Amanat Dari Ayah

Setelah lama bercerita tentang Haris, Renan tiba-tiba terdiam. Ia terlihat gugup dan seperti ingin menyampaikan sesuatu yang penting. Gendhis yang menyadari perubahan sikap Renan, menjadi penasaran.

"Ada apa, Tuan Renan? Apakah ada hal lain yang ingin Anda sampaikan?" tanya Gendhis, dengan nada yang hati-hati.

Renan menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Gendhis. Ia kemudian menatap Gendhis dengan tatapan yang serius.

"Sebenarnya, ada amanat dari mendiang ayahmu yang ingin saya sampaikan," kata Renan, dengan nada yang pelan.

Gendhis terkejut mendengar perkataan Renan. Ia semakin penasaran dengan amanat yang ingin disampaikan oleh Renan.

"Amanat apa itu, Tuan?" tanya Gendhis, dengan nada yang penasaran.

Renan kemudian menceritakan bahwa sebelum Haris meninggal dunia, ia pernah berbicara dengan Renan tentang masa depan Gendhis. Haris khawatir dengan keadaan Gendhis setelah ia meninggal dunia. Ia tidak ingin Gendhis hidup menderita di rumah itu.

"Ayahmu ingin kamu menikah dengan saya," kata Renan, dengan nada yang tegas.

Gendhis terkejut mendengar perkataan Renan. Ia tidak menyangka bahwa ayahnya memiliki wasiat seperti itu.

"Menikah? Dengan Anda?" tanya Gendhis, dengan nada yang tidak percaya.

Renan mengangguk. "Ya, Gendhis. Ayahmu percaya bahwa saya adalah orang yang tepat untuk menjagamu," kata Renan, dengan nada yang lembut.

Gendhis terdiam sejenak. Ia mencoba untuk mencerna semua informasi yang baru saja ia dengar. Ia tidak tahu harus berkata apa.

"Saya tidak tahu harus berkata apa, Tuan," kata Gendhis, dengan nada yang bingung.

Renan kemudian menjelaskan bahwa Haris telah menceritakan banyak hal tentang Gendhis kepadanya. Haris mengatakan bahwa Gendhis adalah wanita yang baik, cantik, dan pintar. Haris percaya bahwa Renan akan bisa membahagiakan Gendhis.

"Ayahmu sangat menyayangimu, Gendhis. Ia ingin kamu mendapatkan kebahagiaan," kata Renan, dengan nada yang tulus.

Gendhis meneteskan air mata. Ia terharu mendengar perkataan Renan. Ia merasa sangat berterima kasih kepada ayahnya karena masih memikirkannya meskipun sudah meninggal dunia.

"Saya juga sangat menyayangi ayah saya," kata Gendhis, dengan nada yang lirih.

Renan kemudian menggenggam tangan Gendhis. "Maukah kamu menikah dengan saya, Gendhis?" tanya Renan, dengan nada yang penuh harap.

Gendhis menatap Renan dengan tatapan yang penuh keraguan. Ia tidak tahu apakah ia pantas untuk menikah dengan pria sebaik Renan.

"Saya masih belum yakin, Tuan," kata Gendhis, dengan nada yang bimbang.

Renan mengerti dengan perasaan Gendhis. Ia tidak ingin memaksa Gendhis untuk menerima lamarannya.

"Tidak apa-apa, Gendhis. Saya akan menunggu jawabanmu," kata Renan, dengan nada yang sabar.

****

Saat Renan dan Gendhis sedang asyik bercerita tentang Haris, tiba-tiba terdengar suara teriakan yang keras dari arah pintu depan. Gendhis dan Renan terkejut dan segera menghampiri sumber suara.

Ternyata, Khalisa dan Marina baru saja pulang. Mereka berdua terlihat sangat marah dan menatap Gendhis dengan tatapan yang penuh kebencian.

"Gendhis, apa yang kamu lakukan di sini?" bentak Khalisa, dengan suara yang keras. "Kenapa kamu membawa pria asing ke rumah ini?"

Marina juga ikut marah. "Kamu ini memang perempuan tidak tahu malu. Kamu sudah berani membawa laki-laki ke rumah ini saat kami tidak ada," kata Marina, dengan nada yang sinis.

