Pesawat hilang kontak

Dengan posisi yang seperti sedang berpelukan, manik mata keduanya bertemu. Ada debaran yang tak biasa yang mereka rasakan.

"Lepas!" seru Carla gadis itu menepis kasar tangan Aska.

Aska langsung melepaskan tubuh Carla dan membuat tubuh gadis arrogan tersebut jatuh ke lantai.

"Aw," ringis Carla. "Kenapa kamu melepaskan aku?"

"Lho, bukannya kamu sendiri yang barusan menyuruhku untuk melepaskan tubuhmu?" elak Aska yang tidak mau disalahkan.

Carla bangun dari posisinya, dia mendengkus kesal. "Dasar sopir sialan! Awas saja nanti aku pasti akan membalasmu!" rutuknya seraya berlalu dari hadapan Aska, gadis itu kembali ketujuan awal yaitu dapur. Tanpa menatap ke arah Aska, Carla kembali menaiki anak tangga setelah mengambil air minum yang memang menjadi alasan utamanya datang ke tempat tersebut.

Aska tersenyum melihat mimik kesal Carla, dia selalu merasa senang saat berhasil membuat anak dari bosnya tersebut marah.

"Kamu sangat menggemaskan saat marah," puji Aska dalam hati.

Askapun segera kembali ke kamarnya yang memang berdekatan dengan dapur.

*****

Keesokan paginya seperti biasa Hadijaya dan keluarganya akan menyempatkan diri untuk

sarapan bersama.

Hadijaya, Widya, Yenita, Nara dan juga Carla sudah duduk di depan meja makan. Mereka mulai menyantap makanan yang ada di hadapannya.

"Carla, siang ini Papa dan Mama akan pergi ke Amerika untuk urusan bisnis. Rencananya kami akan berada di sana selama 1 minggu. Papa harap, selama Papa dan Mama berada di sana, kamu tidak membuat ulah di kampus barumu. Hari ini kamu sudah bisa memulai kuliahmu," ujar Hadijaya.

"Apa kampus tersebut sudah sesuai dengan kriteria Carla?" tanya Carla. Dia menatap papanya setelah memasukkan potongan roti ke dalam mulutnya.

"Semua sudah sesuai keinginanmu, semua mahasiswa yang berkuliah di sana rata-rata adalah anak pengusaha dan pejabat," jawab Hadijaya.

"Baguslah, setidaknya aku tidak akan satu kampus dengan benalu di rumah ini," jawab Carla yang kembali dengan mulut pedasnya.

"Carla!!" Yenita bersuara.

"Yeni, tolong maafkan Carla!" pinta Widya kepada adiknya. "Nak, minta maaf sama Tante Yeni!'

"Kenapa? Apa ucapanku salah?" Carla menatap Yenita, "Bukankah nyatanya mereka hanya benalu di rumah ini," tambah Carla.

"Kamu tenang saja, saat aku sukses nanti aku akan membayar semua biaya yang keluargamu keluarkan selama aku dan ibuku tinggal di rumah ini," ucap Nara.

"Kapan kamu akan sukses? satu tahun? dua tahun? Atau sepuluh tahun lagi?" tanya Carla. "Aku rasa seumur hidup--pun kamu tidak akan pernah sukses tanpa bantuan dari Kami," cibir Carla. Gadis itu mengelap bibirnya dengan tisu.

"Hari ini aku diterima magang diperusahaan RA GRUP, perusahaan arsitektur terbesar di kota ini," Nara memberitahu.

"Bagus, bekerjalah yang baik agar kamu sukses. Setelah itu bayar hutangmu dan angkat kaki dari rumah ini!" Carla memberikan tatapan tajamnya kepada Nara.

"Carla, bicara yang sopan dengan Tante dan sepupumu!" tegur Hadijaya.

"Aku sudah selesai makan dan harus melihat kampus baruku." Carla tidak mengindahkan ucapan papanya, dia langsung bangkit dari tempat duduknya. "Ingat ya, Pa. Kalau kampus itu tidak sesuai dengan seleraku, maka aku akan langsung keluar dari Universitas itu dan mencari Universitas yang sesuai dengan keinginanku."

Hadijaya hanya bisa menghela napasnya, dia sudah tidak sanggup lagi untuk berdebat dengan putri semata wayangnya.

"Yeni, Nara, jangan masukan ke hati ya ucapan Carla. Tolong maafkan dia!" sekali lagi Widya harus meminta maaf atas nama putrinya.

"Mau bagaimana lagi, kami memang hanya menumpang disini, jadi harus bisa menerima semua perlakuan kasar putrimu itu," jawab Yenita.

"Sekali lagi maafkan, Carla ya!" ucap Hadijaya

Hadijaya mengeluarkan selembar cek dari saku jasnya. "Belilah sesuatu dengan uang itu, Kamu membutuhkan pakaian baru untuk magang besok!" ucap Hadijaya, dia memberikan cek senilai 2 juta kepada Nara.

