Bangun pagi hari di rumah terasa berbeda, tidak seperti di kost an. Suara burung yang dipelihara Bapak membuat suasana terasa damai.
“Tehhh bangun solat subuh” terdengar suara Bapak di pintu.
“Iyaaaah… mau” duduk disisi tempat tidur, melihat beker sudah jam 5 pagi, semalam ia baru tidur jam 12 lebih, masih terasa ngantuk.
Setelah solat subuh, Bulan beranjak ke ruang tengah, suasana rumah masih sepi belum ada aktivitas. Ia kemudian merapikan ruang keluarga, aktivitas yang biasa dilakukannya dulu sebelum pindah kerja ke Jakarta. Gubraak… suara pintu yang terbuka dengan kasar dan cepat. Bebey.
Keluar dari kamar dengan hanya mengenakan ****** ***** boxer dan tidak memakai kaus. Bulan langsung melotot melihat kelakukan adiknya.
“Teeh… maaf tadi malam aku gak jemput, ngantuk banget kata Bapak sama Bapak aja,” sambil melengos ke kamar mandi. Ternyata dia belum sholat subuh padahal sebentar lagi matahari akan terbit.
“Kamu tuhhh… pake celana, pake baju… meni gak malu bubuligiran (gak pakai baju) kaya gitu.” Bulan menarik nafas panjang, kelakukan adiknya masih belum berubah sejak SD padahal sekarang sudah kuliah tingkat dua.
“Gak ada orang inih, biarin aja,” jawabnya sambil masuk kembali ke kamar. Bulan ingin melanjutkan protes tapi ingat kalau adiknya belum solat bisa-bisa lewat waktu terbit kalau diajak berdebat.
Benny tidak pernah mengganggap Bulan sebagai mahluk yang berjenis kelamin perempuan. Baginya Bulan adalah makhluk yang memiliki tingkat pemahaman yang tinggi akan kondisinya. Bagi Benny kakaknya adalah ibu, kakak dan teman, semuanya merangkap menjadi satu. Bulan masih ingat sampai SMP Benny masih berani berlari dari kamar mandi dengan tidak memakai pakaian gegara lupa membawa handuk. Diteriaki Bulan ibarat mendengar suara sirene, hanya sekedar suara peringatan yang tidak memberikan pengaruh apapun kecuali lemparan sandal karena telah mencemari matanya. Ia merindukan masa-masa itu, saat masalah yang paling berat dalam hidup hanyalah kurang uang buat jajan.
Bulan kemudian beranjak ke ruang tamu dan teras untuk membersihkan ruangan, dilihatnya Bapak tengah memandikan dan memberi makan burung.
“Makin banyak aja Pak burungnya, beli yang baru?” bapak tampak asyik memilah pakan untuk burung-burungnya.
“Dikasih sama teman sesama Kepala Sekolah katanya sudah malas mengurus burung, istrinya ngambek merasa gak diperhatikan.” Bapak tertawa membayangkan kekesalan temannya karena harus merelakan burung demi istrinya.
“Meni enak ketawanya. Bapak aja yang gak tau kalau istrinya temen bapak itu, mungkin lagi ngetawain Bapak, yang bisanya cuma bisa mengurus burung soalnya gak bisa mengurus istri.” Bulan menertawakan Bapak yang kemudian melotot menatapnya.
“Kamu tuh sok tau, emang kamu pernah liat Bapak ngurusin burung?” bapak terlihat cengengesan. Melihat senyum Bapak yang aneh Bulan jadi berpikir lebih cerdas, mukanya langsung kesal dan merengut.
“Bapak geuleuh ih dari kemarin mikirnya gak bener... “ ia langsung mendengus kesal. Bapak itu suka ngomong seenaknya padahal ia kan perempuan paling merasa tabu membahas masalah soal perburungan gadungan.
“Ini apa sih pagi-pagi ngomongin burung bukannya sarapan, ade laper inih,” Bebey keluar dari rumah dan bergabung dengan mereka, ia masih memakai sarung dan kaos.
“De kamu tuh jangan dibiasain solat subuh mendekati waktu terbit, malaikat udah siap-siap naik ke langit ketujuh, buku catatan udah mau ditutup. Eh kamu malah baru solat gimana sih.” Bulan memperhatikan adiknya yang tampak lebih kurus.