Gendhis mencoba untuk menjelaskan bahwa Renan adalah teman ayahnya. Namun, Khalisa dan Marina tidak mau mendengarkan penjelasannya.

"Jangan berbohong! Kami tidak percaya denganmu!" kata Khalisa, dengan nada yang kasar.

Marina kemudian menghampiri Renan dan menatapnya dengan tatapan yang curiga. "Kamu siapa? Apa hubunganmu dengan perempuan ini?" tanya Marina, dengan nada yang ketus.

Renan memperkenalkan dirinya sebagai teman dari Haris. Ia mengatakan bahwa ia datang ke rumah itu untuk menyampaikan amanat dari Haris kepada Gendhis.

"Saya adalah teman dari mendiang Bapak Haris. Saya datang ke sini untuk menyampaikan amanat beliau kepada Gendhis," kata Renan, dengan nada yang sopan.

Namun, Khalisa dan Marina tidak percaya begitu saja. Mereka tetap saja curiga dengan Renan.

"Amanat apa? Pasti kamu hanya ingin memanfaatkan Gendhis, kan?" tanya Khalisa, dengan nada yang sinis.

Marina menambahkan, "Kamu pasti ingin mengambil keuntungan dari keluarga kami."

Renan menggelengkan kepalanya. "Saya tidak punya niat buruk. Saya hanya ingin menyampaikan amanat dari teman saya," kata Renan, dengan nada yang tenang.

Gendhis mencoba untuk membela Renan. "Kak, Tante, beliau ini benar-benar teman ayah. Beliau datang ke sini untuk menyampaikan amanat dari ayah," kata Gendhis, dengan nada yang memohon.

Namun, Khalisa dan Marina tetap saja tidak mau mendengarkan perkataan Gendhis. Mereka sudah dibutakan oleh rasa curiga dan iri hati.

"Sudah cukup! Kami tidak mau mendengar apapun lagi," kata Khalisa, dengan nada yang tegas.

Marina kemudian menarik tangan Gendhis dengan kasar. "Kamu sudah membuat malu keluarga kami. Kamu akan mendapatkan hukuman!" kata Marina, dengan nada yang marah.

Gendhis menangis dan memohon ampun. Ia tidak ingin mendapatkan masalah lagi.

"Kak, Tante, tolong maafkan saya. Saya tidak bersalah," kata Gendhis, dengan nada yang memohon.

Namun, Khalisa dan Marina tidak peduli dengan permohonan Gendhis. Mereka tetap saja marah dan kesal.

"Kalian berdua memang sama-sama tidak tahu diri. Kalian sudah berani mengganggu keluarga kami," kata Khalisa, dengan nada yang penuh amarah.

Marina kemudian menyuruh beberapa orang untuk membawa Gendhis ke dalam rumah. Gendhis pasrah dan tidak bisa melawan.

Renan yang melihat kejadian itu, merasa sangat heran. Ia tidak mengerti mengapa Khalisa dan Marina bersikap begitu kasar kepada Gendhis.

"Maafkan saya, Tuan. Mereka memang seperti itu," kata salah satu pembantu kepada Renan.

Renan menggelengkan kepalanya. Ia tidak habis pikir dengan kelakuan Khalisa dan Marina.

"Tapi, ini rumah siapa sebenarnya?" tanya Renan, dengan nada yang bingung.

Pembantu itu terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Renan.

"Ini rumah keluarga Bimantoro, Tuan," jawab pembantu itu, dengan nada yang pelan.

Renan terkejut mendengar jawaban pembantu itu. Ia tidak menyangka bahwa Khalisa dan Marina bukanlah pemilik rumah itu.

"Lalu, siapa mereka sebenarnya?" tanya Renan, dengan nada yang penasaran.

Pembantu itu kemudian menceritakan bahwa Khalisa adalah istri dari Bismo, anak dari mendiang Haris Bimantoro. Sedangkan Marina adalah bibi dari Khalisa.

Renan semakin terkejut mendengar cerita dari pembantu itu. Ia tidak menyangka bahwa keluarga dari Haris Bimantoro ternyata memiliki masalah yang begitu rumit.