"Tidak usah, Om. Selama ini, Om sudah bersedia menampung aku dan mama di rumah ini, itu sudah lebih dari cukup. Aku bisa membeli keperluanku besok dengan uang saku yang paman berikan padaku," tolak Nara.

"Tidak apa-apa, Nara. Ambillah!" seru Hadijaya.

Sebelum Nara kembali menolak, Yenita sudah terlebih dulu mengambil cek itu dari tangan Hadijaya.

"Terimakasih ya, Kak. Kakak memang selalu perhatian kepada Kami," ucap Yenita. Dia masukkan cek pemberian Hadijaya kedalam saku baju yang dia kenakan.

"Siang ini Kami langsung berangkat ke Amerika dengan pesawat pribadi, titip Carla ya!" pinta Widya.

"Walau mulutnya pedas, Carla tetaplah keponakanku, aku pasti akan menjaganya selama kalian pergi," jawab Yenita. Walau dari raut wajahnya menampilkan kebalikannya, wanita itu tidak akan mau di susahkan dengan urusan Carla.

"Ma, tidak usah menitipkan aku pada benalu itu. Aku tidak suka orang munafik," ucap Carla sinis.

"Aska, aku titipkan Carla padamu. Jagalah dia saat aku tidak ada!" pinta Hadijaya.

"Baik, Tuan. Saya akan menjaga Carla dengan baik," jawab Hadijaya.

Carla hanya memutar bola matanya, bisa-bisanya Sang papa menitipkan dirinya pada seorang sopir.

"Ma, Pa, Carla berangkat ke kampus," pamit Carla kepada kedua orang tuanya. "Hei sopir, ayo cepat! Jangan sampai gara-gara dirimu aku terlambat."

Aska segera mengikuti langkah Carla meninggalkan meja makan.

"Aku juga berangkat ke kampus dulu ya Om, Tante," pamit Nara.

"Kamu sekalian ikut Carla saja, bukankah kampus kalian satu arah. Jadi setelah mengantarkan Carla, Aska bisa mengantarmu ke kampus!" seru Widya.

"Tidak usah, biar Nara naik taksi," Yenita terlebih dulu menjawab.

Enak saja di suruh berangkat bareng sopir itu, bisa-bisa Nara semakin tidak bisa jauh dari tuh sopir -- batin Yenita.

"Nara, permisi ya Tante, Om," pamit Nara. "Nara, berangkat ya Ma."

Sesuai keinginan ibunya, Nara berangkat ke kampus dengan mengendarai taksi.

Hadijaya dan Widya berangkat ke Amerika pukul 14.00 wib menggunakan pesawat pribadi. Kebetulan cuaca langit kala itu hujan diikuti petir yang menggelegar.

Saat ini Carla sedang berdiri di depan gerbang kampus, dia menunggu kehadiran Aska untuk menjemputnya. Sudah hampir setengah jam dia berdiri di sana, namun Aska belum menampakkan batang hidungnya.

"Kemana itu sopir? Bener-bener kurang ajar, mentang-mentang Papa sama Mama sedang ada kunjungan kerja ke Luar Negeri, dia sudah berani telat menjemputku," gerutu Carla dengan sesekali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.

Tidak lama orang yang di tunggu datang.

"Hei, sopir kurang ajar. Belum juga sehari Mama dan Papa pergi, kamu sudah berani telat menjemputku!" maki Carla pada Aska.

Pemuda itu hanya diam, raut wajahnya menampakkan kegelisahan.

"Kenapa kamu telat menjemputku?" tanya Carla.

"Non, Saya telat karena harus memastikan sesuatu," jawab Aska.

"Sesuatu?"

"Nona ... barusan saya mendapat kabar kalau ... kalau ...."

"Ada apa? Cepat katakan!" seru Carla.

"Non, semoga Non Carla kuat mendengarnya. Barusan saya mendapat kabar kalau pesawat yang di tumpangi Tuan dan Nyonya hilang kontak sekitar setengah jam yang lalu," jelas Aska berhati-hati.

"Apa maksudmu?"

"Kemungkinan pesawat itu mengalami kecelakaan," tambah Aska.

Carla nampak shock mendengar berita itu, bahkan ponsel yang masih dia pegang langsung terjatuh.

"Ka--kamu bohongkan?" tanya Carla tidak percaya.

"Sayangnya berita itu benar, tim SAR sedang melakukan pencarian terhadap pesawat yang hilang itu," tutur Aska.

Carla langsung merasa matanya berkunang-kunang, dia langsung jatuh tak sadarkan diri.

Terpopuler

Comments

Parti Barokah

Parti Barokah

Rencana dimulaiii....🤣🤣🤣

2022-06-26

0

Tri

Tri

drama dimulai...inikah rwncana ke 2 ortu carla

2022-04-04

0

Ririe Handay

Ririe Handay

ini kah rencana pak hady

2022-03-30

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!