Di dalam hutan lebat yang hanya bercahayakan sinar bulan, Liu Bai, Zhou Ming dan murid rendahan lainnya sedang berlari menjauhi wilayah sekte Daun Tua.
"Hei, Saudara Zhou, kita sudah berlari cukup jauh. Apakah kita tidak bisa beristirahat untuk sebentar saja? Aku rasa kita sudah aman. Kami sudah mulai kelelahan." ungkap salah satu murid rendahan.
"Belum cukup! Terus gerakkan kaki kalian! Bukankah kita sudah membulatkan tekad untuk melakukan pelarian ini?! Jika kita beristirahat sebentar saja, aku takut kita akan menyesalinya. Tapi jika memang kalian bersikeras untuk beristirahat, silahkan saja! Aku tidak akan menghentikan kalian yang ingin beristirahat. Jadi mulai sekarang aku tidak mau lagi mendengar ada keluhan. Berlarilah sampai kalian merasa ingin mati!" ujar Zhou Ming kepada murid rendahan lainnya dengan perasaan gelisah.
'Apa yang di katakan oleh Zhou Ming memang benar. Kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu sedikit pun selama pelarian ini. Selama pelarian ini berlangsung, aku memiliki firasat yang tidak bagus. Jadi, sebisa mungkin aku akan mengerahkan seluruh tenaga yang ku miliki sampai batasnya untuk pelarian ini. Terlihat sangat jelas bahwa Zhou Ming sangat gelisah. Aku yakin dia pasti juga merasakan perasaan yang tidak bagus. Karena itulah dia bersikeras untuk memberitahukan pada murid rendahan lainnya untuk tidak bernafas lega sebelum pelarian ini benar-benar berhasil di lewati.' gumam Liu Bai di dalam hatinya. Liu Bai bergerak di barisan paling depan tepat di samping Zhou Ming.
Tak lama kemudian, terlihat semakin lama beberapa murid rendahan mulai terengah-engah saat bergerak.
"Hei, apa kalian tidak lelah? Aku benar-benar lelah dan sudah tak sanggup lagi melanjutkan pelarian ini." ungkap salah satu murid rendahan yang berada di barisan paling belakang dan mengajak murid rendahan lain yang berada di dekatnya untuk berbicara.
"Tentu saja aku lelah. Mana ada yang tidak lelah setelah berlarian cukup lama tanpa beristirahat." Salah satu murid rendahan lainnya membalas perkataannya.
"Bagaimana jika kita beristirahat sebentar?" Salah satu murid rendahan yang memulai pembicaraan itu mengajak murid rendahan lainnya.
"Bukankah Saudara Zhou sudah mengatakannya? Kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu sedikit pun." Murid rendahan lainnya itu membalas perkataannya.
"Hei, ini hanya sebentar saja. Apakah kau mau mati kelelahan? Lagi pula kita mengikuti Zhou Ming bukan berarti kita harus melakukan apapun yang di katakan olehnya. Bukankah barusan Zhou Ming membiarkan siapapun yang ingin beristirahat untuk beristirahat? Bagaimana menurut kalian?" Salah satu murid rendahan yang pertama kali memulai pembicaraan itu mencoba meyakinkan murid rendahan lainnya yang berada di dekatnya.
Dalam keraguan, beberapa murid rendahan lainnya yang mendengar ajakannya berpikir sejenak dan melihat satu sama lainnya.
"Kau benar. Mungkin jika hanya sebentar saja itu tidak akan menjadi masalah. Bagaimana dengan kalian?"
"Baiklah. Sepertinya memang tidak masalah."
"Benar."
"Bagus sekali. Ayo!"
Kemudian, sebagian murid rendahan yang berada di barisan paling belakang memisahkan diri dari barisan.
"Dasar orang-orang bodoh." gumam Zhou Ming yang menyadari tindakan mereka.
"Saudara Zhou, perkataanmu yang sebelumnya telah membuahkan hasil." ujar Liu Bai kepada Zhou Ming.
