Mentari pagi telah menampakkan sinarnya di ufuk timur, cahaya menyeruak masuk melalui celah ventilasi kamar Embun, gadis itu masih enggan beranjak dari tidurnya. Masih ingin tidur, sepertinya.
"Engh..." dia memaksakan dirinya untuk duduk bersandar bantal, menguap lebar mungkin saja lalat akan masuk ke dalam mulutnya jika ia tak langsung menutup mulut dengan tangannya. Ngantuk, matanya terlihat tidak sehat itu semua disebabkan lemburnya semalam yang menembus sampai jam dua dinihari.
Ternyata ada banyak yang perlu direvisi bukan hanya sekadar nominalnya saja. Melihat jam Walker pun masih ada waktu satu jam lagi dari waktu yang telah ditentukan oleh managernya.
Drt... drt... drt...
Dia menoleh keatas nakas kemudian meraih gawainya, bergetar karena ada pesan yang masuk. Mungkin saja dari rekan kerjanya, tetapi ternyata bukan.
Notifikasi pesan dari nomor baru yang tidak ia ketahui, seingatnya dia tak pernah memberikan nomor hp kepada siapa-pun selain rekan kerjanya di satu divisi.
Cukup lama dia termenung hingga akhirnya dia terjaga saat gawai di tangannya berdering.
Pemilik nomor hp itu menelefonnya, "Selamat pagi nona, saya harap anda tidak lupa dengan suara saya."
Alister? Embun sejenak terdiam, "Iya tuan saya tidak lupa."
"Hari ini jam sebelas pagi saya akan mengantarkan nona untuk fitting gaun pengantin, saya harap nona bisa meluangkan waktu sebentar."
"Ya, tuan, akan saya usahakan."dia mencoba menahan suara sedihnya agar terdengar tegar.
Dan telefonnya pun terputus mungkin sudah menjadi hal yang biasa bagi orang-orang dengan kedudukan atas, saat lawan bicaramu belum selesai dan kau akan langsung mematikan telefonnya. Hm, mudah sekali hidupnya.
Embun begitu kesal dengan kelakukan sekretaris Alister, mereka berdua memang pria yang menyebalkan, sama, tidak ada bedanya.
"Semakin memikirkannya malah akan membuatku gila, lebih baik aku mandi. Atua, aku akan terlambat sampai di kantor dan manager akan meneriaki ku lagi."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini di rumah utama kediaman Raymond Wilson seperti biasa para pelayan ada yang disibukkan dengan pekerjaan rutinnya, ada yang sedang menyiapkan pakaian kerja tuan muda.
Di ruang ganti ada dua pelayan yang sedang memilihkan pakaian kerja tuan muda Rendra, mereka adalah pelayan An dan pelayan Yun.
Sementara tuan muda sedang duduk di sebuah sofa tunggal empuk berwarna cream bercorak bunga. Tak lupa, kedua kedua pelayan khusus itu memang dianjurkan bahkan di wajibkan untuk memakai sarung tangan. Semua pelayan di rumah ini memakainya.
Di samping sofa itu ada kepala pelayan, namanya pak Li, meskipun pria baya itu termasuk dekat dengannya namun dirinya juga tetap diwajibkan untuk menggunakan sarung tangan.
Tidak ada yang boleh menyentuh barang pribadinya, selain dia yang menyentuhnya dan atau bahkan jika ada yang berani menyentuhnya maka dia akan membuangnya dan menggantikannya dengan yang baru.
Dia, si pria gila bersih. Di tubuhnya masih melekat kimono mandi berwarna biru gelap, dia mengibaskan tangannya kesamping kanan dengan malas.
"Hei!" ketusnya memperingati An yang terlihat tidak serius dalam melayaninya, "Kau mau ku pecat?"
Dengan tangan yang saling meremas gemetar dia menundukkan kepalanya, takut, "Maafkan saya, tuan..."
"Keluar."
Mengira dipecat An langsung mengangkat wajahnya yang dipenuhi rasa khawatir, dia menatap pak Li yang kemudian mengangguk padanya. Turuti saja, itu yang terpancar dari manik tegas pak Li.
"Ba- baik tuan muda."
Sekarang tersisa Yun, dia masih mencari setelan tuxedo yang akan dipakai si tuan muda. Padahalkan yang mana saja bisa ia kenakan, orang tampan memakai apa pun akan tetap tampan.
"Tuan, bagaimana dengan tuxedo yang ini?" seru Yun sembari memeperlihatkan stelan tuxedo-nya yang berwarna abu-abu.
"Pak Li, bagaimana menurutmu? Apakah aku terlihat cocok memakainya?"
Pria baya dengan rambut tersisir rapi, ada sedikit kerutan tipis di ujung mata dan di garis senyumnya itupun mengangguk, "Tuan muda selalu pantas memakai pakaian bermerk," ya, itu benar kau memang harus memujinya agar tak terlibat masalah.
Rendra mengangguk, "Hm," kemudian menggerakkan telunjuknya meminta Yun mendekat dengan membawa setelan tuxedo di tangannya itu, "Kemari."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Ida Lailamajenun
jam weker kali Thor 😂
2024-02-25
0
Vera Wilda
emang ada ya Thor manusia SPT Rendra ? apa cuma d dunia novel aja ? 😊
2023-12-22
0
Maryeniroesyad Roesyad
pelayan buat mandiin kok ngak ada yaaa nanggung banget pelayannya,buat mandiin,buat pakein baju ,buat nyabunin
2021-12-12
1