****

Setelah mengetahui bahwa Renan adalah teman mendiang Haris, Khalisa dan Marina bukannya merasa bersalah atau malu, mereka justru semakin marah dan bertindak kasar.

Marina, dengan wajah yang penuh amarah, menghampiri Gendhis dan menjambak rambut gadis itu dengan keras. Gendhis menjerit kesakitan dan mencoba untuk melepaskan diri, namun Marina semakin kuat menarik rambutnya.

"Kamu ini memang perempuan tidak tahu diri! Berani-beraninya kamu membawa laki-laki asing ke rumah ini!" maki Marina, dengan suara yang kasar.

Gendhis hanya bisa menangis dan memohon ampun. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ia sudah pasrah dengan perlakuan kasar dari bibinya itu.

"Tante, tolong lepaskan saya. Saya tidak bersalah," kata Gendhis, dengan nada yang memohon.

Namun, Marina tidak mendengarkan permohonan Gendhis. Ia terus saja menjambak rambut Gendhis dan memarahinya.

Sementara itu, Khalisa tidak kalah marahnya. Ia melampiaskan amarahnya kepada para asisten rumah tangga dan satpam yang membiarkan Renan masuk ke rumah itu tanpa izinnya.

"Kalian semua tidak becus kerja! Bagaimana bisa kalian membiarkan orang asing masuk ke rumah ini tanpa sepengetahuan saya?" bentak Khalisa, dengan suara yang keras.

Para asisten rumah tangga dan satpam hanya bisa menunduk dan meminta maaf. Mereka tidak berani melawan kemarahan Khalisa.

"Maafkan kami, Nyonya. Kami tidak akan mengulanginya lagi," kata salah satu asisten rumah tangga, dengan nada yang ketakutan.

Khalisa tidak peduli dengan permintaan maaf mereka. Ia terus saja memarahi mereka dan melempar barang-barang yang ada di sekitarnya.

"Kalian semua harus dihukum! Kalian sudah membuat saya malu!" kata Khalisa, dengan nada yang penuh amarah.

Khalisa kemudian menyuruh beberapa orang untuk membawa para asisten rumah tangga dan satpam ke ruang belakang. Ia akan memberikan mereka hukuman yang setimpal dengan kesalahan mereka.

Sementara itu, Renan hanya bisa melihat kejadian itu dengan perasaan yang tidak percaya. Ia tidak menyangka bahwa keluarga dari temannya itu ternyata adalah orang yang sangat kejam.

"Saya tidak menyangka bahwa mereka akan bersikap seperti ini," kata Renan, dengan nada yang sedih.

Ia kemudian menghampiri Gendhis yang masih dalam cengkeraman Marina. Ia mencoba untuk melepaskan tangan Marina dari rambut Gendhis.

"Tante, tolong lepaskan Gendhis. Dia tidak bersalah," kata Renan, dengan nada yang sopan.

Namun, Marina tidak mau mendengarkan perkataan Renan. Ia justru semakin kuat menarik rambut Gendhis.

"Kamu jangan ikut campur urusan keluarga kami!" kata Marina, dengan nada yang kasar.

Renan tidak menyerah. Ia terus berusaha untuk melepaskan tangan Marina dari rambut Gendhis.

"Tante, tolong kasihanilah Gendhis. Dia sudah cukup menderita," kata Renan, dengan nada yang memohon.

Akhirnya, dengan susah payah, Renan berhasil melepaskan tangan Marina dari rambut Gendhis. Gendhis langsung berlari ke arah Renan dan memeluknya erat. Ia merasa sangat takut dan tidak berdaya.

"Terima kasih, Tuan Renan. Anda sudah menyelamatkan saya," kata Gendhis, dengan nada yang penuh haru.

Renan membalas pelukan Gendhis dan mencoba untuk menenangkannya. Ia berjanji akan melindunginya dari keluarga Khalisa.