"Ternyata kau menyadari perkataanku. Saudara Liu memang patut di puji. Walaupun sebenarnya aku tetap ingin memaksa mereka untuk berlari. Akan tetapi, aku yakin mereka tetap akan bersikeras untuk beristirahat. Dari pada menyia-nyiakan waktu meladeni mereka yang tidak menurut, lebih baik membiarkan mereka yang ingin beristirahat untuk beristirahat. Mereka yang telah keluar dari barisan akan berguna untuk memperlambat para Tetua sekte Daun Tua. Walaupun hanya sepersekian detik saja untuk memperlambat para Tetua, kita tidak boleh menyia-nyiakan nyawa mereka. Ayo percepat pergerakan kita!" ungkap Zhou Ming membalas perkataan Liu Bai. Liu Bai pun menganggukkan kepalanya menjawab seruan dari Zhou Ming.
Liu Bai dan Zhou Ming mempercepat pergerakan mereka berdua. Murid rendahan lainnya yang menyadari pergerakan dua orang yang berada di depan mereka sedang mempercepat pergerakannya, mereka pun mengikutinya tanpa adanya keraguan. Kemudian pergerakan mereka lebih cepat dari pada sebelumnya.
***
"Haaa... Tubuhku akhirnya bisa di istirahatkan." Satu murid rendahan duduk di batu besar tempat di mana sebagian murid rendahan yang memisahkan diri dari kelompok pelarian beristirahat.
"Terimakasih sudah menyarankan kami untuk beristirahat, Saudara Ma. Jika kita tetap melanjutkannya, kita pasti akan mati karena kelelahan." ungkap salah satu dari mereka.
"Tidak perlu sungkan. Aku hanya mengatakan kebenarannya tentang kesulitan kita. Kita sudah berlari cukup jauh dari wilayah sekte Daun Tua. Istirahat beberapa saat tidak akan membuat kita terbunuh. Aku sudah memperhatikan bagian belakang cukup lama. Akan tetapi aku tak melihat ada yang mengejar kita. Zhou Ming terlalu waspada." ujar Ma Yuixing, orang yang mengajak sebagian murid rendahan untuk beristirahat bersama-sama.
"Jika memang benar seperti itu, bukankah kita seharusnya sudah aman dan tak perlu berlari lagi? Aku tak ingin melakukan pelarian seperti itu lagi."
"Benar juga. Kita tak perlu berlari mati-matian lagi karena Saudara Ma mengatakan bahwa kita tak di ikuti dari belakang sama sekali. Kita dapat melewati hutan ini dengan berjalan saja sudah cukup. Hahaha..."
"Saudara-saudara terlalu memuji. Mungkin beberapa tarikan nafas lagi kita akan melanjutkan perjalanan ini." ujar Ma Yuixing kepada mereka semua.
"Seperti yang di katakan oleh Saudara Ma. Kita akan melanjutkan setelah beberapa tarikan nafas."
Begitulah tanggapan mereka semua terhadap situasi yang di alami. Tak ada sedikit pun ketakutan lagi dan hanya tertawa saat berbicara satu sama lainnya.
Setelah beberapa tarikan nafas, mereka mulai bersiap-siap untuk kembali bergerak.
"Baiklah. Kita akan kembali bergerak. Apakah saudara-saudara sudah beristirahat dengan cukup?" Ma Yuixing menanyakan keadaan yang lainnya untuk memastikan.
"Berkat Saudara Ma, kami sudah beristirahat dengan sangat baik. Terimakasih banyak." ungkap salah satu murid rendahan.
"Sebelum itu, bisakah kalian menungguku sebentar? Aku ingin pergi ke belakang. Aku sudah tidak sanggup menahannya." ujar murid rendahan lainnya. Mendengar perkataan itu, murid rendahan lainnya sadar dengan apa yang di katakan olehnya.
"Tentu. Tidak perlu terburu-buru. Akan sulit jika saudara terburu-buru saat mengeluarkannya. Hahaha..." Salah satu murid rendahan tertawa terbahak-bahak.
