Pintu pun terbuka lalu keduanya bergegas masuk ke dalam ruangan, semua yang ada di tempat duduk masing-masing, mereka memiliki kedudukan. Seketika nyali Embun menciut, dia masih menggenggam amplop itu dengan erat.
"Manager?" bisik nya kepada Alma.
"Tenanglah, ayo duduk ... sebentar lagi CEO akan datang," Alma menarik kursi yang ada di depannya. Begitupun juga dengan Embun yang segera duduk di samping managernya.
Dingin, tapi bukan karena empat AC yang menyala melainkan rasa dingin itu ia dapatkan dari tatapan orang-orang yang ada disekitarnya dan hal itu membuat Embun merendah tak percaya diri.
"CEO datang," seru seseorang memberitahukan agar mereka berdiri untuk memberikan salam hormat padanya.
"Selamat pagi tuan muda," mereka semua menjawab serentak saat tuan muda masuk melangkahkan kakinya dengan dingin, dibelakangnya ada sekretaris Alister yang selalu setia mengikuti langkahnya.
Wajah mereka menunduk belum berani mengangkat pandangan jika belum ada aba-aba.
"Duduk," perintah Rendra.
Embun sedikit terkejut karena nyatanya suara berat itu tidak asing di kedua telinganya, tapi ya sudahlah karena di perintahkan untuk duduk maka dia ikut saja.
Setelah duduk di kursi masing-masing barulah gadis itu perlahan mengangkat pandangannya, lurus dari tempatnya duduk berhadapan dengan tuan muda yang duduk di sebrang meja.
Kedua matanya membulat saat melihat tuan muda itu menyeringai, bahkan kali ini dia lebih gugup ingin pulang saja rasanya.
Di bawah kolong meja itu kakinya gemetaran, Jadi dia adalah CEO di perusahaan ini? Jika dia tahu aku melakukan kesalahan pada nilai kontraknya, bagaimana? Apa yang akan dilakukannya padaku?
Bibirnya memucat, dia memang tak tahu hal gila apa yang akan dilakukannya secara fisik. Namun, dari perkataannya saja sudah sangat menyakitkan.
"Kau sudah menemukan siapa orang yang telah menukar nilai kontraknya?"
Pertanyaan itu ia ajukan kepada Alister, namun dengan polosnya Embun berdiri dari duduknya membuat semua mata tertuju padanya.
"Sa- saya yang melakukannya Tu- tuan muda," gemetar- gemetar tangan dan kakinya pun dingin, "Tolong maafkan saya yang sudah ceroboh," menunduk hormat.
Rendra mengibaskan jemarinya ke udara, "Kalian tunggu di luar, selain dia," telunjuknya menuding tepat di wajah Embun.
Mereka semua mengangguk menuruti apa yang dikatakan CEO barusan, saat Alma beranjak dari duduknya seketika itu juga Embun menoleh kecil padanya.
Tatapan matanya seolah sedang meminta pertolongan, namun itu adalah konsekuensinya dan tak bisa melibatkan siapapun dalam urusannya.
Ruangan sudah sepi hanya ada mereka bertiga saja, Alister masih berdiri di belakang tuan mudanya, menatap lurus kearah Embun tanpa berkedip.
Decitan kursi yang terdorong membuat Embun mulai gelagapan dia ingin segera lari dari tuan muda. Namun langkah kakinya terdengar semakin mendekat.
Dekat, dan dekat hingga akhirnya tuan muda Rendra menjangkaunya. Dia duduk di atas meja berhadapan dengan Embun.
Gadis itu langsung menelan kuat, sontak memejamkan matanya dengan erat saat tangan pria itu terulur untuk meremas ujung rambutnya.
Satu kata, "Kotor."
Alister datang, Dia memberikan handsanitizer kepada tuan muda untuk membersihkan tangan. Hening sesaat hingga akhirnya Embun perlahan mulai berani membuka kedua matanya, manik cokelatnya menatap manik hitam tegas Rendra.
"Sepertinya kau tidak membaca apa saja yang harus kau lakukan nanti setelah menjadi istriku, berapa kali kau harus mencuci tangan, memastikan diri agar selalu bersih. Kau tidak mengerti dengan bahasa yang dituliskan kedalam lembaran itu? Atau kau tidak mengerti bahasa manusia?!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
ponakan Bang Tigor
woo, santai ngab. hais sebell
2022-10-30
2
Nurwana
bisa bisa embun langsung semaput..,.
2022-08-27
0
Ismu Srifah
wow
2022-07-29
0