Episodes
1 Ayah Pergi
2 Kakak Tahu
3 Penderitaan Berlangsung
4 Menguasai Rumah
5 Pria Tampan Dari Brazil
6 Amanat Dari Ayah
7 Mas Pulang
8 Tak Akan Tinggal Diam
9 Dua Wanita Hilang Akal
10 Mengakui Rahasia
11 Tirani yang Dimulai
12 Trauma Hebat
13 Makin Kejam Saja
14 Kesempatan Emas
15 Dalam Tekanan Membuat Keputusan
16 Uang dan Pengaruh
17 Harapan Dari Seorang Pemuda
18 Iblis Betina yang Kejam
19 Akhirnya Bisa Bebas
20 Drama Penggusuran
21 Sikap yang Mulai Goyah
22 Roda Keadilan
23 Pulang
24 Awal Babak Baru
25 Munculnya G Group Sebagai Penguasa
26 Wajah Baru Perkebunan dan Media
27 Penggabungan Dua Keluarga
28 Dua Keluarga yang Bersaing
29 Drama Penangkapan Selingkuhan
30 Karma Bagi Mereka yang Jahat
31 Perang Opini
32 Fakta Baru Soal Wanita Keji
33 Ribut dan Hilang Dari Tahanan
34 Kabar Dari Rusia
35 Dendam Dua Keluarga
36 Perang Dunia Maya
37 Konflik Orang Kaya
38 Siaga Tingkat Tinggi
39 Lancar Tanpa Halangan
40 Mafia China
41 Aliansi Dibalas Aliansi
42 Bisa Digagalkan
43 Ricuh di Dalam Penjara
44 Berakhir Dengan Petaka
45 Drama Penolakan Jenazah
46 Jalan Setelah Kericuhan
47 BM Media
48 Perubahan Susunan Membuat Resah
49 Hal Licik Digunakan
50 Ricuh yang Lain
51 Kaburnya Napi
52 Propaganda Untuk Membalas Kejahatan
53 Sekutu Mafia
54 Lawan Baru Datang
55 Bulan Madu di Kanada
56 Teror Saat Bulan Madu
57 Dendam Belum Usai
58 Penjagaan Ketat
59 Tindakan Jahat
60 Tahu Siapa Dalangnya
61 Kejadian di Surabaya
62 Penangkapan dan Kabar Dari Moskwa
63 Kebenaran Soal Khalisa
64 Selepas Dia Pergi
65 Kejutan di Sel Tahanan
66 Launching Produk
67 Pasangan Romantis
68 Ambisi Sang CEO Muda
69 Rencana Perjodohan Oleh Papa dan Mama
70 Bicara Langsung
71 Orang Tua Kandung
72 Pertemuan Calon Besan
73 Pesona CEO di Gym
74 Keputusan Sudah Diambil dan Memberi Jawaban
75 Pertemuan Dengan Calon
76 Tawaran Besan
77 Mas Suami Butuh Liburan
78 Kota Penuh Kenangan
79 Pergi Ke Pantai
80 Bertemu Sang Mantan Kekasih
81 Ambisi Mantan Kekasih
82 Pilu Ketika Bertemu Orang Tua Kandung
83 Bahasa Menjadi Kendala
84 Ketika Dia Datang Ke Kantor
85 Ancaman Datang Dari Dia
86 Anak Menjadi Sandera
87 Serangan Mendadak
88 Renan Dalam Bahaya
89 Dalam Genggaman Pengaruh Jahat
90 Siksaan Keji
91 Drama Tangis
92 Tertawa Di Atas Penderitaan
93 Rencana Kakak
94 Percobaan Kabur
95 Bisa Kabur
96 Anakku yang Malang
97 Kebenaran Akhirnya Menang
98 Kembali Bersatu
99 Penangkapan Biang Onar
100 Kabar Bahagia Dari Indonesia
101 Menjadi Manja
102 Adik Membantu Kakak
103 Ancaman Baru
104 Mulai Goyah
105 PHK Massal
106 Bebas Begitu Saja
107 Makin Tak Terkendali Saja Tingkah Keduanya
108 Kehadiran Malaikat Kecil
109 Jangan Nakal
110 Didorong Anak Kecil
111 Mencari Anak Hilang
112 Haru Kala Bisa Kembali Bersama
113 Berpisah Sementara
114 Koma
115 Masih Tak Sadar
116 Vonis Untuk Penjahat
117 Sedih Karena Eksekusi
118 Akhirnya Bangun
119 Bahagia Akan Datang
120 Boleh Pulang
121 Selamat Datang Kembali Nyonya
122 Anak yang Aktif
123 Ancaman Mantan Obsesif
124 Ledakan Kala Itu
125 Suster Diserang
126 Serangan Berlanjut
127 Masih Belum Ketemu
128 Kamu Kekuatanku
129 Setelah Berhasil Lari
130 Warga Lokal Membantu
131 Keluarga Kembali Utuh
132 Sikap Diam
133 Masih Tak Mau Mengakui
134 Sambutan Hari Ulang Tahun
135 Dia Kabur
136 Anak yang Lincah
137 Acara Ekspor
138 Ledakan Parah yang Membuat Trauma
139 Masih Buron
140 Drama Petasan Dan Kehilangan
141 Bayi Pintar
142 Petualangan Bayi Ajaib
143 Kembali Ke Rumah
144 Sel Isolasi
145 Tepuk Tangan
146 Mewarnai
147 Kucing
148 Ayam Dan Peter Pan
149 Waktu yang Indah
150 Kisah Klasik Dan Tepung
151 Rumput Dan Hewan
152 Kaburnya Penjahat Dan Teror Kembali
153 Drama Paket
154 Akhir Tragis yang Penuh Drama
155 Sudah Besar
156 Sukses
157 Ancaman Baru
158 Wanita Tidak Tahu Diri
159 Bumerang Untuk Penjahat
160 Makin Jahat
161 Lolos Lagi
162 Huru Hara Berbalut Siasat Jahat
163 Rasa Bersalah Pada Istri
164 Penipu Ulung
165 Dia Tidak Ada Di Rumah
166 Rasa Sesal Itu Ada
167 Kaki Kecil yang Lincah Dan Otak Cerdik
168 Kabar Baik Dari Polisi
169 Sabotase
170 Anak Hebat
171 Sasaran Teror Kembali
172 Karma Itu Ada
173 Membuat Dengan Cinta
174 Bujuk Rayu
175 Belum Puas
Episodes

