Chapter 19

GUBRAAAKKKKKK……DDUUUAAARRR……

Saya jatuh tersungkur ke belakang karena kagetnya. Tangan kanan saya memegang dada secara reflek. langsung saya berdiri dan mencoba memaksa untuk membuka pintu tersebut. Pintu tekrunci dengan sendirinya meskipun saya coba dobrak dengan meja dan kursi. Lampu yang terang tiba-tiba meredup secara perlahan. Saya reflek berkata

“ TOLONG…………….TOOLONG……… ( sambil gedor-gedor pintu dari dalam ) “

Tak ada yang menyambut suara saya dari tadi. Dalam keadaan kepept ,tiba-tiba saya kepikiran untuk menelepon Rania , barangkali dia mengetahui ruangan ini kenapa terkunci secara tiba-tiba.

TUUUTTTT………………TUUUUTTT…………….TTTTUUUUUTTTT…..TTTUUUUUUTTTTT…

Nada dering berbunyi sebanyak 3 x tapi juga tidak di angkat. Sampai akhirnya panggilan yang kelima dan di angkat.saya bicara

“ mbak Rania……………tolong saya…….saya terjebak di ruangan perawat ini ( dengan menjelaskan deskripsi isi dari ruangan tersebut) “

Mendengar saya bilang seperti itu , rania tak membalas apa-apa dan langsung menutup panggilan tersebut. Saya telpon berkali-kali juga tidak menjawab.

DAAAASSHHHHH…………..

Terdengar lampu tiba-tiba pecah dan mati. Saya berjalan mundur , mepet ke tembok dan melihat ke bawah. Suasananya gelap gulita ketika itu. Tak satupun cahaya yang muncul. Saya mencoba menyalakan hp. Tapi anehnya , HP saya juga tidka bisa menyala , padahal batterai pas telepon rania masih sekitar di atas 50 persen. Jantung terus berdegup kencang namun tak bisa berbuat apa-apa. Dari telinga kanan saya terdengar

KRREEKKK……………..KKKRRRREEEEKKK……………KKKKRRREEEEEEKK…

Suara meja dan kursi terseret sesuatu. Saya tetap diam saja tak berbuat apa-apa. Sampai suatu saat saya capek dan berteriak

“ APA MAU KALIAN……….SAYA DISINI TAK MENGGANGGU KALIAN……….. CEPAT PERGI DARI SINI… “

Meskipun saya berteriak lantang ,tapi dengan nada dan badan yang gemetaran. Berapa saat ketika saya berteriak. Suara seretan meja dan kursi itu menghilang. Hati yang awalnya gemetar hebat sejenak menurun dan tenang. Kaki yang dari tadi terus gemetaran akhirnya menyerah dan lelah. Dari awalnya berdiri ,akhirnya saya duduk lesehan di lantai sambil menunggu harapan ada yang menolong. Dalam pikiran tiba-tiba muncul bagaimana keadaan Adiatma ,langsung saya mengambil HP di kantong kana saya dan ternyata masih mati juga dan menyoba dinyalakan tetap gagal.

CEEESSSHHH……………..CEESSHHH…

Suara sower dan air dari kamar mandi menyala tanpa ada yang menyalakan. Saya reflek menoleh e kanan karena kamar mandi ada di kanan saya.dalam hati berkata

“ apa lagi ini……mengapa mereka berusaha untuk menganggu saya “

Diem dan memejamkan mata yang saya lakukan untuk menahan rasa takut. Berdiri dan berjalan untuk melihat ke kamar mandi tentang apa yang terjadi. Tenryata air sudah mati dan tak terlihat lantai kamar mandi basah padahal sudah jelas yang tadi adalah suara shower air kamar mandi. Dari pintu depana da suara seperti kayu bergoyang , semakin lama semakin kencang dan

GUBRAAKKKK…….DUUUAAAR…

Pintu terbuka dengan lebar dan itu adalah Rania yang datang. Dia berkata

“ Govi……………..dimanaa kamu………. Ayo cepat keluar “

Saya langsung melihat kea rah Rania dan berlari kesitu. Sambil saya bicara pada Rania

“ Terima kasih Rania………..terima kasih banyak….. ayo kita keluar dari tempat aneh ini “

Kami berdua langsung keluar dan dan membiarkan pintu ruang perawat itu terbuka. Rania mengajak saya untuk keluar rumah sakit. Tapi sebelum mencapai pintu depan rumah sakit, saya menarik Rania dan bilang

“ Adiatma……… sendirian.. tidak mungkin saya meninggalkannya disini…. Tunggu saya untuk menjemput Adiatma “

Rania menjawab

“ Tidak apa-apa… Adiatma biar berisitrahat disni….ada sesuatu hal penting yang perlu kamu tahu.. agar kita semua bisa selamat dari kejadian ini “

Saya membalas kembali

“ tidak mungkin saya meninggalkan Adiatma sendirian… “

Tanpa berpikir panjang saya menggandeng tangan Rania dan menyeretnya untuk ikut ke kamar Adiatma. Ketika berlari menuju lorong yang biasa kami lewati. Lorong itu terasa tidak ada habisnya. Panjang sekali sampai saya berhenti dan berpikir apakah saya salah jalan. Saya berputar-putar mencari kamar Adiatma tapi juga tidak kunjung ketemu padahal seharusnya tempatnya di pojok lorong ini.

Rania yang tadinya terdiam langsung besuara

“ Gov….sepertinya hal yang kita alami hari ini adlaah kejadian 20 tahun yang tak alami. Ayo cepat segera tinggalkan temapt atau kita tidak akan pernah bisa untuk menyelamatkan temanmu “

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!