Bab 10

Suasana di kelas Diana sangat riuh karena hari ini guru mata pelajaran Bahasa Indonesia tidak bisa masuk mengisi mata pelajaran sehingga siswa diberikan tugas untuk membuat puisi berpasangan dan membacakannya pada jam pelajaran selanjutnya. Diana berpasangan dengan Mutiah, tentu saja karena itu permintaan dari ratu bawel yaitu Mutiah sendiri.

“Din, hari inikan kita ada tugas, bagaimana kalau kita ke rumah ku saja?” Tawar Mutiah.

“Hum..Gimana yah?” Diana masih berpikir dengan ajakan Mutiah.

“Ayolah...Sekali-kali main ke rumahku, akukan sudah pernah main ke rumahmu. Kita juga kan mau kerja tugas bukan main-main saja.”

“Iyah baiklah, in syaa Allah sebentar kita kerja tugasnya di rumahmu.”

“Wah... benarkah? Yes, terimakasih Diana sayang.” Ucap Mutiah merasa senang dan memeluk Diana.

Setelah mengikuti pelajaran terakhir, Diana dan Mutiah sedang duduk di dekat gerbang sekolah sambil menunggu jemputan. Tak lama kemudian, mobil orang tua Mutiah berhenti di depan gerbang.

“Diana, ayo naik!” Mutiah membuka pintu mobil belakang dan mengajak Diana untuk duduk di sampingnya.

“Itu siapa sayang?” Tanya Ibu Melati mamanyaa Mutiah.

“Ini loh, Ma. Teman dekatnya Mutiah yang biasa Mutiah ceritakan itu, namanya Diana Cahayati.” Jawab Mutiah.

“Iyah tante, nama saya Diana. Saya diajak Mutiah ke rumah untuk mengerjakan tugas kelompok” Jawab Diana dengan sopan.

“Iyah, sayang. Ternyata Diana cantik yah. Tante senang karena Mutiah punya teman sebaik kamu Diana.”

Di sepanjang perjalanan mereka mengobrol hingga mobil berhenti di depan rumah yang sangat besar. Diana merasa takjub dengan keindahan rumah itu.

“Maa Syaa Allah, rumah yang sangat bagus. Pastinya Mutiah betah sekali tinggal di rumah sebesar ini.” Ucap Diana dalam hati.

“Din, ayok kita masuk!” Ajak Mutiah menyadarkan Diana dari lamunannya.

Saat memasuki rumah Mutiah, Diana dibuat takjub lagi karena perabotan dan keindahan dari dalam rumah. Saat memasuki rumah itu, Diana diajak oleh Mutiah memasuki kamarnya, kamar itu berwarna pink muda dengan kasur yang empuk, lemari besar, meja belajar yang di atasnya terdapat boneka yang banyak, dan aksesoris yang membuat kamar itu terlihat sangat cantik, berbeda dengan kamar Diana yang sangat sederhana tetapi membuat Diana merasa betah dan nyaman.

“Tunggu dulu yah, Din. Aku mau ke dapur sebentar.

“Oke”

Diana duduk dan menikmati keindahan kamar itu, ia teringat dirinya yang sudah tidak memiliki ayah dan ibu. Dalam hatinya terdapat luka dan rindu yang sangat teramat dalam kepada kedua orang yang telah menghadirkannya dalam dunia ini. Hum, andaikan ia masih memiliki kedua orang tuanya, pasti ia akan merasa sangat bahagia dan manja dengan kehadiran mereka di sisi Diana. Diana tersadar dari pikirannya kemudian beristigfar karena ia yakin bahwa semua yang terjadi adalah taqdir dari Yang Maha Kuasa dan inilah yang terbaik untuk Diana.

“Dianaa, ini makan kue brownisnya.” Mutiah menyimpan kue di depan Diana.

“Terimakasih, Mutiah.” Diana menikmati kue yang diberikan oleh Mutiah.

“Din, kira-kira puisi apa yang mau kita buat?” Tanya Mutiah.

“Hum...(berpikir sejenak). Bagaimana kalau tentang Sahabat?” Ucap Diana.

“Bagus juga itu, aku setuju.”

Diana dan Mutiah mulai merangkai kata-kata menjadi sebuah puisi, mereka berdua sangat antusias sekali ketika mebuat puisi tentang “Sahabat”.

...Sahabat...

...(Karya Diana Cahayati & Mutiah Ayunda)...

...Sahabat.......

Mungkin itu hanya sebuah kata yang terdiri dari beberapa huruf

Memiliki makna yang mendalam

Membentuk sebuah hubungan yang indah

...Sahabat........

Ada saat semua mengatakan untuk tiada

Merangkul saat kebanyakan orang memilih untuk melepas

Mengenggam dengan erat agar tetap bersama.

...Sahabat........

Dukamu adalah lukaku

Tangisanmu adalah penderitaanku

Tawamu adalah kebahagianku.

...Sahabat.......

Bagai sepasang cincin pernikahan

Mengikat untuk tetap menjaga

Tertawa dan tersenyum bahagia di kala bersama.

Yah, puisi yang indah, menggambarkan kebersamaan mereka berdua. Diana dan Mutiah menghabiskan waktu bersama dengan canda dan tawa. Setelah menuliskan puisi, mereka berdua saling berkomitmen untuk menjalin hubungan persahabatannya sampai kapanpun.

Sudah hampir sore Diana bermain ke rumah Mutiah, akhirnya ia meminta ijin untuk pulang ke rumahnya dan di antar oleh Mutiah dengan sopir mereka. Tiba di rumah, Diana mengucapkan salam dan menganti pakaian

sekolahnya.

*************

Terpopuler

Comments

Dewi Triana

Dewi Triana

10 like mendarat Thor,semangat.....saling mendukung ya

2021-02-11

0

Chuu

Chuu

lanjut,semangat ya thor

2021-02-02

1

BELVA

BELVA

semoga sehat selalu

2021-01-22

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!