Akhirnya Alya memilih keluar dari dalam kamar. Dia duduk di meja makan. Radit sudah menunggunya disana. Pelayan datang dan menyajikan makanan untuk Alya dan Radit.
Radit makan tanpa bersuara. Alya hanya mengaduk aduk makanannya tanpa berniat untuk memasukkannya ke dalam mulut. Radit terus memperhatikan Alya dalam diam. Setelah selesai makan Radit berjalan mendekati meja Alya.
"Kau mau makan sendiri atau aku yang akan menyuapimu?" tanya Radit pada Alya.
Alya masih diam saja. TIdak menganggap Radit ada disampingnya. Radit mengambil sendok dan menyuapkannya kedalam mulutnya, Kemudian dia mendekat ke arah Alya. Radit menarik tengkuk Alya dan ingin menciumnya.
Refleks Alya mendorong Radit. Dia segera menghindar dari ciuman Radit. Radit bersuara setelah menelan makanannya.
"Makan sendiri atau aku suapi dengan caraku! Aku tidak masalah jika kau ingin aku menyaupimu dengan bibirku!" ucap Radit penuh tekanan di akhir kalimatnya.
Alya terkejut dengan tindakan Radit, dia segera mendorong Radit dan menghindar. Tanpa berpikir panjang Alya menyuapkan makanan ke mulutnya. Dia takut Radit akan menciumnya. Yang benar saja , Alya tidak mau kecolongan. Akhirnya makanan dipiringnya Alya habis.
Radit menarik sudut bibirnya, dia tersenyum tipis. Sangat tipis hingga Alya tidak menyadarinya.
"Ternyata mudah untuk menjinakkannya. Hanya perlu sedikit gertakan maka dia akan menurut padaku!" ucap Radit dalam hatinya.
",Dasar mesum, dia pikir aku gadis seperti apa yang dengan seenaknya dia cium. aku tidak akan pernah mau di sentuh olehnya." bathin Alya terus menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Setelah selesai makan Alya meninggalkan Radit dan masuk kedalam kamar miliknya. Alya beranjak tidur.
Radit sudah berada di depan pintu kamar alya. Diketuknya beberapa kali tapi tidak mendapatkan jawaban, akhirnya dia membukanya.
Ternyata Kamar Alya tidak di kunci, "Dasar gadis ceroboh" ucapnya pelan. Alya sedang tidur sambil memeluk photo papanya. Dia terlihat habis menangis.
"Maafkan aku yang bertindak kasar. Aku hanya tidak ingin ku sakit, karena tidak mau makan " Radit berucap dan menyelimuti alya. Kemudian Radit menutup kembali pintu kamar Alya dan berjalan menuju kamarnya.
Alya tertidur pulas setelah makan malam tadi. Radit pun merebahkan dirinya di kasurnya dan masuk ke alam mimpinya.
Lelah akan hari hari yang dia lalui. Bermacam peristiwa yang terjadi membuatnya bingung.
Takdir seperti apa ini, yang Tuhan berikan. Dalam sekejap dia menikah dengan gadis yang tak terpikirkan oleh nya bahkan dalam mimpinya sekalipun. Anak dari tuannya sendiri. Sungguh seperti mimpi dia menikah dengan Alya.
Keesokan paginya Radit sudah terlihat segar dengan pakaian lengkap akan berangkat ke kantor.
"Bik, mana Alya?" tanya nya pada pelayan.
"Non Alya belum bangun tuan." jawaab pelayan.
Radit memutar arah menuju kamar Alya. Dibukanya pintu kamar. Tampak Alya masih tertidur pulas. Radit berjalan mendekat, di pandangnya wajah mungil istrinya. kemudian Radit berbalik dan kembali menutup pintunya. Radit membiarkan Alya tetap tertidur.
Radit berangkat ke kantor tanpa sarapan. Di tengah jalan ponselnya berbunyi.
"Ya hallo." Jawab Radit.
"Tuan, saya sudah dapatkan semua informasi tentang Ardian." jawab Tomi, detektif sekaligus sahabat, Radit.
"Ok, temui aku dikantor setengah jam lagi." jawab Radit dan memutuskan panggilannya.
Radit melajukan mobilnya cepat. Biasanya dia yang selalu mengemudi untuk tuan Kusuma kali ini dia mengemudikan nya sendiri.
Radit sampai di kantor. Semua karyawan menunduk hormat padanya. Karena selain tuan Kusuma, Radit adalah orang kedua yang disegani. Radit terus melangkah masuk ke dalam ruangannya.