Updated 175 Episodes

1
Ayah Pergi
2
Kakak Tahu
3
Penderitaan Berlangsung
4
Menguasai Rumah
5
Pria Tampan Dari Brazil
6
Amanat Dari Ayah
7
Mas Pulang
8
Tak Akan Tinggal Diam
9
Dua Wanita Hilang Akal
10
Mengakui Rahasia
11
Tirani yang Dimulai
12
Trauma Hebat
13
Makin Kejam Saja
14
Kesempatan Emas
15
Dalam Tekanan Membuat Keputusan
16
Uang dan Pengaruh
17
Harapan Dari Seorang Pemuda
18
Iblis Betina yang Kejam
19
Akhirnya Bisa Bebas
20
Drama Penggusuran
21
Sikap yang Mulai Goyah
22
Roda Keadilan
23
Pulang
24
Awal Babak Baru
25
Munculnya G Group Sebagai Penguasa
26
Wajah Baru Perkebunan dan Media
27
Penggabungan Dua Keluarga
28
Dua Keluarga yang Bersaing
29
Drama Penangkapan Selingkuhan
30
Karma Bagi Mereka yang Jahat
31
Perang Opini
32
Fakta Baru Soal Wanita Keji
33
Ribut dan Hilang Dari Tahanan
34
Kabar Dari Rusia
35
Dendam Dua Keluarga
36
Perang Dunia Maya
37
Konflik Orang Kaya
38
Siaga Tingkat Tinggi
39
Lancar Tanpa Halangan
40
Mafia China
41
Aliansi Dibalas Aliansi
42
Bisa Digagalkan
43
Ricuh di Dalam Penjara
44
Berakhir Dengan Petaka
45
Drama Penolakan Jenazah
46
Jalan Setelah Kericuhan
47
BM Media
48
Perubahan Susunan Membuat Resah
49
Hal Licik Digunakan
50
Ricuh yang Lain
51
Kaburnya Napi
52
Propaganda Untuk Membalas Kejahatan
53
Sekutu Mafia
54
Lawan Baru Datang
55
Bulan Madu di Kanada
56
Teror Saat Bulan Madu
57
Dendam Belum Usai
58
Penjagaan Ketat
59
Tindakan Jahat
60
Tahu Siapa Dalangnya
61
Kejadian di Surabaya
62
Penangkapan dan Kabar Dari Moskwa
63
Kebenaran Soal Khalisa
64
Selepas Dia Pergi
65
Kejutan di Sel Tahanan
66
Launching Produk
67
Pasangan Romantis
68
Ambisi Sang CEO Muda
69
Rencana Perjodohan Oleh Papa dan Mama
70
Bicara Langsung
71
Orang Tua Kandung
72
Pertemuan Calon Besan
73
Pesona CEO di Gym
74
Keputusan Sudah Diambil dan Memberi Jawaban
75
Pertemuan Dengan Calon
76
Tawaran Besan
77
Mas Suami Butuh Liburan
78
Kota Penuh Kenangan
79
Pergi Ke Pantai
80
Bertemu Sang Mantan Kekasih
81
Ambisi Mantan Kekasih
82
Pilu Ketika Bertemu Orang Tua Kandung
83
Bahasa Menjadi Kendala
84
Ketika Dia Datang Ke Kantor
85
Ancaman Datang Dari Dia
86
