Disela-sela bimbingan kami , istri dari dosen kami membuatkan the hangat. Dengan berkata Bahasa jawa kromo
“ Monggo mas di unjuk teh e ben mboten kembung “ ucap istri dosen. Adiatma pun membalas “ ngge bu matur nuwun , enak sedoyo the nipun “ .
bimbingan skripsi pun lanjut karena saking banyaknya hal yang di revisi , tak sadar ketika saya menyisingkan lengan dan melihat jam. Waktu sudah menunjukan pukul 22:00 WIB. Hati saya sudah dag dig dug pulang ketika membayangkan perjalanan yang sepi sunyi dan cahaya yang redup. Adiatma pun juga bergelagat bahwa dia khawatir kalau bimbingannya belum selesai. Akhirnya Adiatmapun memberanikan diri ketika Tanya kepada Dosen
“ permisi pak , ternyata sudah jam 10 malam ,saya minta izin pulang dulu dan melanjutkan bimbingan besok karena rumah bapak ke rumah kami sangat jauh “.
Dosen pun berkata
“ ya mas , silahkan direvisi lagi karena banyak sekali kesalahannya dan pesan saya hati-hati di jalan tak usah menoleh Ke kana dan ke kiri”.
Ketika bapak dosen berbicara seperti itu , seketika keringat dingin mengucur dari dahi sampai ke leher. Aku membayangkan , kira-kira firasat apalagi yang datang. Saya dan Adiatma berpamitan dan pulang mengendarai motor. Dijalan pemandangan semakiin gelap , pohon tebu yang sebelumnya terlihat menjulang tinggi dengan ayunan perlahan terkena angin pun tak terlihat , hanya pandangan ke depan dengan lampu motor yang juga tak begitu terang
Mendadak terlihat orang di depan kita kena sorot lampu lagi berjalan , berjalan pelan tapi anehnya sendirian dan perempuan lagi. Seketika kami semua langsung komat-kamit dengan rasa ketakutan yang besar. Keringat mengucur deras , jantung dag dig dug , ingin rasanya gas kita taruk mentok dan merem. Setelah semakin dekat orang tersebut dengan kita , ternyata orang yang lagi mencari kodok dan belut. Untung saja dan lega hati ini , tapi hal tersebut membuat rasa takut kami masih terus singgap dipikiran kami. 1 jam telah berlalu dan sampailah saya dirumah di antar oleh Adiatma. Saya berjalan membuka pintu
KREEEKKK…..KREEEKKK………..KREEKKK
berjalan-perlahan lahan sambil mengusap wajah yang kucuran keringat masih belum kering meskipun hawa dingin yang menyelimuti. Ketika sampai dikamar , menghela nafas sebentar dan mengistirahatkan badan sebentar. Tak kuat mata ini menahan , akhirnya saya ketiduran sekitar 30 menit. Setelah 30 menit , bunyi gesekan daun dan ranting pohon mangga dengan atap
GRUUUUKK…………GRUUUUUUKKKKKKK…….
. Sontak badan ini langsung bangun , dengan mata yang masih merah , baju yang belum ganti. Dalam hati saya bilang
“ Waduh perasaan apalagi ini “.
Akhirnya saya ganti baju , bersih diri dan selimutan dari ujung kaki sampai ujung , bahkan saya tidak peduli ketika saya kesulitan bernafas. Lagi dan lagi keringat dingin ini mengucur di deras dari kening sampai ke tenggorokan , pikiran yang aneh-aneh dari pocong , kuntilanak dan sejenisnya terlintas terus.Waktu menunjukan pukul 06:00 WIB , meskipun saya sempat kepikiran dan keringat dingin , lega hati ini karena mentari sudah menyapa di pagi hari. Pohon mangga yang awalnya terlihat seram , akhirnya terlihat biasa sajaa. Ketika bangun , seperti biasa melakukan rutinitas dengan ke rumah Adiatma untuk mengerjakan tugas skrips. Sesampainya dirumah Adiatma , ternyata dia lagi panas tinggi dan batuk-batuk. Tanpa pikir panjang , langsung saya bawa ke dokter sakit dan ternyataa….. dia di vonis sakit DB dan thypus dan diharuskna ngaamr dirumah sakit. Mungkin ini adalah dampak dari aktivitas dan rutinitas yang kita lakukan selama beberapa minggu ini. Ketika itu pula , orang tua dari Adiatma sedang melakukan ibadah haji. Kondisi yang sulit dikala kita harus di kejar skripsi.
