awalnya saya ngira dia hanya menggoda saya karena dia tau saya orangnya penakut , tapi lama-kelamaan wajahnya terlihat pucat sekali dan bulu kuduknya berdiri.. akhirnya kami pun saling tatap-menatap tanpa bergerak sedikitpun seperti terpana karena rasa ketakutan kami. Tak ada dari kami yang berani menoleh ke jendela. Selang beberapa menit , kami bersama-sama mendengar ada suara
SREEEKKKK…….SRREEEEKK……..SRRREEEEKKK…….
gorden jendela tiba-tiba bergerak sendiri seperti tertiup angin , padahal jendela tadi tertutup rapat dan gak mungkin ada angin yang masuk. Adiatma pun langsung bergerak menekan tombol uNTUK memanggil perawat sekitar jam 04:50 WIB. Berkali-kali dipencet namun emngapa seperti tidak ada tanggapan , padahal sudah menunggu sekitar 10 menit setelah tombol ditekan. Sekilas ketika awal mendorong sofa roda Adiatma menuju kamar kelas II , ada pos ruang tunggu untuk perawat yang mungkin jaraknya hanya kurang dari 100 meter dari kamar kami.
Perlahan terdengar suara sepatu
TUUUKKK……TUUUUKK…..TUUUKKKK
kami siap siaga dan melihat kanan kiri apakah ada hantu lagi yang mengganggu kami , jujur kami capek dengan gangguan malam itu.
KREEEEKKKK………….KRRREEEEEEKK…………
kami sempat menjerit dan teriak secara reflek , dan ternyata itu adalah……. Si perawat. Huft……. Legar rasanya karena perawat yang datang. Perlahan Saya menceritakan hal yang terjadi pada kami pada tengah malam sampai menjelang shubuh , namun si perawat pun yang awalnya datang dengan senyum manis yang mengembang dan wangi parfum yang semerbak , menjadi senyum yang masam dan menjawan dengan nada yang terbata-bata seperti orang kebingungan. perawat bilang
“ oh itu mungkin pengunjung yang mondar-mandir bapak , jangan takut dan silahkan beristirahat kembali sampai nanti visit dokter jam 06:00 WIB “.
Jawaban yang menurut saya sangat aneh ,mana mungkin di tengah malam dengan kondisi rumah sakit yang sepi , kamar ada di belakang lorong dan berada jauh dari bangunan utama. Tanpa banyak kata dan basa-basi lagi , tiba-tiba si perawat itu pergi dengan jalan yang agak terburu-buru , suara dari sepatunya pun terdengar lebih cepat sekarang. Akhirnya kami memaksa untuk tidur dengan menutup telinga rapat dan memakai selimut. Untuk menghiangkan saura-suara , saya menyalakan TV dengan suara agak keras
DREEETTT…….DRREEETTT…………DREETTTT ( diiringi bunyi ringtone ).
Saya terbangun dan ternyata waktu menunjukan pukul 05:45 WIB. Terlihat sinar matahari yang pelan mulai masuk dan menerangi kamar kami. Perasaan lega pun kami rasakan , saya dan Adiatma sama-sama melihat dan tersenyum. Langkah dari sepatu pun terdengar kembali
deeg…deeggg…degg… .
Suara tersebut terdengar dari balik pintu , tak lama setelah itu.
Kreeekk…..kreeeeekk….kreeeek… ,
dalam hati saya berkata
“ akhirnya dokter datang “.
Namun ketika ada orang yang masuk . hanya perawatnya saja dan tidak ada orang yang berpakaian jas rapid an stetoscope melingkar di lehernya alias dokter. Perawat bilang
“ mohon maaf bapak Adiatma , dokter kemungkinan agar terlambat untuk berkunjung karena ada pekerjaan mendadak dirumah sakit yang lain”. Adiatma menjawab “ kira-kira jam berapa ya sus , karena saya ingin melihat kondisi saya soalnya semalaman hanya diberi obat penurun panas saja”.
Saya mengamati kok dari semalam hanya perawat ini ya yang kesini ,padahal biasanya untuk per kelas ada beberapa perawat.
Beranjak saya dari sofa sempit yang saya tiduri semalam. Badan sudah merasa bau tidak enak dan basah keringat pun belum kering. Saya berjalan perlahan menuju kamar mandi yang deket dari jendela itu tadi. Perasaan takut sudah menghilang karena sinar terang sudah menyapa kami. Ketika membuka pintu kamar mandi perlahan. Ternyata kamar mandinya tidak ada ventilasi untuk cahaya masuk , jadi inisiatif saya nyalakan lampu yang sakalrnya berada di sisi kanan pintu. Tekk….. lampu menyala dan sayu masuk. Ketika akan mandi , seketika saya merasa bau amis dan anyir. Saya menyangka pasti si Adiatma yang kemarin malam ke kamar mandi tidak pasti lupa menyiram. Semakin lama baunya semakin menyengat , mandi saya cepetin karena sudah sangat tidak betah padahal toilet dan sekitarnya sudah saya siram berkali-kali tapi tetap tidak berubah seperti noda yang sudah mengeras. Saya buka pintu kamar mandi , reflek saya bilang
“ waduuuhhhhhh”.
Karena tepat di depan saya kurang lebih 1 meter dari pintu kamar mandi , ada perawat yang menyapa hanya dengan senyuman dengan wajah yang sedikit menunduk tapi masih terlihat wajahnya. Rambut yang sepanjang dada lebih tinggi sedikit , memakai apron warna hijau yang sedikit lusuh karena seperti kena noda. Saya bilang
“ sus , mau kemana dan ada apa kok di depan pintu kamar mandi “.
Susternya hanya membalas dengan senyum masam. Saya keluar dari kamar mandi dan ketika berpas-pasan sama susternya , ngrasa hawanya dingin tapi saat itu saya belum berpikir aneh-aneh dan macem-macem.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Violet
Mulai deg-degan
2020-11-18
2