Afi yang sekarang tersedak sampai terbatuk-batuk, untungnya kuah soto tidak seperti Bulan yang sudah dituangi sambal. Afi tidak terlalu menyukai pedas. Ia langsung menegak air mineral yang dibawanya dari rumah.
“Kamu ninggalin Kak Juno tadi malam?” Afi menuntut jawaban Bulan yang hanya cemberut mengingat kejadian tadi malam.
“Dari awal pergi aku udah ga mood, hari kemarin aku cape banget kan gegara kurang tidur. Tapi kamu malah bikin janji sama Kakak kamu gak pake kompromi dulu lagi” jelas Bulan
“Aku nunggu hampir satu jam di kantor buat dijemput sama Kak Juno, ternyata dia lupa sama janjinya, sibuk bikin design katanya. Trus ditambah macet pas di jalan jadi makin lengkap deh” Bulan merenungkan kembali kekesalannya kemarin.
“Aku PMS juga kemarin jadi level kesabarannya rendah. Aselinya aku udah menahan perasaan kesal, mana banyak gangguan lagi” ia malas menceritakan soal Anjar yang menggodanya di Lobby pada Afi, pasti nanti gagal fokus membahas tentang Anjar.
“Pas di restoran Kak Juno asyik aja main hape, ngomong sama aku cuma beberapa kalimat aja, beberapa kali aku ngomong dia gak nyimak isi omongan aku” air mata Bulan rasanya ingin meluncur turun. Sedih juga kalau dirasa-rasa sekarang, kalau kemarin lebih terasa kesalnya daripada sedihnya.
“Aku ngomong apa, dia jawabnya cuma yaa...yaa.. Gak nyambung lah sama isi omongan aku, kadang aku ngomong agak marah dia malah ngejawab sambil cengegesan… duh kesel banget aku kemarin” sambung Bulan. Tangannya mengaduk-aduk kuah Soto, selera makannya terasa menguap bersama aroma soto.
Afi terdiam mendengar sikap Kakaknya tadi malam, menyebalkan memang, ia mengira kalau dengan perempuan lain, sikap Juno tidak akan seperti itu. Di rumah memang kakaknya akan selalu asyik dengan hapenya kalau berkumpul di ruang keluarga bersama dengan dirinya dan Mama. Afi tidak mengira kalau Bulan pun akan menerima perlakukan yang sama.
“Kakak kok nyebelin banget sih, pantesan kamu ninggalin dia” jawab Afi menghentakkan sendok dan garpu di piringnya, kalau ia diperlakukan seperti itu oleh Nico sebelum ditinggalkan mungkin sudah dilempar sandal terlebih dahulu.
“Fi… dulu kenapa Kak Juno memutuskan melamar aku,?” tiba-tiba pertanyaan yang sudah sekian lama terpendam di otak Bulan terlontar begitu saja. Ia merasa aneh karena Juno tidak pernah memberikan perhatian khusus kepadanya selama ini. Beberapa kali memang ia pergi bersamanya tapi itu karena diminta untuk mengantarnya pulang dari rumah Afi, Tante Nisa khawatir kalau Bulan pulang sendiri karena sudah terlalu malam.
Afi diam dan terus makan menghabiskan soto yang tampak jadi tidak mengundang seleranya lagi. Dia kemudian menarik nafas dan memandang Bulan sambil mulutnya komat kamit.
“Jupri… malah komat kamit kaya baca jampi-jampi lagi… udah jujur aja terus terang aku gak apa-apa kok” Bulan menatap Afi tajam.
“Aku kan cuma mewujudkan impian kamu aja Mbul… loe kan suka sama kakak gw jadi yah kenapa engga” Afi menunduk.
“Yang jadi masalah disini bukan gw suka atau engga sama kakak kamu… tapi kakak kamu suka gak sama gw…” Bulan menghembuskan nafasnya kesal.
