Penghianatan

"Maaf, kalian siapa?" tanya Carla yang merasa tidak mengenal mereka.

"Maaf, Nona kami dari Bank Permata datang untuk menyita rumah ini," jelas salah seorang dari mereka.

"Menyita? Apa maksudnya?" tanya Carla bingung.

"Perusahan Tuan Hadijaya, pagi ini telah di nyatakan bangkrut dan tidak bisa membayar semua hutangnya. Jadi kami datang untuk menyita semua aset yang masih di miliki oleh Tuan Hadijaya, termasuk rumah ini," jelas orang itu.

"Bagaimana perusahaan ayahku tiba-tiba bisa bangkrut? Bahkan sebelum papa pergi, tidak ada yang terjadi dengan perusahaan kenapa tiba-tiba bisa bangkrut?" tanya Carla lagi.

"Sebenarnya sudah setengah tahun yang lalu, kondisi perusahaan dan keuangan perusahaan Tuan Hadijaya mengalami kesulitan. Bahkan sudah 3 bulan ini Tuan Hadijaya belum mengangsur hutangnya di bank kami, waktu itu direktur bank kami masih bisa mentolelirnya karena beliau yakin Tuan Hadi akan bisa langsung melunasinya saat perusahaannya sudah tidak dalam kesulitan keuangan. Tapi sekarang, Tuan Hadi sudah meninggal dan pagi ini perusahaan itu sudah dinyatakan bangkrut. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka, kami dari pihak bank tetap harus menagih uang yang sudah di pinjam oleh Pak Hadi. Dan satu-satunya aset yang masih tersisa adalah rumah ini. Jadi Kami harus menyita rumah ini."

"Tidak! Papaku masih hidup! Dia pasti akan bisa membuat perusahaan itu kembali bangkit. Kalian jangan bicara sembarangan!" tukas Carla.

"Tapi kenyataannya, Tuan Hadijaya sudah meninggal. Jadi kami mohon kerjasamanya, besok rumah ini harus segera di kosongkan," jawab orang tersebut lagi. "Permisi!"

Orang-orang itu segera meninggalkan rumah Hadijaya setelah menempelkan segel bertuliskan 'RUMAH INI DI SITA' pada daun pintu.

"Dit, bagaimana ini bisa terjadi padaku? Bagaimana dengan nasibku?" tanya Carla.

"Car, Carla, aku harus mengerjakan tugas bareng Devi sore ini. Jadi kami pulang dulu ya," ucap Aditya, dia langsung pergi dari rumah Carla dan diikuti oleh Devi di belakangnya.

"Dit, tapi kamu mau membantukukan? Adit, Adit," teriak Carla.

Namun Aditya sama sekali tidak menghiraukannya.

"Nona, ada apa?" tanya Aska, dia yang saat itu sedang berada di dapur segera keluar saat mendengar teriakan Carla.

"As, kenapa kamu tidak bilang kalau perusahaan papa sudah mengalami kesulitan sejak 6 bulan lalu?"

"Apa maksud Nona?" tanya Aska bingung.

"Barusan ada pihak dari bank datang, mereka menyita rumah ini As. Dan tadi pagi, perusahaan papa juga sudah di nyatakan bangkrut, apa kamu sudah tahu tentang hal itu?!"

"Nona, tapi setahuku perusahaan Tuan baik-baik saja. Atau Tuan Hadi sengaja membuat seolah-olah perusahaan sedang dalam keadaan baik, agar Nona dan Nyonya tidak mencemaskan soal ini," Aska berasumsi.

"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Carla.

Carla menyuruh Aska mengumpulkan semua pegawai rumahnya di ruang tamu. Dia mulai bertanya berapa gaji satu pegawai di rumahnya.

"Tuan sangat baik kepada kami, beliau selalu menggaji kami 5 juta satu bulannya. Kadang beliu juga memberikan bonus kepada Kami tiap minggunya," jawab Mbok Mirah.

Carla melihat uang yang ada di buku tabungannya, semuanya hanya ada 20 juta.

"Tapi kalau Tuan Aska berbeda, Tuan selalu menggajinya di atas kami karena pekerjaannya tidak hanya menjadi sopir, tapi dia juga membantu Tuan di perusahaan," tambah Mbok Mirah.

"Mbok Mirah, Mang Ujang, Mang Jajang dan Mbak Siti. Saya minta maaf ya, karena mulai sekarang kalian harus mencari pekerjaan di tempat lain. Perusahaan Papa bangkrut dan semua aset milik papa telah di sita oleh bank, jadi saya tidak bisa memperkerjakan kalian semua. Soal gaji, saya akan berikan sesuai dengan hak yang seharusnya kalian terima. Tapi saya minta maaf karena saya tidak bisa memberikan bonus pada kalian," ucap Carla.