Tomi sudah menunggunya di dalam. " Pagi bos!" sapa Tomi begitu Radit membuka pintu dan berjalan masuk.
"Tidak perlu terlalu formal. Katakan apa yang sudah kau dapatkan?" tanya Radit to the point.
Tomi meletakkan berkas informasi yang sudah dia dapatkan diatas meja. "Ardian berada di Singapura saat ini. Dia kabur karena Celine mengancamnya jika dia menikah dengan Alya, Celine akan menghancurkan nya. Dia akan mengatakan pada semua orang jika dia mengandung anak Ardian. Ternyata selama ini Ardian berselingkuh dengan Celine, teman sekaligus sekretaris nya itu. Dan ternyata Ardian hanya mengincar harta nona Alya, maka dia mau memacari Alya. Tapi Celine keburu hamil dan mengancamnya. Ardian tidak bisa berbuat apa apa." ucap Tomi panjang lebar.
Radit mendengarkan penjelasannya sambil membolak balik berkas di hadapannya.
"Kerja bagus Tom!" ucap Radit.
"Ardian, aku pasti akan mendapatkan mu." ucap Radit geram.
"Aku minta satu hal darimu. Rahasiakan ini semua dari Alya. Aku ingin Alya sendiri yang mengetahuinya. Karena jika kita yang memberitahunya dia pasti tidak akan percaya." ucap Radit.
Tomi mengangguk setuju.
"Oh ya, selamat atas pernikahan mu bos," ucap Tomi mengejeknya.
Radit mendengus kesal. "Kau mengejekku!" ucapnya dengan tatapan tajam. Bukannya takut Tomi malah tertawa keras. Tomi adalah sahabat Radit saat masih SMA, tapi saat kuliah mereka mengambil jurusan yang berbeda.
"Ayolah, bukankah yang aku katakan benar. Kau sudah menikah, kau beruntung mendapatkan gadis yang cantik dan seksi seperti Alya." ucap Tomi lagi.
"Sekali lagi kau bicara aku akan memindahkan mu ke Afrika. Biar kau tak bisa melihat cewek seksi setiap hari disana." ucap Radit marah.
Tomi terdiam, kalau Radit sudah bicara seperti ini, dia menutup rapat mulutnya karena itu bukan hanya sekedar ancaman.
" Aku minta kau kembali ke kantor ini, Karena Aku akan sangat membutuhkan bantuanmu." ucap Radit.
"Siap bos, tapi apa jabatan ku disini? bukan kah sekretaris sudah ada. " tanya Tomi penasaran.
"Menjadi asiten pribadiku!" jawab Radit. "Aku akan sangat membutuhkanmu untuk mengurus kantor dan mengurus Ardian." ujarnya lagi.
Tomi mengangguk, "baiklah karena aku teman yang baik. Aku akan membantumu." jawabnya.
"Besok kita akan berangkat ke Singapura. Aku akan membuat perhitungan dengan bajingan itu." ucap Radit.
"Ok, aku siap." jawab Tomi mantap.
"Kalau begitu aku permisi dulu ya," ucap Tomi berdiri dan melangkah keluar ruangan Radit.
Sebelum sampai di pintu dia kembali berbalik badan dan berujar." Bagaimana rasanya menjadi pengantin baru, asyiik kan!!" ucapnya memandang lekat Radit.
Radit kembali mendesah kesal mendengar ucapan Tomi. Radit tidak menjawab.
Melihat wajah Radit, Tomi sudah menemukan jawabannya. "Jangan bilang bahwa kau...."
Belum selesai Tomi bicara Radit sudah melemparnya dengan bantal sofa.
Tomi berlari keluar sambil tertawa. Dia senang menjahili Radit. Tomi tahu Radit malu, dan pasti tidak terjadi apa apa karena dia sangat mengenal Radit.
Radit tidak pernah dekat dengan gadis manapun. Waktunya hanya dihabiskan untuk sekolah dan bekerja. Apalagi untuk memiliki kekasih. Tomi tertawa sendiri membayangkan wajah kesal Radit. Senang sekali rasanya bisa menjahili Radit. Kapan lagi coba bisa buat dia kesal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 152 Episodes
Comments
Radiah Hassan
😄😄😄
2024-10-02
0
Wati_esha
Tomi gerak cepat.
2023-08-27
0
Wati_esha
Nah, ini. Ardian selingkuh dan menyebabkan Celine hamil.
2023-08-27
0