Radit berjalan masuk ke dalam kamarnya. Radit menghempaskan dirinya di sofa. Amarahnya belum juga hilang. Jika mengingat Alya emosi kembali tersulut. Alya benar benar membuatnya kesal. Radit membuang semua benda yang ada dihadapannya.
Radit mengambil kunci mobil dan keluar dari kamar. Dia melajukan mobilnya kencang hingga sampai di panti asuhan. Dia mencari ketenangan disana.
Alya berjalan masuk ke dalam kamar papanya. Dia menangis sejadi jadinya disana. Alya mengadukan seluruh masalah dan kekesalannya pada papanya.
"Pa, kenapa papa ninggalin Alya , Pa?"
"Alya nggak punya siapa Siapa lagi, Alya mau ikut papa aja!" ucapnya sambil memegangi bingkai photo pak Kusuma.
Radit turun dari mobil berjalan masuk ke dalam. Dilihatnya panti masih seperti biasanya, Tidak ada perubahan, Teduh dan penuh kehangatan. Anak anak sedang bermain di taman. Radit melangkah maju menuju ruangan Bu Ana pengurus Panti.
"Radit" ucap Bu Ana menyambut kedatangan Radit.
"Bunda ada Bu?" tanya Radit.
"Bunda ada di ruangannya. Dia kurang sehat." ucap Bu Ana.
Radit berjalan ke ruangan Bu Fatimah setelah mengucapkan terimakasih kepada Bu Ana.
"Gimana kabar bunda," ucap Radit begitu membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan. Radit duduk di sofa panjang.
"Radit" ucap Bu Fatimah kaget.
Baru kemaren Radit datang mengunjunginya. ini sudah kembali, pasti ada sesuatu, bathinnya.
"Bunda sehat, gimana kabarmu, nak?" tanya bu fatimah memperhatikan raut wajah Radit. Dia tahu Radit pasti ada masalah.
"Radit cuma kangen ma bunda. Apa Radit nggak boleh datang kesini, Kok bunda kaget gitu." ucapnya.
"Bunda tahu, kamu pasti lagi ada masalah. Kamu nggak bisa bohong dengan bunda, katakan ada apa nak?" tanya bunda Ana hati hati takut menyinggung Radit. Karena dia tahu Radit sangat sensitif.
"Radit lagi bingung bunda, " ucap Radit menunduk.
" Katakan, apa yang membuatmu bingung?"
Radit menceritakan semuanya, pertengkaran nya dengan Alya dan keinginan Alya untuk bercerai dengannya.
Bunda tersenyum dan mengusap kepala Radit." Itu hal biasa dalam rumah tangga. Kamu harus berusaha memahaminya. Alya baru saja kehilangan orang orang yang dia percayai. Tunangannya meninggalkannya dihari pernikahannya , dan kini papanya meninggal dunia. Kau harus lebih bisa memahaminya, harus lebih bersabar, dia sangat membutuhkan dukunganmu.' ucap bu Fatimah menasehati Radit.
"Tapi, bahkan kami tidak pernah saling menyapa. Bagaimana aku ....." Radit menggantung kalimatnya.
"Wanita itu mahluk yang sangat lemah dan perasa. Berikan dia perhatian dan sandaran, bunda yakin kamu bisa."
"Kamu suaminya, jadilah teman, sahabat dan juga pelindungnya. Dia sangat sangat membutuhkanmu. Buat dia merasa aman dan nyaman bersamamu. Sekarang pulanglah dan peluk erat dia, buat dia merasa tenang dan selalu tersenyum disampingmu."
"Ingat pesan bunda, jangan pernah berpikir untuk bercerai, Allah sangat membenci perceraian."
Radit berjalan keluar setelah menjabat tangan bu Fatimah.
Dia kembali melajukan mobilnya pulang kerumah.
Benar yang dikatakan bu Fatimah saat ini Alya sedang rapuh dan butuh dukungan.
Radit menyesali perbuatannya karena bertindak kasar pada Alya tadi. Padahal Alya sudah menolak dan meronta tapi dia tidak menghiraukannya. Perasan bersalah dan menyesal menggelayuti hatinya.
Radit membuka pintu rumah dan masuk kedalam. Langkah tegapnya menuju ke kamar Alya. Dibukanya pintu kamar, kosong tak seorang pun ada disana. Di tutup nya kembali. Pikiran buruk menyerangnya.
Kini dia menuju ke kamar pak Kusuma. Biasanya Alya berada disana jika tidak ada di ruangannya.
Radit membuka pintu kamar. Pemandangan didepannya membuat Radit semakin merasa bersalah.
Alya tertidur sambil bersandar di tepi tempat tidur. Tangannya memeluk erat photo pak Kusuma.
Radit melangkah masuk. Disibakkan nya rambut yang menutupi wajah Alya.
Tampak jelas wajahnya sembab habis menangis. Radit mengambil photo di tangannya perlahan dan meletakkan nya di atas tempat tidur.
Kemudian secara perlahan dan hati hati Radit mengangkat tubuh Alya dan membawanya kembali ke kamarnya. Dia membaringkan tubuh Alya perlahan, dan menyelimutinya.
Lama Radit duduk di tepi tempat tidur sambil terus memandangi wajah imut Alya. "Maafkan aku!" ucapnya pelan. Kemudian berlalu keluar dari kamar Alya.
Radit kembali ke kamarnya. Mandi dan berganti pakaian. Dia sedang duduk bersandar sambil membaca buku.
Radit teringat pada gelang yang dia beli untuk Alya. Radit mengambilnya. "Bagaimana cara nya untuk memberikan hadiah ini. Bagaimana kalau dia tidak menyukai nya dan menolaknya?" Radit bingung dan menimbang nimbang gelang di tangannya.
Radit meletakkan gelangnya diatas nakas, kemudian dia memilih untuk tidur. Besok dia akan memikirkan caranya, agar gelang itu sampai pada Alya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 152 Episodes
Comments
Radiah Hassan
Sabar ya radit
2024-10-02
1
Dewi Dj
Radit mestiny bisa bersabar sperti saran Bu Fatimah ,krna Alya masih berduka pelan tapi pasti dykan menerima mu
2024-01-19
1
Wati_esha
Saling berkomunikasi lah kalian.
2023-08-27
0