Bab 8

Pagi yang indah dengan sambutan mentari pagi yang begitu bersinar terang. Pagi ini mungkin indah namun tidak bagi Elena yang sudah cemberut di pagi buta ini. Bagaimana tidak? Ia baru saja mendapat kabar jika pernikahannya sudah diatur dalam waktu dekat. Tiga hari lagi dirinya akan menikah dengan seseorang yang bahkan ia tak pernah melihat wajahnya sama sekali.

"Mereka itu udah gak waras ya? Apa udah gila akut? Kayanya gak ada manusia yang bener di dunia ini" Elena menekuk wajahnya di hadapan mamanya yang menatapnya sendu.

"Mama gak rela kamu menikah dengan orang yang gak kamu cintai tapi mama juga gak bisa mengorbankan nyawa papa kamu" ucap Sandrina yang sedang di ambang dilema.

"Mama gak perlu khawatirin aku. Yang terpenting sekarang adalah nyawa papa dulu yang harus di selamatkan" ucap Elena dengan dengan mengusap lembut punggung tangan mamanya.

"Kamu mandri aja sekarang habis itu turun biar mama siapin makanan buat kamu" ucap Sandrina dan beranjak dari duduknya.

Kini di kamar itu hanya ada Elena yang sedang duduk termenung. "Kalau aku nikah gimana dengan Aaron?" ucap Elena pelan. Ia akan menyakiti hati kekasihnya itu karena pernikahannya dengan orang lain bahkan orang yang tak ia kenal sama sekali.

Gadis itu menjambak rambutnya sendiri karena frustasi menghadapi semua ini. Mengapa ia harus dipertemukan dengan masalah serumit ini?

"Tapi aku bisa mengurusnya nanti asal papaku selamat lebih dulu" ucap Elena dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.

...****************...

"Elena, kenapa wajah lo di tekuk kaya gitu? Udah kaya ayam habis dimandiin" cibir Medina

"Gue semakin pusing sama permasalahan keluarga gue, Med"

"Lo udah dapet info soal akar dari permasalahan lo ini apa?" tanya Medina begitu penasaran.

"Udah" jawab gadis itu singkat. "Gimana ceritanya?" tanya Medina namun tak di gubris oleh Elena yang semakin berjalan cepat ke arah kelas.

"Gak keburu kalau gue cerita sekarang. Tuh liat guru sosiologi udah masuk kelas" ucap Elena.

Sebelum memasuki kelas, tanpa sengaja matanya bersitatap dengan netra Aaron yang sedang tersenyum manis ke arahnya. Elena membalas senyuman itu dengan senyuman pula yang tak kalah manis.

"Semangat belajarnya dan fokus sama yang ada di depan jangan mikir hal yang lain" ucap Aaron dengan isyarat bibir pada Elena karena jarak mereka yang cukup jauh.

"Terima kasih. Kamu juga" Elena masuk ke dalam kelas bersama Medina. Untung saja mereka tidak dimarahi karena masuk kelas disaat guru sudah berada di kelas itu.

"Maaf bu" ucap Elena dengan menyengir kuda yang hanya dibalas anggukan saja. "Tidak masalah. Duduk!!" Elena bernafas lega akhirnya mereka bisa selamat.

Medina menggandeng tangan Elena dan mengajaknya duduk di bangku mereka. Selama dua jam seluruh siswa siswi memerhatikan pelajaran yang sedang berlangsung. Namun Elena masih sibuk dengan pikirannya sendiri yang tidak fokus dengan pelajaran yang sedang dijelaskan oleh gurunya di depan.

"Apa keputusan gue salah ya?" batin Elena.

Hatinya gundah akan keputusan yang ia buat sendiri. Bagaimana bisa ia menerima pernikahan itu di usianya yang masih terbilang muda apalagi ia masih duduk di bangku SMA. Akan tetapi jika ia menolak penawaran itu maka banyak sekali konsekuensi yang ia terima.Mulai dari nyawa papanya yang melayang hingga hartanya yang dikuasai oleh pamannya, Delon yang sangat rakus itu.

"Elena, lo bisa ngerjain yang ini?" tanya Medina sembari menyenggol bahu Elena membuat gadis itu terkejut. "Hah? Apa?" Medina menghembuskan nafas panjang.