Baru kali ini semua pegawai di rumah Hadijaya melihat Nona mudanya berbicara sopan, bahkan di akhir perkataannya dia membungkukkan badannya sebagai permintaan maaf.

"As, tolong antar aku mengambil uang ke bank. Mungkin ini perintah terakhirku," ucap Carla.

Aska mengangguk.

Setelah mengambil semua uangnya di bank, Carla memberikannya kepada pegawainya sesuai dengan gaji mereka.

"As, maaf ya, aku belum bisa menggajimu sekarang. Aku akan menggajimu saat aku menemukan pinjaman," ucap Carla.

"Tidak usah memikirkan soal gaji saya Nona. Lebih baik sekarang Nona memikirkan akan tinggal di mana setelah ini," jawab Aska.

"Soal tempat tinggal, kamu jangan khawatir, aku yakin Aditya akan bisa membantuku mencari tempat tinggal," jawab Carla. "Tapi bagaimana dengan Tante dan Nara?"

"Jangan khawatirkan kami, kami sudah dapat tempat tinggal sendiri," jawab Yenita ketus.

"Baguslah, setidaknya kamu tidak lagi jadi benalu," jawab Carla, gadis itu masih saja berkata pedas terhadap tantenya.

*****

Keesokan paginya, semua orang sudah benar-benar keluar dari rumah Hadijaya. Termasuk Carla, Aska, Yenita dan Nara.

Yenita dan Nara sudah memesan taksi untuk membawa mereka ke tempat tinggal baru mereka.

"Nyonya, apa tidak sebaiknya Anda juga mengajak Non Carla tinggal bersama kalian?" tanya Aska.

"Tidak, tempat tinggal baru kami sangat sempit. Jadi kami tidak bisa membawanya bersama kami," tolak Yenita.

"Jangan khawatir, aku juga tidak ingin ikut denganmu," sahut Carla.

"Baguslah, ayo Nara, kita tinggalkan gadis itu sendiri!" ajak Yenita.

Yenita terlebih dulu naik ke taksi pesanannya di susul oleh Nara. Namun sebelum dia masuk, dia menatap Aska sebentar. Rasanya dia tidak rela harus meninggalkan Aska bersama dengan sepupunya tersebut.

"Nara!" panggil Yenita, dia tidak senang melihat putrinya masih mengharapkan seorang sopir.

"Iya, Ma," sahut Nara, dia melangkah masuk ke dalam taksi tersebut.

Taksi itu segera melaju meninggalkan kediaman Hadijaya.

"Nona, Nona mau kemana?" tanya Aska.

"Sekarang ini kamu bukan sopirku lagi, jadi jangan khawatirkan aku."

"Bukan, setidaknya aku harus tahu dimana Nona tinggal. Bukankah Anda masih berhutang gajiku satu bulan?" terpaksa Aska memanfaatkan soal gaji yang belum di bayarkan oleh Carla.

"Aku pasti akan menghubungimu saat aku menemukan tempat tinggal. Nomormu tidak gantikan?" jawab Carla seraya bertanya.

"Tapi bagaimana aku bisa percaya kalau Nona akan menghubungiku saat menemukan tempat tinggal yang baru?"

Kenapa Aska kembali bersikap menyebalkan sih -- batin Carla.

Carla mengeluarkan dompet dan mengambil KTP miliknya kemudian memberikannya kepada Aska.

"Peganglah KTP--ku, aku akan memintanya padamu saat aku menemukan tempat tinggal baru," jawab Carla.

"Baiklah, Nona. Aku akan menyimpan ini," jawab Aska sambil mengambil KTP dari tangan Carla.

Tidak lama taksi pesanan Carla juga datang.

"Ohya, As. Terimakasih atas kebaikanmu selama ini," ucap Carla sebelum dirinya masuk kedalam taksi pesanannya.

Aska tersenyum, setidaknya dia sudah berhasil membuat Carla mengucapkan terimakasih kepadanya, hal yang jarang bahkan tidak pernah dia ucapkan sebelumnya.

Setelah taksi yang di kendarai Carla pergi pergi, Aska mengambil gawai dari dalam sakunya.

"Jemput aku!" serunya pada seseorang di ujung sana.

*****

Carla sudah tiba di depan apartemen milik Aditya. Dengan senyum mengembang di bibirnya dia menuju ke tempat Aditya yang memang kebetulan berada di lantai paling atas gedung apartemen tersebut.

Carla menekan kode masuk yang memang terpasang di pintu kamar itu. Namun langkah Carla terhenti saat mendengar suara aneh dari kamar Aditya. Suara desahan yang sungguh membuat hati Carla berdenyut nyeri.