Kemudian murid rendahan itu bergegas pergi ke balik pohon. Di lain sisi, murid rendahan lain menunggunya.
Tak perlu menunggu lama, murid rendahan itu kembali.
"Haaa... Ini benar-benar melegakan. Maaf membuat kalian menunggu. Hm? Kenapa kalian memelototiku? Hei, kenapa wajah kalian ketakutan seperti melihat iblis? Ada apa dengan kali-..."
Garis lurus setipis benang terlihat di leher murid rendahan itu. Tak lain dan tak bukan, itu merupakan darah yang mengalir keluar dari kulit lehernya. Garis itu pun semakin lebar. Kemudian, kepala murid rendahan itu terlepas dari tubuhnya dan jatuh ke tanah. Darah yang berasal dari bekas potongan itu bercucuran ke mana-mana. Tak lama kemudian, tubuhnya pun jatuh dengan sendirinya ke tanah.
Murid rendahan lainnya yang sedang ketakutan itu di sebabkan oleh sesosok yang mengerikan yang tepat berada di belakang murid rendahan yang terpenggal itu. Tubuh mereka semua gemetar dan tak sanggup bergerak sedikit pun.
"Tidak ada ampun untuk kalian semua. Kalian sudah melakukan dosa karena telah berani kabur dari sekte Daun Tua ku. Padahal sekte Daun Tua ku sudah berbelas kasih membiarkan kalian tinggal dengan hidup kalian yang di gunakan untuk para murid berbakatku. Keberuntungan itu tidak bisa kalian dapatkan di tempat lain. Sekarang, untuk menebus kebaikan sekte Daun Tua yang telah di berikan kepada kalian sebelumnya, kalian akan membayarnya dengan nyawa kalian." ujar Xi Chuan yang sedang murka di hadapan para murid rendahan itu.
"Ti-Tidak! Aku tidak ingin mati!" Salah satu murid rendahan itu pergi menjauh dengan ketakutan yang menghantuinya setelah mendengar perkataan dari Xi Chuan.
Slash-!
Sejumlah Qi di lepaskan oleh Xi Chuan ke arah murid rendahan itu.
"Aaghhh...!"
Murid rendahan yang terkena serangan itu, kepalanya terpenggal di tempat. Murid rendahan lain yang menyaksikan tak dapat melakukan gerakan apapun selain rasa takut akan kematian yang menanti.
'Sial! Sial! Sial! Kenapa jadi begini?! Seharusnya aku mendengarkan apa yang di katakan oleh Zhou Ming. Bodohnya aku! Sekarang hanya kematian yang menungguku. Sialan!' gumam Ma Yuixing di dalam hatinya dengan perasaan penuh frustasi.
"Dua sudah tumbang. Sekarang adalah giliran kalian. Bersiaplah untuk menerima hukuman dari dosa yang telah kalian perbuat!" ungkap Xi Chuan kepada mereka yang tersisa.
"Aaahhhh...!"
Teriakan penuh pasrah dan putus asa dari Ma Yuixing yang sudah tak dapat berbuat apapun selain menerima kematian yang menantinya.
Slash-! Slash-! Slash-! Slash-! Slash-!
Serangan Qi yang di lepaskan oleh Xi Chuan mengakhiri hidup mereka. Potongan kepala dan darah berserakan di tempat itu.
"Dasar sampah yang tidak berguna. Sekarang hanya tinggal mereka yang berada di depan sana." ujar Xi Chuan.
Kemudian tanpa berlama-lama, Xi Chuan melapisi tubuhnya dengan Qi dan terbang menuju ke arah Liu Bai, Zhou Ming dan murid rendahan lainnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
alur cerita yg 👍 tapi pakai bahasa Indonesia saja tor 🙏
2023-08-31
0
Sampit
biar mati,,timbang hidup cuma dijadikan samsak
2023-04-15
0
Raimon
Ini sekte atau tempat penyiksaan....Pindah dulu ah...mumpung masih awal...
2023-02-06
0