Chapter 18

Sejam mendengar cerita dari Rania , membuat saya ( Govi ) dan Adiatma tak bisa berkata apapun atas fakta tersembunyi yang terjadi pada rumah sakit ini. Jam di tangan kanan sudah menunjukan untuk pukul 21:30 WIB , angin semakin berhembus kencang dan terlihat lambaian daun pohon palm yang berada di depan kamar Adiatma. Lampu depan lorong kaamr yang juga tidak bersinar terang ketika malam. Rania ketika menceritakan hal tersebut dengan menangis tersedu-sedu karena mengingat hal itu hal yang telah berlalu 20 tahun yang lalu. Saya bertanya kepada Rania

“ Mbak Rania…. Apakah mbak tidak apa-apa? Maaf kalau dengan cerita ersebut membuat mbak menangis? “

Rania membalas

“ tidak apa-apa.. dengan saya bercerita seperti ini kalian tahu bagaimana sejarah rumah sakit ini dan membuat kalian akan lebih berhati-hati “

Raniapun setelah membalas apa yang saya tanyakan , dia langsung pergi keluar ruangan dengan tanpa berbicara sepatah katapun. Ketika keluar , dia juga tidak mengucapkan apapun seperti salam dan sebagainya. Pintu pun dibiarkan terbuka tidak tertutup ketika Rania keluar dari ruangan kami. Saya berpikiran kemungkinan sakit di dalam hatinya keluar kembali. Angin berhembus kencang malam itu sampai membuat pintu tertutup dengan keras , kami yang duduk-dudk sambil melihat TV pun sampai kaget bahkan say sendiri sampai melompat. Saya berbicara pada Adaitma

“ Dit.. apa tidak sebaiknya kita pindah kamar yang lebih layak saja dan di tempat yang agak ramai , mengingat cerita dari Rania tersebut ini adalah bekas “

PEMBANTAIAN BAYI

Adiatma membalas dengan tegas

“ Ide bagus Gov…… ayo pindah sekarang juga menit ini juga ( sambil menahan rasa sakit dan badannya ayng masih panas ) “

Saya melihat dia kesakitan seeprti itu tidak tega ,wajah pucatnya juga masih terlihat ,di hari kedua ini ,dia juga hanya minum beberapa obat juga. Saya menepuk pundak Adiatma yang lagi tertidur dan berkata

“ Bro….tunggu sebentar.aku tak berkeliling untuk membicarakan perpindahan kamarmu ayng lebih layak dan gak berhorror seperti ini “

Adiatma hanya menjawab dengan anggukan kepala tanpa berkata apapun. Jalan menuju pintu dan membukanya

KRIIEEEKK..KKKRRIIIEEEEKK………………

Pintu terbuka dan disambut oleh angin yang dibilang cukup kencang di jam yang sudah mendekati pukul 22:00 WIB. Toleh kanan dan kiri ,hanya hamparan lorong yang gelap diiringi beberapa pohon palm yang terlihat gelap sekali ,lampu lorong yang menyala tapi dan ada beberapa lampu yang hidup mati seperti lampu disko. Tak pedulit seberapa dinginnya malam itu ,saya langsung berlari menuju ke ruang perawat. Berlari sambil memejamkan mata karena rasa takut mulai muncul di dalam hati. Terlihat sudha ruang perawat yang tadi siang saya lihat , tpi ketika saya mendekati tidak ada satu perawat pun berjaga di pos itu. Saya mencari ke sekitaran pos perawat tersebut juga tak terlihat ada siapapun , bahkan penunggu pasien juga tidka terlihat 1 orang pun. Saya seperti orang sendirian dirumah sakit ini. Saya menelusuri lorong yang ada di sebelah kiri pos perawat. Menoleh ke kiri hanya bentangan halaman yang ada pohon beringin ayng tak begitu besar. Menoleh ke kanan hanya ada ruangan yang terlihat lampu menyala tpi pintu tertutup rapat dan tak ada tanda-tanda suara seperti orang ngobrol atau diskusi. Saya berjalan terus sepanjang lorong dan terlihat ada sebuah ruangan yang dengan bertulis kelas II. Saya berinisitaif untuk melihat apa ada ruangan yang kosong. Ketika melihat dari jendela , saya reflek berucap

“ wah sip kosong………bisa pindah ke ruangan ini.. meskipun ruangannya dibagi-bagi tapi setidaknya tidak di pojok lagi “

Beberapa menit saya melihat ,saya baru tersadar , kalau ternyata ruang itu.

TIDAK ADA KASURNYA..HANYA TEMPAT TIDUR YANG TERBUAT DARI BESI UNTUK MENAHAN KASUR

Dalam pikiran saya sudah merasa ada yang aneh. Tidak mungkin sebuah rumah sakit bisa mengosongkan ruangan sekosong ini dan ruang ini seperti lama tidak pernah dipakai sampai kasurnya di ambil. Sambil berjalan terus dan berbelok ke arah kanan lalu bertemu sebuah lorong lagi. Memang lorongnya terang berderang. Tpi disitu sama sekali tidak ada angin yang berhembus , aneh padahal ini adalah tempat outdoor. Ketika keluar lorong tersebut. Angin berhembus kencang kembali sambil berbunyi seperti orang bersiul. Terlihat di depan saya ada ruangan pula yang lumayan besar dan tertulis di depan pintunya

KELAS III

Saya penasaran untuk sedikti mengintip melalui jendela . pas mata ini melihat pinggir jendela yang kecil. Kagetnya saya karena kondisinya sama dengan apa yang saya lihat di kelas II. Jelas ini adalah hal yang aneh dan perlu di cari tahu. Saya langsung berlari mencari ruangan perawat atau kantor petugas rumah sakit. Berputar-putar melihat setiap keterangan pada pitnu di rumah sakit.ketemu juga ruangan perawat dan ruangannya berbeda dengan pos yang ada di dekat ruangan Adiatma tadi. Pertama saya ketok pelan-pelan karena kondisi pintu tertutup rapat tapi lampu masih menyala.

TTTOOOKKK….TTOOOOOKKK..TOOKK..

Sambil berbicara

“ Permisi…..Permisi……………..apakah ada orang di dalam? Saya mau ada perlu “

Berkali-kali bicara seperti itu , tapi tidak ada respon sedikitpun dari dalam. Malam semakin larut dan sudah tidak da waktu algi jika terus seperti ini. Saya membuka paksa pintu itu dan bisa terbuka. Kondisinya sepi tapi pengap ,AC tidak menyala tpi kondisi tata letak ruang seeprti kursi dan meja berserakan kemana-mana. Saya mencoba untuk keluar ruangan karena tidak menemukan 1 orang pun ,bahkan saya melihat-lihat sampai ke ruang loker dan toilet mereka. Rasa aneh sudha saya rasakan semenjak raungan di kelas II tadi tapi hal tersebut belum bisa menjawab rasa penasara saya kenapa smeua ini terjadi. Saya berjalan keluar dari dalam ruangan perawat menuju ke pintu. Tiba tiba pintu menutup dengan rapat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!