"Lo ngelamun?" tanya Medina

"Entahlah gue bingung banget sama masalah gue, Med" lirih Elena dengan tatapan kosong.

"Gue ga tau harus bantu apa tapi kalau lo mau cerita atau minta bantuan apapun itu langsung kasih tau gue aja" ucap Medina. Gadis itu memeluk tubuh Elena untuk memberikan support pada gadis itu agar tidak putus asa. Ia tau masalah yang di hadapi sahabatnya saat ini sangatlah berat.

"Elena, mama lo telfon" ucap Medina memberitahu saat melihat tampilan panggilan masuk di ponsel Elena yang tergeletak di atas meja.

"Tumben, ada apa ya?" Elena meraih ponselnya dan menjawab panggilan yang tak lain dari mamanya sendiri. "Ada apa ma?"

"Cepet kamu pulang sekarang" Elena mengernyitkan dahinya saat mendengar ucapan mamanya yang meminta dirinya pulang sekarang juga. Ada apa? Apa yang terjadi? Jika mamanya meminta seperti itu pastinya ada sesuatu yang terjadi di rumah mereka.

"Ada apa, Elena?" tanya Medina penasaran saat melihat raut wajah Elena yang berubah seketika saat menjawab panggilan dari mamanya.

"Mama gue nyuruh pulang sekarang" ucap Elena.

"Kenapa emangnya?" Medina bertanya seperti itu karena mengingat selama ini mama Elena tak pernah melakukan hal itu dan ini pertama kali. Tentunya ada sesuatu yang gawat terjadi saat ini.

"Gue juga gatau. Ayo ke bk sekarang buat minta surat izin" ucap Elena dan membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas. Elena dan Medina keluar dari kelas saat pergantian jam mata pelajaran dan berjalan bersama menuju ruangan bk.

"Ele, ada apa?" Suara berat seseorang menghentikan langkah kaki Elena yang baru saja keluar dari ruang bk setelah mendapatkan surat izin untuk meninggalkan sekolah.

"Kamu pulang? Ada apa?" tanya Aaron sembari mendekati kekasihnya itu yang berdiri tak jauh darinya.

"Ada sesuatu yang terjadi? Pulangnya mau aku anter aja?" tanya Aaron menawarkan diri untuk mengantarkan gadis itu pulang.

"Gapapa aku bisa pulang sendiri. Tadi mama tiba-tiba nyuruh aku pulang mungkin karena ada urusan penting" ucap Elena memberikan alasan pada pria itu.

"Beneran gamau aku anter aja?" tanya Aaron.

"Lo mau kemana?" Felix yang datang tiba-tiba itu langsung bertanya saat melihat Elena menggendong tas ransel di pundaknya.

"Mau minggat. Ya mau pulang lah lo liat sendiri aja" ucap Medina.

"Yeuuuu gue nanya Elena bukan lo, Medmed" ucap Felix dengan nada mencibir.

"Sialan!!" Elena dan Aaron hanya bisa tertawa melihat interaksi sahabat mereka yang selalu saja bertengkar apabila bertemu.

"Dianter Aaron aja biar aman sampai tujuan" ucap Felix

"Gapapa gue bisa sendiri. Lagian aku udah pesen taksi dan kayanya udah di depan deh. Aku duluan ya" ucap Elena.

"Aku anter sampe depan" Aaron menggandeng tangan Elena dan berjalan beriringan menuju lobby.

"Lucu ya mereka. Lo kapan, Med?" Felix menoleh pada Medina yang hanya merotasikan bola matanya dan tak menjawab sepatah katapun. Ia memilih kembali ke dalam kelas dari pada berinteraksi dengan Felix yang membuatnya semakin kesal.

"Kalau butuh apa-apa langsung ngomong ya" Aaron mengusap pucuk kepala Elena dengan sayang.

"Pak jangan ngebut-ngebut ya. Saya titip pacar saya jangan sampai kenapa-napa" ucap Aaron pada sang supir taksi membuat Elena tersenyum.

"Aku baik-baik aja" Elena mencubit perut Aaron hingga pria itu meringis. "Kan aku hanya memastikan" ucap Aaron

Aaron berdiri di depan pintu gerbang hingga taksi yang membawa Elena sudah pergi menjauh dari area sekolah. Pria itu melangkahkan kakinya untuk kembali masuk ke dalam sekolah dan masuk ke dalam kelas.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!