"As, kamu belum jawab pertanyaanku tadi. Apa kamu mengikutiku tadi?" tanya Carla dia menatap manik Aska. "Kenapa kamu mengikutiku?" tanya Carla lagi.
Aska masih bungkam.
"As." panggil Carla sekali lagi.
"Aku memang mengikutimu karena aku ...."
"Kamu sudah tahu tentang Adit kan?" sela Carla.
Aska hanya mengangguk.
"Maaf ya As, karena dulu aku membencimu hanya gara-gara kamu selalu mengawasiku. Pasti papa--kan yang menyuruhmu untuk terus menjagaku?" tanya Carla. Hatinya kembali sesak, mengingat tingkahnya sendiri yang selalu melawan papanya demi Adit.
"Kadang kita baru menyadari makna hidup, saat kita sudah di hadapkan pada masalah."
"Terimakasih ya, As. Terimakasih karena kamu selalu menjagaku, terimakasih karena kamu selalu berada disisiku setelah papa dan mama pergi. Terimakasih, As," ucap Carla. Tangisnya kembali pecah mengingat semua perhatian yang diberikan oleh Aska selama ini, bahkan dialah orang yang selalu menghibur dan menyemangatinya setelah kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya.
Aku akan selalu menjagamu sampai aku mati --ucap Aska dalam hati.
"As, bolehkah aku memelukmu?" tanya Carla seraya meminta izin.
"Tentu saja boleh, Non--maksudku Carla," jawab Aska.
Carla memeluk tubuh tegap Aska dan bersandar pada dada bidang pria tampan tersebut. Entah kenapa pelukan Aska terasa begitu nyaman baginya.
Kenapa rasanya begitu nyaman? --batin Carla.
Carla memejamkan matanya, menikmati pelukan yang Aska berikan.
"As, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Carla seraya mendongakkan wajahnya menatap mata Aska.
"Kenapa? Apa kamu mengingat sesuatu?" tanya Aska yang menatap tatapan mata Carla.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
Sepertinya kamu masih belum mengingatku--batin Aska.
"As, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Carla lagi.
"Sudah, lupakan pertanyaanku tadi."
Melihat reaksinya, pasti aku pernah bertemu dengannya sebelumnya. Tapi kapan? Dimana? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya? -- kembali Carla membatin.
"Kamu pasti lapar, ayo kita makan dulu. Aku sudah membelikan makanan untukmu."
"Eh, kapan kamu membelinya?" tanya Carla.
"Waktu kamu mandi," jawab Aska. "Ayo takutnya nanti dingin makanannya, bukankah kamu tidak suka makanan dingin?"
"Iya, As," jawab Carla.
Mereka duduk di sofa yang ada di koktrakan tersebut. Maklum saja, kontrakan Mbok Mirah, hanya ada 4 ruangan, kamar, kamar mandi, dapur dan ruang tamu yang berfungsi sebagai tempat untuk makan juga.
Carla membuka nasi bungkus pemberian Aska.
"Kenapa? Apa kamu tidak suka makanannya?" tanya Aska saat melihat Carla yang hanya diam sambil menatap makanan di tangannya.
"Bukan itu."
"Lalu?" tanya Aska.
"Aku hanya merasa tidak enak padamu, selama ini aku selalu merepotkanmu," jawab Carla.
Aska tersenyum, "Nona, maksudku Carla, wajahmu terlihat sangat lucu saat merasa bersalah."
"Ternyata kalau kau tersenyum, kau kelihatan sangat tampan." Carla langsung menutup mulutnya, saat menyadari apa yang dia ucapkan.
Aduh! Kenapa aku bisa mengatakan hal itu?--batin Carla.
"Ayo, makanlah nanti keburu dingin!" seru Aska.
Sepertinya dia tidak mendengar ucapanku barusan. -- batin Carla.
Carla mengangguk, dia mulai makan makanan pemberian Aska. Walau makanan itu hanya makanan sederhana, Carla sangat menikmatinya.
*****
Ditempat lain.
Nara dan ibunya, Yenita, sudah berada di sebuah apartemen. Apartemen itu memang bukan apartemen mewah, tapi cukup nyaman dari pada tinggal di kontrakan.
"Ma, ini apartemen siapa?" tanya Nara pada Sang mama, karena setahu Nara mereka tidak memiliki cukup uang untuk membeli sebuah apartemen.
"Apartemen kita," jawab Yenita.
"Dari mana Mama mendapatkan uangnya? Jika ini apartemen kita harusnya kita bisa mengajak Carla ikut tinggal bersama kita. Karena bagaimanapun, Carla masih saudara kita."
