Dua tahun pun berlalu, hari ini merupakan tepat satu bulan Embun bekerja di sebuah perusahaan ternama di ibu kota Jakarta, Brilian Group.
Tanpa mengetahui siapa CEO dari perusahaannya ini, Embun disibukkan dengan berbagai lembaran dokumen diatas mejanya.
Menumpuk, semakin lama semakin banyak mungkin ini merupakan salah satu penyambutan bagi anak baru di kantor.
"Hi Embun, tolong kau ambil alih ya... sudah jam dua belas, aku mau makan dulu."
Belum lagi tugas dari manager yang harus ia selesaikan, mau menolak tapi takut. Nyalinya menciut saat melihat jabatan mereka lebih tinggi darinya, dan juga sebenarnya takut di pecat.
"Em ya baiklah akan ku selesaikan, nanti, setelah pekerjaanku selesai."
"Ya terserah kau saja, asalkan setelah aku kembali nanti, semua berkas ku sudah harus selesai. Mengerti Embun sayang?" seru Ana terkekeh, ah senang sekali rasanya sudah begitu lama tidak mendapatkan mainan baru.
"Iya, An. Aku mengerti."
Embun menghela napas lega sesaat setelah Ana melenggang pergi darinya, diusapnya wajah dan juga dada dengan sabar.
Gawai di dalam lacinya bergetar, ada pesan masuk dari ibunya.
"Pulang tepat waktu, ingat jangan pergi kemanapun. Malam ini akan ada pertemuan dengan keluarga besar Wilson."
Ah, lagi-lagi dia di jodohkan. Bahkan tragedi dua tahun lalu itupun masih terngiang jelas di dalam benaknya.
Bayang-bayang masa lalu selalu menghantuinya sehingga membuatnya begitu takut untuk membuka lembaran baru, membina mahligai rumah tangga.
Terlebih lagi calon suaminya yang kali ini tak pernah ia lihat seperti apa wajahnya, apakah dia memiliki perangai yang baik atau malah sebaliknya.
Ibunya memang gila harta, jadi mungkin saja itu yang menyebabkan Agra tak menyukai mereka sehingga memilih untuk menceraikan Embun saat malam pertama mereka.
***
Akhirnya setelah menyelesaikan semua pekerjaan yang menumpuk tiba juga waktunya untuk pulang.
Jam kantor menunjukkan pukul lima sore, diatas kursi yang ia duduki, Embun meregangkan tubuhnya sejenak merelaksasikan otot-otot tubuhnya, "Engh..." lalu menghela nafas panjang, dia beranjak dari duduknya lalu menatap rekan kerjanya yang lain.
"Semuanya, sudah waktunya untuk pulang... aku pulang duluan ya." senyumnya perlahan sirna saat manager datang dengan wajah kesalnya.
"Pulang, pulang, ... pulang!" dia membentak kuat membuat Embun terhentak kaget, dan mundur beberapa langkah.
Sebuah map cokelat bergaris hitam itu ia lemparkan tepat mengenai dada Embun, "Selain pulang apakah tidak ada lagi yang kau pikirkan, hah!"
Semuanya terdiam, kecuali Ana, dia menyeringai senang.
"Ma- manager, apa salah saya?" tanya gadis itu dengan nada bergetar.
"Laporan itu kau yang mengerjakannya, kan? Memangnya kau itu tidak punya otak hah! Bagaimana bisa kau menukar nilai kontrak yang seharusnya. Jika sekretaris tuan muda tak meneliti, kau pikir kau sanggup untuk mengganti rugi semua kerugiannya?!"
Manager wanita berbadan setengah gemuk dengan kacamata bingkai tebal itu sejenak menghela napas kasar, sedang berusaha menyeimbangkan antara detak jantung dan napasnya.
Kemudian dia membenarkan posisi kacamatanya lalu menuding wajah Embun, "Perbaiki itu semua, besok pagi sebelum jam sembilan sudah harus ada di mejaku."
Embun mengangguk bahkan dengan tangan dan kedua kakinya yang gemetaran, bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal se-ceroboh ini.
Dengan sedikit keberanian dia menatap rekan kerjanya yang sedang menunduk, begitu pun juga dengan Ana yang mendadak menunduk saat edaran mata Embun menjangkaunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Ida Lailamajenun
pantesan emak nya embun ngamuk" embun dicerai pas MLM pertama ternyata sang menantu ATM berjalan nya.emak gak ada otak nih nama nya selalu jual anak ke org kaya
2024-02-18
0
Vera Wilda
tokoh utama selalu jd objek menderita 😊
2023-12-21
0
Indri Ani40
mmmm Di kerjain senior nihhh.. sabar embun
2023-01-18
0