Ya Allah, sungguh keterlaluan mas Arman andini menangis mendengar perkataan Sabrina.
“Sabrina, kamu sekarang di rumah eyang kakong dan eyang putri. Tidak akan ada yang menghukum kamu di sini” wiyasa membelai rambut Sabrina, dia lalu memegang kening Sabrina yang hangat.
“Sabrina, kamu jangan lagi tidur di lantai. Sekarang badan kamu panas karena tidur di lantai” jelas Wiyasa.
Andhini membelai wajah Sabrina yang mulai pucat,
“Dek ambilkan paracetamol dan buatkan teh hangat untuk Sabrina. Biarkan dia beristirahat” kata Wiyasa
“Baik mas” andhini melangkah keluar kamar menuju dapur.
Di Dapur Andhini bertemu dengan ibunya Nigsih Wulan Adiwijaya yang baru selesai shalat subuh dan akan membuat sarapan pagi di bantu oleh mbok Darmi pembantu di kediaman Adiwijaya.
“ Udah pulang kamu nduk?” tanya Ningsih.
“Udah bu, jam dua pagi tadi.” Andhini menyalami ibunya.
“syukur Alhamdulillah kamu dan Wiyasa sudah pulang. Lalu bagaimana kabar cucu ibu? Kenapa kamu balik cepat sekali nduk?”
“Bu, ada sesuatu hal yang harus Andhini dan mas Wiyasa bicarakan dengan ibu dan bapak”
“baiklah selesai kalian shalat subuh, ibu dan bapak menunggu kalian di ruang keluarga”
“Baik bu” andhini selesai membuat teh hangat dan membawanya ke kamarnya.
Sabrina di bantu andhini meminum obat dan teh hangat. Dia kembali tertidur, badannya terasa sangat panas. Andhini lalu menyelimuti Sabrina dengan selimut tipis. Wiyasa baru selesai membersihkan diri dan berwuduk lalu memakai baju koko yang telah di sediakan Andhini.
Andhini masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu Andhini shalat berjamaah bersama suaminya.
Mentari pagi perlahan lahan muncul dengan sinarnya yang menghangatkan di kota Surakarta.
Adiwijaya dan Ningsih sedang duduk di ruang keluarga, mbok Darmi datang membawakan teh pagi dan beberapa cemilan. Pak Slamet datang membawakan Koran pagi untuk Adjiwijaya.
Andhini dan Wiyasa menemui orang tua mereka di ruang keluarga. Mereka berdua lalu duduk di sofa yang tersedia.
“Kapan kalian pulang nduk” tanya Adiwijaya pada Wiyasa dan Andhini.
“Jam dua tadi pagi pak, alhamdulillah semua urusan di Jakarta sudah beres berkat bantuan Adik Cakra pak ” kata Wiyasa.
“Tadi ibumu bilang ada hal yang ingin kalian sampaikan” Adiwijaya melipat koran dan meletakkannya di atas meja.
“Bapak, ibu. Kami sudah ke rumahnya Mas Arman, dan..” Wiyasa langsung menceritakan apa yang terjadi di rumah Arman dan bagaiman Arman memperlakukan Sabrina. Ningsih sangat terkejut dengan apa yang di dengarnya, air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya.
“Astaghfirullah hal adzim, aku tidak pernah menyangka jika Arman akan berprilaku seperti itu. Walaupun hubungan kami dengannya tidak baik, tapi dia sangat menyayangi Rianti” Adiwijaya tampak geram dan kecewa.
“Mas Arman juga telah menikah lagi pak, dan istri keduanya juga memperlakukan Sabrina dengan tidak baik” kata Andhini
“di mana Sabrina sekarang nduk?” tanya Ningsih
“ Dia sedang istirahat di kamar kami bu” kata Wiyasa.
Sabrina menurunkan kakinya dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya untuk mencari kamar mandi. Sabrina yang baru di sana tidak tahu di mana letak kamar mandi, di membuka pintu kamar Andhini dan berjalan keluar kamar.
Mata indah Sabrina menatap ke sekeliling rumah hingga di tidak sadar berjalan menuju ruang keluarga.
Andhini melihat Sabrina menghampiri ruang keluarga,
“Sabrina....” panggil Andhini langsung menghampiri Sabrina.
Adiwijaya dan Ningsih melihat ke arah gadis kecil cantik yang di hampiri Andhini.
“Sayang, kenapa kamu bangun?” tanya Andhini lembut
“Sabrina ingin ke kamar mandi bi” bisik Sabrina pada Andhini.
Andhini tersenyum dan menggandeng tangan Sabrina, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi terdekat dari ruang keluarga.
“Wiyasa...itu” Ningsih antusias saat melihat Sabrina.
“Iya bu, dia Sabrina. Namanya Sabrina Zalfa Kusu....” wiyasa terdiam sejenak.
“Ada apa Wiyasa? Kenapa kamu diam” tanya Adiwijaya.
“Maaf pak, dengan sikap mas Arman yang seperti itu membuat Sabrina tidak menyandang nama keluarga ayahnya. Karena mas Arman tidak mengizinkan Sabrina untuk menyandangkan nama keluarga di namanya” kata Wiyasa.
Adiwijaya sangat marah dan geram dengan perlakuan Arman terhadap cucunya.
“Biarkan saja Wiyasa. Nanti kamu ke kelurahan untuk mengurus surat surat Sabrina. Sandangkan nama Adiwijaya di nama cucuku. Mulai hari ini namanya adalah Sabrina Zalfa Adiwijaya” kata Adiwijaya yang marah.
