Bab 16

"Menyingkirkan dari sini Jasmine" Wanita itu mengaduh kesakitan saat tangannya ditarik paksa oleh seseorang. "Ini bukan tempatmu"

"Aku istrinya. Lalu kenapa aku harus pergi dari sini?" Jasmine menantang tanpa rasa takut. "Kau memang istrinya tapi bukan bagian dari keluargaku. Jadi pergilah karena tempat ini hanya diperuntukkan untuk anggota keluarga dan tamu undangan. Kau tidak diundang dan bukan anggota keluarga jadi menyingkirlah" Arthur berkata dengan angkuh.

Wanita itu merotasikan bola matanya dan memilih menjauhi Arthur. Ia berjalan menuju pelaminan dan mendekati sepasang pengantin yang baru saja menikah beberapa menit lalu. "Selamat atas pernikahan kalian" ucapnya ketus dan berlali begitu saja.

"Jasmine!!" Elena menoleh saat suaminya berteriak memanggil nama wanita itu seolah tak ingin wanita itu pergi. Siapa wanita itu? Dan ada hubungan apa dengan suaminya?

Elena menarik tangan pria itu tanpa bergeser sedikitpun dari posisinya. "Kau yang menyuruhku untuk tersenyum hari ini dan menyambut seluruh tamu undangan dengan bahagia. Jadi tetaplah disini dan lakukan hal yang sama" Elena menoleh ke arah pria itu dan tersenyum penuh arti.

"Jika kalian memulainya dengan kebohongan maka aku yang akan menghancurkan kebohongan itu sendiri. Hidupku aku pertaruhkan hanya karena hal ini dan kalian berusaha mempermainkan hidupku? Lihat siapa lawan kalian ini" batin Elena dengan senyuman yang merekah manis.

"Rafael" lirih Elena membaca nama yang tertulis bersanding dengan namanya di sebuah papan decor. Jadi nama suaminya Rafael? Elena melirik sekilas ke arah pria di sebelahnya itu.

"Siapa wanita tadi?" tanya Elena.

"Bukankah aku bilang jika itu akan kita bahas nanti" sentak Rafael namun tak membuat Elena menjadi gentar. Gadis itu hanya mengedikkan bahunya acuh. Ia memilih menyambut papanya yang bergandeng tangan dengan Sandrina. "Papa" Elena memeluk tubuh pria itu dengan sangat erat. Ia melakukan segalanya demi keselamatan pria itu. Ia tak sanggup jika harus melihat mayat ayahnya yang dibunuh oleh seseorang.

"Maafin papa ya sayang" Sandrina tersenyum ke arah suaminya dan mengusap bahu pria itu. "Sayang, apapun yang terjadi jika kamu butuh sesuatu atau butuh bantuan papa dan mama langsung bilang" ucap Sandrina.

"Maafkan papa yang membuatmu menjadi terjebak dalam pernikahan ini" Elena menggelengkan kepala saat mendengar papanya yang merasa bersalah atas apa yang ia putuskan.

"Albert, kau tahu putrimu. Dia tidak mungkin mengambil suatu keputusan tanpa berpikir panjang. Aku yakin Elena bisa menghadapi semuanya" Sandrina mencubit pipi putrinya. Anak perempuan yang ia rasa baru saja ia lahirkan ternyata sudah besar dan kini sudah menjadi istri orang lain.

"Yakinlah pada keputusan putrimu" ucap Sandrina. Albert, sang papa Elena itu memeluk tubuh istrinya dan tersenyum hangat. "Tidak salah aku memilihmu menjadi istriku"

"Pa, seluruh aset papa termasuk seluruh perusahaan yang papa pimpin saat ini sudah jadi milik Elena" ucap Elena.

"Oh gak masalah itu sayang. Papa gak pernah keberatan dengan hal itu karena semua yang papa miliki memang semuanya untuk kamu" ucap Albert.

"Tapi aku mau papa tetap menjalankan perusahaan seperti yang papa lakukan sebelumnya. Semua itu masih menjadi milik papa tapi bedanya sudah diatasnamakan aku" ucap Elena.

"Apa yang kau rencanakan dengan hal itu?" tanya Sandrina.

"Delon, manusia serakah itu akan ku pastikan tidak mendapatkan sepeserpun harta papa" ucap Elena sembari tersenyum tipis penuh arti.

"Dia yang membuat semua ini menjadi kacau. Dan aku, Elena Kazira Anderson yang akan membalas perbuatannya dengan mengacaukan seluruh rencananya"

"Dia tidak akan bisa berkutik jika seluruh aset papa sudah berada di tanganku. Dan jika dia menginginkannya, maka dia harus berhadapan denganku" Albert mengusap kepala Elena penuh kasih. Putrinya itu sangatlah pintar sama seperti dirinya dan Sandrina.

"Kau memang putri papa" Albert beralih pada Rafael yang hanya diam memandangi keluargaku cemara itu yang asyik dengan interaksi mereka sendiri sehingga mengabaikan dirinya.

"Dan kau, jika berani menyakiti putriku maka saya akan gak akan segan-segan menghabisi nyawamu" ucap Albert.

Rafael hanya mengangguk pelan tanpa reaksi apapun itu. Ia seolah tak peduli dengan ancaman Albert padanya. Pria itu mengedarkan pandangannya mencari sosok wanita yang mungkin saat ini sedang marah pada dirinya.

"Kau akan kemana?" cegah Elena dan menarik tangan Rafael yang hendak meninggalkannya sendiri di pelaminan. "Sebentar lagi kita harus berdansa dan seluruh perhatian tamu akan tertuju pada kita. Tetap disini jika tidak ingin reputasi keluargamu hancur" ucap Elena santai namun penuh ancaman di dalam kalimatnya.

"Ternyata buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Papanya suka mengancam anaknya pun ikut begitu" cibir Rafael.

"Apa yang kau bilang?" Albert mengepalkan tangannya bersiap menghajar menantunya itu.

"Papa turunlah biar aku yang menangani ini" ucap Elena dan memberi isyarat pada mamanya agar membawa papanya turun.

"Dan kau sama seperti papamu. Bertindak sesuai keinginan hati" cibir Elena membalikkan kata-kata Rafael beberapa menit lalu.

"Kalian sedang membicarakanku?" Arthur mengangkat alisnya bertanya pada dua manusia yang sedang mencibir satu sama lain.

"Untuk apa? Tidak sepenting itu untuk dibicarakan" ucap Elena santai.

"Hubungan kita memang tidak baik. Tapi panggil aku papa karena sekarang kau adalah menantuku" ucap Arthur dan tidak dijawab apapun oleh Elena.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!