“Semakin kesini aku berpikir, aku tuh memang mendapatkan yang aku mau… tapi kok kayanya bukan ini yang aku inginkan… ngerti gak si Fi…” Bulan sudah mulai berkaca-kaca. Sudah dua bulan pertunangan tapi ia merasa masih menjadi orang asing dengan Juno malah semakin merasa asing karena ada tuntutan untuk menjadi lebih dekat.
“Aku tuh jadi semakin merasa kalau cinta aku tuh bertepuk sebelah tangan” Bulan mulai meneteskan air mata, “Semakin kesini semakin terasa Fi….” Afi menarik nafas dan melirik Bulan, rasa penyesalan di dalam dirinya semakin membuat dia sulit berbicara.
“Maaf….” ucap Afi perlahan.
“Hehehe sorry aku ngomong gini bukan nyalahin kamu… enggak sama sekali … aku cuma butuh temen curhat… aku bingung mau cerita sama siapa… temen aku yang paling dekat cuma kamu Fi… sialnya kamu adiknya Kak Juno” Bulan menghapus airmata di pipinya, ia tidak ingin orang-orang yang ada di cafetaria melihat dirinya menangis.
“Efek dari PMS kali yah Fi… gw jadi sensitif... “ sambung Bulan sambil menyusut hidungnya dengan tissue.
“Engga … emang bener sih pikiran kamu… aku juga kesal sama sikap Kakak” jawab Afi perlahan.
“Mama yang pengen Kakak bertunangan sama kamu, Mama khawatir karena Kak Juno gak pernah memperlihatkan keinginan untuk punya pasangan. Kak Juno kaya asyik aja kerja, sampai Sabtu Minggu juga suka dipakai buat kerja. Sikapnya udah kaya bujangan lapuk gitu. Mama pengen Kak Juno nikah dulu sebelum aku, padahal kan aku masih belum kepikiran buat nikah. Si Nico juga masih belum settle banget kerjaannya” Afi bercerita sambil memutar-mutar air di dalam gelas.
“Mama juga khawatir kalau Kak Juno gak mau nikah karena trauma dengan pernikahan Mama sama Papa yang bercerai. Kata Mama waktu itu, hidup Mama di dunia gak akan tenang kalau Kakak belum punya pasangan, makanya Mama rajin menjodoh-jodohkan Kakak sama anak temannya, tapi Kakak gak pernah tertarik” sambung Afi
“Sampai waktu Kak Juno nganterin kamu pulang dulu, inget gak waktu malam-malam habis acara kantor di luar kota. Kamu kan ikut pulang ke rumah, trus kamu maksa pulang malem-malem soalnya ga bawa baju ganti buat ngantor besoknya” Afi menatap Bulan dengan lekat. Bulan menganggukkan wajah. Ia tidak mungkin menggunakan pakaian Afi soalnya beda ukuran.
“Soalnya dada lu ukuran XL sih jadi ga bisa pake blazer gw, coba kempesin dikit dadanya, kasih kek ke gw… kaya telor ceplok banget nih dada gw” Afi malah jadi gagal fokus pada ukuran dadanya.
“Jupri... kalau ngobrol musti fokus jangan beralih pembahasan” Bulan menoyor kepala Afi yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Deuilah sabar atuh neng… meni kepo banget”
“Waktu itu sepulang nganterin kamu, Kakak tuh sama Mama langsung ditodong aja, karena Kakak keliatannya suka-suka aja nganterin kamu. Kakak disuruh Mamah ngelamar kamu, ajak tunangan aja langsung katanya. Toh kamu keliatannya suka sama Kakak kata Mama tuh” Afi menjelaskan sambil cemberut.
“Emang keliatan banget Fi kalau gw suka sama kakak kamu… sampai Tante Nisa nyuruh Kak Juno ngelamar aku” Bulan menatap Afi dengan penuh tanda tanya, ia merasa malu sampai sejelas itukah ia menaruh rasa suka pada laki-laki itu.
“Ya iyalah keliatan banget lu suka gugup gak jelas, lirik-lirik, kadang caper…. Iihhh geli deh gw kalau ingatnya…. Rajin ngirim makanan buat Kak Juno” Afi terkekeh-kekeh melihat Bulan yang tampak cemberut karena malu.
