Mendekat semakin mendekat namun tak terlihat seperti gagang telepon pernah di angkat , telepon masih tersusun rapi berjejer dengan mesin fax kala itu. Dari lorong rumah sakit , dimana lorong tersebut adalah area bangunan dekat kebakaran ada suara
TUUKK….TTUUUKK…………TUUUKKK……..
Seperti bunyi sepatu yang melangkah secara perlahan. Suara yang membuat saya kaget dan sempat bersembunyi , keringat pun mengalir pada leher dan kening saya di kala udara yang sangat dingin itu. Suara itu pun semakin mendekat , Semakin keras dan keras. Ketika saya bersembunyi dan mengintip , terlihat dokter berbaju operasi dengan apron warna hijau dan penutup kepala berjalan sendirian di rumah sakit yang setengah gelap ini. Dia memanggil saya berkali-kali seperti tau akan kedatangan saya. Dari tempat persembunyian yang ada di bawah tangga tepatnya tempat peralatan kebersihan ,saya mengintip siapakah dokter tersebut namun tidak jelas wajahnya akrena saya tidak berani melihat terlalu jelas. Ketika dia memangil saya berkali-kali , akhirnya saya mengetahui dokter tersebut dengan suaranya. Saya keluar dari tempat saya sembunyi dan dokter itupun tau lalu mendekati saya.
Tidak ada ekspresi dia kaget maupun heran ketika saya keluar dari tempat saya sembunyi , hanya tatapan dingin dan berwajah serius sambil memegang pundak saya. Dia berkata
“ hanya kau perawat yang saya butuhkan hari ini “
Saya menjawab dengan rasa takut
“ mohon maaf dok , saya perawat baru di tempat ini dan aneh sekali jika perawat baru seperti saya di panggil malam-malam seperti ada keadaan darurat padahal rumah sakit dalam keadaan setengah habis terbakar “
Meskipun keadaan saya ketika itu takut sekali , tapi saya tidak punya pilihan selain menuruti apa kata dokter tersebut. Perlahan saya berjalan di belakang dokter terssebut dengan langkah yang agak cepat , berbeda ketika pertama dokter itu ada menghampiri saya
TUUKK….TTUUUKK…………TUUUKKK……..
Jalan yang agak cepat seperti ada keadaan yang harus segera di selesaikan. Dia berjalan lurus terus dan melewati lorong yang waktu itu belum pernah sama sekali saya lewati. Kanan dan kiri masih terlihat halaman dengan pohon beringin ketika itu , terlihat gelap sekali pohon beringin bila kita menoleh melihatnya. Telrihat ternyata di ujung lorong terdapat kamar yang terlihat seperti kamar pasien namun saya berpikir bahwa aneh sekali ada ruangan di pojok lorong di belakang rumah sakit. Kebetulan bagian bagian rumah sakit ini berada di belakang dan tidak terkenan kebakaran. Dokter tersebut masuk ke dalam kamar dan saya terkaget kaget dan tak bisa berbicara apa-apa , mata melihat tpi rasanya ingin menangis juga takut , bulu kuduk merinding dan berdiri seberdirinya , kaki saya gemetaran bahkan melangkah pun tak kuat rasanya, tangan saya menutup bibir saya yang tak kuat menahan tangis. Dokter yang ada di depan saya dan mengajak saya tadi , menoleh ke belakang ke arah saya tetap dengan pandangan dingin seperti ttidak ada ekspresi takut. Saya melhat ada 2 perawat dan 1 dokter ,ya benar sekali dokter yang tadi mengajak saya ke ruangan ini. Dokter bilang
“ kalau kamu pengen selamat , bantu saya dan jangan banyak tanya “
2 perawat yang membantu dokter tersebut itupun mengajak saya pula dengan penuh senyuman yang tak terlihat ada kerut wajah ketakutan dan kecemasan. saya tak mengerti apa yang ada di batin dan benak mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments