“Sabrina ini adik-adikmu, Anjani dan Asmirah” wulan memperkenalkan kedua putrinya.
Anjani dan Asmirah menatap Sabrina, mereka bertiga hanya berdiri diam saling menatap.
“Ma...anak ini cantik ya. Kayak teman Anjani di sekolah yang di panggil cici” kata polos Anjani teringat dengan temannya yang keturunan cina.
Semuanya yang hadir di sana tersenyum dengan kepolosan anak-anak itu.
"Anjani, kamu harus manggil mbak padanya. karena Sabrina ini kakakmu sayang" kata Wulan.
"mbak..?" Anjani menatap ke arah Sabrina.
Kecantikan Sabrina membuat Cakra dan Wulan tidak habis pikir bagaimana Arman sampai hati menyiksa dan menyakiti Sabrina.
***
kecantikan Sabrina yang turunan dari Arman yang notabenenya adalah orang Korea, keluarga Arman telah lama tinggal di Indonesia. Ayah Arman mengganti nama mereka dengan nama keluarga Kusumo karena ke cintaan mereka dengan negara Indonesia.
Arman jatuh hati dengan Rianti pernikahan mereka di setujui oleh kedua keluarga. Arman dan Rianti pun menikah, setelah beberapa bulan pernikahan ayah mertua Rianti ayah Arman terpaksa kembali ke korea untuk meneruskan perusahaan mereka di negara korea. Sepeninggal kedua orang tuanya, sikap Arman mulai berubah.
Arman memutuskan semua komunikasi Rianti dengan keluarganya dan pindah ke Jakarta. Awalnya Adiwijaya berpikir positif tentang Arman, namun setelah 2 tahun Rianti tidak pernah sekalipun mengirim kabar membuat Adiwijaya geram. Berkali-kali dia mengirim orang untuk mencari keberadaan Rianti tapi hasilnya nihil.
Sampai suatu hari sebuah surat datang dari sebuah alamat di Jakarta yang menjelaskan jika Rianti telah kembali ke pangkuan Ilahi dan memiliki seorang Anak. Adiwijaya lantas menyuruh Andhini dan Wiyasa untuk memeriksa apakah benar atau tidaknya kabar dari surat itu.
Adiwijaya bernafas lega Sabrina kini berada dalam keluarganya. Dia sangat geram dengan keluarga Kusumo yang menutup mata atas apa yang menimpa cucunya. Tanpa di ketahui Adiwijaya, keluarga Kusumo pun tidak mengetahui apapun yang terjadi dengan Arman di Indonesia.
Arman sangat lihai dan pintar menutupi tindak tanduknya dari kedua orang tuanya. Mereka tidak mengetahui jika telah memiliki cucu dari Rianti, Arman hanya menceritakan jika dia telah menikah kembali dan memiliki 2 orang anak. Dia juga memberitahu keluarganya pindah ke Australia untuk mengembangkan perusahaannya di sana.
***
Andhini dan Wiyasa telah menyelesaikan semua surat surat penting Sabrina dan mengurus sekolah untuk Sabrina. Mereka lalu pulang ke kediaman Adiwijaya, mereka melihat ruang tamu yang terlihat ramai.
“assalamualaikum, Eh....ada tamu jauh rupanya. Kapan kamu tiba dek?” sapa Andhini kepada Cakra dan Wulan.
“Waalaikumsalam, tadi pagi mbak. Sudah selesai mas mengurus surat-suratnya?” tanya Cakra.
“Alhamdulillah dek, sudah selesai semuanya. Tinggal Sabrina memulai sekolahnya pekan depan” jelas Wiyasa.
“ ayo anak-anak salam dulu sama pak de dan buk de mu” wulan mengajak anak anaknya untuk menyalami Adhini dan Wiyasa.
Hari itu Adiwijaya sangat bahagia, seluruh keluarganya berkumpul di kediamannya. Adiwijaya sempat mengkhawatirkan Sabrina karena selalu mengasingkan diri dari para sepupunya, Araf cucu laki-laki tertua Adiwijaya pun berinisiatif mendekati Sabrina.
Sabrina yang awalnya merasa asing dan canggung dengan para sepupunya akhirnya begitu dekat dan tidak dapat di pisahkan. Mereka berempat sudah kompak dan saling sayang menyayangi. Andhini dan Wiyasa sangat bahagia melihat perubahan Sabrina, anak gadis yang pemurung kini telah menjadi anak yang ceria dan selalu tersenyum kepada siapa pun.
Setelah satu minggu keluarga kecil Cakra di Surakarta saatnya mereka kembali ke Jakarta, Araf, Anjani dan Asmirah tidak ingin pulang dan ingin menetap di kediaman wijaya. Merek tidak ingin meninggalkan Sabrina, segala bujuk rayuan di layangkan oleh Cakra dan Wulan namun tidak membuahkan hasil.
Sabrina merasa kasihan kepada pak lek dan buk lek yang kewalahan menghadapi saudara sepupu Sabrina.
“Mas Araf dan adik adik jangan sedih. Kita kan bisa teleponan kalo kangen” sabrina ikut membujuk saudara sepupunya yang membuat kedua orang tua mereka kewalahan.
“Nggak seru sabrina, kita kan juga pengen main sama kamu” kata Araf
“Pa, ajak saja Sabrina ke Jakarta. Biar Sabrina sekolah di sana saja” kata Araf memberi ide.
“Nggak bisa sayang, kan adikmu ini sebentar lagi harus masuk sekolah” kata Cakra.
“Kalo sabrina kamu bawa, eyang sama siapa? Kamu nggak kasian sama eyangmu ini?” kali ini Adiwijaya ikut bicara.
“Kalo gitu Araf sekolah di sini saja, biar bareng sama Sabrina. Ntar yang jagain sabrina siapa kalo ada yang jahatin dia” kata Araf
Andhini, wiyasa, adiwijaya, ningsih ,cakra dan wulan menghela nafas panjang.
“Kalo mas araf sekolah di sini, Anjani juga mau sekolah di sini” kata Anjani sambil memeluk sabrina.
“Adek juga mau di cini cama mbak cablina” kata Asmirah yang masih cadel ikut memeluk Sabrina.
Semuanya serentak menggeleng gelengkan kepala melihat ke kompakkan dan ke akraban keempat anak anak itu.
Dalam hati Sabrina sangat senang dan bahagia, masih ada keluarga yang tulus menyayanginya.
“mas Araf katanya mau jadi tentara, jadi mas harus pulang buat mewujudkan cita cita mas. Kalo Sabrina kangen mas dan adik adik, sabrina akan telepon mas. Saat liburan sekolah mas dan adik adik bisa main ke sini atau Sabrina yang akan main ke Jakarta, gimana?” sabrina memberi ide untuk membantu para orang tua yang sudah kewalahan menghadapi mereka.
Akhirnya, Araf dan adik adiknya setuju dengan ide Sabrina membuat para orang tua bernafas lega. Setelah berpamitan, Cakra dan wulan masuk ke dalam mobil yang membawa mereka ke bandara.
“Ibu, saat liburan nanti sabrina boleh kan ke tempat mas Araf dan adik adik?” tanya Sabrina pada Andhini.
Adiwijaya, Ningsih, Wiyasa dan andhini terkejut saat Sabrina memanggil andhini dengan panggilan ibu. Andhini berlutut menyamakan tingginya dengan Sabrina
“sabrina, kamu bilang apa tadi?” tanya Andhini tidak percaya.
“Sabrina bolehkan main ke jakarta. Ke rumah mas Araf saat liburan nanti?” tanya Sabrina.
“Bukan...bukan yang itu. Kamu memanggil bibi apa tadi?” tanya Andhini.
Sabrina menatap Andhini yang terlihat kurang senang saat dia memanggilnya ibu.
“maafkan sabrina bi. Sabrina ingin seperti mas Araf dan adik adik, punya papa dan mama. Jadi sabrina memanggil bibi ibu dan paman bapak” kata Sabrina menundukkan kepalanya takut dengan kemarahan yang akan dia terima.
Andhini yang sudah begitu lama mendambakan anak sontak memeluk Sabrina dengan erat. Hatinya begitu bahagia saat Sabrina memanggilnya ibu, begitu pun Wiyasa langsung memeluk istrinya dan Sabrina.
“sayang, terima kasih, terima kasih. Bapak dan ibu sangat bahagia, terima kasih kamu sudah mau menerima kami sebagai orang tua mu” kata wiyasa.
Adiwijaya dan ningsih tersenyum senang dan bahagia. Mereka bersyukur putri kedua mereka diberi kesempatan menjadi seorang ibu walaupun Sabrina tidak di lahirkan dari rahim Andhini.
*************
terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
jangan lupa juga kasih rate nya ya....😊😊😊
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 252 Episodes
Comments
istri para gepeng
terhura bjir
2024-05-25
0
Quen
Kalau sifat nya dibikin lemah terus nanti pas gede ya ketemu mereka lagi malah akan makin sengsara si sabrina
2024-04-26
0
Anna Inaq Winda
othor jahat pagi² dari awal cerita udah bikin mewek.
2024-04-22
0