“Ngantuk banget Teh, kemarin tidur cuma dua jam kurang, banyak banget tugas latihan soalnya. Udah pengen pingsan aku tadi” ia menyandarkan kepalanya di bahu Bulan.
“Issshh kamu ogoan ginih, sana beli sarapan Teteh males masak pagi-pagi, pengen santai menikmati liburan di rumah” Bulan menggerakan kepalanya meminta Bebey untuk keluar membeli sarapan.
“Ahhh bosen lah beli terus mah, udah lama gak makan nasi goreng bikinan Teteh yang pake teri sama minyak wijen… atulah aku mau dibikinin nasi goreng” anak jangkung itu menyenderkan badannya ke kaki Bulan. Ishhhh…. Gayanya kaya masih anak SD aja.
“Heuuuh kamu dasar ogoan (manja)” Bulan masuk ke dalam rumah sambil cemberut. Sedari dulu ia selalu yang menyiapkan sarapan di rumah. Mak Illah baru datang setelah mereka berangkat ke sekolah. Kondisinya yang semakin menua menjadikan mereka tidak terlalu menggantungkan diri pada perempuan yang telah mengasuh mereka semenjak kecil.
Benny mengikuti Bulan dari belakang, ikut kedapur demi melihat kakaknya memasak nasi goreng kesukaannya.
“Telor ceploknya dua teh, kalau satu nanggung” sambil asyik duduk melihat Bulan sibuk mengiris bawang.
“Bikin sendiri… masa nyeplok telor sendiri gak bisa” Bulan menyemburkan aroma emosi jiwa, leveling senioritasnya keluar, tidak ingin diperbudak sama adik.
“Aku suka ga pas bikin telor ceploknya suka kematangan… kalau dibikin setengah matang suka hancur di wajannya, gak bulet kaya bikinan teteeeehh” mencoba mengeluarkan kegemasan yang dimilikinya di masa lalu, dengan menunduk sambil memiringka kepala berharap masih bisa memperdaya Rembulan.
“Kamu udah gak lucu lagi kaya dulu, jadi jangan bergaya sok imut kaya gitu geuleuh… udah kumisan. Trus itu burung udah nonjol gede masih bergaya kaya anak SD…udah bisa punya anak kamu sekarang” Bulan masih emosi melihat adiknya tadi keluar kamar dengan hanya memakai boxer.
“Ihhhh amit-amit...Teteh duluan dong yang punya anak.. Udah tunangan juga.. Tinggal deerr” Benny melengos, masa gegara minta nasi goreng pake telor ceplok saja musti punya anak dulu.
Mendengar ucapan 'tunangan', membuat Bulan terdiam, dalam hatinya mulai meragukan perasaan yang tumbuh kepada Juno. Tunangan kok gak krasa greget-gregetnya, gak seperti orang lain yang terlihat sehidup semati… kita yang hidup orang lain yang mati.
Dalam waktu singkat, tiga piring nasi goreng sudah tersaji di meja makan. Dari dulu keahlian Bulan adalah membuat menu sarapan, nasi goreng, mie goreng, roti isi, dan bubur manis. Keempat jenis menu ini yang terus berputar setiap hari selama bertahun-tahun, sehingga semuanya terbiasa dengan menu buatan Bulan.
“Hadeuuuh aku gak nyangka bakalan kangen sama nasi goreng ini padahal dulu aku sempet bosen makan nasi goreng ini terus.” Benny menyuap nasi goreng dengan suapan besar. Dalam waktu lima belas menit sudah licin tandas, matanya sudah melirik piring Bulan yang tampak terisi penuh.
“Kenapa masih laper? Beuuuh dasar perut karet… nih makan abisin” Bulan menyodorkan nasi goreng miliknya kepada Benny yang disambut dengan gembira. Bapak tersenyum melihat interaksi keduanya, tidak sia-sia menyuruh Bulan pulang. Kesempatan yang langka bisa melihat anaknya berkumpul, sebentar lagi mungkin akan sulit memaksa Bulan pulang kalau sudah menikah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 227 Episodes
Comments
💜Ilalang Senja💜
💟💚💛🧡❤️💟
2025-03-15
0
EndRu
baru mampir Karena rekomendasi dari Kak Jus Kelapa
2024-10-06
0
Tia rabbani
baca ulang bulan & Juno
2024-08-13
0