Chapter 13

Wajah dari perawat tersebut terlihat dingin dengan raut wajah yang datar. Dia melambaikan tangannya untuk sekali lagi mengjaka saya ikut bergabung. Kaki saya yang lemas dan tubuh yang shock masih sangat sulit untuk bergerak menuju ruangan tersebut. Dokter pun sekali lagi melihat dengan tatapan tajam dan melotot kea rah saya seolah-olah menyuruh saya untuk bersegera bergabung dengan mereka. Sebenernya yang say lihat adalah sebuah praktek

ABORSI……..

Praktek yang seumur hidup saya adalah praktek yang baru saya lihat pertama kalinya. Ngeri , menjijikan , takut , ingat dosa dan semua itu berputar-putar pada pikiran saya. Saya beranikan langkah kaki dengann perlahan masuk ke dalam ruangan tersebut. Di pojok dari Kasur pasien terdapat ember berwarna hitam dengan ukuran sedang yang ketika saya masuk dan terlihat. Saya tiba-tiba mutah di tempat itu tanpa bisa saya tahan , ternyata di di dalam ember tersebut terdapat………………………

BANYAK KEPALA BAYI YANG BERUMUR 4 SAMPAI 6 BULAN…………………

POTONGAN TANGAN DAN KAKI YANG MASIH KECIL…………………..

TUBUH BAYI TERPOTONG-POTONG BERUMUR SEKITAR 8 BULAN…………..

Keadaan diruangan itupun menertawakan saya seakan-akan apa yang terjadi di ruangan tersebut menjadi hal biasa yang terjadi setiap harinya.Bekas darah berceceran dimana-mana , spray kasurpun yang berwarna putih menjadi merah di beberapa sisi , apron dokter dan perawat yang berwarna hijau menjadi gelap , dan melihat pasien aborsi yang sudah tergulai lemas dan pucat seperti orang yang kehabisan darah. Lampu ruangan yang redup menambah rasa tegang di ruangan tersebut.Tiba-tiba Dokter mendekati saya dan berkata

“ bantu saya untuk mengubur sisa bayi-bayi aborsi ini di belakang dekat pohon beringin “

Terlihat mata dikepala bayi yang lepas , tetasan darah di ember yang masih terlihat segar dan membuat batin saya tersiksa. Tangan saya gemetaran hebat , tak kuat rasanya untuk memegang dan membawa ember. Namun dokter terus melotot tajam untuk memberikan isyarat menguburkan bayi aborsi tersebut. Hati yang ingin memberontak namun tak punya daya , rasa horror dan ngeri yang bergentayangan di hati dan pikiran. Saya beranikan mengangkat ember berisi potongan bayi hasil aborsi dan dibantu dnegan perawat. Saya membawa ember dengan dibantu dengan perawat menuju ke pohon beringin tua yang ada di belakang kamar kalian ( Govi dan Adiatma ). Terlihat pohon beringin yang menjulang tinggi dengan rimbunan daun yang terlihat gelap sekali ditambah rintik-rintik gerimis hujan yang belum reda.

Jam menunjukan pukul 23:30 WIB , saya gali tanah di sebelah pohon beringin dan saya juga melihat seperti sumur tua di pojok dekat pohon beringin lengkap dengan timba dan tali untuk memngambil air. Ketika proses menggali tiba-tiba perawat tersebut mendekati saya , menunjuk kea rah tanah di sebelah pohon beringin bahwa isi dari tanah tersebut sudah berisi banyak bayi aborsi. Keringat bercampur rintik hujan menambah rasa takut saya dan wajah pucat saya yang tak bisa ditutupi adalah reaksi tubuh saya ketika mendengar cerita dari perawat tersebut. Ketika menggali sudah mendekati akhir , perlahan ember yang berisi mutilasi bayi dan bau amis saya kelaurkan dengan tangan saya yang tidak memakai sarung tangan. Dengan mata tertutup saya mencoba mengakat potongan bayi tersebut ,darah kental menempel pada kulit saya , terasa pula kulit dan tulang bayi yang masih kecil membuay saya tidak berani membuka mata. Perawat yang membantu saya tiba-tiba mendekat dan berbicara

“ BURUAN!!!! mbak , kelamaan. Keburu di marahi dokter dan masih banyak yang harus dikubur “

Pereawat itupun pun langsung merebut ember tersebut , mengambil mutilasi bayi dan menguburkannya sendiri. Penguburan yang sadis yang pernah saya llihat , tanpa pembungkus kafan ,di siram seperti menyiram darah hewan ke tanah.sadis dan bengis itulah yang ada dalam benak saya terhadap perilaku mereka. Menguburkan bayi itupun saya lakukan hamper sampai pagi ,karena banyak mayat-mayat bayi aborsi. Saya seperti orang gila yang stress , pikiran saya kacau dan tidka bisa berucap apa-apa. Ketika terakhir menguburkan bayi ,dokter memanggil saya untuk kembali ke kamar pasien. saya berjalan lemas dengan tangan dan badan penuh cipratan darah yang amis meskipun hujan rintik-rintik tak kunjung berhenti. Ketika mata saya melihat kejadian di Kasur pasien. tak sadar saya berucap

“ ohhhh..ohhhhh…….ohhhhhh…….. apaaa ini…… apaaa iniiii…… ( sambil menangis keras ) “

Dokter itupun menampar saya seketika dengan keras sampai say tersungkur di depan lorong kamar. Karena tamparan keras tersebut membuat saya pingsan dan tak sadarkan diri. Saya tak tau berapa lama pingsan , namun perawat yang disamping saya ketika menguburkan memberikan bau yang sangat mengengat pada saya sehingga seketika itu juga saya terbangun. Ketika mata saya mulai membuka , terlihat dokter itu sedang menggali tanah di dekat sumur yang bersebalahan pula dengan pohon beringin. Lagi-lagi perawat itu memaksa saya untuk membersihkan darah bercampur usus yang ada di Kasur pasien. saya bilang ke perawat tersebut

“ sudahhh……….sudah…….. saya sudah tak sanggup…. badan ini sudah lelah untuk bergerak…mhonnn….ampuni saya…. ( sambil memelas )”

Si perawat itupun tetap mekasa saya untuk membersihkan hal yang mengerikan dan menjijikan itu. Saya harus memasukan usus bercampur darah yang terburai kemana-mana itu kedalam ember. Dengan tangan yang gemetaran , badan yang keringat dingin , mental yang tertekan sungguh hal yang mengerikan yang pernah saya lakukan seumur hidup saya. Saya membawanya dengan perawat tersebut menuju ke tempat galian yang dibuat oleh si dokter. Tanpa berkata apa-apa dokter itupun merebut sendiri ember dan mennyiramkannya di galian tersebut. Ketika mengintip ke dalam galian tersebut.

Ternyata……………

Berisi……………..

MAYAT PASIEN YANG MELAKUKAN ABORSI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!