Anak Menjadi Sandera
87
Serangan Mendadak
88
Renan Dalam Bahaya
89
Dalam Genggaman Pengaruh Jahat
90
Siksaan Keji
91
Drama Tangis
92
Tertawa Di Atas Penderitaan
93
Rencana Kakak
94
Percobaan Kabur
95
Bisa Kabur
96
Anakku yang Malang
97
Kebenaran Akhirnya Menang
98
Kembali Bersatu
99
Penangkapan Biang Onar
100
Kabar Bahagia Dari Indonesia
101
Menjadi Manja
102
Adik Membantu Kakak
103
Ancaman Baru
104
Mulai Goyah
105
PHK Massal
106
Bebas Begitu Saja
107
Makin Tak Terkendali Saja Tingkah Keduanya
108
Kehadiran Malaikat Kecil
109
Jangan Nakal
110
Didorong Anak Kecil
111
Mencari Anak Hilang
112
Haru Kala Bisa Kembali Bersama
113
Berpisah Sementara
114
Koma
115
Masih Tak Sadar
116
Vonis Untuk Penjahat
117
Sedih Karena Eksekusi
118
Akhirnya Bangun
119
Bahagia Akan Datang
120
Boleh Pulang
121
Selamat Datang Kembali Nyonya
122
Anak yang Aktif
123
Ancaman Mantan Obsesif
124
Ledakan Kala Itu
125
Suster Diserang
126
Serangan Berlanjut
127
Masih Belum Ketemu
128
Kamu Kekuatanku
129
Setelah Berhasil Lari
130
Warga Lokal Membantu
131
Keluarga Kembali Utuh
132
Sikap Diam
133
Masih Tak Mau Mengakui
134
Sambutan Hari Ulang Tahun
135
Dia Kabur
136
Anak yang Lincah
137
Acara Ekspor
138
Ledakan Parah yang Membuat Trauma
139
Masih Buron
140
Drama Petasan Dan Kehilangan
141
Bayi Pintar
142
Petualangan Bayi Ajaib
143
Kembali Ke Rumah
144
Sel Isolasi
145
Tepuk Tangan
146
Mewarnai
147
Kucing
148
Ayam Dan Peter Pan
149
Waktu yang Indah
150
Kisah Klasik Dan Tepung
151
Rumput Dan Hewan
152
Kaburnya Penjahat Dan Teror Kembali
153
Drama Paket
154
Akhir Tragis yang Penuh Drama
155
Sudah Besar
156
Sukses
157
Ancaman Baru
158
Wanita Tidak Tahu Diri
159
Bumerang Untuk Penjahat
160
Makin Jahat
161
Lolos Lagi
162
Huru Hara Berbalut Siasat Jahat
163
Rasa Bersalah Pada Istri
164
Penipu Ulung
165
Dia Tidak Ada Di Rumah
166
Rasa Sesal Itu Ada
167
Kaki Kecil yang Lincah Dan Otak Cerdik
168
Kabar Baik Dari Polisi
169
Sabotase
170
Anak Hebat
171
Sasaran Teror Kembali
172
Karma Itu Ada
173
Membuat Dengan Cinta
174
Bujuk Rayu
175
Belum Puas

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!