Apakah Adit menghianatiku? -- pikir Carla.

"Lebih cepat lagi, Yank!" suara seorang wanita dari dalam kamar Aditya.

Apa mungkin kamar ini di pinjamkan Aditya untuk temannya berbuat mesum? -- kembali Carla berbicara dalam hati. "Tapi kenapa suaranya begitu familiar?"

Namun Carla terperangah saat mendengar suara laki-laki yang menyahut wanita itu.

"Apa segini cukup?" suara laki-laki itu menyahut.

Suara itu adalah suara Aditya, Carla benar-benar yakin dan sangat hapal dengan suara kekasihnya. Carla begitu marah, tanpa banyak berpikir dia langsung menerobos masuk ke dalam kamar tersebut. Dan dugaannya benar, Aditya sedang berselingkuh dan wanita yang menjadi selingkuhannya adalah Devi, sahabatnya sendiri.

Carla menarik Aditya yang masih berada di atas tubuh Devi, dan membuatnya jatuh terjungkal. Kemudian dia menampar pipi sahabatnya dengan sangat keras.

"Kalian berdua benar-benar menjijikkan! Pergi kalian dari apartemen ini!" teriak Carla.

Aditya segera memakai pakaiannya yang teronggok di lantai.

"Pergi?! Kamu lupa kalau apartemen ini milikku?" tanya Aditya.

"Milikmu? Hei, Adit. Kamu lupa kalau aku yang membeli apartemen ini? Aku yang membayarnya."

Aditya mendekat ke arah Carla dan berdiri tepat di hadapannya.

"Tapi apartemen ini kamu beli atas namaku, apa kamu melupakan itu, Sayang?"

Carla mengepalkan tangannya, dia merasa bodoh karena selama ini percaya kepada Aditya. Bahkan saat Aditya menyuruhnya membeli apartemen dengan dalih, untuk tempat tinggal mereka kelak, dia menyetujuinya tanpa melihat atas nama siapa apartemen itu di beli.

"Jadi kamu sudah merencanakan semua ini sebelumnya?" tanya Carla.

"Sebenarnya tidak, karena aku pikir aku masih bisa menguras hartamu dengan menikahimu. Tapi ternyata takdir berkata lain, keluargamu jatuh miskin. Dan untungnya waktu membeli apartemen ini, aku menyetujui saran dari Devi untuk membelinya atas namaku. Jadi apartemen ini sepenuhnya milikku," jawab Aditya.

"Terimakasih ya Sayang, karena memberiku kenang-kenangan yang mewah ini." Aditya merentangkan tangannya, tentu saja dengan senyum penuh kemenangan.

"Sejak kapan kalian mulai menjalin hubungan di belakangku?" tanya Carla lagi.

"Sudah hampir 3 tahun," kini giliran Devi yang menjawab. Dengan tidak tahu malunya, Devi yang masih polos menghampiri Aditya. Mereka menunjukkan ciuaman panas mereka di hadapan Carla.

Carla memejamkan matanya sebentar, kepalan tangannya semakin kuat. Dia benar-benar tidak tahan melihat dua mahluk menjijikkan di hadapannya.

Sebelum pergi Carla melayangkan bogem mentah kepada dua orang yang masih asik melakukan ciuman panasnya.

"Itu hadiah terakhirku untuk kalian," ucap Carla. Kemudian dia keluar dari kamar Aditya.

*****

Carla berjalan tak tentu arah di bawah guyuran hujan, hidupnya berubah drastis setelah kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya. Mulai dari mobil dan rumah yang di sita oleh bank, dan sekarang dia harus melihat penghiatan yang di lakukan oleh kekasihnya, terlebih penghianatan itu di lakukan dengan sahabatnya sendiri.

"Kenapa Tuhan, kenapa Kau beri aku hukuman seberat ini? Kenapa?" Carla berteriak.

Hari ini Carla merasa menjadi orang bodoh, karena tidak mengendus penghianatan yang di lakukan oleh Aditya dan Devi. Dia berjongkok di tepi jalan raya dan menelungkupkan kepalanya pada kedua lututnya. Dia menangis, meratapi hidupnya yang terlihat memilukan. Namun tangisnya berhenti saat dia merasa ada orang yang memayunginya.

Carla mendongak dan menatap orang yang memayunginya.

"Kamu ...."

Terpopuler

Comments

Kenzi Kenzi

Kenzi Kenzi

aska seorang tuan muda konglomerat

2022-05-13

0

Tri

Tri

sakit tau 💔💔💔💔
aska pasti itu,scra diakan harus selalu disamping carla meski gak dianggap

2022-04-04

0

Ririe Handay

Ririe Handay

kalo ga gitu kamu ga bakal percaya carla

2022-03-30

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!