Chapter 10

akhrinya semua perawat tiba-tiba pergi tanpa pamit seperti terburu-buru. Namun ada 1 perawat yang tiba-tiba menghampiri saya ketika semua perawat pergi. Dia mengajak kami untuk kembali ke kamar dan perawat tersebut juga ikut. Sepanjang lorong menuju kamar , si perawat itu terdiam da nada keringat menetes ke lehernya , wajahnya seperti orang kebingungan ,matanya sedikit melirik ke kanan dan kiri seperti berjaga-jaga bila ada sesuatu padahal hanya saya dan Adiatma yang di sebelahnya.

Ketika mendekati kamar , terlihat pintu kamar sudah terbuka lebar. Saya dan Adiatma saling melihat dan memberi kode kalau kita berdua menjadi saksi ketika pintu kamar benar-benar tertutup rapat meski tidak dikunci. Siapa yang membuka kamar ini? Sepanjang lorong juga dari kemarin tidak ada orang lalu lalang sama sekali baik pasien maupun penunggu pasien. Hanya kami yang disini , ketika mengetahui pintu terbuka saya dan Adaitma mulai was-was dan takut ,

GUBBRAAAAKKK…………..

si perawat jatuh tersungkur duduk di lantai lorong. Sambil menutup mulut dan menangis. Saya melihat dengan wajah mlongo , memandang tajam ,sambil mejauh secara reflek. setelah itu saya langsung menolong perawat tersebut untuk berdiri dan berpikir rasa-rasanya respon yang berlebih jika hanya melihat pintu terbuka sendiri. Adiatma pun juga terheran-heran dengan wajah shocknya. Bahkan yang awalnya dia mengantuk menjadi langsung melek. Perawat itupun terus menangis dan tidak mau ke kamar itu , saya merayu dia dan akhirnya dia mau untuk ke kamar pasien tersebut untuk sekedar melihat kebutuhan pasien seperti infus karena semenjak ngamar di rumah sakit ini , pelayanan kepada kami sangatlah buruh dan seperti tidak di gubris. Ketika kami dan perawat berada di depan pintu yang terbuka sendiri , tidak ada siapa-siapa di dalam. Semua terlihat normal seperti sebelumnya. Kami masuk ,Adiatma kembali ke kasurnya untuk berisitrahat mengingat fisiknya yang belum seberapa pulih , saya duduk di sofa dan suster melihat kebutuhan dari Adiatma. Saya melihat ternyata pintu belum menutup dan ketika saya menutup tiba-tiba pintu yang akan saya tutup itu seperti ada yang menghisap dan menutup secara cepat , padahal saya menutup pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara gaduh. Pintu seperti ada yang menghisap ketika di tutup dari dalam. Perawat menoleh kea rah saya dan bilang apakah saya tidak apa-apa. Saya mejawab tidak apa-apa dan perawat pun tiba-tiba duduk di sofa yang biasanya saya tempatin untuk tidur. Dia menangis sambil menunduk seperti meratapi sebuah kesedihan yang dalam , bibirnya terlihat kaku untuk berucap , menoleh ke kanan dan kiri seperti orang yang panik akan terjadi sesuatu hal. Perawat pun mengungkapkan sebuah fakta yang baru pertama kali saya dengar. Adiatma pun yang awalnya lemas dan tidur-tiduran , langsung bangun dan semangad untuk mendengarkan cerita perawat tersebut.

20 tahun yang lalu tepatnya , saya masih baru 1 bulan menjadi perawat ketika lulus dari perguruan tinggi dan kondisi kota Malang pada waktu itu masih di dominasi dengan hiasan pohon beringin di sudut-sudut kota dan menjadi ikon yang melekeat sangat itu. Dingin dan gelap jalan-jalan kota dengan di iringi lampu remang-remang yang meredup menjadi hal biasa bagi masyarakt sekitar , bahkan pohon beringin pun masih menjadi favorit tempat anak-anak bermain tanpa rasa takut tak terkecuali di rumah sakit ini.

Terpopuler

Comments

Helena Mesilona Baon

Helena Mesilona Baon

seram

2020-11-15

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!