malu dan gugup kalau melihatku. Cenderung kelihatan bodoh malah, melirik diam-diam dan kelihatan malu-malu. Jauh berbeda dengan … shitss kenapa jadi memikirkan perempuan itu.
Hufftt… apa aku yang harus mengirimkan pesan lebih dulu?, mungkin dia sudah mulai merasakan kalau aku seperti tidak peduli. Afi selalu menyumpahi kalau nanti aku akan menyesal memperlakukan Bulan seperti itu. Ok.. bisa mengerti kalau dia membela sahabatnya. Tapi butuh waktu untuk bisa menerima dan memandang dia sebagai calon pasangan hidup. Sulit untuk mengembangkan imaginasi dan memandang dia sebagai perempuan bukan sebagai adik.
Ting---Ting
Hahahaha… ternyata dia juga memikirkan aku. Hampir saja aku mengirimkan pesan duluan padanya.
“Kang Juno… Maaf aku baru kasih kabar. Kemarin selama di Bandung sibuk nemenin Bapak sama Ade. Hmmm ada sedikit oleh-oleh kemarin beli Batagor sama Baso Tahu, kalau ada waktu bisa ketemu?”
Kang Juno… hahaha sejak kapan aku berubah panggilan menjadi akang. Rupanya dia ingin merubah panggilan supaya berbeda dari Afi. Hahahaha menarik….
“Sejak kapan aku jadi Akang?” hahahaha pengen tau reaksi anak itu kalau di introgasi kaya gini pasti panik. Lumayan ada hiburan, habis rapat desain rumah empat jam bikin kepala pusing. Mainin anak kecil bisa jadi bikin otak encer lagi.
“Ehh… emang gak boleh? Hmm pengen aja manggil akang.. Boleh yah?” hahaha gak percaya diri dia.
“Aku gak suka… kedengeran kampungan… keliatan orang daerahnya” hahahaha…. Lama dia gak jawab.
“Iya deh.. Aku balik lagi manggilnya Kakak” hahahah… kan anak itu cemen, gak bisa bersikeras kalau punya keinginan… bener-bener beda sama dia.
Hufft… susah, kenapa selalu membandingkan semua perempuan dengan dia. Aku harus benar-benar menghapus semua memori tentang dia. Bisa-bisa jadi perjaka tua kalau memikirkan dia terus.
Author POV
Bulan memandang handphone nya dengan lemas dan tidak bersemangat. Dia sudah mengumpulkan semua keberanian untuk mencoba memanggil Juno dengan panggilan yang berbeda, tapi baru saja melakukan percobaan pertama langsung mental. Juno tidak suka dipanggil Akang, padahal kan dia selama hampir 5 tahun tinggal di Bandung kenapa tidak suka dipanggil dengan nama panggilan itu, trus nanti dia akan menikah dengan orang Bandung apa salahnya dipanggil dengan panggilan Akang, pikir Bulan
“Kenapa loe… kaya baru kehilangan duit saham” Afi duduk di sampingnya sambil membawa semangkuk bakso yang tampak panas mengepul.
“Kamu kok bisa cepet dapat baksonya… punya aku mana?” Bulan langsung mengedarkan pandangan ke stand baso, ia juga memesan menu makan siang yang sama dengan Afi.
“Datangin langsung, trus tungguin. Pas ada yang udah jadi bumbuin sendiri gak usah nunggu antrian... langsung embat….wgwgwggwgwgw” tertawa Afi seperti terdengar seperti suara mesin fotocopy yang suka macet di lantai dua.
“Sekalian kek bawain juga buat aku…” Bulan cemberut, karena ia juga sudah sangat lapar.
“Ogah… kalau ngambil dua mangkuk ntar disabet sama si Bapaknya, salah sendiri gak ngikutin gw tadi” Afi meniup-niup baso yang masih panas dan tampak semakin gurih dengan hanya dipandang saja.
“Aku kan pengen ngasih kabar kakakmu kalau aku bawain dia Batagor sama Baso Tahu… tapi kayanya dia gak pengen deh” Bulan menunduk, Afi tersenyum kecut.
“Gengsi aja dia …. Kalau ngaku suka makanan yang kamu kirim, dia bakalan merasa harga dirinya runtuh. Buktinya kalau aku bawain schotel yang kamu bikin, yang ngabisin selalu dia” Afi ingat saat dia membawa schotel buatan Bulan ke rumah, saat pagi-pagi ia cek di meja makan, tinggal tersisa ¼ loyang. Ternyata ada mahluk nocturnal yang diam-diam menikmati makanan buatan temannya itu.
“Mana coba aku liat jawaban dia” Afi langsung mengambil hp di tangan Bulan, diantara mereka berdua memang sudah seperti tidak ada rahasia.