Waktu menunjukan pukul 17:00 WIB , adzan maghrib pun sebentar lagi menyambut bebarengan dengan matahari yang meredup. Kami menuju rumah sakit terdekat dari rumah dengan membawa kartu kesehatan , ketika kami mulai mendaftar kami mendapatkan kamar di kelas II , namun tak tahu kenapa bulu kuduk ini merinding ketika kaki menginjakan di lantai rumah sakit. Yang biasanya banyak orang lalu lalang untuk menjenguk dan mengambil obat , sekarang terlihat sepi , hanya suara hembusan angin yang menggesek pohon sajalah yang terdengar keras. Ketika Adiatma berisitrahat di ruang UGD , saya dan petugas rumah sakit mengurusi keeprluan untuk rawat inap , petugas rumah sakit yang biasanya lalu lalang , sekarang hanya terlihat segelintir orang , lampu lorong rumah sakit yang terlihat terang sekarang redup , tampak baying-bayang badan saya ketika berjalan , tidak ada aktivitas pengunjung rumah sakit yang biasa menggunakan tikar untuk tidur diluar. Rasa penasaran saya menyeruak dan bertanya pada petugas
“ mbak , permisi kok rumah sakitnya fulkl tapi tidak ada yang menunggu ya? “.
Petugas menjawab
“iya mas memang biasanya seperti ini “.
Firasaat aneh dalam pikiran saya karena kondisi yang tidak wajar di rumah sakit ini , mengingat ini adalah rumah sakit tertua di malang dengan bangunan dari zaman belanda. Ini terlihat dari bentuk lorong , bentuk tiang dan warna cat yang agak memudar. Nomor kamarpun disebutkan oleh petugas rumah sakit dan kami dia antar ke kamar. Namun ada hal yang aneh, ketika saya berjalan menulusuri lorong sambil mendorong sofa roda Adiatma , petugas itu pun seperti panik dan gelisah , saya melihat seperti raut wajah yang bingung dan takut dan ketika saya bertanya dia menjawab dengan gagap. Kecurigaan saya semakin meningkat ketika kita melintas lorong yang jarang dilewati orang , terlihat dari debu lantai , pohon disekitar lorong yang terlihat tua , tiang lorong yang terbuat dari kayu dengan sedikit bagian lapuk. Angin pun bertiup kencang ketika itu
WUUSSHH……..WUUUSSSHHH…….
. petugas rumah sakit itu pun menunjukan kamarnya dengan berkata
“ ini bapak kamarnya semoga lekas sembuh ( berkata dengan senyuman yang dingin ) “.
Si Perawat pun datang untuk menggantikan tugas dari petugas rumah sakit. Sebelumnya petugas keluar pintu kamar , sekilas senyumnya yang muram , menjadi senyum mengembang ,kerutan kening yang awalnya berkerut jadi memudar dan dia pergi dengan jalan cepat. Memang pada awalnya ketika kami masuk kamar rumah sakit , ada rasa merinding yang luar biasa , design kamar yang terlihat kuno, , langit-langit yang terlihat kuno dengan hiasan jamur dan lumut hijau di pojok kanan da nada jendela besar yang terlihat bila kita duduk sejajar dengan Kasur pasien. Karena besarnya , sampai pohon beringin tua dan sebuah sumur yang seperti sudah tidak pernah di pakai terlihat. Rumput ilalang yang juga sekilas menjulang tinggi tak rata , setelah saya melihat pohon itu lebih dekat , ternyata ada sisi ranting yang digunakan untuk ayunan dengan ukuran yang mungkin hanya anak umur 5 sampai 10 tahun yang cukup. Saya berkata
“ buat apa yo ayunan sekecil ini , di pohon beringin lagi “.
Lama lama saya merasa merinding juga ketika waktu di jam tangan saya sudah menunjukan pukul 22:00 WIB , sedangkan perawatnya masih menata keeprluan infus dan Kasur untuk si Adiatma. Sekilas perhatian saya seperti terpanah kaku pada bentuk sumur , sumur dengan bentuk yang lumayan besar , dengan masih ada tali utuk timba yang terlihat using , cat warna putih dengan ada bercak hitam dan hijau lumut. Saya berjalan agak cepat untuk kembali ke kamar dengan menutup gorden jendela. Perawat pun mendatangi saya dan berkata
“ bapak saudaranya atau temannya”. Saya menjawab “ saya temannya sus , karena orang tuanya kebetulan lagi berangkat haji”.
Perawat menjawab kembali
“ mas , ini semua keperluan dari si pasien sudah lengkap dan sudah terpasang semua termasuk infus , kami tinggal dulu dan dokter visit akan datang besok pagi jam 06:00 WIB , jika ada keeprluan mendadak , silahkan memencet tombol ini ( sambil menunjukan tombol ) “.
Saya menjawab
“ baik sus , terima kasih “.
Kebetulan dirumah sakit ini kamar kelas II dengan kelas III berbeda , kamar kelas II mendapat ruangan sendiri namun hanya volume ruangannya sempit. Di sebelah kiri Kasur pasien hanya ada sofa sofa kecil berwarna coklat yang tampak tidak seperti baru dengan hanya panjang tidak lebih dari 1.5 meter , dan ketika saya rebahan disofa yang kaki saya masih gantung ketika tidur. Pandangan saya pas menghadap dari jendela yang besar tadi. Kalau saya menghadap ke kiri sudah tembok dan ke kanan akan menghadap ke Adiatma. Dalam hati saya berkata
“ OK saya harus berani ( meskipun dengan perasaan merinding dan takut yang tak kunjung hilang semenjak awal melihat kamar ) “
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments