Embun terdiam saat mendengar apa yang baru saja di katakan Rendra, cukup untuk ia mengerti saja.
Gadis itu menatap pria yang sedang melangkah masuk ke ruangan ganti, entah mengapa namun tiba-tiba saja dia ingin menangis.
Masuk ke dalam bath room, menguncinya dengan rapat, dia terduduk di balik pintu dan menangis.
Tuhan, mengapa hidup ini tak pernah adil untukku?
Berkali-kali dirinya mengusap air mata yang seakan tak mau berhenti mengaliri wajahnya. Kemudian dia beranjak dan segera mandi membiarkan gemericik air shower menyiraminya dari pucuk kepala hingga mengaliri ke sekujur tubuh.
Di wajahnya sudah tak terlihat lagi perbedaan antara air mata dan air yang baru saja membasahi sekujur tubuhnya.
Selesai mandi dia pun segera keluar dari bath room, terkejut saat mendapati pelayan yang sedang mengangkat kopernya menuju sebuah lemari biru yang entah kapan sudah ada di dekat tempat tidurnya.
Tilam lipat yang sudah tertata rapi di bawah jendela, lengkap dengan bantal dan selimut. Mereka masih dengan setia menggunakan handscoon untuk menghindari masalah yang mungkin saja bisa terjadi dengan tuan muda.
Sementara itu Rendra yang sudah memakai pakaian kasual sedang duduk di atas sofa yang ternyata sudah di beri cover baru. Sepertinya dia adalah penyumbang uang terbanyak di perusahaan cover.
"Apa yang kau lihat... cepat pakai bajumu," seru Rendra yang menatap malas padanya, dia menaikkan kakinya ke atas meja, "Lima menit waktu yang tersisa sebelum makan malam."
"Baik, tuan," dia melangkah menuju lemari biru yang sudah siap dengan semua pakaiannya yang tertata rapi, dia memilih selembar dress santai lalu membawanya ke ruangan ganti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tibalah waktunya untuk menyantap makan malam dimana mama, papa, dan Thalia sudah menunggu di ruang makan. Menanti kedatangan pasangan pengantin baru itu.
Keduanya baru saja tiba di ruang makan, lihatlah seperti apa caranya Thalia memandang kakak iparnya. Sinis dan dingin, kakak beradik itu memang sama.
"Sayang, ayo duduklah... sudah waktunya untuk menyantap makan malam," imbuh mama sembari tersenyum kepada menantunya.
"I- iya, terimakasih mama..."
Rendra diam dan menarik kursi disebrang meja istrinya, dia juga tak banyak bicara. Satu persatu dari mereka pun mulai menyendokan nasi dan lauk pauk ke piring masing-masing.
Menu makan malam pertama bagi Embun cukup mewah, namun bagi keluarga Wilson hal ini hanyalah makanan sederhana yang bisa dimakan siapapun juga.
"Rendra, bagaimana dengan keadaan kantor?" tanya papa disela makan.
"Berjalan dengan baik, pa."
"Lalu kapan kau akan menjadwalkan waktu untuk makan malam bersama utusan perusahaan Anola?"
"Dalam waktu dekat ini, pa, papa tidak perlu khawatir," masih fokus menyantap makanannya.
"Papa dengar utusan mereka adalah wanita muda, yang memiliki paras memabukkan," Rendra masih diam seolah tak peduli akan wanita lain, dia hanya menatap Embun yang ternyata sedang mencuri pandang padanya.
Aaaaaa... kenapa melihat ku seperti itu? Aku tidak akan marah hanya karena sesuatu seperti hal itu. Lagi pula, kita menikah juga karena sebuah perjodohan gila ini.
Embun dengan kuat mencoba menelan makanan di dalam mulutnya hingga ia tersedak, "Uhuk!"
"Laras? Kau kenapa sayang?" tanya mama dengan nada khawatir, mama bergegas menuangkan air putih kedalam gelas dan memberikannya kepada gadis itu.
Pookie, adalah nama panggilan Rendra untuknya. Dan, Laras adalah nama panggilan mama untuknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Aqiyu
Embun punya banyak nama
2022-05-15
0
Nurhayati Soamole
Nama yg aneh ya, mendingan nama Embun aja.
2021-12-08
0
Diana
embun jadi bingung sendiri...nama nya dlm satu rumah memanggil Laras dan pookie ...wkwkwk
2021-11-16
0