“Ya udah atuh… jadi gitu yah… bukan keinginan Kak Juno emang,” Bulan menarik nafas.
“Eh lu jangan putus asa dulu, gak semata-mata Kak Juno menyetujui buat ngelamar kamu kalau dia gak ada rasa sama kamu kan, buktinya waktu dijodohin sama anak teman mama yang lain dia gak mau… tapi sama kamu kok mau” Afi berusaha meyakinkan Bulan.
Bulan tersenyum sinis mendengarnya, ia menghela nafas.
“Yah mungkin memang butuh waktu buat kami berdua untuk bisa meyakinkan diri yah Fi… tapi paling tidak aku sudah tau posisi aku dalam hubungan ini”
“Walaupun aku gak tahu untuk menikah itu bekal apa yang harus disiapkan, tapi menurutku keinginan dan keyakinan laki-laki dan perempuan yang akan mengikat diri mereka harus sudah kuat, jadi gak akan bubar di tengah jalan”
“Iya jangan kaya Babeh gw… nemu yang kaya dan bisa kerja bareng langsung lupa sama Emak gw... “ sahut Afi kesal. Bulan melirik Afi dan menarik nafas ia sebetulnya tidak bermaksud untuk membuat Afi mengingat kisah tragis keluarganya.
“Udah jangan menyesali takdir Allah, itu emang udah takdir… kamu masih mending biarpun berpisah, tapi masih lengkap orangtua, lah aku takdirnya ditinggal mati sama ibu… ikhlasin aja” sambung Bulan.
“Intinya Fi… aku kedepan cuma pengen melihat aja, apakah Kakak kamu bisa melihat aku sebagai perempuan yang akan menjadi pendampingnya kelak? Kalau Kakak kamu cuma memandang aku sebagai dayang-dayang aja… kayanya engga deh aku lanjutin pertunangan ini” Bulan memandang cincin pertunangan yang melingkar dijari manisnya.
“Aku cuma pengen jadi perempuan yang bisa membuat Kakak kamu menjadi lebih hebat”
“Aku cuma pengen jadi perempuan yang membuat dia bersinar dan aku akan menjadi mataharinya dia bukan sebagai bulan yang mematulkan sinar dari matahari”
“Aku cuma pengen jadi perempuan yang harumnya membuat dia gak bisa ngeliat bunga yang lain”
Bulan memandang ke langit luar sambil tercenung…
“Niatmu sangat murni nak… Ibunda mendukungmu…. Kalau Kakak gw masih terus menyebalkan seperti kemarin hempaskan saja” Afi menepuk-nepuk pundak Bulan.
“Fi…. kita gak akan bisa menyebut suatu hubungan itu berdasarkan cinta kalau tidak dilakukan dengan sepenuh hati” sambung Bulan menutup percakapannya.
“Cakeeeep…. Gw suka banget closing statement kamu…. Mari kita mencari cinta yang sepenuh hati… “ Afi menarik tangan Bulan beranjak dari meja makan. Jam sudah menunjukkan 2.40 kalau sampai manager tahu mereka makan sampai satu jam lebih pasti diomelin.
“Kalau aku putus dari Kakak kamu, aku masih bisa main sama kamu kan?” tanya Bulan dengan hati-hati.
“Ya iyalah.... Gw kan gak bisa hidup tanpa kamu… kadang gw pikir mendingan kawin sama Elu daripada sama si Nico…” Afi tersenyum manis menggoda…
“Aiiih najis…. Naudzubillah min dzalik” Bulan langsung bergegas pergi meninggalkan Afi… begini nih punya teman udah lepas skrup di otak… sering konslet.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 227 Episodes
Comments
Sukliang
mmg jd cewek jgn suka duluan fg cowok
2024-01-26
0
Em Mooney
berasa dikit pdhal pnjng
2023-11-13
1
Diyah Saja
mskipun di baca berkali kali lapak nneng bulan teetep ada feel nya .. sllu nangis klo baca ikut sedih jga
2023-09-12
0