“Baik pak, wiyasa secepatnya akan mengurus surat surat Sabrina” kata wiyasa.
Ningsih melihat suaminya yang tampak kesal dan marah langsung menenangkannya.
“Pak tenanglah, lihat cucu kita kemari. Jika dia melihat bapak marah marah seperti inj, dia akan ketakutan” ningsih menenangkan suaminya saat Sabrina datang menghampiri bersama Andhini.
Andhini mengajak Sabrina untuk menyalami Adiwijaya dan Ningsih
“ Sayang, ayo salam sama eyang kakong dan eyang putri” kata Andhini.
Sabrina melihat kearah Adiwijaya terlihat kesal, dia lalu bersembunyi di belakang Andhini.
“Loh, Sabrina kenapa kamu sembunyi nduk? Ayo salam sama eyang, Sabrina anak baik kan” ajak Andhini.
“nah lo betul kan kata ibu, pak!!! sudah redam rasa marah dan kesal bapak. Apa bapak nggak kasian sama cucu yang sudah ketakutan liat bapak” protes ningsih.
Adiwijaya melihat Sabrina bersembunyi di belakang Andhini, senyumnya terkembang saat melihat wajah cantik Sabrina seperti boneka.
“Aduuh cucu eyang, jangan takut nduk. Sini duduk sama eyang putri” ningsih menghampiri Sabrina yang masih bersembunyi.
Sabrina mulai keluar dari persembunyiannya melihat Ningsih yang memanggilnya dengan penuh kelembutan. Dia mulai menghampiri Ningsih dan menyalaminya, setelah itu dia menghampiri Adiwijaya untuk menyalaminya.
“Sini nduk, duduk samping eyang kakong” kata Adiwijaya, Sabrina menatap Adiwijaya ada rasa ragu dan takut terlihat di wajahnya.
“Jangan takut sayang, ayo duduklah di samping eyang” kata Andhini.
Sabrina duduk di samping Adiwijaya, matanya terus melihat ke arah eyangnya.
“Ayo sabrina cucu eyang, coba kamu panggil eyang” kata Adiwijaya
Sabrina tetap diam lalu matanya kembali menunduk melihat kearah lantai. Perlahan lahan sabrina berdiri lalu mendekati Andhini, tangan mungilnya mencengkram baju syar’i Andhini dengan kuat. Seolah tidak ingin terpisah
“Bi...Sabrina mau ketemu papa” bisik Sabrina pada Andhini.
Adiwijaya, Ningsih dan Wiyasa menatap ke arah Andhini tampak begitu kebingungan.
“Ada apa dek?” tanya Wiyasa.
“Sabrina ingin pulang mas, dia bilang ingin bertemu dengan papanya” Andhini kebingungan tidak tahu harus menjelaskan bagaimana pada ponakannya.
Adiwijaya sedih melihat nasib cucunya yang telah di buang oleh ayah kandungnya sendiri. Air mata Ningsih kembali menetes mendengar ke inginan dari cucunya.
“Sabrina cucu eyang, ayo ikut eyang” Adiwijaya bangkit dari duduknya, mengulurkan tangan untuk mengajak Sabrina mengikutinya.
Sabrina masih memegang baju Andhini, matanya menatap ke arah Adiwijaya lalu melihat ke tangannya. Andhini ikut membujuk Sabrina untuk mau ikut bersama Adiwijaya. Tangan sabrina meraih uluran tangan Adiwijaya mengajaknya berjalan jalan pagi di sekitaran daerah kediaman Adiwijaya.
Wiyasa juga mengajak Sabrina untuk konseling mengatasi trauma yang di dapatnya sedari kecil. Terkadang di saat Sabrina tidur, dia sering mengigau ketakutan.
“Ampuuun pa...ampuuun pa... Jangan pukul lagi pa. Sabrina janji....aaammmpuuun “ igauan Sabrina membuat siapapun mendengarnya dapat merasakan beban yang harus di pikulnya sendiri.
***
Hari berganti hari bulan berganti bulan, keluarga Adiwijaya sangat menyayangi Sabrina. Walaupun belum sekolah, Sabrina memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Baru beberapa hari tinggal di kediaman Adiwijaya, Sabrina sudah mengerti dan fasih menggunakan bahasa jawa. Tidak hanya itu, Adiwijaya membayar seorang guru les untuk Sabrina bisa home schooling mengejar ketinggalannya.
Sang guru pun takjub dengan kepintaran Sabrina, hanya dalam hitungan menit sabrina berhasil menyelesaikan semua pertanyaan yang di ajukan guru les itu.
Guru itu pun menyarankan untuk membiarkan Sabrina masuk sekolah terbaik di kota Surakarta.
Suatu hari putra bungsu Adiwijaya, Cakra Adiwijaya datang dari Jakarta memboyong keluarganya mengunjungi kediaman Adiwijaya.
*************
terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
jangan lupa juga kasih rate nya ya....😊😊😊
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 252 Episodes
Comments
Mas Jono
sumpah,,,aku menangis membaca cerita ini,,,karena anak perempuan ku yang baru berusia 3 tahun juga bernama SABRINA,,,mudah mudahan,,,setelah bersama keluarga mendiang ibu nya,,,Sabrina senantiasa merasakan kebahagiaan,,,😭😭😭😭😭😭
2024-05-28
0
Qiza Khumaeroh
sabrina kmu hrus bhagia wlau bukn sma org tuamu tp kluarga ibumu tulus menyayangimu menggantikn ibumu,,
2021-01-16
4
{{Believe in Yourself}}
semangat thorrr.
2020-12-16
0