"Mengajak gadis itu tinggal bersama kita? Tidak akan, apalagi kalau Mama mengingat kata-kata pedas yang dia ucapkan kepada kita," jawab Yenita. "Kamu tahu, Sayang. Apartemen ini Mama beli dari uang pemberian papa kandungmu tiap bulan."
Nara kembali menatap mamanya. "Bukannya Mama bilang sama om dan tante kalau papa tidak pernah memberikan nafkah untuk kita?" Setidaknya itulah yang diucapkan Yenita kepada Nara dan kedua orang tua Carla.
"Mama, bohong. Papamu masih tetap memberikan uang untuk biaya hidupmu tiap bulan. Tapi Mama berbohong agar Mas Hadi dan Mbak Widya prihatin dengan kehidupan kita dan membiarkan kita tinggal dirumah mereka. Dan nyatanya itu berhasil, Mas Hadi dan Widya bahkan sering memberi Mama uang bulanan yang nominalnya sepuluh kali lebih besar dari pada nominal yang di berikan oleh papa kandungmu," jelas Yenita.
"Ma, bukankah secara tidak langsung Om dan Tante Widya memiliki peran dalam pembelian apartemen ini? Kenapa tidak menyuruh Carla di sini bersama kita?"
Yenita menoyor kepala putrinya, "jangan kamu kira Mama bodoh? Kamu ingin Carla tinggal di sini karena kamu ingin bisa bertemu dengan sopir itu lagikan?"
"Sebenarnya memang salah satunya itu," namun jawaban itu hanya tersimpan di tenggorokan dan tidak mampu di ucapkan oleh Nara.
"Dengar Nara, kamu lupakan perasaan sukamu pada sopir itu. Carilah laki-laki mapan dan kaya, agar hidup kita terjamin kelak. Lepaskan saja sopir itu untuk Carla, aku tahu kalau Aska diam-diam mencintai tuh si gadis bar-bar bermulut pedas," ujar Yenita, dia tidak ingin putrinya lebih memintingkan perasaannya pada Aska.
"Tapi, Ma. Nara ...."
"Cukup! Sampai kapanpun, Mama tidak akan mau kamu berteman apalagi menjalin kasih dengan seorang sopir." sela Yenita.
Nara hanya bisa diam, dia tahu kalau apapun yang dia katakan tidak akan mampu mengubah cara berpikir mamanya.
"Baik, Ma." Nara langsung masuk kedalam kamarnya. Dia menjatuhkan dirinya ke atas kasur yang ada di kamar tersebut.
Nara mengambil gawai yang ada di dalam saku, dia membuka galeri dan menatap foto Aska yang ada disana, foto yang dia ambil secara diam-diam, saat Aska pertama kali memakai seragam sopir.
"Kamu sangat tampan, As. Aku mencintaimu dari awal aku melihatmu."
Nara membelai layar ponselnya seolah dirinya benar-benar sedang membelai wajah tampan Aska. Tapi kemudian dia menghela napas saat mengingat perhatian yang di berikan Aska pada Carla.
"Apa sebenarnya yang dimiliki oleh Carla hingga membuatmu tidak bisa memandangku As?"
Nara meletakkan gawai miliknya disamping, dia merebahkan diri. Dia kembali mengingat semua perhatian yang Aska berikan untuk Carla. Bahkan senyum yang tersirat di bibir Aska hanya di peruntukkan untuk gadis manja bermulut pedas seperti Carla.
"Apa aku tidak ada kesempatan untuk mendapatkan perhatianmu?" kembali Nara bergumam sebelum akhirnya dia larut kedunia mimpi.
🍂🍂🍂
Hai hai hai maaf ya, baru update. Maklum Othor orangnya agak riweh kalau lagi badmood. Othor usahain akan up rutin mulai sekarang, tapi Othor gak bisa ngasih jadwal jelasnya kapan Othor up. Jadi jangan lupa untuk selalu like, komen dan vote ya seikhlasnya tapi lebih banyak lebih baik😁😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
♥️Adnan Amzari♥️
dari awal mulai baca novel ini ceritanya cukup menarik apalagi ada foto oppa Li Min Ho makin 😍😍😍
2022-07-14
0
Tri
jangan2 aska pacar masa kecil nara,,fan meteka sempat berjanji,tp carla lupa...dan aska masih ingat sampai saat ini
2022-04-04
0
Ririe Handay
pelajaran untuk carla
2022-03-30
0