Bab 2

Seorang gadis cantik dengan seragam sekolahnya yang rapi melekat pada tubuh indah itu turun dari mobil mewah berwarna putih yang berhenti tepat di depan gerbang salah satu sekolah SMA favorit yang ada di kota itu.

"Elena!!" teriak seorang gadis lain dari arah kiri menyapa. Nafasnya memburu akibat berlarian mendekati Elena. "Huh huh huh" Gadis itu menunduk untuk menetralkan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat.

"Ke kelas bareng yuk" ajaknya setelah dirasa nafasnya sudah normal lagi. "Ngapain lo lari-lari. Gue juga masih disini gak akan kemana-mana" cibir Elena dan menggandeng tangan sahabatnya itu untuk masuk ke dalam sekolah sebelum pintu gerbang ditutup.

"Medina" Elena menoleh ke arah sahabatnya itu untuk bertanya sesuatu. Ada beberapa hal yang mengganjal di hatinya yang ingin ia utarakan pada sahabatnya itu.

"Why?" Elena terdiam sejenak bimbang hendak melanjutkan ucapannya atau tidak. "Menurut lo gue harus gimana?" tanya Elena yang membuat otak Medina pusing seketika.

"Maksud lo apaan sih? Jelasin dulu baru tanya" ucap Medina kesal lantaran tak paham dengan perkara yang dimaksud Elena.

"Mama papa gue bangkrut" Kedua bola mata Medina membulat seketika saat mendengar penuturan Elena. "Lo gak bohong kan?" tanya Medina.

"Buat apa gue bohong" Elena berdecak kesal karena Medina tak percaya dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Siapa juga yang bisa langsung percaya jika keluarga Elena bangkrut begitu saja? Mengingat sudah banyak orang yang tau jika keluarga Elena adalah keluarga konglomerat yang memiliki sumber kekayaan yang sangat banyak.

"Gimana bisa?" tanya Medina penasaran.

"Gue juga gatau" jawab Elena yang memang dirinya tidak tau bagaimana bisa keluarganya bangkrut.

"Elena!! Medina!!" Dua gadis itu menoleh ke arah belakang saat seseorang memanggil nama mereka. Felix dan Aaron. Dua pria tampan dengan tas yang hanya di selempangkan di bahu kirinya.

"Tumben baru sampe" cetus Elena heran melihat Felix dan Aaron yang biasanya datang lebih cepat dari mereka. "Tadi kena macet dijalan jadi ya gitu deh mobil ga bisa jalan sama sekali. Tau sendiri kota ini macetnya kaya gimana" ucap Aaron.

"Kalian berdua tadi bahas apa? Kaya seru banget gitu" ucap Felix.

"Kepo" cibir Medina meledek Felix yang tingkat penasarannya sangat tinggi. "Masuk kelas yuk udah bel tuh" Aaron merangkul kekasihnya itu dan membawanya masuk ke dalam kelas menyisakan Felix dan Medina yang masih diam di depan kelas dengan saling tatap.

"Apa lo liat-liat?" Medina menatap tajam Felix yang hanya diam tanpa mengusik dirinya. Entah mengapa gadis itu sangat sensi jika berdekatan dengan Felix seolah ada saja hal yang membuatnya kesal.

"Gue diem pun salah?" Felix bertanya pada dirinya sendiri karena Medina sudah masuk ke dalam kelas lebih dulu.

"Thanks ya udah nganterin" Elena tersenyum ke arah Aaron yang berdiri di hadapannya. "Aku balik kelas dulu kalau ada apa-apa bilang aja" Aaron mengusap pucuk kepala Elena sebelum meninggalkan kelas kekasihnya itu.

"Ayo balik ngapain lo disini" Aaron menyeret tubuh Felix begitu saja karena pria itu hanya berdiam diri seperti patung di depan kelas yang hanya akan merusak pemandangan saja.

"Gini amat jadi Felix. Kenapa gue gak jadi Aaron aja?" gerutu Felix yang kesal dengan semua orang di pagi ini. Gak Aaron, gak Medina semuanya saja membuatnya kesal.

"Eh Ron" Felix membenarkan jalannya yang semula terseret menjadi lebih benar lagi. "PR gue belom selesai kocak" Felix menepuk jidatnya yang melupakan PR biologinya yang baru ia kerjakan sedikit.

"Belom ngerjain sama sekali?" Aaron melirik Felix sekilas kemudian kembali menatap jalan.

"Udah gue cicil kok dikit" ucap Felix membuat Aaron menganggukkan kepalanya. "Udah sampe mana?" tanya Aaron lagi memastikan jika Felix benar-benar sudah mencicil pekerjaan rumahnya itu.

"Baru sampe nulis judul" Usai mengucapkan hal itu, sebuah tangan sudah berada di lehernya yang siap mencekiknya kapan saja. "Itu bukan nyicil namanya" Aaron kesal dengan sahabatnya itu yang sangat random.

"Nyontek ya" Felix menyengir kuda meminta sedikit bantuan dari temannya itu yang sangat baik hati dan tidak sombong. "Mikir sendiri" Aaron melepas tangannya dari leher Felix dan meninggalkannya sendiri.

"Woi!! Seorang Felix? Ditinggalin?" teriak Felix tak terima

Terpopuler

Comments

🍁🅐🅝🅖🅔🅛🅐❣️

🍁🅐🅝🅖🅔🅛🅐❣️

felik cemangat ngedekeyin gebetan 😄😄😄

2025-03-28

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!