“Whats…. Hahahhahah Kang Juno… geli aku dengernya...hhahahhahahahahha” Afi tertawa terbahak-bahak membaca pesan dari Bulan kepada kakaknya. Bulan langsung merengut, dia menyangka kalau Afi akan membela seperti biasa bukan mentertawakannya.
“Apaan sihhh malah ngetawain, aku kan pengen keliatan beda… gak manggil dia sama kaya kamu… ntar dia susah ngebedain aku sebagai temen adiknya atau tunangannya… kamu tuh gimana sih bukannya ngedukung…” Bulan merengut kesal
“Hahaha… maap cuma aneh aja… ya udah panggil aja Beb atau Sayang kalau pengen keliatan beda dari aku… kan lebih mesra gituuuu” Afi cengar cengir membayangkan Bulan mengucapkan kata itu pada kakaknya, pasti mustahil.
“Diiihh itu lebih rehe… apaan bebeb … sayang… kaya perempuan penggoda. Aku gak suka” Bulan semakin merengut, untung saja Bakso pesanannya datang kalau tidak dijamin mereka malah akan meributkan hal itu sepanjang makan siang.
“Aku suka manggil Niko .. sayanggg…. Babyyy… dia bakalan langsung klejer-klejer gitu… apalagi kalau manggil gitunya di telinga dia…. Trus bisik-bisik… shayaaaanggg…. Aku mauuuu…..” Afi dengan tidak malunya membisikkan pada telinga Bulan yang langsung melotot dan tersedak…. “Uhuuuuuukkkk…. Najisss manehhhh ...uhuuuuuk….uhuuuukkk”
Afi tertawa-tawa puas melihat Bulan yang tersedak mendengar panggilan mesra di telinganya. Mana air minum belum sempat beli, air bakso yang dituangi sambal oleh Bulan membuat tenggorokannya terasa terbakar.
“Aeer…. Airr…… uhuuuuuk…..” Bulan terlihat berusaha mengendalikan dirinya. Tapi air bakso yang pedas telah salah masuk ke tenggorokannya. Terasa panas dan terbakar.
Afi yang melihat Bulan seperti sulit bernafas jadi kaget sendiri, keisengannya membuat Bulan terlihat merah dan susah menghentikan batuknya.
“Niiih minum…” tiba-tiba di depan muka Bulan ada botol air mineral yang teracung dan sudah habis setengah, Bulan melihat laki-laki di depannya, ia tidak kenal tapi tahu kalau masih satu kantor. Masa dia minum air dari bekas orang sih, ia menggelengkan kepalanya.
“Uhuuuuk….uhuuuk…. Arghh… “
“Minummmm mau mati karena gak bisa nafas kamu… tenang aja aku gak punya penyakit ABC dan menular lain” ia kembali mengacungkan botol air mineralnya. Bulan segera mengambilnya , ditegaknya air mineral itu.
“Pelan-pelan…. Minum dikit-dikit….” kembali dia memberikan instruksi, akhirnya Bulan menuruti perintahnya. Akhirnya batuknya reda dan ia bisa kembali bernafas normal.
“Kamu sadar gak…. Kamu sama aku tuh udah ciuman gak langsung…. Hahahahha” dia melangkah pergi sambil tertawa-tawa bahagia.
“Ewww…. Najis deh…. Siapa sih dia… pede banget” Bulan cemberut, bayangan berciuman tidak langsung lewat botol mineral merusak imaginasinya.
“Anak Konsultan Bisnis… anak baru …. Newbie… tapi banyak yang suka… hati-hati loe…. Ntar kepincut lagi…” Afi tampak tidak peduli.
“Kamuuu sih… suka iseng jadi aja aku keselek..” Bulan menatap lagi kearah laki-laki itu, dia tampak asyik berbicara dengan staf perempuan yang lain. Ganteng emang gayanya cool… ah peduli amat…
“Jangan diliatin terus… ntar loe lama-lama suka lagi… apalagi udah merasakan air liurnya.. Slurppsss….” Afi menirukan gaya amatiran seorang perempuan penggoda.
“Astagfirullah…. “ Bulan langsung menyumpal mulut Afi dengan bakso. Sudahlah jangan dipikirkan, untung tadi ditolong dikasih air minum. Bulan melanjutkan makan siangnya dengan tenang, harus segera dimakan kalau tidak bisa-bisa perempuan mesum disebelahnya akan menyikat jatah makan siangnya.
Diliriknya lagi laki-laki tadi, ehhhh dia ngeliat lagi… ewww… pake lambai-lambai segala.. Najis… Ya Allah lindungilah hambaMu ini… dari godaan syaiton yang terkutuk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 227 Episodes
Comments
'Nchie
baca lagi tetep aja ketawa2 ..kangen.. teh cantik kapan bikin karya baru lagi🤩
2024-12-12
0
💜Ilalang Senja💜
😍🤩😍🤩😍🤩😍🤩😍🤩
2025-03-15
0
juhay
seru lucu bikin ngakak bacanya 😅😂🤣
2024-02-16
0