Chapter 11

Anak-anak yang menjadi hiburan kami ketika berlarian di halaman yang tepat ada di depan kamar kalian ( Saya dan Adiatma ). Rumah sakit ini memang terletak di pinggir kota dan keadaan jalanan sepi pada waktu itu , membuat orang untuk lebih ke rumah sakit yang lebih besar di tengah kota. tahun demi tahun , kondisi rumah sakit ini semakin sepi di tambah dengan keluhaan pelayanan yang buruk mulai dari seperti kamar yang kurang bersih , sirkulasi udara yang lembab , dokter serta perawat yang tanggap dan banyak hal. Puncaknya , rumah sakit ini mengalami musibah kebakaran yang menghabiskan hampir 50 persen kondisi rumah sakit. Untungnya tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut tapi itu merubah kondisi rumah sakit jauh lebih buruk dari sebelumnya. Ini adalah rumah sakit swasta yang harus terus bertahan dengan keuntungan dari pasien , akibat dari kebakaran pasien semakin sepi dan banyak dokter yang menutup prakteknya karena merasa tidak menguntungkan. Semua perawatpun satu per satu mengundurkan diri setelah kejadian tersebut. Gedung yang awalnya megah dengan bangunan kuno hanya meninggalkan puing-puing hitam di sebagian sisi dan menambah kesan seram bagi orang yang melewat di sekitaran jalan rumah sakit tersebut. Saya yang baru 1 bulan menjadi perawat baru di rumah sakit itupun harus dirumahkan untuk sementara waktu. Saya memilih tidak keluar dan pindah kerumah sakit lain karena saya masih baru lulus dan tidak mempunyai pengalaman di tambah dengan kondisi ekonomi keluarga saya yang mengharuskan saya menjadi tulang punggung meskipun saya perempuan. Tiba-tiba ketika itu , malam hari 1 minggu setelah kebakaran telepon rumah berdering.

KRINGGG…KRRIINGGG…..KRIIINGGGG

saya tidak punya handphone karena pada saat itu handphone adalah barang mewah apalagi untuk anak muda seperti saya.

KRINGGG…KRRIINGGG…..KRIIINGGGG

telepon rumah terus berdering sampai orang tua saya terbangun dan mengangkat. Ibu saya membangunkan saya di larut malam yang hampir tengah malam. Jam di dinding saya menunjukan pukul 22:30 WIB.

Saya terbangun dengan mengucek mata karena rasa kantuk yang masih amat. Perlahan ketika ibu saya membangunkan saya , saya berjalan perlahan dengan bunyi napak kaki saya yang keras

DUUGG….DUUGG….DDDUUUUGGG

saya akan gagang telepon dan mencoba untuk menjawab dengan sapaan halo apakah ada yang bisa di bantu. Telepon itu pun menjawab dengan nada pelan dan meminta saya untuk datang kerumah sakit jam itu juga. Saya mencoba untuk menanyakan mengapa jam segini harus pergi kerumah sakit namun mereka tidak menjawab dan hanya menuruh saya bersegera ke rumah sakit. Dengan hati yang sedikit kesal , akhirnya saya mulai berangkat ke rumah sakit. Perjalanan kerumah sakit pada waktu itu di iringi dengan rintik-rintik hujan dan dinginnya kota Malang. Lampu jalan yang remang-remang dan hembusan angin yang menambah rasa merinding saya. Ketika ada di depan rumah sakit , tiba-tiba ada rasa yang tidak enak ketika melihat beberapa puing bangunan rumah sakit yang masih berwarna hitam bekas kebakaran. Saya masuk dengan pelan-pelan membuka pintu depan rumah sakit yang masih utuh.

KREEEKK……KREEEEKK..KREEKKK

Tak ada tanda-tanda seorang pun ketika saya menoleh kanan dan kiri. Sunyi dan sepi membuat hawa yang membuat saya semakin merinding. Saya terus berjalan menuju tempat resepsionist dimana tempat itu adalah asal bunyi telepon yang berdering di rumahku.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!